Sabtu, 10 Oktober 2026

Udānavarga Sansekerta Bahasa Indonesia

Udānavarga ini secara tradisional dikompilasikan oleh Dharmatrāta, namun studi modern seringkali menganggap koleksi ini sebagai antologi gabungan yang terus berlanjut. Kitab ini adalah bentuk Prakrit yang disanskritkan (Buddhist Hybrid Sanskrit). Teks awal berasal dari teks Sansekerta oleh Franz Bernhard (Udānavarga, Band I, Abhandlungen der Akademie der Wissenschaften di Göttingen, Philologisch-Historische Klasse, Dritte Folge, Nr. 54, Vandenhoeck & Ruprecht: Göttingen, 1965). Teks ini kemudian diterjemahan kedalam Bahasa Inggris oleh Ven. Anandajoti pada tahun 2025. Saya (Arya Karniawan) yang menerjemahkan Udānavarga ini. Udānavarga ini tidak pernah dipublikasikan di mana pun selain di sini. Jika terdapat kesalahan dalam terjemahan ini, jangan disungkan komen di kolom komentar. Hak Cipta Udānavarga ini adalah:

Diterjemahkan oleh Arya Karniawan, 2026.

Diterjemahkan dari teks milik Ven. Anandajoti.

Anda dipersilahkan menyalin, mengubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apa pun, dengan syarat: (1) tidak diperjualbelikan; (2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan (3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.

Disiapkan oleh Arya Karniawan.


Udānavarga

Kumpulan Ucapan Inspiratif

 

Uddesa

Pendahuluan

 

Siddham!

Sukses!

 

[1.1] Stīnamiddhaṁ vinodyeha, saṁpraharṣya ca mānasam,

śṛṇutemaṁ pravakṣyāmi udānaṁ Jinabhāṣitam.

 

Setelah melenyapkan kelambanan dan kantuk di sini, setelah menggembirakan pikiran, dengarkanlah hal ini, aku akan menyatakan ucapan-ucapan inspiratif yang dinyatakan oleh Sang Penakluk.

 

[1.2] Evam uktaṁ Bhagavatā, Sarvābhijñena tāyinā,

anukampakenarṣiṇā śarīrāntimadhāriṇā:

 

Inilah yang dikatakan oleh Sang Bhagava, Sang Mahatahu, Ia yang demikian, Yang Melihat Dengan Belas Kasih, Yang membawa tubuh terakhirnya:

 

1. Anityavarga

Bab tentang Ketidak-kekalan

 

(40 Syair)

 

[1.3] Anityā bata saṁskārā, utpādavyayadharmiṇaḥ,

utpadya hi nirudhyante, teṣāṁ vyupaśamaḥ sukham.

 

Segala yang berkondisi tentu tidaklah kekal, hakikatnya adalah muncul dan hancur, setelah muncul mereka lenyap, pemadamannya adalah hal baik.

 

[1.4] Ko nu harṣaḥ ka ānanda, evaṁ prajvalite sati?

Andhakāraṁ praviṣṭāḥ stha, pradīpaṁ na gaveṣatha?

 

Mengapa tertawa, apalah kegembiraan ini, ketika sedang terbakar demikian? Engkau telah memasuki kegelapan, tidakkah engkau mencari cahaya?

 

[1.5] Yānīmāny apaviddhāni, vikṣiptāni diśo diśam,

kāpotavarṇāny asthīni, tāni dṛṣṭveha kā ratiḥ?

 

Tulang-tulang berwarna merpati ini, terbuang, tersebar di segala penjuru, setelah melihat mereka di sini, mengapa terdapat kenikmatan?

 

[1.6] Yām eva prathamāṁ rātriṁ garbhe vasati mānavaḥ,

aviṣṭhitaḥ sa vrajati, gataś ca na nivartate.

 

Sejak malam pertama kalinya orang tersebut berdiam di dalam rahim, yang goyah berjalan, setelah pergi tidak kembali lagi.

 

[1.7] Sāyam eke na dṛśyante kālyaṁ dṛṣṭā mahājanāḥ,

kālyaṁ caike na dṛṣṭante sāyaṁ dṛṣṭā mahājanāḥ.

 

Beberapa orang yang terlihat saat fajar tidak melihat senja, beberapa orang yang terlihat saat senja tidak melihat fajar.

 

[1.8] Tatra ko viśvasen martyo, daharo ’smī ti jīvite?

daharāpi mriyante hi, narā nāryaś ca-n-ekaśaḥ.

 

Karena itulah, apakah yang dapat dipercaya oleh makhluk dalam kehidupan ini, dengan berpikir: Apakah aku masih muda? Karena bahkan yang muda juga mati, pria dan wanita, satu demi satu.

 

[1.9] Garbhe hy eke  vinaśyante, tathaike sūtikākule,

parisṛptās tathā hy eke, tathaike paridhāvinaḥ.

 

Beberapa gugur di rahim, juga beberapa di tempat kelahiran, juga beberapa ketika merangkak, dan beberapa ketika berlari kesana-kemari.

 

[1.10] Ye ca vṛddhā, ye ca dahrā, ye ca madhyamapuruṣāḥ,

anupūrvaṁ pravrajanti, phalaṁ pakvaṁ va bandhanāt.

 

Orang-orang itu yang sepuh, mereka yang muda, dan mereka yang paruh baya, mereka meninggal sesuai masanya, seperti satu buah yang telah matang dari tangkainya.

 

[1.11] Yathā phalānāṁ pakvānāṁ nityaṁ patanato bhayam,

evaṁ jātasya martyasya nityaṁ maraṇato bhayam.

 

Seperti halnya buah yang matang selalu terdapat ketakutan akan kejatuhan, demikianlah bagi makhluk yang terlahir di sini selalu takut akan kematian.

 

[1.12] Yathāpi kumbhakāreṇa mṛttikābhājanaṁ kṛtam,

sarvaṁ bhedanaparyantam evaṁ martyasya jīvitam.

 

Seperti halnya dengan sebuah mangkuk gerabah yang dibuat oleh pengrajin, demikianlah kehidupan setiap makhluk berakhir dengan kehancuran.

 

[1.13] Yathāpi tantre vitate yad yad utaṁ samupyate,

alpaṁ bhavati vātavyam, evaṁ martyasya jīvitam.

 

Seperti halnya ketika dibentangkan di atas alat tenun, apapun yang ditenun akan habis terpakai, dan hanya sedikit yang belum ditenun, demikianlah dengan kehidupan suatu makhluk.

 

[1.15] Yathā nadī pārvatīyā gacchate na nivartate,

evam āyur manuṣyāṇāṁ gacchate na nivartate.

 

Seperti halnya satu sungai yang berasal dari gunung mengalir dan tidak kembali, demikianlah kehidupan manusia yang terus berjalan dan tidak berbalik kembali.

 

[1.16] Kisaraṁ ca parittaṁ ca, tac ca duḥkhena saṁyutam,

udake daṇḍarājīva, kṣipram eva vinaśyati.

 

Menyedihkan dan singkat, dan tergabung dengan penderitaan, seperti suatu garis yang digambar dengan sebilah tongkat di air, tentu saja dengan cepat (garis) itu akan hilang.

 

[1.17] Yathā daṇḍena gopālo gāḥ prāpayati gocaram,

evaṁ rogair jarāmṛtyuḥ āyuḥ prāpayate nṛṇām.

 

Seperti halnya sang penggembala mengarahkan ternaknya ke padang rumput dengan sebilah tongkat, demikianlah melalui penyakit, usia tua dan kematian mengeluarkan kehidupan dari manusia.

 

[1.18] Atiyānti hy ahorātrā, jīvitaṁ coparudhyate,

āyuḥ kṣīyati martyānāṁ, kunadīṣu yathaudakam.

 

Siang dan malam berlalu, kehidupan sedang berkurang, kehidupan para makhluk menyusut, seperti air di arus yang dangkal.

 

[1.19] Dīrghā jāgarato rātrir, dīrghaṁ śrāntasya yojanam,

dīrgho bālasya saṁsāraḥ Saddharmam avijānataḥ.

 

Malam adalah panjang bagi ia yang terjaga, satu yojana adalah panjang bagi ia yang kelelahan, kelahiran kembali seorang bodoh yang tidak mengenal Dhamma Sejati adalah panjang.

 

[1.20] “Putro me ’sti, dhanaṁ me ’stī,” ty evaṁ bālo vihanyate,

ātmaiva hy ātmano nāsti, kasya putraḥ, kuto dhanam?

 

“Anak ini milikku, dan harta ini milikku,” demikianlah orang bodoh menderita akibat penyesalan, ketika bahkan dirinya sendiri bukanlah miliknya, juga bagaimana anak, (dan) harta?

 

[1.21] Anekāni sahasrāṇi naranārīśatāni ca

bhogāṁ vai samudānīya: vaśaṁ gacchanti mṛtyunaḥ.

 

Tak terhitung ratusan ribu pria dan wanita yang tentu saja telah mengumpulkan kekayaan: tetap saja mereka berada di bawah pengaruh kematian.

 

[1.22] Sarve kṣayāntā nicayāḥ, patanāntāḥ samucchrayāḥ,

saṁyogā viprayogāntā, maraṇāntaṁ hi jīvitam.

 

Segala yang dikumpulkan berakhir dalam penghancuran, segala yang meningkat berakhir di kejatuhan, apa yang tergabung berakhir dalam perpisahan, kehidupan tentulah berakhir dalam kematian.

 

[1.23] Sarve satvā mariṣyanti, maraṇāntaṁ hi jīvitam,

yathākarma gamiṣyanti, puṇyapāpaphalopagāḥ.

 

Semua makhluk akan mati, kehidupan tentu berakhir dalam kematian, berdasarkan perbuatannya, mereka akan bertumimbal lahir, merasakan buah dari kebajikan dan keburukan.

 

[1.24] Narakaṁ pāpakarmāṇaḥ, kṛtapuṇyās tu sadgatim,

anye tu mārgaṁ bhāvyeha, Nirvāsyanti nirāsravāḥ.

 

Mereka yang berbuat buruk pergi ke neraka, tetapi mereka yang berbuat bajik pergi ke alam bahagia, namun mereka harus mengembangkan Sang Jalan di sana, seseorang yang tanpa kekotoran akan mencapai Nirvāṇa.

 

[1.25] Naivāntarīkṣe, na samudramadhye,

na parvatānāṁ vivaraṁ praviśya:

na vidyate ’sau pṛthivīpradeśo

yatra sthitaṁ na prasaheta mṛtyuḥ.

 

Tidak di langit, ataupun di tengah samudera, ataupun setelah memasuki celah di tengah pegunungan: Tidak ada tempat di dunia ini di mana kematian tidak dapat mengalahkan seseorang.

 

[1.26] Ye ceha bhūtā, bhaviṣyanti vā punaḥ,

sarve gamiṣyanti, prahāya deham,

tāṁ sarvahāniṁ kuśalo viditvā,

Dharme sthito, brahmacaryaṁ  careta.

 

Makhluk apapun yang terdapat di sini, atau mereka yang akan terlahir kembali, mereka semua akan pergi, setelah meninggalkan tubuhnya, setelah memahami bahwa hal itu adalah kehilangan total, yang terampil, teguh dalam Dhamma, seharusnya menjalankan kehidupan suci.

 

[1.27] Jīrṇaṁ ca dṛṣṭveha, tathaiva rogiṇaṁ,

mṛtaṁ ca dṛṣṭvā, vyapayātacetasam,

jahau sa dhīro gṛhabandhanāni,

kāmā hi lokasya na supraheyāḥ.

 

Melihat yang tua di sini, dan yang sakit, melihat yang mati, seseorang yang pikirannya telah pergi, ia yang tekun telah meninggalkan ikatan pada keduniawian, keinginan duniawi tentulah sulit untuk ditinggalkan.

 

[1.28] Jīryanti vai rājarathāḥ sucitrā,

hy atho śarīram api jarām upaiti,

satāṁ tu Dharmo na jarām upaiti,

santo hi taṁ satsu nivedayanti.

 

Kereta kerajaan yang terhias dengan baik tentu akan lapuk, dan bahkan jasmani akan membusuk, tetapi Dharma Orang Bajik tidak akan membusuk, Yang Bajik tentu menyatakannya diantara yang bajik.

 

[1.29] Dhik tvām astu, jare grāmye, virūpakaraṇī hy asi,

tathā manoramaṁ bimbaṁ jarayā hy abhimarditam.

 

Biarlah engkau memalukan, usia tua yang hina, karena engkau adalah pembuat keburukan, demikian pula boneka-boneka yang menyenangkan pikiran dihancurkan oleh pembusukan.

 

[1.30] Yo ’pi varṣaśataṁ jīvet so ’pi mṛtyuparāyaṇaḥ,

anu hy enaṁ jarā hanti, vyādhir vā yadi vāntakaḥ.

 

Bahkan ia yang dapat hidup selama seratus tahun, ia bahkan memiliki kematian sebagai tujuan finalnya, yang, terus mengikutinya, usia tua menjatuhkannya, atau penyakit, atau Pembuat Akhir.

 

[1.31] Sadā vrajanti, hy anivartamānā,

divā ca rātrau ca vilujyamānāḥ,

matsyā ivātīva hi tapyamānā,

duḥkhena jātīmaraṇena yuktāḥ.

 

Mereka selalu melangkah maju, tanpa berbalik kembali, siang dan malam mereka dihancurkan, seperti ikan yang direbus secara berlebihan, mereka terpasung bersama dengan penderitaan, dengan kelahiran dan kematian.

 

[1.32] Āyur divā ca rātrau ca, caratas tiṣṭhatas tathā,

nadīnāṁ vā  yathā sroto, gacchate na nivartate.

 

Kehidupan, siang dan malam, bagi seseorang yang berjalan dan berdiri diam, seperti arus sungai, mengalir dan tidak kembali lagi.

 

[1.33] Yeṣāṁ rātridivāpāye, hy āyur alpataraṁ bhavet,

alpodake va matsyānāṁ, kā nu teṣāṁ ratir bhavet?

 

Bagi mereka yang merosot di malam dan siang, kehidupan akan menjadi semakin pendek, seperti ikan dalam sedikit air, kesenangan apa yang ada bagi mereka?

 

[1.34] Parijīrṇam idaṁ rūpaṁ, roganīḍaṁ prabhaṅguram,

bhetsyate pūty asaṁdehaṁ, maraṇāntaṁ hi jīvitam.

 

Tubuh ini lapuk, sarang penyakit, dan rentan, tubuh ini pasti akan hancur dan menjadi busuk, karena kehidupan tentu berakhir dalam kematian.

 

[1.35] Aciraṁ bata kāyo ’yaṁ pṛthivīm adhiśeṣyate,

śunyo vyapetavijñāno, nirastaṁ vā kaḍaṅgaram.

 

Tidak lama lagi, sial, tubuh ini akan terbaring di tanah, kosong, tanpa kesadaran, dibuang seperti sebatang  kayu.

 

[1.36] Kim anena śarīreṇa, sravatā pūtinā sadā?

Nityaṁ rogābhibhūtena, jarāmaraṇabhīruṇā.

 

Ada apa dengan tubuh ini, yang selalu berlendir dan berbau busuk? Tubuh ini selalu terjangkit penyakit, takut akan usia tua dan kematian.

 

[1.37] Anena pūtikāyena hy ātureṇa prabhaṅguṇā,

nigacchatha parāṁ śāntiṁ, yogakṣemam anuttaram.

 

Dengan tubuh busuk yang sakit dan rentan ini, engkau harus pergi ke kedamaian tertinggi, keamanan tertinggi.

 

[1.38] “Iha varṣaṁ kariṣyāmi, hemantaṁ grīṣmam eva ca,”

bālo vicintayaty evam, antarāyaṁ na paśyati.

 

“Di sini aku akan menghabiskan musim hujan, musim dingin, dan musim panas,” orang bodoh berpikir demikian, ia tidak melihat bahaya.

 

[1.39] Taṁ putrapaśusaṁmattaṁ, vyāsaktamanasaṁ naram,

suptaṁ grāmaṁ mahaughaiva, mṛtyur ādāya gacchati.

 

Orang itu yang pikirannya melekat, dimabukkan dengan ternak dan anak, kematian mengambil dan membawanya, seperti banjir yang membawa satu desa yang tertidur.

 

[1.40] Na santi putrās trāṇāya, na pitā nāpi bāndhavāḥ,

Antakenābhibhūtasya, na hi trāṇā bhavanti te.

 

Anak-anak bukanlah perlindungan, juga ayah, tidak juga saudara, bagi seseorang yang ditaklukkan oleh Pembuat Akhir, tentu saja tidak ada perlindungan untukmu.

 

[1.41] “Idaṁ kṛtaṁ me kartavyam, idaṁ kṛtvā bhaviṣyati,”

ity evaṁ spondato martyāṁ jarā mṛtyuś ca mardati.

 

 “Ini yang harus saya kerjakan, aku akan mengerjakan ini di masa depan,” berpikir demikian, satu makhluk yang sedang berupaya dihancurkan oleh pembusukan dan kematian.

 

[1.42] Tasmāt sadā dhyānaratāḥ samāhitā,

hy ātāpino jātijarāntadarśinaḥ,

Māraṁ sasainyaṁ hy abhibhūya bhikṣavo,

bhaveta jātīmaraṇasya pāragāḥ!

 

Karena itulah selalu bersenang dalam meditasi, tenang, tekun, melihat akhir kelahiran dan usia tua, mengalahkan Māra dengan pasukannya, para Bhikṣu, seseorang harus menjadi mereka yang melampaui kelahiran dan kematian!

 

 

 

Anityavargaḥ, 1

 

Bab tentang Ketidak-kekalan, yang Pertama.

 

2. Kāmavarga

Bab tentang Nafsu Indera

 

(20 Syair)

 

[2.1] Kāma jānāmi te mūlaṁ, saṁkalpāt kāma jāyase,

na tvāṁ saṁkalpayiṣyāmi, tato me na bhaviṣyasi.

 

Nafsu indera, aku tahu akarmu, dari pemikiran, nafsu indera, engkau muncul, aku tidak akan memikirkanmu, karena itulah engkau tidak akan bersamaku.

 

[2.2] Kāmebhyo jāyate śokaḥ, kāmebhyo jāyate bhayam,

kāmebhyo vipramuktānāṁ, nāsti śokaḥ, kuto bhayam?

 

Dari nafsu indera muncul kesedihan, dari nafsu indera muncul ketakutan, bagi mereka yang sepenuhnya terbebas dari nafsu indera, tidak ada kesedihan, bagaimana bisa terdapat ketakutan?

 

[2.3] Ratibhyo jāyate śoko, ratibhyo jāyate bhayam,

ratibhyo vipramuktānāṁ, nāsti śokaḥ, kuto bhayam?

 

Dari kesenangan muncul kesedihan, dari kesenangan muncul ketakutan, bagi mereka yang sepenuhnya terbebas dari kesenangan, tidak ada kesedihan, bagaimana bisa terdapat ketakutan?

 

[2.4] Madhurāgrā vipāke tu kaṭukā hy abhinanditāḥ.

Kāmā dahanti vai bālān, ulkevāmuñcataḥ karam.

 

Manis pada awalnya, namun bagi mereka yang bersenang hasilnya pahit. Orang bodoh sangat terbakar dengan nafsu indera, seperti sebuah obor yang membakar tangan seseorang yang memegangnya.

 

[2.5] Na tad dṛḍhaṁ bandhanam, āhur āryā,

yad āyasaṁ dāravaṁ balbajaṁ vā,

saṁraktacittasya hi mandabuddheḥ,

putreṣu dāreṣu ca yā avekṣā.

 

Tidak begitu kuat belenggu-belenggu ini, kata Para Mulia, yang terbuat dari besi, kayu atau buluh bambu, karena bagi seseorang, yang pikirannya penuh hasrat dan memiliki pemahaman orang bodoh, yang terikat pada anak dan para istri.

 

[2.6] Etad dṛḍhaṁ bandhanam, āhur āryāḥ,

samantataḥ susthiraṁ duṣpramokṣam,

etad api cchitvā tu parivrajanti

hy anapekṣiṇaḥ, kāmasukhaṁ prahāya.

 

Inilah belenggu yang kuat, kata Para Mulia, sangat kokoh di segala sisi dan sulit untuk terlepas darinya, setelah memotong belenggu ini, yang tidak terobsesi meninggalkan keduniawian, meninggalkan pemuasan nafsu indera.

 

[2.7] Na te kāmā yāni citrāṇi loke,

saṁkalparāgaḥ puruṣasya kāmaḥ,

tiṣṭhanti citrāṇi tathaiva loke,

athātra dhīrā vinayanti cchandam.

 

Hal apapun yang indah di dunia, mereka bukanlah nafsu indera, nafsu indera seseorang adalah kehendak dengan penuh hasrat mereka, hal-hal yang indah tetap sebagaimana adanya di dunia, tetapi mereka yang tekun menghalau dorongan (hasrat) di sini.

 

[2.8] Na santi nityā manujeṣu kāmāḥ,

santi tv anityāḥ kāmino, yatra baddhāḥ,

tāṁs tu prahāya hy apunarbhavāya,

hy anāgataṁ mṛtyudheyaṁ vadāmi.

 

Nafsu indera tidaklah kekal diantara manusia, mereka yang bernafsu tidaklah kekal, di mana terdapat belenggu, namun, demi penghentian kelahiran kembali, setelah meninggalkan hal-hal ini, Aku katakan seseorang tidak akan kembali di alam kematian.

 

[2.9] Chandajāto hy avasrāvī, manasānāvilo bhavet,

kāmeṣu tv apratibaddhacitta ūrdvasroto nirucyate.

 

Ia yang nafsu keinginannya muncul akan terdistraksi, tetapi ia dapat menjadi tenang dengan pikiran, dengan pikiran tidak terbelenggu oleh nafsu inderawi seseorang disebut ia yang melawan arus.

 

[2.10] Anupūrveṇa medhāvī, stokaṁ stokaṁ kṣaṇe kṣaṇe

karmāro rajatasyaiva nirdhamen malam ātmanaḥ.

 

Secara bertahap, sedikit demi sedikit, dari waktu demi waktu, ia yang cerdas seharusnya menghilangkan ketidak-murniannya, seperti halnya seorang pengrajin yang menghilangkan kotoran pada perak.

 

[2.11] Rathakāra iva carmaṇaḥ parikartann upānaham,

yad yaj jahāti kāmānāṁ, tat tat saṁpadyate sukham.

 

Seperti seorang pengrajin kulit, yang membuat sendal dari kulit, nafsu indera apapun ia tinggalkan, hasilnya adalah kebahagiaan.

 

[2.12] Sarvaṁ cet sukham iccheta, sarvakāmāṁ parityajet,

sarvakāmaparityāgī hy atyantaṁ sukham edhate.

 

Jika seseorang mengharapkan kebahagiaan penuh, seseorang seharusnya meninggalkan segala nafsu indera, ia yang meninggalkan segala nafsu indera mencapai kebahagiaan tanpa akhir.

 

[2.13] Yāvat kāmān anusaraṁ na tṛptiṁ manaso ’dhyagāt,

tato nivṛttiṁ pratipaśyamānās;

te vai tṛptāḥ, prajñayā ye sutṛptāḥ.

 

Selama seseorang mengejar nafsu indera pikiran tidak merasakan kepuasan, karena itulah, melihat hal ini, ia berhenti mengejar; Mereka tentu terpuaskan, mereka yang sepenuhnya terpuaskan dengan kebijaksanaan.

 

[2.14] Śreyasī prajñayā tṛptir, na hi kāmair vitṛpyate,

prajñayā puruṣaṁ tṛptaṁ, tṛṣṇā na kurute vaśam.

 

Lebih baik kepuasan dengan kebijaksanaan, seseorang tidak pernah terpuaskan dengan nafsu indera, ketika seseorang terpuaskan dengan kebijaksanaan, nafsu tidak berpengaruh kepadanya.

 

[2.15] Gṛddhā hi kāmeṣu narāḥ pramattā, hy adharme bata te ratāḥ,

antarāyaṁ na te paśyanty alpake jīvite sati.

 

Orang-orang yang lengah sangat menginginkan nafsu indera, sial, mereka bersenang dalam apa yang bukan Dharma, mereka tidak melihat bahaya karena kehidupan itu singkat.

 

[2.16] Durmedhasaṁ hanti bhogo, na tv ihātmagaveṣiṇam,

durmedhā bhogatṛṣnābhir hanty ātmānam atho parān.

 

Kekayaan menghancurkan ia yang bodoh, tetapi tidak dengan ia yang mencari jati dirinya di sini, dengan nafsu akan kekayaan orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.

 

[2.17–2.18] Na karṣāpaṇavarṣeṇa tṛptiḥ kāmair hi vidyate,

“Alpāsvādasukhāḥ kāmā,” iti vijñāya paṇḍitaḥ

api divyeṣu kāmeṣu sa ratiṁ nādhigacchati,

tṛṣṇākṣayarato bhavati Buddhānāṁ śrāvakaḥ sadā.

 

Tidak dengan nafsu inderawi kepuasan ditemukan bahkan dengan hujan koin (karṣāpaṇa), “Nafsu indera memiliki sedikit kepuasan dan kebahagiaan,” mengetahui hal ini, ia yang bijaksana tidak bersenang bahkan dalam nafsu surgawi, tetapi seorang Siswa Sang Buddha (śrāvakaḥ) selalu bersenang dalam penghancuran nafsu.

 

[2.19] Parvato ’pi suvarṇasya samo Himavatā bhavet –

vittaṁ taṁ nālam ekasya, etaj jñātvā samaṁ caret.

 

Bahkan jika terdapat sebuah gunung emas setinggi Himālaya – kekayaan itu tidak akan cukup bagi seseorang, mengetahui hal ini, seseorang seharusnya hidup dalam harmoni.

 

[2.20] Duḥkhaṁ hi yo veda yato nidānaṁ,

kāmeṣu jantu sa kathaṁ rameta?

Upadhiṁ hi loke śalyam iti matvā,

tasyaiva dhīro vinayāya śikṣet.

 

Bagaimana mungkin orang tersebut yang mengetahui penderitaan dan dari mana penderitaan itu berasal bersenang dalam nafsu indera? Mengetahui kemelekatan adalah duri di dunia, yang tekun seharusnya berlatih untuk melenyapkannya.

 

 

 

Kāmavargaḥ 2.

 

Bab tentang Nafsu Indera, yang Kedua.

 

3. Tṛṣṇāvarga

Bab tentang Nafsu

 

(18 Syair)

 

[3.1] Vitarkapramathitasya jantunas,

tīvrarāgasya, śubhānudarśinaḥ,

bhūyas tṛṣṇā pravardhate, gāḍhaṁ

hy eṣa karoti bandhanam.

 

Bagi ia yang dihancurkan dengan pikiran-pikirannya, sangat berhasrat, memikirkan apa yang menyenangkan, nafsunya meningkat, hal ini tentu membuat belenggu semakin kuat.

 

[3.2] Vitarkavyupaśame tu yo rato,

hy aśubhāṁ bhāvayate, sadā smṛtaḥ,

tṛṣṇā hy eṣa prahāsyate, sa tu

khalu pūtikaroti bandhanam.

 

Tetapi bagi ia yang bersenang dalam menenangkan pikiran-pikiannya, yang mengembangkan ketidak-menarikkan, selalu penuh perhatian, orang ini tentu akan meninggalkan nafsu, ia tentu merusak belenggu.

 

[3.3] Kāmāndhajālaprakṣiptās, tṛṣṇayācchāditāḥ prajāḥ,

pramattā bandhane baddhā, matsyavat  kupināmukhe,

jarāmaraṇam āyānti, vatsaḥ kṣīrapaka iva mātaram.

 

Orang-orang, dibutakan oleh nafsu indera dan terjerat dalam jaring, diselimuti oleh nafsu, lengah, terbelenggu dengan belenggu, seperti ikan di mulut perangkap, mendekati usia tua dan kematian, seperti seekor anak sapi yang (akan menyusu) ke induknya.

 

[3.4] Manujasya pramattacāriṇas tṛṣṇā vardhati māluteva hi,

sa hi saṁsarate punaḥ punaḥ, phalam icchann iva vānaro vane.

 

Bagi seseorang yang menjalani kehidupan dengan lengah nafsu meningkat seperti tanaman merambat mematikan yang semakin besar, ia bertransmigrasi lagi dan lagi, seperti seekor monyet menginginkan buah-buahan di hutan.

 

[3.5] Saritāni vai snehitāni vai saumanasyāni bhavanti jantunaḥ,

ye sātasitāḥ sukhaiṣiṇas, te vai jātijaropagā narāḥ.

 

Terdapat aliran arus kecintaan dan kesenangan untuk seseorang, orang-orang itu yang bergantung pada kenikmatan, mencari kesenangan, mereka tentu mengalami kelahiran dan usia tua.

 

[3.6] Tṛṣṇābhir upaskṛtāḥ prajāḥ

paridhāvanti śaśā va vāgurām,

saṁyojanaiḥ saṅgasaktā, duḥkhaṁ,

yānti punaḥ punaś cirarātram.

 

Orang-orang yang diserang oleh nafsu berlarian seperti kelinci dalam suatu jaring, tertaut dan melekat melalui belenggu-belenggu, mereka pergi untuk menderita lagi dan lagi untuk banyak malam.

 

[3.7] Tṛṣṇayā grathitāḥ satvā, raktacittā bhavābhave,

te yogayukta Māreṇa, hy ayogakṣemiṇo janāḥ,

jarāmaraṇam āyānti, yogā hi duratikramāḥ.

 

Malhluk-makhluk terbelenggu oleh nafsu, pikiran mereka melekat pada kemenjadian berulang, mereka terpasung oleh kuk Māra, orang-orang tidak terpasung pada keamanan, mereka mendekati usia tua dan kematian, karena kuk-kuk tersebut sulit untuk diatasi.

 

[3.8] Yas tu tṛṣṇāṁ prahāyeha, vītatṛṣṇo bhavābhave,

tṛṣṇayā vibhavad, bhikṣur, anicchuḥ, parinirvṛtaḥ.

 

Namun ia yang telah meninggalkan nafsu di sini, menjadi tak bernafsu pada kemenjadian berulang, dengan nafsu dihancurkan, Bhikṣu itu, tanpa nafsu, sepenuhnya terbebas.

 

[3.9] Ya etāṁ sahate grāmyāṁ tṛṣṇāṁ, loke sudustyajām,

śokās tasya pravardhante,  hy avavṛṣṭā bīraṇā yathā.

 

Ia yang terbelenggu oleh nafsu yang hina, yang sulit untuk ditinggalkan, terkalahkan di dunia, baginya kesedihan meningkat, seperti rumput yang telah terhujani.

 

[3.10] Yas tv etāṁ tyajate grāmyāṁ tṛṣṇāṁ loke sudustyajām,

śokās tasya nivartante, udabindur iva puṣkarāt.

 

Namun bagi ia yang meninggalkan nafsu yang hina ini, yang sangat sulit ditinggalkan di dunia, baginya kesedihan berhenti, seperti tetesan air dari setangkai bunga teratai.

 

[3.11] Tad vai vadāmi: “Bhadraṁ vo, yāvantaḥ stha samāgatāḥ,”

tṛṣṇāṁ samūlāṁ khanata, uśīrārthīva bīraṇām,

tṛṣṇāyāḥ khātamūlāyā, nāsti śokaḥ, kuto bhayam?

 

Hal ini tentu kukatakan: “Semoga kalian beruntung, sebanyak kalian yang berkumpul di sini,” galilah nafsu dengan akarnya, seperti seseorang yang mencari akar harum menggali rerumputan, ketika akar nafsu telah digali, tidak ada kesedihan, bagaimana mungkin terdapat ketakutan?

 

[3.12] Tṛṣṇādvitīyaḥ puruṣo, dīrgham adhvānam āśayā,

punaḥ punaḥ saṁsarate, garbham eti punaḥ punaḥ,

itthaṁbhāvānyathībhāvaḥ, saṁsare tv āgatiṁ gatim.

 

Seseorang yang menjadikan nafsu sebagai temannya berkelana untuk waktu yang lama akibat harapan, lagi dan lagi ia bertransmigrasi, lagi dan lagi ia memasuki rahim, pergi dari kelahiran ini ke yang lain, datang dan pergi dalam transmigrasi.

 

[3.13] Tāṁ tu tṛṣṇāṁ prahāyeha, vītatṛṣṇo bhavābhave,

nāsau punaḥ saṁsarate, tṛṣṇā hy asya na vidyate.

 

Namun ia yang telah meninggalkan nafsu di sini, dengan tanpa nafsu untuk kemenjadian berulang, orang itu tidak akan bertransmigrasi lagi, baginya nafsu tidak ditemukan.

 

[3.14] Yayā Devā manuṣyāś ca sitās tiṣṭhanti hārthikāḥ,

tarataitāṁ viṣaktikāṁ, kṣaṇo vo mā hy upatyagāt,

kṣaṇātītā hi śocante narakeṣu samarpitāḥ.

 

Hal itu yang membuat para Deva dan manusia tetap bergantung dan kekurangan, melampaui kemelekatan ini, janganlah engkau membiarkan saat ini berlalu, bagi mereka yang saatnya telah berlalu bersedih ketika mereka dilempar ke neraka.

 

[3.15] Tṛṣṇā hi hetuḥ saritā viṣaktikā,

gaṇḍasya nityaṁ visṛteha jālinī,

latāṁ pipāsām apanīya sarvaśo,

nivartate duḥkham idaṁ punaḥ punaḥ.

 

Karena nafsu adalah penyebab belenggu, arus kemelekatan, seperti bisul yang terus membengkak di sini, setelah menghilangkan jerat ini, kehausan ini, dalam segala cara, penderitaan berhenti lagi dan lagi.

 

[3.16] Yathāpi mūlair anupadrutaiḥ sadā,

chinno ’pi vṛkṣaḥ, punar eva jāyate,

evaṁ hi tṛṣṇānuśayair anuddhṛtair,

nirvartate duḥkham idaṁ punaḥ punaḥ.

 

Seperti halnya akibat akar yang selalu tidak rusak, sebatang pohon, walaupun ditebang, tumbuh lagi, demikian pula akibat kecenderungan pada nafsu tidak dicabut, penderitaan ini muncul lagi dan lagi.

 

[3.17] Yathāpi śalyo dṛḍham ātmanā  kṛtas

tam eva hanyād balasā tv adhiṣṭhitaḥ,

tathā tv ihādhyātmasamutthitā latās

tṛṣṇā vadhāyopanayanti prāṇinām.

 

Seperti halnya sebuah anak panah yang terpasang dengan kuat, dibuat oleh seseorang, dapat dengan kuat melukai orang tersebut, demikian pula jerat nafsu, muncul di dalam diri seseorang, menggiring makhluk yang bernafas menuju kehancuran.

 

[3.18] Etad ādīnavaṁ jñātvā – tṛṣṇā duḥkhasya saṁbhavam –

vītatṛṣṇo hy anādānaḥ, smṛto bhikṣuḥ parivrajet.

 

Mengetahui bahaya ini – nafsu itu adalah sumber penderitaan – dengan tanpa nafsu, tidak melekat, seorang Bhikṣu seharusnya berkelana dengan penuh perhatian.

 

 

 

Tṛṣṇāvargaḥ, 3

 

Bab tentang Nafsu, yang Ketiga.

 

4. Apramādavarga

Bab tentang Kewaspadaan

 

(39 Syair)

 

[4.1] Apramādo hy amṛtapadaṁ, pramādo mṛtyunaḥ padam,

apramattā na mriyante, ye pramattāḥ sadā mṛtāḥ.

 

Kewaspadaan adalah jalan menuju tanpa kematian, kelengahan adalah jalan menuju kematian, yang waspada tidak akan mati, tetapi mereka yang lengah selalu mati.

 

[4.2] Etāṁ viśeṣatāṁ jñātvā hy apramādasya, paṇḍitaḥ,

apramādaṁ pramudyeta nityam āryaḥ svagocaram.

 

Mengetahui karakteristik pembeda kewaspadaan, Ia Yang Bijaksana, Ia Yang Mulia, seharusnya selalu bersenang dalam kewaspadaan, yang adalah wilayahnya sendiri.

 

[4.3] Apramattāḥ sātatikā, nityaṁ dṛḍhaparākramāḥ,

spṛśanti dhīrā Nirvāṇaṁ, yogakṣemam anuttaram.

 

Yang waspada, gigih, selalu tekun dalam usahanya, ia yang tekun mengalami Nirvāṇa, keamanan tertinggi.

 

[4.4] Pramādam apramādena yadā nudati paṇḍitaḥ,

prajñāprāsādam āruhya, tv aśokaḥ, śokinīṁ prajām,

parvatasthaiva bhūmisthāṁ dhīro bālān avekṣate.

 

Ketika yang bijaksana menghilangkan kelengahan melalui kewaspadaan, menaiki istana kebijaksanaan, tanpa kesedihan, kepada orang-orang yang bersedih, kepada orang-orang bodoh, ia yang tekun melihat kebawah, seperti seseorang yang berdiri di satu gunung melihat ke bawah pada orang-orang yang berdiri di lembah.

 

[4.5] Utthānenāpramādena, saṁyamena damena ca,

dvīpaṁ karoti medhāvī tam ogho nābhimardati.

 

Melalui daya upaya, kewaspadaan, dan melalui pengendalian dan pelatihan, Ia Yang Pintar membuat pulau yang tidak dapat dihancurkan oleh banjir.

 

[4.6] Utthānavataḥ smṛtātmanaḥ, śubhacittasya niśāmyacāriṇaḥ,

saṁyatasya hi Dharmajīvino, hy apramattasya yaśobhivardhate.

 

Bagi ia yang berdaya upaya, penuh perhatian pada dirinya sendiri, piawai dalam perilaku, bagi Ia yang Berpikiran Murni, terkendali, hidup dengan Dharma, dan waspada, ketenaran akan sangat meningkat.

 

[4.7] Adhicetasi mā pramadyata,

pratataṁ maunapadeṣu śikṣata,

śokā na bhavanti tāyino,

hy upaśāntasya, sadā smṛtātmanaḥ.

 

Janganlah menjadi lalai sehubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, engkau harus berlatih dengan tekun dalam Jalan Sang Bijaksana, tidak ada kesedihan bagi orang demikian, baginya selalu damai, selalu penuh perhatian pada dirinya sendiri.

 

[4.8] Hīnāṁ dharmāṁ na seveta, pramādena na saṁvaset,

mithyādṛṣṭiṁ na roceta, na bhavel lokavardhanaḥ.

 

Seseorang seharusnya tidak mengejar pikiran rendah, seseorang seharusnya tidak hidup dengan kelengahan, seseorang seharusnya tidak menerima pandangan salah, seseorang seharusnya tidak merawat keduniawian.

 

[4.9] Samyagdṛṣṭir adhīmātrā laukikī yasya vidyate,

api jātisahasrāṇi, nāsau gacchati durgatim.

 

Seseorang yang padanya terdapat pandangan benar duniawi yang tak terukur, bahkan selama ribuan kelahiran, orang itu tidak akan pergi ke alam menderita.

 

[4.10] Pramādam anuvartante bālā durmedhaso janāḥ,

apramādaṁ tu medhāvī, dhanaṁ śreṣṭhīva rakṣati.

 

Mereka yang bodoh, orang-orang yang tidak pintar, bersenang dalam kelengahan, namun ia yang pintar menjaga kewaspadaan, seperti seseorang menjaga harta terbesar.

 

[4.11] Pramādam anuvartante bālā durmedhaso janāḥ,

apramattaḥ, sadā dhyāyī, prāpnute hy āsravakṣayam.

 

Mereka yang bodoh, orang-orang yang tidak pintar, bersenang dalam kelengahan, ia yang waspada, seorang meditator, selalu mencapai penghancuran kekotoran.

 

[4.12] Pramādaṁ nānuyujyeta, na kāmaratisaṁstavam,

apramattaḥ sadā dhyāyī, prāpnute hy acalaṁ sukham.

 

Seseorang seharusnya tidak membiarkan dirinya terjerumus pada kelalaian, juga tidak menikmati kesenangan intim dalam nafsu indera, ia yang waspada, sang meditator, selalu mencapai kebahagiaan yang tak tergoyahkan.

 

[4.13] Nāyaṁ pramādakālaḥ syād, aprāpte hy āsravakṣaye,

Māraḥ pramattam anveti, siṁhaṁ vā mṛgramātṛkā.

 

Sekarang bukanlah waktunya untuk kelalaian, ketika penghancuran kekotoran belum tercapai, Māra mengikuti yang lengah, seperti singa yang mengikuti induk rusa.

 

[4.14] Sthānāni catvāri naraḥ pramatta,

āpadyate yaḥ paradārasevī:

apuṇyalābhaṁ, hy anikāmaśayyāṁ,

nindāṁ tṛtīyaṁ, narakaṁ caturtham.

 

Terdapat empat keadaan yang dialami pria yang lalai, yang berhubungan intim dengan istri orang lain: Ia memperoleh keburukan, tidurnya gelisah, celaan yang ketiga, dan kelahiran kembali di neraka sebagai yang keempat.

 

[4.15.i] Apuṇyalābhaṁ ca gatiṁ ca pāpikāṁ,

bhītasya bhītābhir athālpikāṁ ratim,

nindāṁ ca paśyaṁ nṛpateś ca daṇḍaṁ –

parasya dārāṇi vivarjayeta.

 

Terdapat perolehan keburukan dan kelahiran di alam rendah, kesenangan kecil seorang pria yang takut bersama wanita-wanita yang takut, dan melihat celaan dan hukuman raja – seseorang seharusnya menghindari istri-istri seseorang.

 

[4.15.ii] Apuṇyalābhaś ca gatiś ca pāpikā,

bhītasya bhītābhir athālpikā ratiḥ,

rājā ca daṇḍaṁ gurukaṁ dadāti –

kāyasya bhedād narakeṣu pacyate.

 

Terdapat perolehan keburukan dan kelahiran di alam rendah, kesenangan kecil seorang pria yang takut bersama wanita-wanita yang takut, dan seorang raja yang memberikan hukuman berat – setelah hancurnya jasmani ia tersiksa di neraka.

 

[4.16] Pratiyatyeva tat kuryād yaj jāned dhitam ātmanaḥ,

na śākaṭikacintābhir, mandaṁ dhīraḥ parākramet.

 

Hendaknya seseorang dengan saksama melakukan apa yang ia ketahui bermanfaat bagi dirinya sendiri, bukan dengan pikiran layaknya kusir gerobak yang bodoh; Seorang yang teguh seharusnya berupaya (demikian).

 

[4.17–4.18] Yathā śākaṭiko mārgaṁ samaṁ hitvā mahāpatham,

viṣamaṁ mārgam āgamya, cchinnākṣaḥ śocate bhṛśam,

evaṁ Dharmād apakramya, hy adharmam anuvartya ca,

bālo mṛtyuvaśaṁ prāptac, chinnākṣa iva śocate.

 

Seperti halnya seorang kusir kereta, setelah meninggalkan jalan yang rata, jalan raya, dan mengarah ke jalan yang tidak rata, sangat bersedih seperti seseorang dengan poros roda yang rusak, demikian pula, keluar dari Dharma, dan mengikuti apa yang bukan Dharma, orang bodoh, setelah datang kedalam kuasa kematian, bersedih seperti seseorang dengan poros roda yang rusak.

 

[4.19] Yat kṛtyaṁ tad apaviddham, akṛtyaṁ kriyate punaḥ,

uddhatānāṁ pramattānāṁ, teṣāṁ vardhanti āsravāḥ,

āsravās teṣu vardhante, ārāt te hy āsravakṣayāt.

 

Apa yang harus dilakukan, hal itu ditolak, apa yang seharusnya tidak dilakukan, dilakukan lagi, bagi orang yang arogan dan lalai, kekotorannya meningkat, kekotoran meningkat di dalam mereka, mereka jauh dari penghancuran kekotoran.

 

[4.20] Yeṣāṁ tu susamārabdhā nityaṁ kāyagatā smṛtiḥ,

akṛtyaṁ te na kurvanti, kṛtye sātatyakāriṇaḥ,

smṛtānāṁ saṁprajānānām astaṁ gacchanti āsravāḥ.

 

Tetapi bagi ia yang perhatiannya diarahkan ke jasmani telah melaksanakan dengan baik dan berkesinambungan, mereka tidak melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan, mereka tetap melakukan apa yang harus dilakukan, bagi mereka yang penuh perhatian dan berpandangan terang, kekotoran pergi menjauh.

 

[4.21] Na tāvatā Dharmadharo, yāvatā bahu bhāṣate,

yas tv ihālpam api śrutvā, Dharmaṁ kāyena vai spṛśet,

sa vai Dharmadharo bhavati, yo Dharme na pramādyate.

 

Seseorang bukanlah penjaga Dharma hanya karena ia banyak bicara, tetapi ia yang, setelah mendengar sedikit di sini, mau mempraktikkan Dharma secara pribadi, ia tentu adalah seorang penjaga Dharma, orang yang tidak lengah terhadap Dharma.

 

[4.22] Subahv apīha sahitaṁ bhāṣamāṇo,

na tatkaro bhavati naraḥ pramattaḥ,

gopaiva gāḥ saṁgaṇayaṁ pareṣāṁ,

na bhāgavāṁ cchrāmaṇyārthasya bhavati.

 

Bahkan jika orang lengah melafalkan banyak kanon di sini, tetapi tidak berperilaku sesuai dengannya, seperti seorang gembala yang menghitung ternak orang lain, ia bukanlah seseorang yang mencapai tujuan kehidupan suci.

 

[4.23] Alpam api cet sahitaṁ bhāṣamāṇo

Dharmasya, bhavati hy anudharmacārī,

rāgaṁ ca doṣaṁ ca tathaiva mohaṁ prahāya,

bhāgī śrāmaṇyārthasya bhavati.

 

Bahkan jika seseorang melafalkan sedikit kanon Dharma, tetapi berperilaku sesuai dengan Dharma, meninggalkan nafsu indera, kebencian dan delusi, ia adalah seseorang yang mencapai tujuan kehidupan suci.

 

[4.24] Apramādaṁ praśaṁsanti, pramādo garhitaḥ sadā,

apramādena Maghavāṁ Devānāṁ śreṣṭhatāṁ gataḥ.

 

Kewaspadaan mereka puji, kelengahan selalu dicela, melalui kewaspadaan Maghavā (Sakka/ Indra) menjadi pemimpin para Deva.

 

[4.25–4.26] Apramādaṁ praśaṁsanti sadā kṛtyeṣu paṇḍitāḥ,

apramatto hy ubhāv arthāv atigṛhṇāti paṇḍitaḥ:

Dṛṣṭadhārmika eko ’rthas, tathānyaḥ sāmparāyikaḥ,

arthābhisamayād dhīraḥ paṇḍito hi nirucyate.

 

Orang bijaksana selalu memuji kewaspadaan dalam tugas-tugasnya, mereka yang waspada dan bijaksana memperoleh kedua manfaat ini: Satu manfaat terlihat dalam kehidupan ini, dan yang lainnya di kehidupan selanjutnya, ia yang tekun, dari realisasi manfaat-manfaat ini, tentu disebut seorang bijaksana.

 

[4.27] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

durgād uddharatetmānaṁ paṅkasannaiva kuñjaraḥ.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, harus mengeluarkan dirinya dari lubang (keterpurukan), seperti gajah yang berendam di dalam lumpur.

 

[4.28] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

dhunāti pāpakāṁ dharmāṁ, patrāṇīva hi mārutaḥ.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, menghempaskan pikiran jahat, seperti halnya angin menghempaskan dedaunan dari sebatang pohon.

 

[4.29] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

saṁyojanam aṇusthūlaṁ dahann agnir iva gacchati.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, mengalami kemajuan, membakar belenggu, kecil atau besar, seperti sebuah api.

 

[4.30] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

spṛśati hy anupūrveṇa sarvasaṁyojanakṣayam.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, secara bertahap mengalami penghancuran segala belenggu.

 

[4.31] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

pratividhyate padaṁ śāntaṁ, saṁskāropaśamaṁ sukham.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, menembus keadaan yang damai, terhentinya segala sesuatu yang berkondisi, kebahagiaan.

 

[4.32] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,

abhavyaḥ parihāṇāya: Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Seorang Bhikṣu yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, tidak mampu untuk terjatuh: Bhikṣu itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[4.33–4.34] Uttiṣṭhata vyāyamata, dṛḍhaṁ śikṣata śāntaye!

Asmṛtiś ca pramādaś caivānutthānam asaṁyamaḥ,

nidrā tandrīr anāyoga – ete śikṣāntarāyikāḥ,

tad aṅgaṁ pratibudhyadhvaṁ! Smṛtir māntaradhīyata!

 

Bangkitkan dirimu, berusahalah, berlatihlah dengan tekun untuk kedamaian! Kurangnya perhatian, kelengahan, kemalasan, kurangnya pengendalian, tidur, kelesuan, kurangnya praktek – ini semua adalah belenggu untuk latihan, sadarlah dengan fakta ini! Janganlah kehilangan perhatian!

 

[4.35] Uttiṣṭhen na pramādyeta, Dharmaṁ sucaritaṁ caret,

Dharmacārī sukhaṁ śete hy asmiṁ loke paratra ca.

 

Seseorang seharusnya berjuang, jangan menjadi lengah, hidup dengan Dharma dan berperilaku baik, seseorang yang hidup dengan Dharma hidup bahagia di dunia ini dan di dunia berikutnya.

 

[4.36] Apramādaratā bhavata! Suśīlā bhavata, bhikṣavaḥ,

susamāhitasaṁkalpāḥ, svacittam anurakṣata.

 

Jadilah ia yang bersenang dalam kewaspadaan! Jadilah yang terdisiplinkan dengan baik, para Bhikṣu, dengan niat yang tersusun baik, lindungilah pikiranmu sendiri.

 

[4.37] Ārabhadhvaṁ niṣkramadhvaṁ, yujyadhvaṁ Buddhaśāsane,

dhunidhvaṁ mṛtyunaḥ sainyaṁ, naḍāgāram iva kuñjaraḥ.

 

Engkau harus berusaha dan melepaskan, dan teguhkan dirimu kepada Ajaran Sang Buddha, hempaskanlah pasukan kematian, seperti seekor gajah menghancurkan sebuah gubuk bambu.

 

[4.38] Yo hy asmiṁ Dharmavinaye tv apramatto bhaviṣyati,

prahāya jātisaṁsāraṁ, duḥkhasyāntaṁ sa yāsyati.

 

Ia yang akan waspada dalam Dharma dan Vinaya ini, setelah meninggalkan transmigrasi melalui kelahiran, akan pergi menuju akhir penderitaan.

 

 

 

Apramādavargaḥ, 4.

 

Bab tentang Kewaspadaan, yang Keempat.

 

5. Priyavarga

Bab tentang yang Dicintai

 

(29 Syair)

 

[5.1] Priyebhyo jāyate śokaḥ, priyebhyo jāyate bhayam,

priyebhyo vipramuktānāṁ nāsti śokaḥ, kuto bhayam?

 

Dari yang dicintai muncul kesedihan, dari yang dicintai muncul ketakutan, bagi mereka yang sepenuhnya terbebas dari yang dicintai, tidak terdapat kesedihan, bagaimana (mungkin) terdapat ketakutan?

 

[5.2] Priyebhyo jāyate śokaḥ, priyebhyo jāyate bhayam,

priyāṇām anyathībhāvād, unmādam api gacchati.

 

Dari yang dicintai kesedihan muncul, dari yang dicintai ketakutan muncul, karena perubahan dalam ia yang terkasih, seseorang bahkan menjadi marah.

 

[5.3] Śokā hi ye vai paridevitaṁ ca,

duḥkhaṁ ca lokasya hi naikarūpam,

priyaṁ pratītyeha tad asti sarvaṁ,

priye ’sati, syān na kathaṁ cid etat?

 

Memang, kesedihan dan dukacita apapun, dan banyak jenis penderitaan di dunia, semuanya muncul karena yang dicintai di sini, tanpa yang dicintai, penderitaan apa yang dapat terjadi?

 

[5.4] Tasmād dhi te sukhitā vītaśokā,

yeṣāṁ priyaṁ nāsti kathaṁ cid eva,

tasmād aśokaṁ padam eṣamāṇaḥ,

priyaṁ na kurvīta hi jīvaloke.

 

Karena itulah mereka bahagia dan bebas dari kesedihan, bagi mereka tidak ada siapapun yang dicintai, karena itulah ia yang mencari keadaan tanpa kesedihan, seharusnya tidak membuat cinta untuk apapun pada dunia kehidupan.

 

[5.5] Mā priyaiḥ saṁgamo jātu, mā ca syād apriyaiḥ sadā,

priyāṇām adarśanaṁ duḥkham, apriyāṇāṁ ca darśanam.

 

Jangan pernah berhubungan dengan yang dicintai, dan seseorang seharusnya tidak selalu bersama dengan yang dibenci, tidak melihat mereka yang dicintai adalah penderitaan, dan juga melihat mereka yang dibenci.

 

[5.6] Priyāṇāṁ ca vinābhāvād apriyāṇāṁ ca saṁgramāt

tīvra utpadyate śoko, jīryante yena mānavāḥ.

 

Dari berpisah dengan yang dicintai dan berhubungan dengan yang dibenci memunculkan kesedihan yang besar, yang dengannya seseorang merosot.

 

[5.7] Priyaṁ mṛtaṁ kālagataṁ, jñātayaḥ sahitāḥ sthitāḥ,

śocanti dīrgham adhvānaṁ, duḥkho hi priyasaṁgamaḥ.

 

Ketika seseorang yang dicintai telah pergi dan meninggal, para kerabat, berkumpul, mengelilinginya, mereka bersedih untuk waktu yang lama, akibat kemelekatan pada yang dicintai adalah penderitaan.

 

[5.8] Tasmāt priyaṁ na kurvīta, priyabhāvo hi pāpakaḥ,

granthās teṣāṁ na vidyante yeṣāṁ nāsti priyāpriyam.

 

Karena itulah seseorang tidak seharusnya mencintai, karena kehadiran yang dicintai adalah menyakitkan, tidak ada ikatan bagi mereka yang tidak menggenggam apapun seperti yang dicintai atau yang dibenci.

 

[5.9] Ayoge yujya cātmānaṁ, yoge cāyujya sarvadā,

arthaṁ hitvā, priyagrāhī spṛhayaty arthayogine.

 

Setelah meneguhkan dirinya pada apa yang tidak layak, tidak pernah meneguhkan dirinya pada apa yang layak, meninggalkan kebaikan, ia yang menggenggam yang dicintai iri pada ia yang teguh pada kebaikan.

 

[5.10] Priyarūpasātagrathitā Devakāyāḥ pṛthaksthitāḥ,

āghādinaḥ paridyūnā, Mṛtyurājavaśaṁ gatāḥ.

 

Tubuh para Deva, terikat oleh kenikmatan bentuk-bentuk yang dicintai, berdiri terpisah (di alamnya masing-masing), tersiksa, menua, mereka pergi ke dalam kekuasaan Raja Kematian.

 

[5.11] Ye vai divā ca rātrau caivāpramattāḥ priyaṁ jahati nityam,

te vai khananti tv aghamūlaṁ,

Mṛtyu-r-āmiṣaṁ durativartyam.

 

Tentu saja mereka yang waspada di siang dan malam, selalu meninggalkan yang dicintai, mereka tentu menggali akar dukacita, jebakan kematian, sangat sulit untuk dilampaui.

 

[5.12] Asādhu sādhurūpeṇa, priyarūpeṇa cāpriyam,

duḥkhaṁ sukhyasya rūpeṇa, pramattān abhimardati.

 

Yang tidak menyenangkan dengan bentuk yang menyenangkan, yang tidak dicintai dengan bentuk yang dicintai, kesakitan di bentuk kesenangan, menghancurkan yang lengah.

 

[5.13] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyān, nainaṁ pāpena yojayet,

na hy etat sulabhaṁ bhavati sukhaṁ duṣkṛtakāriṇā.

 

Jika seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia tidak akan melibatkan dirinya sendiri pada kesalahan, karena kebahagiaan tidak mudah diperoleh oleh ia yang melakukan perbuatan buruk.

 

[5.14] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyān, nainaṁ pāpena yojayet,

etad dhi sulabhaṁ bhavati sukhaṁ sukṛtakāriṇā.

 

Jika seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia tidak akan melibatkan dirinya sendiri pada kesalahan, karena kebahagiaan mudah diperoleh oleh ia yang melakukan perbuatan bajik.

 

[5.15] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyād, rakṣed enaṁ surakṣitam,

yathā pratyantanagaraṁ gambhīraparikhaṁ dṛḍham,

trayāṇām anyatamaṁ yāmaṁ pratijāgreta paṇḍitaḥ.

 

Jika seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia seharusnya menjaga dirinya sendiri dengan baik, seperti suatu perbatasan kota yang dibangun kokoh dengan parit yang dalam, orang bijaksana harus selalu waspada di salah satu dari tiga jaga malam.

 

[5.16–5.17] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyād, gopayet taṁ sugopitam,

yathā pratyantanagaraṁ, guptam antarbahisthiram,

evaṁ gopayatātmānaṁ, kṣaṇo vo mā hy upatyagāt,

kṣaṇātītā hi śocante, narakeṣu samarpitāḥ.

 

Jika seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia seharusnya menjaga dirinya sendiri, seperti halnya suatu perbatasan kota yang dijaga, kokoh dari dalam dan luar, demikianlah seseorang seharusnya menjaga dirinya sendiri, janganlah membiarkan momen itu berlalu, bagi mereka yang membiarkan momen akan bersedih, ketika terlahir ke alam neraka.

 

[5.18] Sarvā diśas tv anuparigamya cetasā,

naivādhyagāt priyataram ātmanaḥ kva cit,

evaṁ priyaḥ pṛthagātmā pareṣāṁ,

tasmān na hiṁsyāt param ātmakāraṇam.

 

Setelah mencari ke segala arah dengan pikiran, seseorang menemukan bahwa tidak ada yang lebih dicintai daripada dirinya sendiri, dalam cara inilah, orang lain masing-masing mencintai dirinya sendiri, karena itulah ia yang peduli pada dirinya sendiri tidak seharusnya menyakiti yang lain.

 

[5.19] Sarve daṇḍasya bibhyanti, sarveṣāṁ jīvitaṁ priyam,

ātmānam upamāṁ kṛtvā, naiva hanyān na ghātayet.

 

Semuanya takut pada tongkat, bagi semua kehidupan adalah yang dicintai, setelah membuat suatu perbandingan pada dirinya sendiri, seseorang tidak seharusnya melukai akau menyebabkan terlukanya (makhluk lain).

 

[5.20–5.21] Cirapravāsinaṁ yadvad dūrataḥ svastināgatam,

jñātayaḥ suhṛdo mitrāś cābhinandanti āgatam,

kṛtapuṇyaṁ tathā martyam asmāl lokāt paraṁ gatam,

puṇyāny evābhinandanti, priyaṁ jñātim ivāgatam.

 

Seperti halnya ketika seseorang yang tinggal di luar negeri data dengan selamat dari jauh, kerabatnya, rekan dan sahabatnya bergembira saat kepulangannya, demikianlah, ketika satu makhluk yang telah melakukan kebajikan pergi dari dunia ini ke dunia berikutnya, kebajikannya bergembira, seperti halnya seorang kerabat bergembira atas kepulangan seseorang yang mereka cintai.

 

[5.22] Tasmāt kuruta puṇyānāṁ, nicayaṁ sāmparāyikam,

puṇyāni paraloke hi pratiṣṭhā prāṇināṁ hi sā.

 

Karena itulah lakukan perbuatan bajik, satu perbekalan untuk kehidupan di masa depan, kebajikan itu tentu adalah satu penyokong untuk makhluk-makhluk yang bernafas di dunia berikutnya.

 

[5.23] Puṇyaṁ Devāḥ praśaṁsanti, samacaryāṁ ca yaś caret,

iha cānindito bhavati, pretya svarge ca modate.

 

Para Deva memuji kebajikan seseorang yang hidup dalam harmoni, seseorang menjadi tanpa cela di sini, dan setelah kematian, seseorang berbahagia di surga.

 

[5.24] Dharmasthaṁ śīlasaṁpannaṁ hrīmantaṁ satyavādinam,

ātmanaḥ kārakaṁ santaṁ, taṁ janaḥ kurute priyam.

 

Teguh dalam Dharma, diberkahi dengan moralitas, memiliki rasa malu (akan perbuatan buruk), seorang pengucap kebenaran, orang baik itu yang berperilaku untuk dirinya sendiri, ialah yang dicintai oleh orang-orang.

 

[5.25] Pareṣāṁ ca priyo bhavati, hy ātmārthaṁ kriyate ’pi ca,

dṛṣte ca dharme prāśaṁsyaḥ, sāmparāye ca sadgatiḥ.

 

Ia bahkan dicintai oleh orang lain, bahkan ketika berbuat demi dirinya sendiri, ia patut dipuji di dunia ini, dan memiliki tujuan yang baik di kehidupan mendatang.

 

[5.26] Avavadetānuśāsīta, cāsabhyāc ca nivārayet,

asatāṁ na priyo bhavati, satāṁ bhavati tu priyaḥ.

 

Ia seharusnya menasehati dan juga menginstruksikan, dan melarang apa yang keji, ia tidak dicintai dengan keburukan, tetapi ia dicintai dengan kebajikan.

 

[5.27] Asantaś caiva santaś ca nānā yānti tv itaś cyutāḥ,

asanto narakaṁ yānti, santaḥ svargaparāyaṇāḥ.

 

Orang jahat dan orang baik ketika meninggal pergi ke berbagai tujuan dari sini, orang jahat pergi ke neraka, orang baik menyeberang ke alam surga.

 

 

 

Priyavargaḥ, 5.

 

Bab tentang Yang Dicintai, yang Kelima.

 

6. Śīlavarga

Bab tentang Moralitas

 

(18 Syair)

 

[6.1] Śīlaṁ rakṣeta medhāvī, prārthayaṁ vai sukhatrayam:

praśaṁsā vittalābhaṁ ca, pretya svarge ca modanam.

 

Ia yang cerdas seharusnya melindungi moralitasnya, ketika mengharapkan tiga kebahagiaan: Pujian dan perolehan kekayaan, dan berbahagia di surga setelah kematian.

 

[6.2] Sthānāny etāni saṁpaśyaṁ śīlaṁ rakṣeta paṇḍitaḥ,

āryo darśanasaṁpannaḥ, sa loke labhate śivam.

 

Melihat keadaan-keadaan ini, ia yang bijaksana seharusnya melindungi moralitasnya, Ia Yang Suci, diberkahi dengan pandangan terang, memperoleh keamanan di dunia.

 

[6.3] Sukhaṁ śīlasamādānaṁ, kāyo na paridahyate,

sukhaṁ ca rātrau svapati, pratibuddhaś ca nandati.

 

Adalah baik menjalani moralitas, tubuh tidak menjadi sakit, ia yang baik tidur saat malam, dan, setelah terjaga, ia berbahagia.

 

[6.4] Śīlaṁ yāvaj jarā sādhu, śraddhā sādhu pratiṣṭhitā,

prajñā narāṇāṁ ratnaṁ vai, puṇyaṁ coraiḥ sudurharam.

 

Moralitas adalah baik hingga usia tua, meneguhkan keyakinan adalah baik, kebijaksanaan tentu ialah satu permata diantara manusia, adalah sulit bagi jasa kebajikan dicuri oleh pencuri.

 

[6.5] Kṛtvā puṇyāni saprajño, datvā dānāni śīlavān,

iha cātha paratrāsau sukhaṁ samadhigacchati.

 

Orang bijaksana dan bermoral, setelah membuat kebajikan dan memberikan pemberian, orang itu kemudian mencapai kebahagiaan baik di sini dan di dunia selanjutnya.

 

[6.6-7] Śīle pratiṣṭhito bhikṣur, indriyaiś ca susaṁvṛtaḥ,

bhojane cāpi mātrajño, yukto jāgarikāsu ca,

viharann evam ātāpī, hy ahorātram atandritaḥ,

abhavyaḥ parihāṇāya: Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Seorang Bhikṣu, yang teguh dalam moralitas, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, tahu ukuran dalam hal makan, dan mengabdikan diri pada keawasan, berdiam dengan gigih dalam cara ini, tekun, siang dan malam, kemunduran adalah mustahil baginya: Orang itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[6.8] Śīle pratiṣṭhito bhikṣuś, cittaṁ prajñāṁ ca bhāvayet,

ātāpī nipako nityaṁ, prāpnuyād duḥkhasaṁkṣayam.

 

Seorang Bhikṣu yang teguh dalam moralitas, seharusnya mengembangkan pikiran dan kebijaksanaan, dengan tekun dan menyelidiki terus-menerus, ia dapat mencapai penghancuran penderitaan sepenuhnya.

 

[6.9] Tasmāt satataśīlī syāt, samādher anurakṣakaḥ,

vipaśyanāyāṁ śikṣec ca, saṁprajānapratismṛtaḥ.

 

Karena itulah, seseorang seharusnya selalu bermoral, seorang penjaga konsentrasi, dan seseorang seharusnya berlatih dalam pandangan terang, memahami dengan jelas dan penuh perhatian.

 

[6.10] Sa tu vikṣīnasaṁyogaḥ, kṣīṇamāno niraupadhiḥ,

kāyasya bhedāt, saprajñaḥ, saṁkhyān nopaiti, nirvṛtaḥ.

 

Namun ia, dengan kuk dihancurkan, dengan kesombongan dihancurkan, tanpa kemelekatan, ketika hancurnya jasmani, ia yang bijaksana, terbebaskan, tidak akan dihitung (sebagai makhluk lagi).

 

[6.11] Śīlaṁ samādhiḥ prajñā ca yasya hy ete subhāvitāḥ,

so ’tyantaniṣṭho vimalas tv aśokaḥ kṣīṇasaṁbhavaḥ.

 

Baginya hal-hal ini: Moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan, telah dengan baik dikembangkan, orang itu teguh dalam pendirian, tanpa noda, tanpa kesedihan, dengan kemenjadian dihancurkan.

 

[6.12] Saṅgāt pramukto hy asita, ājñātāvī niraupadhiḥ,

atikramya Māraviṣayam, ādityo vā virocate.

 

Terbebas dari kemelekatan, tidak bergantung, memiliki pengetahuan yang sempurna, tanpa kemelekatan, setelah melampaui kuasa Māra, ia bersinar seperti matahari.

 

[6.13] Uddhatasya pramattasya, bhikṣuṇo bahirātmanaḥ,

śīlaṁ samādhiḥ prajñā ca pāripūriṁ na gacchati.

 

Bagi seorang Bhikṣu yang arogan, lalai, dengan dirinya sendiri diarahkan ke hal-hal luar, moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan tidak mencapai pemenuhan.

 

[6.14] Channam evābhivarṣati, vivṛtaṁ nābhivarṣati,

tasmād dhi cchannaṁ vivared, evaṁ taṁ nābhivarṣati.

 

Hujan membasahi apa yang tertutup, hujan tidak membasahi apa yang terbuka, karena itulah, seseorang seharusnya membuka apa yang tertutup, sehingga hujan tidak membasahinya.

 

[6.15] Etad dhi dṛṣṭvā śikṣeta sadā śīleṣu paṇḍitaḥ,

Nirvāṇagamanaṁ mārgaṁ kṣipram eva viśodhayet.

 

Setelah melihat hal ini, ia yang bijaksana seharusnya berlatih dalam moralitas, ia seharusnya bergegas memurnikan Sang Jalan menuju Nirvāṇa.

 

[6.16] Na puṣpagandhaḥ prativātam eti,

na vāhnijāt tagarac candanād vā,

satāṁ tu gandhaḥ prativātam eti,

sarvā diśaḥ satpuruṣaḥ pravāti.

 

Harumnya bunga tidak pergi melawan angin, juga melati, tagara, dan cendana, namun harumnya kebajikan dapat pergi melawan angin, orang bajik melingkupi segala arah.

 

[6.17] Tagarāc candanāc cāpi, vārṣikāyās tathotpalāt,

etebhyo gandhajātebhyaḥ, śīlagandhas tv anuttaraḥ.

 

Diantara tagara, cendana, dan kembang melati, demikian pula teratai biru, diantara aroma-aroma yang harum ini, harumnya kebajikan tidaklah tertandingi.

 

[6.18] Alpamātro hy ayaṁ gandho, yo ’yaṁ tagaracandanāt,

yas tu śīlavatāṁ gandho vāti deveṣv apīha saḥ.

 

Tidaklah seberapa harum ini, yang muncul dari tagara dan cendana, namun harumnya seseorang yang memiliki moralitas di sini berhembus bahkan di antara para Deva.

 

[6.19] Teṣāṁ viśuddhaśīlānām, apramādavihāriṇām,

samyagājñāvimuktānāṁ – Māro mārgaṁ na vindati.

 

Bagi mereka yang bermoral murni, yang hidup dengan kewaspadaan, yang terbebas melalui pengetahuan benar – Māra tidak dapat menemukan jejak mereka.

 

[6.20] Eṣa kṣemagamo mārga, eṣa mārgo viśuddhaye,

pratipannakāḥ prahāsyanti dhyāyino Mārabandhanam.

 

Inilah Sang Jalan menjuju Keamanan, inilah Sang Jalan menuju Pemurnian, para meditator yang memasuki Jalan ini akan meninggalkan belenggu Māra.

 

 

 

Śīlavargaḥ, 6.

 

Bab tentang Moralitas, yang Keenam.

 

7. Sucaritavarga

Bab tentang Perilaku Bajik

 

(12 Syair)

 

[7.1] Kāyapradoṣaṁ rakṣeta, syāt kāyena susaṁvṛtaḥ,

kāyaduścaritaṁ hitvā, kāyena sukṛtaṁ caret.

 

Seseorang seharusnya berjaga atas kesalahan jasmani, seseorang seharusnya terkendali dalam jasmani, meninggalkan perilaku jasmani yang salah, seseorang seharusnya mempraktekkan perilaku jasmani yang baik.

 

[7.2] Vācaḥ pradoṣaṁ rakṣeta, vacasā saṁvṛto bhavet,

vāco duścaritaṁ hitvā, vācā sucaritaṁ caret.

 

Seseorang seharusnya berjaga atas kesalahan ucapan, seseorang seharusnya terkendali dalam ucapan, meninggalkan perilaku ucapan yang salah, seseorang seharusnya mempraktekkan perilaku ucapan yang baik.

 

[7.3] Manaḥpradoṣaṁ rakṣeta manasā saṁvṛto bhavet,

manoduścaritaṁ hitvā manaḥsucaritaṁ caret.

 

Seseorang seharusnya berjaga atas kesalahan pikiran, seseorang seharusnya terkendali dalam pikiran, meninggalkan perilaku pikiran yang salah, seseorang seharusnya memiliki perilaku pikiran yang baik.

 

[7.4–7.5] Kāyaduścaritaṁ hitvā, vacoduścaritāni ca,

manoduścaritaṁ hitvā, yac cānyad doṣasaṁhitaṁ,

kāyena kuśalaṁ kuryād, vacasā kuśalaṁ bahu,

manasā kuśalaṁ kuryād, apramāṇaṁ niraupadhim.

 

Meninggalkan perilaku jasmani yang salah, dan juga perilaku ucapan yang salah, meninggalkan perilaku pikiran yang salah, dan apapun itu yang berhubungan dengan kesalahan, seseorang seharusnya membuat jasa kebajikan dengan jasmani, dan banyak jasa kebajikan dengan ucapan, seseorang seharusnya membuat jasa kebajikan dengan pikiran, ia akan menjadi tak terukur, bebas dari kemelekatan.

 

[7.6] Kāyena kuśalaṁ kṛtvā, vacasā cetasāpi ca,

iha cātha paratrāsau sukhaṁ samadhigacchati.

 

Setelah membuat jasa kebajikan dengan jasmani, dengan ucapan dan dengan pikiran, kemudian di sini dan di dunia selanjutnya orang itu mencapai kebahagiaan.

 

[7.7] Ahiṁsakā vai munayo, nityaṁ kāyena saṁvṛtāḥ,

te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na śocati.

 

Tentu saja, para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam jasmani, pergi menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak bersedih.

 

[7.8] Ahiṁsakā vai munayo, nityaṁ vācā susaṁvṛtāḥ,

te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na śocati.

 

Tentu saja, para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam ucapan, pergi menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak bersedih.

 

[7.9] Ahiṁsakā vai munayo, manasā nityasaṁvṛtāḥ,

te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na śocati.

 

Tentu saja, para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam pikiran, pergi menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak bersedih.

 

[7.10] Kāyena saṁvṛtā dhīrā, dhīrā vācā susaṁvṛtāḥ,

manasā saṁvṛtā dhīrā, dhīrāḥ sarvatra saṁvṛtāḥ,

te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ yatra gatvā na śocati.

 

Yang tekun terkendali dalam jasmani, yang tekun terkendali dengan baik dalam ucapan, yang tekun terkendali dalam pikiran, yang tekun terkendali dengan baik dalam segala cara, mereka pergi menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak bersedih.

 

[7.11] Kāyena saṁvaraḥ sādhu, sādhu vācā ca saṁvaraḥ,

manasā saṁvaraḥ sādhu, sādhu sarvatra saṁvaraḥ,

sarvatra saṁvṛto bhikṣuḥ sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Pengendalian jasmani adalah baik, pengendalian ucapan adalah baik, pengendalian pikiran adalah baik, adalah baik terkendali dalam segala cara, seorang Bhikṣu yang terkendali dalam segala cara terbebas dari segala penderitaan.

 

[7.12] Vācānurakṣī manasā susaṁvṛtaḥ,

kāyena caivākuśalaṁ na kuryāt,

etāṁ śubhāṁ karmapathāṁ viśodhayann,

ārādhayen mārgam ṛṣipraveditam.

 

Seseorang yang terjaga dalam ucapan, terkendali dengan baik dalam pikiran, seharusnya tidak melakukan keburukan dengan jasmani, memurnikan Jalan-jalan indah perbuatan ini, seseorang seharusnya menyelesaikan Jalan yang ditunjukkan oleh Sang Penglihat.

 

 

 

Sucaritavargaḥ, 7.

 

Bab tentang Perilaku Bajik, yang Ketujuh

 

8. Vācavarga

Bab tentang Ucapan

 

(15 Syair)

 

[8.1] Abhūtavādī narakān upaiti,

yaś cānyad apy ācaratīha karma,

ubhau hi tau pretya samau niruktau,

nihīnadharmau manujau paratra.

 

Ia yang mengucapkan kebohongan pergi ke neraka, demikian juga ia yang melakukan berbagai macam perbuatan salah di sini, keduanya dinyatakan sama setelah kematian, di dunia berikutnya mereka dinyatakan sebagai manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan rendah.

 

[8.2] Puruṣasya hi jātasya, kuṭhārī jāyate mukhe,

yayā chinatti hātmānaṁ, vācā durbhāṣitaṁ vadan.

 

Ketika seseorang terlahir, sebuah kapak muncul di mulutnya, yang dengannya ia memotong dirinya sendiri, mengucapkan kata-kata yang dengan buruk diucapkan.

 

[8.3] Yo nindiyāṁ praśaṁsati,

tān api nindati ye praśaṁsiyāḥ,

sa cinoti mukhena taṁ kaliṁ,

kalinā tena sukhaṁ na vindati.

 

Ia yang memuji yang patut dicela, yang bahkan mencela mereka yang patut dipuji, orang itu mengumpulkan pelanggaran dengan mulutnya, karena pelanggaran itu kebahagiaan tidak ditemukan.

 

[8.4] Alpamātro hy ayaṁ kalir ya ihākṣeṇa dhanaṁ parājayet,

ayam atra mahattaraḥ kalir, yaḥ sugateṣu manaḥ pradūṣayet.

 

Orang yang kehilangan kekayaan melalui dadu di sini, pelanggaran ini tidaklah signifikan, inilah pelanggaran yang jauh lebih besar di sini, orang yang berpikiran jahat terhadap mereka yang bajik.

 

[8.5] Śataṁ sahasrāṇi nirarbudāni,

ṣaṭtrimśatiṁ pañca tathārbudāni,

yān āryagarhī narakān upaiti,

vācaṁ manaś ca praṇidhāya pāpakam.

 

Ratusan, ribuan, banyak milyaran, tiga puluh enam ditambah lima milyar tahun, ia yang mencela yang suci pergi ke neraka selama ini, setelah mengarahkan pikiran dan ucapannya pada kesalahan.

 

[8.6] Asataṁ hi vadanti pāpacittā,

narakaṁ vardhayate, vadhāya nityam,

anavadyabalas titīkṣate, tāṁ

manaso hy āvilatāṁ vivarjayitvā.

 

Tentu saja mereka yang berbicara buruk dengan pikiran jahat, memenuhi neraka, selalu menghukum diri mereka sendiri, namun yang tanpa cela, ia yang kuat, menahankan, menghindari kegelisahan pikiran itu.

 

[8.7] Yaḥ śāsanaṁ hy Arhatām Āryāṇāṁ Dharmajīvinām

pratikrośati durmedhā dṛṣṭiṁ niḥśritya pāpikām,

phalaṁ kaṇṭakaveṇur vā phalaty ātmavadhāya saḥ.

 

Orang yang menghina ajaran mereka yang hidup dengan Dharma para Arhat Yang Mulia, ia yang tidak cerdas, bergantung pada pandangan salah, seperti bambu berduri ketika menghasilkan buah, membawa kehancurannya sendiri.

 

[8.8] Kalyāṇikāṁ vimuñceta, naiva muñceta pāpikām,

muktā kalyāṇikī śreyo, muktā tapati pāpikā.

 

Seseorang seharusnya membebaskan mereka yang bajik, jangan pernah membebaskan mereka yang jahat, membebaskan orang bajik adalah yang terbaik, ketika dibebaskan orang jahat (akan) membakar.

 

[8.9] Na ca mukte pramuñcet tāṁ, muñcamāno hi bādhyate,

naivam Āryāḥ pramuñcanti, muktā bālair hi pāpikā.

 

Seseorang seharusnya tidak membebaskan kejahatan itu yang tidak bebas, ia yang membebaskannya (akan) menderita, bukan dalam cara ini Para Āryāḥ membebaskannya, namun kejahatan dibebaskan oleh mereka yang dungu.

 

[8.10] Mukhena saṁyato bhikṣur,

mandabhāṣī hy anuddhataḥ,

arthaṁ Dharmaṁ ca deśayati,

madhuraṁ tasya bhāṣitam.

 

Bhikṣu itu yang terkendali dengan mulutnya, yang berbicara dengan lembut, yang bersikap madya, yang mengajarkan arti dari Dharma, ucapannya adalah manis.

 

[8.11] Subhāṣitaṁ hy uttamam āhur āryā;

Dharmaṁ vaden nādharmaṁ tad dvitīyam;

priyaṁ vaden nāpriyaṁ tat tṛtīyaṁ;

satyaṁ vaden nāsatyaṁ tac caturtham.

 

Yang Mulia pertama-tama mengatakan apa yang diucapkan dengan baik; Mengucapkan Dharma, tidak apa yang bukan Dharma, adalah yang kedua; Mengucapkan apa yang menyenangkan, bukan yang tidak menyenangkan, adalah yang ketiga; Mengucapkan kejujuran, bukan kebohongan, adalah yang keempat.

 

[8.12] Tām eva vācaṁ bhāṣeta yayātmānaṁ na tāpayet,

parāṁś ca na vihiṁseta, sā hi vāk sādhu bhāṣitā.

 

Seseorang seharusnya mengucapkan perkataan yang dengannya ia tidak menyiksa dirinya sendiri, dan tidak melukai orang lain, ucapan ini tentu ducapkan dengan baik.

 

[8.13] Priyodyam eva bhāṣeta, yā hi vācābhinanditā,

nādadāti yayā pāpaṁ, bhāṣamāṇaḥ sadā priyam.

 

Seseorang seharusnya mengucapkan apa yang disenangi dan menggugah, kata-kata yang menyenangkan, yang dengannya kesalahan tidak dilakukan, selalu mengatakan apa yang menyenangkan.

 

[8.14] Satyā syād amṛtā vācā, satyavācā hy anuttarā,

satyam arthe ca Dharme ca vācam āhuḥ pratiṣṭhitām.

 

Ucapan kebenaran dapat mengarah ke tanpa kematian, ucapan kebenaran adalah tak tertandingi, ucapan kebenaran yang mereka katakan adalah kokoh baik dalam Dharma dan maknanya.

 

[8.15] Yāṁ Buddho bhāṣate vācaṁ kṣemāṁ Nirvāṇaprāptaye,

duḥkhasyāntakriyāyuktāṁ, sā hi vāk sādhu bhāṣitā.

 

Apapun sabda yang Sang Buddha ucapkan adalah untuk mencapai keamanan Nirvāṇa, berhubungan dengan menghentikkan penderitaan, ucapan itu tentu diucapkan dengan baik.

 

 

 

Vācavargaḥ, 8.

 

Bab tentang Ucapan, yang Kedelapan.

 

9. Karmavarga

Bab tentang Perbuatan

 

(20 Syair)

 

[9.1] Ekadharmam atītasya, mṛṣāvādasya jantunaḥ,

vitīrṇaparalokasya, nākāryaṁ pāpam asti yat.

 

Bagi seseorang yang mengucapkan kebohongan, yang melanggar satu hal ini, yang telah meninggalkan dunia selanjutnya (tidak takut akan alam buruk), tidak ada kejahatan apapun yang belum dilakukan.

 

[9.2] Śreyo hy ayoguḍā bhuktās, taptā hy agniśikhopamāḥ,

na tu bhuñjīta duḥśīlo rāṣṭrapiṇḍam asaṁyataḥ.

 

Lebih baik memakan bola-bola besi, menyala seperti bara api, daripada orang itu yang, tak bermoral dan tak terkendali, menikmati derma makan suatu negeri.

 

[9.3] Sa ced bibheṣi duḥkhasya, sa cet te duḥkham apriyam,

mā kārṣīḥ pāpakaṁ karma, tv āvir vā yadi vā rahaḥ.

 

Jika engkau memiliki ketakutan akan penderitaan, jika penderitaan tidak engkau sukai, janganlah melakukan satu perbuatan jahat, apakah terbuka atau secara rahasia.

 

[9.4] Sa cet pāpāni karmāṇi kariṣyasi karoṣi vā,

na te duḥkhāt pramokṣo ’sti, hy utplutyāpi palāyataḥ.

 

Jika seseorang melakukannya, atau akan melakukannya, perbuatan buruk, tidak ada kebebasan dari penderitaan untukmu, bahkan jika engkau melompat tinggi dan pergi jauh.

 

[9.5] Naivāntarīkṣe na samudramadhye,

na parvatānāṁ vivaraṁ praviśya:

na vidyate ’sau pṛthivīpradeśo

yatra sthitaṁ na prasaheta karma.

 

Bukan di langit, bukan juga di tengah samudera, bukan  juga setelah memasuki suatu jurang di gunung: Tidak terdapat tempat di bumi yang dapat dipijak di mana karma tidak dapat mengalahkan seseorang.

 

[9.5A] Kṛṣṇaśuklāni karmāṇi na praṇaśyanti dehinaḥ,

kālaṁ prā[ ]iṣyante, kṛtāny upa[ ]nāni ca.

 

Perbuatan gelap dan terang yang diwujudkan tidaklah menghilang, waktu, perbuatan yanng telah dilakukan …

 

Catatan

 

Prof. Dharmavardhana-Jñānagarbha mengusulkan pembacaan baris terakhir:

 

kālaṁ prāsahiṣyante kṛtāny upacitāni ca.

 

Perbuatan yang telah dilakukan dan dikumpulkan akan bertahan seiring waktu.

 

[9.6] Yat pareṣāṁ vigarheta karma dṛṣṭveha pāpakam,

ātmanā tan na kurvīta, karmabaddho hi pāpakaḥ.

 

Setelah melihat perilaku jahat orang lain yang harus dikecam, engkau seharusnya tidak melakukannya, karena seseorang yang jahat terikat oleh perbuatan-perbuatannya.

 

[9.7] Ye kūṭamānayogena viṣameṇa ca karmaṇā,

manuṣyān upahiṁsanti, paratopakrameṇa vā,

te vai prapātaṁ prapatanti, karmabaddhā hi te janāḥ.

 

Mereka yang, melalui penipuan, keangkuhan, muslihat dan berperilaku bengkok, atau melalui penyerangan terhadap yang lain, melukai manusia, mereka tentu terjatuh dalam kehancuran, karena orang-orang terikat oleh perbuatan-perbuatannya.

 

[9.8] Yat karoti naraḥ karma, kalyāṇam atha pāpakam,

tasya tasyaiva dāyādo, na hi karma praṇaśyati.

 

Perilaku apapun yang seseorang lakukan, bajik atau buruk, pada itulah ia tentu mewarisinya, karena hasil suatu perbuatan tidaklah menghilang.

 

[9.9] Vilumpate hi puruṣo yāvad asyopakalpate,

tato ’nye taṁ vilumpanti, sa viloptā vilupyate.

 

Bagi seseorang tentu akan terus menjarah sepanjang itu bermanfaat baginya, karena itulah (jika) orang lain menjarahnya, seorang penjarah sendiri yang terjarah.

 

[9.10] Kurvaṁ hi manyate bālo naitaṁ mām āgamiṣyati,

sāmparāye tu jānāti yā gatiḥ pāpakarmaṇām.

 

Orang dungu berpikir: Perbuatanku tidak akan kembali kepadaku, namun di kehidupan mendatang ia mengetahui tujuan mereka yang melakukan perbuatan salah.

 

[9.11] Kurvaṁ hi manyate bālo naitaṁ mām āgamiṣyati,

paścāt tu kaṭukaṁ bhavati vipākaṁ pratiṣevataḥ.

 

Orang dungu berpikir: Perbuatanku tidak akan bembali kepadaku, namun kemudian adalah pahit bagi seseorang yang merasakan hasilnya.

 

[9.12] Sa cet pāpāni karmāṇi kurvaṁ bālo na budhyate,

karmabhiḥ svais tu durmedhā hy agnidagdhaiva tapyate.

 

Jika orang dungu tidak mengerti perbuatan buruk yang ia lakukan, ia yang bodoh tersiksa oleh perilakunya sendiri, seperti dengan sebuah bara api.

 

[9.13] Caranti bālā duṣprajñā hy amitrair iva cātmabhiḥ,

kurvantaḥ pāpakaṁ karma, yad bhavati kaṭukaṁ phalaṁ.

 

Orang-orang dungu yang kurang bijaksana hidup dengan diri mereka sendiri sebagai musuh, melakukan perbuatan jahat, yang menghasilkan buah yang pahit.

 

[9.14] Na tat karma kṛtaṁ sādhu, yat kṛtvā hy anutapyate,

rudann aśrumukho yasya, vipākaṁ pratiṣevate.

 

Perbuatan itu tidak dengan baik dilakukan, yang dengannya, setelah dilakukan, seseorang merasa menyesal, yang setelahnya, menangis, dengan air mata di wajahnya, seseorang merasakan hasilnya.

 

[9.15] Tat tu karma kṛtaṁ sādhu, yat kṛtvā nānutapyate,

yasya pratītaḥ sumanā, vipākaṁ pratiṣevate.

 

Namun perbuatan itu telah dilakukan dengan baik, yang, setelah melakukannya, seseorang tidak menyesal, yang setelahnya, seseorang merasa puas dan bahagia, ketika seseorang merasakan hasilnya.

 

[9.16] Hasantaḥ pāpakaṁ karma, kurvanty ātmasukhaiṣiṇaḥ,

rudantas tasya vīpākaṁ prativindanti duḥkhitāḥ.

 

Tertawa pada perbuatan-perbuatan jahat, mereka melakukannya demi mencari kebahagiaan mereka sendiri, setelahnya, mereka yang menderita, menangis, merasakan hasilnya.

 

[9.17] Na hi pāpakṛtaṁ karma, sadyaḥ kṣīram iva mūrchati,

dahantad bālam anveti, bhasmācchanna ivānalaḥ.

 

Perbuatan yang telah dengan buruk dilakukan, seperti halnya susu, tidak langsung menjadi asam seketika, membakar perlahan, perbuatan itu mengikuti si dungu, seperti halnya api yang ditutupi oleh abu.

 

[9.18] Na hi pāpakṛtaṁ karma, sadyaḥ śastram iva kṛntati,

sāmparāye tu jānāti yā gatiḥ pāpakarmaṇām,

paścāt tu kaṭukaṁ bhavati vipākaṁ pratiṣevataḥ.

 

Perbuatan yang telah dengan buruk dilakukan, tidak memotong seketika seperti sebilah pedang, namun di kehidupan mendatang seseorang mengetahui tujuan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan jahat, dan setelahnya adalah pahit bagi seseorang yang merasakan hasilnya.

 

[9.19] Ayaso hi malaḥ samutthitaḥ,

sa tadutthāya tam eva khādati,

evaṁ hy aniśāmyacāriṇaṁ –

svāni karmāṇi nayanti durgatim.

 

Seperti halnya karat yang muncul dari besi, dan setelah kemunculannya memakan besi tersebut, demikianlah dengan seseorang yang hidup tak terkendali – perbuatannya sendiri mengarahkannya pada suatu tujuan yang buruk.

 

 

 

Karmavargaḥ, 9.

 

Bab tentang Perbuatan, yang Kesembilan

 

10. Śraddhāvarga

Bab tentang Keyakinan

 

(16 Syair)

 

[10.1] Śraddhātha hrīśīlam athāpi dānaṁ,

dharmā ime satpuruṣapraśastāḥ,

etaṁ hi mārgaṁ divyaṁ vadanti,

etenāsau gacchati Devalokam.

 

Keyakinan, rasa malu, moralitas, dan kedermawanan, ini semua dipuji oleh orang baik, inilah yang mereka katakan sebagai jalan menuju alam surgawi, dengan ini seseorang pergi ke alam para Deva.

 

[10.2] Na vai kadaryā Devalokaṁ vrajanti,

bālā hi te na praśaṁsanti dānam,

śrāddhas tu dānaṁ hy anumodamāno,

py evaṁ hy asau bhavati sukhī paratra.

 

Yang pelit tidak pergi ke alam para Deva, karena orang-orang dungu tidak memuji pemberian, namun ia yang berkeyakinan bergembira dalam memberi, dan juga berbahagia di alam selanjutnya.

 

[10.3] Śraddhā hi vittaṁ puruṣasya śreṣṭhaṁ,

Dharmaḥ sucīrṇaḥ sukham ādadhāti,

satyaṁ hi vai svādutamaṁ rasānāṁ,

prajñājīvī jīvināṁ śreṣṭha uktaḥ.

 

Keyakinan adalah harta terbaik seseorang, Dharma, yang dipraktekkan dengan baik, membawa kebahagiaan. Kebenaran, tentu saja, adalah rasa termanis, ia yang hidup dengan bijaksana disebut yang terbaik di antara makhluk hidup.

 

[10.4] Śraddhādhano hy Arhatāṁ Dharmaṁ Nirvāṇaprāptaye,

śuśruṣur labhate prajñāṁ tatra tatra vicakṣaṇaḥ.

 

Setelah memiliki kekayaan keyakinan untuk pencapaian Nirvāṇa, Dharma para Arhat, dengan berkeinginan mendengarnya, sang penyelidik memperoleh kebijaksanaan di manapun.

 

[10.5] Śraddhayā tarati hy ogham, apramādena cārṇavam,

vīryeṇa tyajate duḥkhaṁ, prajñayā pariśudhyate.

 

Melalui keyakinan seseorang menyeberangi banjir, melalui kewaspadaan, (seseorang menyeberangi) samudera, melalui semangat seseorang meninggalkan penderitaan, melalui kebijaksanaan seseorang dimurnikan.

 

[10.6] Śraddhā dvitīyā puruṣasya bhavati, prajñā cainaṁ praśāsati,

Nirvāṇābhirato bhikṣuś chinatti bhavabandhanam.

 

Keyakinan adalah teman perjalanan seseorang, kebijaksanaan mengarahkannya, dengan memotong belenggu kemenjadian seorang Bhikṣu sangat bersenang dalam Nirvāṇa.

 

[10.7] Yasya śraddhā ca śīlaṁ caivāhiṁsā saṁyamo damaḥ,

sa vāntadoṣo medhāvī sādhurūpo nirucyate.

 

Bagi seseorang yang memiliki keyakinan, moralitas, tanpa kekerasan, pengendalian, dan pelatihan, orang cerdas itu telah menyingkirkan kesalahan-kesalahan, ia disebut yang terhormat.

 

[10.8] Śrāddhaḥ śīlena saṁpannas, tyāgavāṁ vītamatsaraḥ,

vrajate yatra yatraiva, tatra tatraiva pūjyate.

 

Ia yang berkeyakinan diberkahi oleh moralitas, dermawan, tidak egois, kemanapun ia pergi, di sana ia dihormati.

 

[10.9] Yo jīvaloke labhate śraddhāṁ prajñāṁ ca paṇḍitaḥ,

tad dhi tasya dhanaṁ śreṣṭhaṁ, hīnam asyetarad dhanam.

 

Sang bijaksana yang, di alam kehidupan, memperoleh keyakinan dan kebijaksanaan, hal itu tentulah kekayaan terbesarnya, kekayaannya yang lain adalah lebih rendah.

 

[10.10] Āryāṇāṁ darśanaḥ kāmaḥ, Saddharmaśravaṇe rataḥ,

vinītamātsaryamalaḥ, sa vai śrāddho nirucyate.

 

Seseorang yang ingin melihat Para Āryā, yang bersenang dalam mendengar Dharma Sejati, yang telah menyingkirkan kekotoran dari keegoisan, orang itu tentu disebut berkeyakinan.

 

[10.11] Śrāddho gṛhṇāti pātheyaṁ, puṇyaṁ coraiḥ sudurharam,

coraṁ harantaṁ vārayati, harantaḥ śramaṇāḥ priyāḥ,

śramaṇān āgatāṁ dṛṣṭvā, abhinandati paṇḍitāḥ.

 

Ia yang berkeyakinan membawa perbekalan, jasa kebajikan adalah sulit dibawa pergi oleh para pencuri, ia menjaga (agar) pencuri (tidak) mengambilnya, namun para Śramaṇā yang membawa derma makanan dicintai, melihat para Śramaṇā kembali, orang bijaksana sangat bergembira.

 

[10.12] Dadanty eke yathā śraddhā yathāvibhavato janāḥ,

tatra yo durmanā bhavati pareṣāṁ pānabhojane,

nāsau divā ca rātrau ca, samādhim adhigacchati.

 

Beberapa orang memberi berdasarkan keyakinan, berdasarkan kemampuannya, ia yang marah akibat makanan dan minuman orang lain di sana, tidak akan, baik siang dan malam, mencapai konsentrasi.

 

[10.13] Yasya tv ete samucchinnās, tālamastakavad dhatāḥ,

sa vai divā ca rātrau ca, samādhim adhigacchati.

 

Namun bagi ia yang padanya hal-hal ini diketahui telah terpotong, seperti tunggul pohon palem, tentu saja akan, siang dan malam, mencapai konsentrasi.

 

[10.14] Vītaśraddhaṁ na seveta, hradaṁ yadvad dhi nirjalam,

sa cet khanel labhet tatra, vāri kardamagandhikam.

 

Seseorang seharusnya tidak berhubungan dengan ia yang tanpa keyakinan, ia yang bagaikan sebuah danau tanpa air, jika ia akan menggali di sana, ia akan menemukan air yang berlumpur dan berbau busuk.

 

[10.15] Śrāddhaṁ prājñaṁ tu seveta, hradaṁ yadvaj jalārthikaḥ,

acchodakaṁ viprasannaṁ, śītatoyam anāvilam.

 

Namun engkau seharusnya berhubungan dengan seseorang yang berkeyakinan dan bijaksana, seperti seseorang mencari air, sebuah danau, dengan air bersih, jernih, yang dingin dan tidak terganggu.

 

[10.16] Nānurakta iti rajyeta, hy atra vai dīryate janaḥ,

aprasannāṁ varjayitvā, prasannān upasevate.

 

Seseorang seharusnya tidak melekat dengan berpikir: Aku melekat, karena seseorang tentu akan hancur di sini, menghindari mereka yang tidak percaya diri, seseorang seharusnya berhubungan dengan ia yang percaya diri.

 

 

 

Śraddhāvargaḥ, 10.

 

Bab tentang Keyakinan, Yang Kesepuluh

 

 

 

Uddānam

Ringkasan

 

Anityakāmatṛṣṇā ca apramādas tathā priyaḥ,

śīlaṁ sucaritaṁ vācakarmaśraddhā ca te daśaḥ.

 

Ketidak-kekalan, nafsu indera, nafsu, kewaspadaan, juga cinta, moralitas, perilaku bajik, ucapan, perbuatan dan keyakinan, inilah sepuluh.

 

11. Śramaṇavarga

Bab tentang Śramaṇa (Pertapa)

 

(15 Syair)

 

[11.1] Chindhi srotaḥ, parākramya kāmāṁ praṇuda sarvaśaḥ,

nāprahāya muniḥ kāmān, ekatvam adhigacchati.

 

Memotong arus, setelah berupaya, menghilangkan keinginan dalam segala cara, yang bijaksana, tanpa meninggalkan keinginan, tidak mencapai penyatuan (pikiran).

 

[11.2] Kurvāṇo hi sadā prājño, dṛḍham eva parākramet,

śithilā khalu pravrajyā, hy ādadāti puno rajaḥ.

 

Tentu saja ia yang bijaksana, selalu berupaya, harus dengan tekun berupaya, memang mereka yang meninggalkan keduniawian dengan lalai tentu akan membawa kekotoran lagi.

 

[11.3] Yat kiṁ cic chitilaṁ karma, saṁkliṣṭaṁ vāpi yat tapaḥ,

apariśuddhaṁ brahmacaryaṁ na tad bhavati mahāphalam.

 

Apapun perilaku ia yang lalai, atau pertapaan itu yang terkotori, suatu kehidupan spiritual yang tidak murni tidak memiliki buah yang besar baginya.

 

[11.4] Śaro yathā durgṛhīto hastam evāpakṛntati,

śrāmaṇyaṁ duṣparāmṛṣṭaṁ, narakān upakarṣati.

 

Seperti halnya anak panah, dengan salah digenggam, menembus kedalam tangan, demikian pula kehidupan suci, (yang) dengan salah digenggam, menarik seseorang ke alam neraka.

 

[11.5] Śaro yathā sugṛhīto, na hastam apakṛntati,

śrāmaṇyaṁ suparāmṛṣṭaṁ, Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Seperti halnya anak panah, dengan benar digenggam, tidak menembus kedalam tangan, demikian pula kehidupan suci, (yang) dengan benar digenggam, tentu saja berada dekat dengan Nirvāṇa.

 

[11.6] Duṣkaraṁ dustitīkṣaṁ ca śrāmaṇyaṁ mandabuddhinā,

bahavas tatra saṁbādhā yatra mando viṣīdati.

 

Sulit untuk dilakukan, sulit untuk ditahankan, adalah kehidupan suci, dengan pemahaman seorang dungu, terdapat banyak sekali halangan di mana mereka yang dungu menjadi putus asa.

 

[11.7] Śrāmaṇye carate yas tu svacittam anivārayet,

punaḥ punar viṣīdet ca, saṁkalpānāṁ vaśaṁ gataḥ.

 

Tetapi ia yang menjalankan kehidupan suci dan tidak mengendalikan pikirannya sendiri, orang itu akan menjadi putus asa lagi dan lagi, setelah berada dalam pengaruh pikiran buruk.

 

[11.8] Duṣpravrajyaṁ durabhiramaṁ, duradhyāvasitā gṛhāḥ,

duḥkhāsamānasaṁvāsā, duḥkhāś copacitā bhavāḥ.

 

Meninggalkan keduniawian adalah sulit, adalah sulit untuk menemukan kenikmatan sejati, namun berdiam di rumah tangga juga adalah sulit, berdiam dengan mereka yang berpikiran berbeda adalah penderitaan, kumpulan kemenjadian adalah penderitaan.

 

[11.9] Kāṣāyakaṇṭhā bahavaḥ pāpadharmā hy asaṁyatāḥ,

pāpā hi karmabhiḥ pāpair ito gacchanti durgatim.

 

Banyak yang mengenakan jubah diantara leher mereka yang bersifat jahat, tidak terkendali, orang jahat dengan tindakan jahat mereka pergi dari sini ke alam menderita.

 

[11.10] Yo ’sāv atyantaduḥśīlaḥ, Sālavāṁ mālutā yathā,

karoty asau tathātmānaṁ yathainaṁ dviṣa-d-icchati.

 

Ia yang terus menerus memiliki moralitas yang rendah, seperti tumbuhan menjalar yang mematikan pada pohon Sāla, orang itu membuat dirinya sendiri seperti halnya seorang musuh yang mengharapkan kemalangannya.

 

[11.11] Sthaviro na tāvatā bhavati yāvatā palitaṁ śiraḥ,

paripakvaṁ vayas tasya, mohajīrṇaḥ sa ucyate.

 

Seseorang bukanlah seorang Sthavira (sesepuh) karena kepalanya sudah beruban, karena ia yang hanya dewasa, menua, disebut ia yang menua dalam delusi.

 

[11.12] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ ca prahāya brahmacaryavān,

viśreṇayitvā carati, sa vai sthavira ucyate.

 

Seseorang yang, meninggalkan baik kebajikan maupun keburukan, menjalankan kehidupan suci, setelah melepaskan pergaulan, mengembara, orang itu tentu disebut seorang Sthavira.

 

[11.13] Na muṇḍabhāvāc chramaṇo, hy avṛtas tv anṛtaṁ vadan,

icchālobhasamāpannaḥ śramaṇaḥ kiṁ bhaviṣyati?

 

Bukan dengan kepala yang tercukur seseorang disebut pertapa, jika seseorang tidak terkendali, mengucapkan kebohongan, bagaimana ia yang memiliki keinginan dan nafsu akan menjadi seorang pertapa?

 

[11.14] Na muṇḍabhāvāc chramaṇo, hy avṛtas tv anṛtaṁ vadan –

śamitaṁ yena pāpaṁ syād, aṇusthūlaṁ hi sarvaśaḥ –

śamitatvāt tu pāpānāṁ śramaṇo hi nirucyate.

 

Bukan dengan kepala yang tercukur seseorang disebut seorang pertapa, jika seseorang tidak terkendali, mengucapkan kebohongan – seseorang yang padanya perilaku jahat masih perlu dipadamkan, kecil dan besar, dalam segala cara – namun melalui pemadaman perilaku jahat seseorang disebut seorang pertapa.

 

[11.15] Brāhmaṇo vāhitaiḥ pāpaiḥ, śramaṇaḥ śamitāśubhaḥ,

pravrājayitvā tu malān uktaḥ pravrajitas tv iha.

 

Seseorang adalah Brāhmaṇa, seorang pertapa, yang telah memadamkan ketidak-senangan, melalui pengendalian perilaku jahat, namun setelah melenyapkan kekotoran-kekotoran seseorang disebut benar-benar meninggalkan keduniawian di sini.

 

 

 

Śramaṇavargaḥ 11.

 

Bab tentang Śramaṇa (Pertapa), yang Kesebelas.

 

12. Mārgavarga

Bab tentang Sang Jalan

 

(20 Syair)

 

[12.1] Āryasatyāni catvāri prajñayā paśyate yadā,

eṣa mārgaṁ prajānāti bhavatṛṣṇāpradālanam.

 

Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan Empat Kebenaran Mulia, ia mengetahui Jalan ini menghancurkan nafsu pada kemenjadian.

 

[12.2] Uddhataṁ hi rajo vātair yathā vṛṣṭena śamyati,

evaṁ śāmyanti saṁkalpāḥ prajñayā paśyate yadā.

 

Seperti halnya debu yang diterbangkan oleh angin diredakan dengan hujan, demikianlah kehendak mereda ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan.

 

[12.3] Śreṣṭhā hi prajñā loke ’smiṁ, yeyaṁ nirvedhagāminī,

yayā samyak prajānāti jātimaraṇasaṁkṣayam.

 

Kebijaksanaan adalah yang terbaik di dunia, yang mengarah pada penembusan (Dharma), yang dengannya seseorang dengan benar mengetahui kehancuran sepenuhnya dari kelahiran dan kematian.

 

[12.4] Mārgeṣv aṣṭāṅgikaḥ śreṣṭhaś, Catvāry Āryāṇi satyataḥ,

śreṣṭho virāgo dharmāṇāṁ, Cakṣuṣmāṁ dvipadeṣu ca.

 

Diantara berbagai jalan, Jalan Mulia Berunsur Delapan lah yang terbaik, diantara berbagai kebenaran adalah Empat Kebenaran Mulia, diantara berbagai keadaan, tanpa nafsu adalah yang terbaik, diantara yang berkaki dua, Yang Melihat (Dharma) adalah yang terbaik.

 

[12.5] Anityāṁ sarvasaṁskārāṁ prajñayā paśyate yadā,

atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo viśuddhaye.

 

Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah tidak kekal, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan menuju Penyucian.

 

[12.6] Duḥkhaṁ hi sarvasaṁskārāṁ prajñayā paśyate yadā,

atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo viśuddhaye.

 

Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah penderitaan, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan menuju Penyucian.

 

[12.7] Śunyataḥ sarvasaṁkārāṁ prajñayā paśyate yadā,

atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo viśuddhaye.

 

Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah kosong, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan menuju Penyucian.

 

[12.8] Sarvadharmā anātmānaḥ prajñayā paśyate yadā,

atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo viśuddhaye.

 

Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala fenomena adalah bukan diri, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan menuju Penyucian.

 

[12.9] Ākhyāto vo mayā mārgas, tv ajñāyai śalyakṛntanaḥ,

yuṣmābhir eva karaṇīyam, ākhyātāras Tathāgatāḥ.

 

Sang Jalan telah dinyatakan kepadamu oleh-Ku, memotong anak panah ketidak-tahuan, hal ini tentu harus dilakukan olehmu, Para Tathāgatāḥ hanya menunjukkan Jalan.

 

[12.10] Deśito vo mayā mārgas, tṛṣṇāśalyanikṛntanaḥ,

yuṣmābhir eva karaṇīyam, deṣṭāro hi Tathāgatāḥ.

 

Sang Jalan telah dinyatakan kepadamu oleh-Ku, memotong duri nafsu, hal ini tentu harus dilakukan olehmu, Para Tathāgatāḥ hanyalah Guru.

 

[12.11] Eṣo hi mārgo nāsty anyo, darśanasya viśuddhaye,

pratipannakāḥ prahāsyanti dhyāyino Mārabandhanam.

 

Inilah Jalannya, tidak ada yang lain, untuk pemurnian pandangan, para meditator yang memasuki Jalan ini meninggalkan belenggu Māra.

 

[12.12] Eṣo ’ñjaso hy eṣa ca vai parākramas,

tv ekāyano haṁsapatho yathā hrade,

yam adhyagāc Chakyamuniḥ samāhitas,

tam eva cākhyāti gaṇeṣv abhīkṣṇaśaḥ.

 

Inilah Jalan yang langsung, tentu inilah Jalan untuk berupaya, Jalan satu arah, seperti Jalan seekor angsa menyeberangi suatu danau, yang dilalui Śakyamuni, (Yang) terkonsentrasi, Beliau menyatakannya secara berulang diantara berbagai komunitas.

 

[12.13] Ekāyanaṁ jātijarāntadarśī

mārgaṁ vadaty eṣa hitānukampī,

etena mārgeṇa hi tīrṇavantas,

tariṣyate ye prataranti caugham.

 

Ia yang berbelas-kasihan demi kesejahteraan, yang mencari akhir kelahiran dan usia tua, menyatakan Sang Jalan sebagai satu arah, dengan Jalan ini beberapa menyeberangi banjir lebih awal, beberapa akan menyeberang, dan terdapat mereka yang sedang menyeberang.

 

[12.14] Atyantaniṣṭhāya damāya śuddhaye,

saṁsārajātīmaraṇakṣayāya,

anekadhātupratisaṁvidhāya,

mārgo hy ayaṁ lokavidā prakāśitaḥ.

 

Demi pencapaian pelatihan dan kesucian sepenuhnya, demi penghancuran transmigrasi melalui kelahiran dan kematian, demi melepaskan berbagai macam unsur, Jalan ini telah dinyatakan oleh Sang Pengetahu Dunia.

 

[12.15] Gaṅgāgataṁ yadvad apetadoṣaṁ,

saṁsyandate vāri tu sāgareṇa,

tathaiva mārgaḥ Sugatapradeśitaḥ,

saṁsyandate ’yaṁ hy amṛtasya prāptaye.

 

Seperti halnya air datang dari sungai Gangga, bebas dari cela, mengalir menuju samudera, demikian juga Jalan ini, yang diajarkan oleh Sang Sugata, mengalir menuju pencapaian tanpa kematian.

 

[12.16] Yo Dharmacakraṁ hy ananuśrutaṁ purā,

prāvartayat sarvabhūtānukampī,

taṁ tādṛśaṁ Devanarāgrasatvaṁ,

nityaṁ namasyeta bhavasya pāragam.

 

Ia yang memutar Roda Dharma, yang belum didengar sebelumnya, Ia yang berbelas-kasihan kepada semua makhluk, seperti halnya Beliau, Makhluk Agung di antara para Deva dan manusia, Ia yang menyeberangi kemenjadian, seseorang seharusnya menghormati(-Nya) terus menerus.

 

[12.17] Sadā vitarkāṁ kuśalāṁ vitarkayet,

sadā punaś cākusalāṁ vivarjayet,

tato vitarkāṁś ca vicāritāni ca

prahāsyate vṛṣṭir ivoddhataṁ rajaḥ.

 

Seseorang seharusnya selalu memikirkan pikiran-pikiran bajik, dan juga selalu menghindari pikiran-pikiran tidak bajik, dan kemudian ia akan meninggalkan pikiran-pikiran dan refleksi-refleksi seperti halnya hujan yang menghilangkan debu yang mengganggu.

 

[12.18] Sa vai vitarkopaśamena cetasā,

spṛśeta Saṁbodhisukhaṁ hy anuttaram,

śubhaṁ samādhiṁ manasā nibandhayed,

vivekajaṁ bhāvayitvāpramāṇam,

pradālayitvā tribhur ālayāṁs trīṁ

jahāti bandhāṁ nipakaḥ pratismṛtaḥ.

 

Dengan pikiran yang telah tenang dalam berpikir, seseorang seharusnya mengalami kebahagiaan Pencerahan Sempurna yang tertinggi, ia seharusnya memunculkan konsentrasi yang indah dengan pikiran, setelah mengembangkan hal-hal yang tak terukur (Brahmavihara) yang muncul dari keterasingan, setelah menghancurkan tiga kemelekatan dengan tiga pikiran bajik, sang penyelidik, dengan penuh perhatian, meninggalkan belenggu-belenggu.

 

[12.19] Prajñāyudho dhyānabalopapetaḥ,

samāhito dhyānarataḥ smṛtātmā,

lokasya buddhvā hy udayavyayaṁ ca,

vimucyate vedakaḥ sarvato ’sau.

 

Setelah memiliki senjata kebijaksanaan, diberkahi dengan kekuatan meditasi, tenang, bersenang dalam meditasi, penuh perhatian pada dirinya sendiri, setelah mengerti kemunculan dan kehancuran dunia, sang pengetahu terbebas dalam segala cara.

 

[12.20] Sukhaṁ sukhārthī labhate samācaraṁ,

kīrtiṁ samāpnoti yaśaś ca sarvataḥ,

ya āryam aṣṭāṅgikam āñjasaṁ śivaṁ

bhāvayati mārgaṁ hy amṛtasya prāptaye.

 

Ia yang mencari kebahagiaan menepukan kebahagiaan melalui perilaku bajik, ia mencapai kemashyuran dan popularitas di manapun, ia yang mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang langsung dan berkah demi pencapaian Sang Jalan menuju tanpa kematian.

 

 

 

Mārgavargaḥ, 12.

 

Bab tentang Sang Jalan, yang Kedua Belas.

 

13. Satkāravarga

Bab tentang Kehormatan

 

(19 Syair)

 

[13.1] Phalaṁ vai kadaliṁ hanti, phalaṁ veṇuṁ phalaṁ naḍam,

satkāraḥ kāpuruṣaṁ hanti, svagarbho ’śvatarīṁ yathā.

 

Buah tentu menghancurkan pohon pisang, bambu, (dan) buluh, kehormatan menghancurkan orang jahat, seperti halnya keturunannya sendiri menghancurkan seekor Bagal.

 

[13.2] Yāvad eva hy anarthāya jñāto bhavati bāliśaḥ,

hanti bālasya śuklāṁśaṁ, mūrdhānaṁ cāsya pātayet.

 

Hanya untuk kehancurannya seorang dungu belajar, (kehancuran) itu menghancurkan nasib baik si dungu, (kehancuran) itu akan membelah kepalanya.

 

[13.3] Asanto lābham icchanti satkāraṁ caiva bhikṣuṣu,

āvāseṣu ca mātsaryaṁ, pūjāṁ parakuleṣu ca.

 

Orang rendah mengharapkan perolehan dan kehormatan diantara para Bhikṣu, egoisme mengendalikan tempat tinggal, dan pemujaan diantara keluarga-keluarga.

 

[13.4–13.5a-b] “Mām eva nityaṁ jānīyur gṛhī pravrajitas tathā,

mama prativaśāś ca syuḥ, kṛtyākṛtyeṣu keṣu cit,”

iti bālasya saṁkalpā, icchāmānābhivardhakāḥ.

 

“Seorang perumah tangga dan seorang yang telah meninggalkan keduniawian seharusnya selalu mengakuiku saja, biarlah mereka berada di bawah pengaruhku, dalam apapun yang perlu dilakukan dan tidak dilakukan,” seperti inilah kehendak seorang dungu, nafsu dan kesombongannya meningkat.

 

[13.5cd–13.6] Anyā hi lābhopaniṣad, anyā Nirvāṇagāminī,

etaj jñātvā yathābhūtaṁ Buddhānāṁ śrāvakaḥ sadā

satkāraṁ nābhinandeta, vivekaṁ anubṛṁhayet.

 

Karena tujuan untuk perolehan adalah satu hal, Sang Jalan menuju Nirvāṇa, adalah hal lain, selalu mengetahui hal ini, seperti apa adanya, seorang siswa Buddha seharusnya tidak bersenang dalam kehormatan, namun untuk mengabdi pada keterasingan.

 

[13.7] Na vyāyamente sarvatra, nānyeṣāṁ puruṣo bhavet,

nānyāṁ niḥśritya jīveta, dharmeṇa na vaṇik caret.

 

Seseorang seharusnya tidak berupaya di manapun, seseorang seharusnya tidak menjadi orang yang dimiliki orang lain, seseorang seharusnya tidak hidup bergantung pada orang lain, seorang pedagang seharusnya tidak berpenghidupan salah.

 

[13.8] Svalābhaṁ nāvamanyeta, nānyeṣāṁ spṛhako bhavet,

anyeṣāṁ spṛhako bhikṣuḥ samādhiṁ nādhigacchati.

 

Seseorang seharusnya tidak memandang rendah perolehan diri sendiri, seseorang seharusnya tidak bersikap iri pada orang lain, seorang Bhikṣu yang iri pada orang lain tidak akan mencapai konsentrasi.

 

[13.9] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv avekṣavān,

ahir mūṣakadurgaṁ vā seveta śayanāsanam.

 

Jika seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang bahagia, ia harus menggunakan kediamannya seperti seekor ular menggunakan sebuah lubang tikus.

 

[13.10] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv avekṣavān

itaretareṇa saṁtuṣyed, ekadharmaṁ ca bhāvayet.

 

Jika seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang bahagia, ia harus merasa puas dengan apapun itu, dan ia harus mengembangkan satu hal.

 

[13.11] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv avekṣavān,

Sāṁghikaṁ nāvamanyeta cīvaraṁ pānabhojanam.

 

Jika seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang bahagia, ia tidak seharusnya merendahkan jubah, minuman, dan makanan milik Saṁgha.

 

[13.12] Alpajñāto ’pi ced bhavati śīleṣu susamāhitaḥ,

vidvāṁsas taṁ praśaṁsanti śuddhājīvam atandritam.

 

Bahkan jika seseorang yang terlatih baik dalam moralitas mengetahui sedikit, orang bijaksana memuji kehidupan suci orang itu yang tekun.

 

[13.13.i] Traividyaḥ syāt sa ced bhikṣur, mṛtyuhantā nirāsravaḥ,

alpajñātam iti jñātvā, hy avajānanty ajānakāḥ.

 

Jika seseorang dapat menjadi seorang Bhikṣu dengan tiga pengetahuan, seorang penghancur kematian, tanpa kekotoran, orang bodoh mengetahui: Ia berpengetahuan sedikit, memandangnya rendah.

 

[13.13.ii] Sa ced bhavati traividyo, mṛtyuhāyī nirāsravaḥ,

jñātvālpajñāta iti tam avajānanty ajānakāḥ.

 

Jika seseorang memiliki tiga pengetahuan, seorang penghancur kematian, tanpa kekotoran, orang bodoh mengetahui: Ia kurang dikenal, memandangnya rendah.

 

[13.14] Sa cet tv ihānnapānasya lābhī bhavati pudgalaḥ,

pāpadharmāpi ced bhavati, sa teṣāṁ bhavati pūjitaḥ.

 

Namun jika terdapat seseorang di sini yang menerima makanan dan minuman, bahkan jika sifatnya jahat, ia dipuja oleh mereka.

 

[13.15–13.16] Bahūn amitrāṁ labhate, saṁghāṭīpravṛtaḥ sadā,

lābhī yo hy annapānasya, vastraśayyāsanasya ca,

etad ādīnavaṁ jñātvā, satkāreṣu mahābhayam,

alpajñāto hy anutsukaḥ smṛto bhikṣuḥ parivrajet.

 

Ia memperoleh banyak musuh, ia yang selalu terbungkus jubah luar, yang menerima makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur dan tempat tinggal, mengetahui kerugian ini, bahaya besar dalam kehormatan, sedikit tahu, tanpa keinginan, seorang Bhikṣu seharusnya mengembara dengan penuh perhatian.

 

[13.17] Nāyam anaśanena jīvate, nāhāro hṛdayasya śāntaye,

āhāraḥ sthitaye tu vidyate, taj jñātvā hi careta eṣaṇām.

 

Seseorang tidak hidup dengan berpuasa, juga dengan makanan untuk kedamaian pikiran, namun makanan muncul untuk merawat (tubuh), mengetahui hal ini, seseorang seharusnya mengembara, mencari derma makanan.

 

[13.18] Paṅkas tv iti yo hi vindate,

nityaṁ vandanamānanā kule

sūkṣmaḥ śalyo duruddharaḥ,

satkāraḥ kāpuruṣeṇa dustyajaḥ.

 

Namun seseorang yang baginya kehormatan adalah sebuah rawa menyadari bahwa dengan dihormati dan dihargai terus menerus di dalam suatu keluarga adalah satu anak panah yang halus, sulit untuk dicabut, kehormatan adalah sulit ditinggalkan bagi orang rendah.

 

 

 

Satkāravargaḥ, 13.

 

Bab tentang Kehormatan, yang Ketiga Belas.

 

14. Drohavarga

Bab tentang Melukai

 

(18 Syair)

 

[14.1] Akruddhasya hi yaḥ krudhyet, karma pāpam akurvataḥ,

duḥkhaṁ tam eva spṛśati, loke ’smiṁś ca paratra ca.

 

Seseorang yang marah pada ia yang tanpa kemarahan, pada ia yang tidak melakukan perbuatan jahat, orang itu tentu tersentuh oleh penderitaan, baik dunia ini dan di dunia berikutnya.

 

[14.2] Pūrvaṁ kṣiṇoti hātmānaṁ, paścād bāhyaṁ vihiṁsati,

sa hatas tv itaraṁ hanti, vītaṁseneva pakṣiṇaḥ.

 

Pertama-tama ia menghancurkan dirinya sendiri, kemudian ia melukai orang lain, orang itu, dipukul, memukul orang lain, seperti halnya seorang pemburu unggas dengan sebuah umpan.

 

[14.3] Hantāraṁ labhate hantā, vairī vairāṇi paśyati,

akroṣṭāraṁ tathākroṣṭā, roṣitāraṁ ca roṣakaḥ.

 

Sang pembunuh menemui seorang pembunuh, seorang yang bermusuhan melihat mereka yang bermusuhan, seperti halnya pencerca menemui seorang pencerca, seorang pemarah menemui ia yang rentan pada kemarahan.

 

[14.4] Anyatrāśravaṇād asya Saddharmasyāvijānakāḥ,

āyuṣy evaṁ paritte hi, vairaṁ kurvanti kena cit.

 

Kecuali dengan mendengarkan Dharma Sejati ini, orang dungu, dalam satu kehidupan yang singkat, membuat permusuhan dengan seseorang.

 

[14.5] Pṛthakchabdāḥ samutpannās,

“Taṁ ca śreṣṭham,” iti manyathā,

Saṁghe hi bhidyamāne ’smiṁ,

“Śreṣṭham” ity abhimanyathā.

 

Berbagai ucapan telah muncul, engkau berpikir: “Inilah yang terbaik,” ketika Saṁgha sedang terpecah, engkau membayangkan: “Itulah yang terbaik.”

 

[14.6.i.] Asthicchidāṁ prāṇahṛtāṁ, gavāśvadhanahāriṇāṁ,

rāṣṭraṁ vilumpatāṁ caiva, punar bhavati saṁgatam,

yuṣmākaṁ nu kathaṁ na syād imaṁ Dharmaṁ vijānatām?

 

Bagi pemecah tulang, pengambil kehidupan, mereka yang membawa pergi ternak, kuda dan kekayaan, dan bahkan perampok kerajaan, terdapat kerukunan kembali, bagaimana mungkin hal itu mustahil bagi kalian yang memahami Dharma ini?

 

[14.6.ii.] Asthicchinnāḥ prāṇaharā, gavāśvadhanahārakāḥ,

rāṣṭrāṇāṁ ca viloptāras – teṣāṁ bhavati saṁgatam,

yuṣmākaṁ nu kathaṁ na syād imaṁ Dharmaṁ vijānatām.

 

Pemecah tulang, pengambil kehidupan, mereka yang membawa pergi ternak, kuda dan kekayaan, dan bahkan perampok dunia – terdapat kerukunan kembali bagi mereka, bagaimana mungkin hal itu mustahil bagi kalian yang memahami Dharma ini?

 

[14.7] Paṇḍitābhā parāmṛṣṭā, vāg yā gocarabhāṣiṇī,

vyāyacchanti mukhaṁ vāmā, yayā nītā na te budhāḥ.

 

Dikarakteristikan oleh munculnya kebijaksanaan, yang ucapannya sebagai jalan keluarnya, yang bengkok (sesat) membengkokkan mulut mereka (mengucapkan fitnah), yang cerdas tidak dipimpin oleh hal ini.

 

[14.8] Pare hi na vijānanti vayam atrodyamāmahe,

atra ye tu vijānanti, teṣāṁ śāmyanti methakāḥ.

 

Orang lain tidak memahami bahwa kita berupaya di sini, namun bagi mereka yang memahami hal ini, perselisihan mereka berhenti.

 

[14.9] “Ākrośan mām avocan, mām ajayan, mām ajāpayet,”

atra ye hy upanahyanti, vairaṁ teṣāṁ na śāmyati.

 

Ia berucap jahat padaku, ia mengalahkanku, ia dapat merampokku,” mereka yang membawa pikiran kebencian dengan hal ini, kebencian mereka tidak akan pernah berhenti.

 

[14.10] “Ākrośan mām avocan, mām ajayan, mām ajāpayet,”

atra ye nopanahyanti, vairaṁ teṣāṁ praśāmyati.

 

Ia berucap jahat padaku, ia mengalahkanku, ia dapat merampokku,” mereka yang tidak membawa pikiran kebencian dengan hal ini, kebencian mereka terhenti.

 

[14.11] Na hi vaireṇa vairāṇi śāmyantīha kadā cana,

kṣāntyā vairāṇi śāmyanti, eṣa dharmaḥ sanātanaḥ.

 

Karena bukan dengan kebencian maka kebencian berhenti kapanpun di sini, kebencian berhenti melalui kesabaran, kebenaran ini adalah abadi.

 

[14.12] Vairaṁ na vaireṇa hi jātu śāmyec,

chāmyed avaireṇa tu vairabhāvaḥ,

vairaprasaṅgo hy ahitāya dṛṣṭas,

tasmād dhi vairaṁ na karoti vidvān.

 

Kebencian tidak dapat berhenti melalui kebencian, namun dengan tidak membenci keadaan kebencian dapat terhenti, melihat kurangnya manfaat dalam kemelekatan untuk membenci, karena itulah orang bijaksana tidak memiliki kebencian.

 

[14.13] Sa cel labhed vai nipakaṁ sahāyaṁ

loke caraṁ sādhu hi nityam eva,

abhibhūya sarvāṇi parisravāṇi,

careta tenāptamanā smṛtātmā.

 

Jika seseorang harus menemukan seorang teman yang kritis yang selalu hidup dengan baik di dunia, mengatasi segala masalahmu, seseorang harus hidup dengan orang itu, bergembira dan penuh perhatian pada dirinya sendiri.

 

[14.14] Sa cel labhed vai nipakaṁ sahāyaṁ

loke caraṁ sādhu hi nityam eva,

rājeva rāṣṭraṁ vipulaṁ prahāya,

ekaś caren, na ca pāpāni kuryāt.

 

Jika seseorang harus menemukan seorang teman yang kritis yang selalu hidup dengan baik di dunia, seperti seorang raja meninggalkan kerajaannya yang luas, seseorang harus hidup sendiri, seseorang seharusnya tidak melakukan perbuatan jahat.

 

[14.15] Caraṁś ca nādhigaccheta sahāyaṁ tulyam ātmanaḥ,

ekacaryāṁ dṛḍhaṁ kuryān: nāsti bāle sahāyatā.

 

Jika selama pengembaraan seseorang tidak dapat menemukan seorang teman yang setara dengan dirinya, seseorang seharusnya memutuskan untuk hidup sendiri: tidak ada pertemanan dengan orang dungu.

 

[14.16.i] Ekasya caritaṁ śreyo na tu bālaḥ sahāyakaḥ,

ekaś caren na ca pāpāni kuryād,

alpotsuko ’raṇyagataiva nāgaḥ.

 

Hidup seorang diri adalah lebih baik daripada memiliki seorang teman yang dungu, seseorang seharusnya hidup sendiri dan tidak melakukan perbuatan jahat, tak terganggu, seperti seekor gajah pergi ke hutan.

 

[14.16.ii] Ekasya caritaṁ ṣreyo na tu bālasahāyatā,

alpotsukaś cared eko, mātaṅgāraṇye nāgavat.

 

Hidup sendiri adalah lebih baik daripada pertemanan dengan orang dungu, seseorang seharusnya hidup tak terganggu, terasing, seperti seekor gajah di dalam hutan.

 

 

 

Drohavargaḥ, 14.

 

Bab tentang Melukai, yang Keempat Belas

 

15. Smṛtivarga

Bab tentang Perhatian

 

(29 Syair)

 

[15.1] Ānāpānasmṛtir yasya paripūrṇā subhāvitā,

anupūrvaṁ parijitā, yathā Buddhena deśitā,

sa imaṁ bhāsate lokam, abhramuktaiva candramāḥ.

 

Bagi mereka yang perhatian pada pernafasan telah terpenuhi, dikembangkan dengan baik, dan secara bertahap dikuasai, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha, orang itu menerangi dunia, seperti bulan terbebas dari awan.

 

[15.2] Sthitena kāyena tathaiva cetasā,

sthito niṣaṇṇo ’py atha vā śayānaḥ,

nityaṁ smṛto bhikṣur adhiṣṭhamāno,

labheta pūrvāparato viśeṣam.

Labdhvā ca pūrvāparato viśeṣam,

adarśanaṁ Mṛturājasya gacchet.

 

Dengan jasmani yang siaga, dan begitu pula dengan pikiran, apakah berdiri, duduk, atau berbaring, seorang Bhikṣu yang selalu penuh perhatian dan tekad, akan memperoleh dari penyelidikan awal dan setelahnya. Setelah memperoleh dari penyelidikan awal dan setelahnya, seseorang dapat pergi melampaui penglihatan Raja Kematian.

 

[15.3] Smṛtiḥ kāyagatā nityaṁ, saṁvaraś cendriyaiḥ sadā,

samāhitaḥ sa jānīyāt tena Nirvāṇam ātmanaḥ.

 

Bagi ia yang selalu penuh perhatian pada jasmani, selalu terkendali sehubungan dengan indera-indera, yang terkonsentrasi demikian akan mengetahui Nirvāṇa bagi dirinya sendiri melalui hal tersebut.

 

[15.4] Yasya syāt sarvataḥ smṛtiḥ satataṁ kāyagatā hy upasthitā:

“No ca syān, no ca me syān, na bhaviṣyati, na ca me bhaviṣyati.”

Anupūrvavihāravān asau kālenottarate viṣaktikām.

 

Bagi seseorang yang penuh perhatian pada jasmani, yang selalu teguh di manapun, dengan berpikir: "Hal itu mungkin sebelumnya tidak ada, dan hal itu mungkin tidak ada bagiku, hal itu tidak akan ada, dan hal itu tidak akan ada bagiku." Ia yang berdiam dalam kediaman bertingkat demikian, pada waktu yang tepat, menyeberangi kemelekatan.

 

[15.5] Yo jāgaret smṛtimāṁ saṁprajānaḥ,

samāhito mudito viprasannaḥ,

kālena Dharmāṁ mīmāṁsamānaḥ,

so ’tikramej jātijarāṁ saśokām.

 

Ia yang selalu awas, penuh perhatian, berpemahaman jernih, tenang, gembira dan jernih, dengan memeriksa Dharma pada waktu yang tepat, dapat melampaui kelahiran dan penuaan bersama dengan dukacita.

 

[15.6] Tasmāt sadā jāgarikāṁ bhajeta,

yo vīryavāṁ smṛtimān apramattaḥ,

saṁyojanaṁ jātijarāṁ ca hitvā,

ihaiva duḥkhasya karoti so ’ntam.

 

Karena itulah seseorang harus selalu menjunjung keawasan, seseorang yang semangat, penuh perhatian, penuh kewaspadaan, setelah meninggalkan belenggu-belenggu yang mengarah pada kelahiran dan usia tua, orang itu mengakhiri penderitaan di sini.

 

[15.7] Jāgarantaḥ śṛṇudhvaṁ me! Suptāś ca pratibudhyata!

Supteṣu jāgaraṁ śreyā, na hi jāgarato bhayam.

 

Yang awas, dengarkan aku! Dan yang tidur, bangunlah! Keawasan adalah baik diantara mereka yang tertidur, tidak ada bahaya bagi ia yang terjaga.

 

[15.8] Jāgaryam anuyuktānām, ahorātrānuśikṣiṇām,

amṛtaṁ cādhimuktānām, astaṁ gacchanti āsravāḥ.

 

Bagi mereka yang menjunjung keawasan, yang berlatih siang dan malam, dan bertekad pada tanpa kematian, kekotoran batin akan berhenti.

 

[15.9] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Buddhaṁ śaraṇaṁ gatāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Buddhagatā smṛtiḥ.

 

Terdapat perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Sang Buddha, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Sang Buddha, siang dan malam.

 

[15.10] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Dharmaṁ śaraṇaṁ gatāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Dharmagatā smṛtiḥ.

 

Terdapat perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Dharma, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Dharma, siang dan malam.

 

[15.11] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Saṁghaṁ śaraṇaṁ gatāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Saṁghagatā smṛtiḥ.

 

Terdapat perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Saṁgha, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Saṁgha, siang dan malam.

 

[15.12] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Buddhagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Sang Buddha, siang dan malam.

 

[15.13] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Dharmagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Dharma, siang dan malam.

 

[15.14] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Saṁghagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Saṁgha, siang dan malam.

 

[15.15] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ kāyagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan pada jasmani, siang dan malam.

 

[15.15A] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ samādhayaḥ smṛtāḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu terkonsentrasi, siang dan malam.

 

[15.16] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ śīlagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan pada moralitas, siang dan malam.

 

[15.16A] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ tyāgagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan pada kedermawanan, siang dan malam.

 

[15.16B] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Devagatā smṛtiḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada para Deva, siang dan malam.

 

[15.17] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau caivāhiṁsāyāṁ rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam tanpa kekerasan, siang dan malam.

 

[15.18] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau caivāvyāpāde rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam niat baik, siang dan malam.

 

[15.19] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, naiṣkramye ’bhirataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya sangat bersenang dalam pelepasan keduniawian, siang dan malam.

 

[15.20] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ dhyānarataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya selalu bersenang dalam meditasi (Dhyana), siang dan malam.

 

[15.21] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, viveke ’bhirataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya sangat bersenang dalam keterasingan, siang dan malam.

 

[15.22] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, śunyatāyāṁ rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam kekosongan, siang dan malam.

 

[15.23] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau caivānimitte rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam yang tanpa tanda, siang dan malam.

 

[15.24] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, ākiñcanye rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam keadaan kekosongan, siang dan malam.

 

[15.25] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, bhāvanāyāṁ rataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya bersenang dalam pengembangan (pikiran), siang dan malam.

 

[15.26] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,

yeṣāṁ divā ca rātrau ca, Nirvāṇe ’bhirataṁ manaḥ.

 

Siswa-siswa Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya sangat bersenang dalam Nirvāṇa, siang dan malam.

 

 

 

Smṛtivargaḥ, 15.

 

Bab tentang Perhatian, yang Kelima Belas.

 

16. Prakirṇakavarga

Bab tentang Serbaneka

 

(25 Syair)

 

[16.1] Pūrvaṁ hi kṛtyaṁ pratijāgareta:

“Mā me kṛtyaṁ kṛtyakāle vihanyāt,”

taṁ nityakāle pratiyatyakāriṇaṁ,

naiva kṛtyaṁ kṛtyakāle vihanti.

 

Seseorang seharusnya menjadi awas tentang apa yang harus dilakukan, dengan berpikir: “Jangan biarkan apa yang harus dilakukan terganggu olehku ketika waktunya hal itu harus dilakukan,” bagi ia yang selalu waspada ketika waktu yang tepat, pekerjaan tidak akan terganggu ketika waktunya hal itu harus diselesaikan.

 

[16.2] Vyāyametaiva puruṣo yāvad arthasya niṣpadaḥ,

paśyed asau tathātmārthaṁ yathaivecchet tathā bhavet.

 

Seseorang seharusnya berupaya hingga mencapai tujuan, seseorang seharusnya memprediksi tujuannya sendiri sedemikian rupa sehingga dapat menjadi seperti yang dinginkannya.

 

[16.3] Uttiṣṭhata vyāyamata, kurudhvaṁ dvīpam ātmanaḥ,

karmāro rajatasyaiva, haradhvaṁ malam ātmanaḥ,

nirdhāntamalā hy anaṅgaṇā, na punar jātijarām upeṣyetha.

 

Bangkitkan dirimu sendiri, berupayalah, buatlah pulau bagi dirimu sendiri, bagaikan pengrajin perak menghilangkan ketidak-murnian, hilangkan ketidak-murnian dari dirimu sendiri, dengan ketidak-murnian dihilangkan, tanpa cela, engkau tidak akan mengalami kelahiran dan usia tua lagi.

 

[16.4] Alajjitavye lajjante, lajjitavye tv alajjinaḥ,

abhaye bhayadarśīno, bhaye cābhayadarśinaḥ,

mithyādṛṣṭisamādānāt, satvā gacchanti durgatim.

 

Mereka malu pada apa yang tidak memalukan, namun tidak malu pada apa yang memalukan, melihat bahaya dalam apa yang tidak berbahaya, dan tidak melihat bahaya dalam apa yang berbahaya, karena memiliki pandangan salah, makhluk-makhluk pergi ke alam yang buruk.

 

[16.5] Yas tu pūrvaṁ pramādyeha, paścād vai na pramādyate,

sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.

 

Tetapi ia yang sebelumnya lengah, namun kemudian tidak lengah, orang itu menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

 

[16.6] Yas tu pūrvaṁ pramādyeha, paścād vai na pramādyate,

sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ samativartate.

 

Tetapi ia yang sebelumnya lengah di sini, namun kemudian tidak lengah, penuh perhatian, ia mengatasi kemelekatan ini di dunia.

 

[16.7] Daharo ’pi cet pravrajate, yujyate Buddhaśāsane,

sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.

 

Jika bahkan selagi muda seseorang meninggalkan keduniawian, mengabdikan dirinya pada Buddha Śāsana, orang itu menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

 

[16.8] Daharo ’pi cet pravrajate, yujyate Buddhaśāsane,

sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ samativartate.

 

Jika bahkan selagi muda seseorang meninggalkan keduniawian, mengabdikan dirinya pada Buddha Śāsana, penuh perhatian, ia mengatasi kemelekatan ini di dunia.

 

[16.9] Yasya pāpakṛtaṁ karma kuśalena pithīyate:

sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.

 

Ia yang perbuatan jahatnya tertimbun oleh perbuatan bajik: Orang itu menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

 

[16.10] Yasya pāpakṛtaṁ karma kuśalena pithīyate,

sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ samativartate.

 

Ia yang perbuatan jahatnya tertimbun oleh perbuatan bajik: Penuh perhatian, ia mengatasi kemelekatan ini di dunia.

 

[16.11] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,

sa vai dṛṣṭapado dhīro, maraṇānte na śocate.

 

Ia yang tidak tersiksa dalam kehidupan, dan dengan cara apapun dalam kematian, ia yang tekun itu telah melihat tujuan, pada akhirnya tidak bersedih dalam kematian.

 

[16.12] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,

sa vai dṛṣṭapado dhīraḥ, śokamadhye na śocati.

 

Ia yang tidak tersiksa dalam kehidupan, dan dengan cara apapun dalam kematian, ia yang tekun itu telah melihat keadaan kedamaian, tidak akan bersedih di tengah kesedihan.

 

[16.13] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,

sa vai dṛṣṭapado dhīro, jñātimadhye virocate.

 

Ia yang tidak tersiksa dalam kehidupan, juga dengan cara apapun dalam kematian, ia yang tekun itu telah melihat keadaan kedamaian, bersinar di tengah sanak saudara.

 

[16.14] Kṛṣnāṁ dharmāṁ viprahāya, śuklāṁ bhāvayata bhikṣavaḥ,

okād anokam āgamya, vivekam anubṛṁhayet,

tatra cābhirametāryo, hitvā kāmān akiñcanaḥ.

 

Setelah meninggalkan pikiran gelap, engkau seharusnya mengembangkan pikiran terang, para Bhikṣu, pergi meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga, seseorang harus mengabdi pada keterasingan, di sana Orang Mulia akan menemukan kesenangan yang luhur, setelah meninggalkan nafsu keinginan, tanpa memiliki apapun.

 

[16.15] Śuddhasya hi sadā phalguḥ, śuddhasya poṣathaḥ sadā,

śuddhasya śucikarmaṇaḥ, sadā saṁpadyate vratam.

 

Bagi ia yang murni setiap saat selalu seperti festival musim semi, bagi ia yang murni setiap saat seperti hari Poṣatha, bagi ia yang murni, berprerilaku murni, pelatihannya selalu berhasil.

 

[16.16] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, rāgadoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatarāgebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan nafsu ragawi, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa nafsu ragawi memiliki hasil yang besar.

 

[16.17] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, dveṣadoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatadveṣebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan kebencian, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa kebencian memiliki hasil yang besar.

 

[16.18] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, mohadoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatamohebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan delusi, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa delusi memiliki hasil yang besar.

 

[16.19] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, mānadoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatamānebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan kesombongan, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa kesombongan memiliki hasil yang besar.

 

[16.20] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, lobhadoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatalobhebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan keserakahan, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa keserakahan memiliki hasil yang besar.

 

[16.21] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, tṛṣṇādoṣā tv iyaṁ prajā,

tasmād vigatatṛṣṇebhyo dattaṁ bhavati mahāphalam.

 

Ladang-ladang hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan nafsu, karena itulah apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa nafsu memiliki hasil yang besar.

 

[16.22] Ṣaṣṭha adhipatī rājā, rajyamāne rajasvalaḥ,

arakte virajā bhavati, rakte bālo nirucyate.

 

Penguasa (indera) keenam (pikiran), adalah seorang raja, ketika melekat, seseorang tidaklah murni, ketika tidak melekat, seseorang tanpa debu, ketika melekat, seseorang disebut orang bodoh.

 

[16.23] Nagaraṁ hy asthiprākāraṁ, māṁsaśoṇitalepanam,

yatra rāgaś ca dveṣaś ca māno mrakṣaś ca bādhyate.

 

Benteng ini memiliki tembok tulang belulang, diplester dengan daging dan darah, di mana ia terjangkit oleh nafsu ragawi dan kebencian, juga kesombongan dan kebohongan.

 

[16.24] Hetuprabhavaṁ sadā hi duḥkhaṁ,

tad apaśyaṁ, sa hi tena tatra baddhaḥ,

tasya tu samayāj jahāti saṅgaṁ,

na hi bāhyā prajahanti taṁ mahaugham.

 

Penderitaan selalu muncul dari satu sebab, inilah yang Aku lihat, dan dengannya seseorang terbelenggu di sini, namun melalui penenangan seseorang meninggalkan kemelekatan terhadapnya, karena apa yang diluar tidak meninggalkan banjir besar.

 

 

 

Prakīrṇakavargaḥ, 16.

 

Bab tentang Serbaneka, yang Keenam Belas

 

17. Udakavarga

Bab tentang Air

 

(12 Syair)

 

[17.1] Smṛtimantaḥ prayujyante, na nikete ramanti te,

haṁsavat palvalaṁ hitvā, hy okam oghaṁ jahante te.

 

Mereka yang penuh perhatian berupaya, mereka tidak bersenang dalam tempat tinggal, seperti seekor angsa meninggalkan sebuah danau, mereka meninggalkan rumah dan banjir.

 

[17.2] Haṁsādityapathe yānti, ākāśe jīvitendriyāḥ,

niryānti dhīrā lokān, Mārasainyaṁ pramathya te.

 

Para angsa pergi melalui arah matahari, melalui langit dengan indriya kehidupan mereka, mereka yang waspada keluar dari dunia, setelah menghancurkan pasukan Māra,

 

[17.3] Acaritvā brahmacaryam, alabdhvā yauvane dhanam,

jīrṇakrauñcaivă dhyāyante ’lpamatsya iva palvale.

 

Tidak menjalani kehidupan suci, tidak memperoleh kekayaan di masa muda mereka, mereka merenung seperti bangau tua di suatu kolam kecil dengan sedikit ikan.

 

[17.4] Acaritvā brahmacaryam, alabdhvā yauvane dhanam,

śenti cāpātikīrṇā vā, paurāṇāny anucintitāḥ.

 

Tidak menjalani kehidupan suci, tidak memperoleh kekayaan di masa muda mereka, mereka berbaring seperti anak panah yang ditembakkan dari busur, merenungkan berbagai hal di masa lampau.

 

[17.5] Nālpaṁ manyeta pāpasya: Naitaṁ mām āgamiṣyati,

udabindunipātena mahākumbho ’pi pūryate,

pūryanti bālāḥ pāpair hi, stokastokaṁ kṛtair api.

 

Seseorang seharusnya tidak menganggap satu kejahatan sebagai sepele dengan berpikir: Itu tidak akan berpengaruh kepadaku, dengan jatuhnya tetes-tetes air sebuah bejana air besar terisi penuh, orang bodoh menjadi penuh dengan kejahatan, bahkan dengan membuatnya sedikit demi sedikit.

 

[17.6] Nālpaṁ manyeta puṇyasya: Naitaṁ mām āgamiṣyati,

udabindunipātena mahākumbho ’pi pūryate,

pūryanti dhīrāḥ puṇyair hi stokastokaṁ kṛtair api.

 

Seseorang seharusnya tidak menganggap satu kebajikan sebagai sepele dengan berpikir: Itu tidak akan berpengaruh kepadaku, dengan jatuhnya tetes-tetes air sebuah bejana air besar terisi penuh, mereka yang waspada menjadi penuh dengan kebajikan, bahkan dengan membuatnya sedikit demi sedikit.

 

[17.7] Ye taranty ārṇavaṁ nityaṁ, kolaṁ baddhvā janāḥ śubham,

na te taranti saritāṁ, tīrṇā medhāvino janāḥ.

 

Orang-orang itu yang, setelah merakit sebuah rakit yang bagus, terus menerus menyeberangi samudera, mereka tetap menyeberang di lautan, bukanlah orang-orang yang cerdas, yang telah menyeberang.

 

[17.8] Uttīrṇo Bhagavāṁ Buddhaḥ, sthale tiṣṭhati Brāhmaṇaḥ,

bhikṣavaḥ snānti caivātra, kolaṁ badhnanti cāpare.

 

Sang Buddha Sang Bhagavā telah menyeberang, Sang Brāhmaṇaḥ berdiri di pantai yang jauh, terdapat para Bhikṣu yang mandi, sementara yang lain masih mengikat sebuah rakit.

 

[17.9] Kiṁ kuryād udapānena, yatrāpaḥ sarvato bhavet?

Tṛṣṇāyā mūlam uddhṛtya, kasya paryeṣaṇāṇ caret?

 

Apakah yang dapat seseorang lakukan dengan sebuah sumur, jika terdapat air dimana-mana? Setelah mengangkat akar nafsu keinginan, apakah yang ia cari dalam pengembaraan?

 

[17.10] Udakena nijanti nejakā,

iṣukārā namayanti tejasā,

dāruṁ namayanti takṣakā,

hy ātmānaṁ damayanti paṇḍitāḥ.

 

Tukang air menyalurkan air, pengrajin panah membentuk anak panah dengan panas, tukang kayu membentuk kayu, orang bijaksana melatih dirinya sendiri.

 

[17.11] Yathā hradaḥ sugambhīro, viprasanno hy anāvilaḥ,

evaṁ śrutvā hi Saddharmaṁ viprasīdanti paṇḍitāḥ.

 

Seperti halnya sebuah danau yang sangat dalam, jernih, dan tak terganggu, demikianlah orang bijaksana menjadi jernih setelah mendengar Dharma Sejati (Saddharma).

 

[17.12] Pṛthivīsadṛśo na lipyate, tāyī kīlavad aprakampayaḥ,

hrada iva hi vinītakardamo, niṣkaluṣā hi bhavanti paṇḍitāḥ.

 

Seseorang yang seperti tanah tidaklah kotor, orang demikian, seperti sebuah pilar, tak tergoncangkan, orang bijaksana menjadi tak bernoda seperti sebuah danau yang lumpurnya telah disingkirkan.

 

 

 

Udakavargaḥ, 17

 

Bab tentang Air, yang Ketujuh Belas

 

18. Puṣpavarga

Bab tentang Bunga

 

(27 Syair)

 

[18.1] Ka imāṁ pṛthivīṁ vijeṣyate

Yamalokaṁ ca tathā sadevakam?

Ko Dharmapadaṁ sudeśitaṁ,

kuśalaḥ puṣpam iva praceṣyate?

 

Siapa yang akan memahami dunia ini dan alam Yama, bersama dengan para Deva? Yang akan memeriksa syair-syair Dharma yang diajarkan dengan baik, seperti halnya seorang yang terampil akan memeriksa bunga-bunga?

 

[18.2] Śaikṣaḥ pṛthivīṁ vijeṣyate,

Yamalokaṁ ca tathā sadevakam,

sa hi Dharmapadaṁ sudeśitaṁ,               

kuśalaḥ puṣpam iva praceṣyate.

 

Seorang yang masih berlatih (Śaikṣaḥ) akan memahami dunia ini dalam alam Yama, bersama dengan para Deva, orang itu akan memeriksa syair-syair Dharma yang diajarkan dengan baik, seperti halnya seorang yang terampil akan memeriksa bunga-bunga.

 

[18.3] Vanaṁ chindata mā vṛkṣaṁ, vanād vai jāyate bhayam,

chitvā vanaṁ samūlaṁ tu, nirvaṇā bhavata bhikṣavaḥ.

 

Tebanglah hutan, bukan hanya sebatang pohon, dari hutan muncul satu bahaya, namun setelah memotong hutan pada akarnya, engkau harus menjadi tanpa nafsu, para Bhikṣu.

 

[18.4] Na chidyate yāvatā vanaṁ

hy anumātram api narasya bandhuṣu,

pratibaddhamanāḥ sa tatra vai,

vatsaḥ kṣīrapaka iva mātaram.

 

Hutan itu tidak ditebang sepanjang masih terdapat bahkan setitik kemelekatan seseorang terhadap sanak keluarga, di sana pikirannya terikat, seperti anak sapi terikat pada induknya.

 

[18.5] Ucchindhi hi sneham ātmanaḥ, padmaṁ śāradakaṁ yathodakāt,

śāntimārgam eva bṛṁhayen, Nirvāṇaṁ Sugatena deśitam.

 

Putuskan cinta yang besar untuk diri sendiri, seperti setangkai teratai musim gugur dicabut dari air, tekunilah Sang Jalan untuk Kedamaian, Nirvāṇa yang diajarkan oleh Sang Sugata.

 

[18.6] Yathāpi ruciraṁ puṣpaṁ, varṇavat syād agandhavat,

evaṁ subhāṣitā vācā niṣphalāsāv akurvataḥ.

 

Seperti halnya setangkai bunga yang cantik, yang mungkin berwarna, namun tanpa aroma, demikian pula kata-kata yang diucapkan dengan baik adalah tanpa hasil bagi seseorang yang tidak melaksanakannya.

 

[18.7] Yathāpi ruciraṁ puṣpaṁ, varṇavat syād sugandhavat,

evaṁ subhāṣitā vācā saphalā bhavati kurvataḥ.

 

Seperti halnya setangkai bunga yang cantik, yang mungkin berwarna dan beraroma, demikian pula kata-kata yang diucapkan dengan baik adalah memiliki hasil bagi seseorang yang melaksanakannya.

 

[18.8] Yathāpi bhramaraḥ puṣpād varṇagandhāv aheṭhayan,

paraiti rasam ādāya, tathā grāmāṁ muniś caret.

 

Seperti halnya seekor lebah, tanpa merusak warna atau aroma setangkai bunga, mengumpulkan nektarnya dan pergi, demikian pula seharusnya orang bijaksana mengembara diantara desa-desa.

 

[18.9] Na pareṣāṁ vilomāni, na pareṣāṁ kṛtākṛtam,

ātmanas tu samīkṣeta, samāni viṣamāni ca.

 

Bukan pada kesalahan orang lain, atau apa yang orang lain telah lakukan atau belum dilakukan, seseorang seharusnya memeriksa dirinya sendiri, apa yang sesuai dan tidak sesuai.

 

[18.10] Yathāpi puṣparāśibhyaḥ kuryān mālāguṇāṁ bahūn,

evaṁ jātena martyena, kartavyaṁ kuśalaṁ bahu.

 

Seperti halnya dari tumpukkan bunga seseorang dapat membuat banyak kalung bunga, demikian juga, dengan seseorang yang terlahir sebagai makhluk hidup, banyak perbuatan baik seharusnya dapat dilakukan.

 

[18.11] Varṣāsu hi yathā puṣpaṁ vaguro vipramuñcati,

evaṁ rāgaṁ ca doṣaṁ ca vipramuñcata, bhikṣavaḥ.

 

Seperti halnya ketika hujan sebatang pohon melepaskan bunga-bunganya, demikian pula kalian harus melepaskan nafsu dan kebencian, para Bhikṣu.

 

[18.12–18.13] Yathā saṁkārakūṭe tu vyujjhite hi mahāpathe

padmaṁ tatra tu jāyeta śucigandhi manoramam,

evaṁ saṁkārabhūte ’sminn, andhabhūte pṛthagjane,

prajñayā vyatirocante Samyaksaṁbuddhaśrāvakāḥ.

 

Seperti halnya dalam tumpukkan sampah yang dibuang ditengah jalan utama setangkai teratai dapat muncul dari sana, murni, harum, menyenangkan pikiran, demikian pula diantara yang tidak berharga di dunia, orang-orang buta dan awam, siswa (śrāvakāḥ) seorang Samyak Saṁbuddha bersinar dengan kebijaksanaan mereka.

 

[18.14] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ naram

suptaṁ grāmaṁ mahaughaiva, mṛtyur ādāya gacchati.

 

Seseorang yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, kematian mengambil dan membawanya, seperti sebuah banjir membawa pergi satu desa yang tertidur.

 

[18.15] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ naram,

atṛptam eva kāmeṣu – tv Antakaḥ kurute vaśam.

 

Seseorang yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, sungguh-sungguh terpuaskan dengan nafsu – padanya Sang Pembuat Akhir memiliki pengaruhnya.

 

[18.16] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ naram,

anutpanneṣu bhogeṣu – tv Antakaḥ kurute vaśam.

 

Seseorang yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, diantara Hartawan yang belum muncul – padanya Sang Pembuat Akhir memiliki pengaruhnya.

 

[18.17] Kumbhopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,

marīcidharmaṁ paribudhya caiva,

chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,

tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.

 

Memahami bahwa tubuh ini seperti sebuah kendi, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja Kematian.

 

[18.18] Phenopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,

marīcidharmaṁ paribudhya caiva,

chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,

tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.

 

Memahami bahwa tubuh ini seperti buih, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja Kematian.

 

[18.19] Kumbhopamaṁ lokam imaṁ viditvā,

marīcidharmaṁ paribudhya caiva,

chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,

tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.

 

Memahami bahwa dunia ini seperti sebuah kendi, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja Kematian.

 

[18.20] Phenopamaṁ lokam imaṁ viditvā,

marīcidharmaṁ paribudhya caiva,

chitveha mārasya tu puṣpakāṇi,

tv adarśanaṁ Mṛtyurājasya gacchet.

 

Memahami bahwa dunia ini seperti buih, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja Kematian.

 

[18.21] Yo nādhyagamad bhaveṣu sāraṁ,

buddhvā puṣpam udumbarasya yadvat,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang tidak menemukan intisari dalam kemenjadian, seperti seseorang yang memahami pohon Udumbara tidak memiliki bunga, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21A] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong nafsu ragawi tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21B] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong kebencian tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21C] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong delusi tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21D] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong kesombongan tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21E] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong keserakahan tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

[18.21F] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Ia yang memotong nafsu tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.

 

 

 

Puṣpavargaḥ, 18

 

Bab tentang Bunga, yang Kedelapan Belas

 

19. Aśvavarga

Bab tentang Kuda

 

(26 Syair)

 

[19.1] Bhadro yathāśvaḥ kaśayābhispṛṣṭa,

hy ātāpinaḥ saṁvijitāś careta,

śrāddhas tathā śīlaguṇair upetaḥ,

samāhito dharmaviniścayajñaḥ,

jitendriyaḥ kṣāntibalair upeto,

jahāti sarvāṁ sa bhavān aśeṣān.

 

Seperti halnya seekor kuda yang bagus yang terkena pecut, seseorang seharusnya hidup dengan sangat tekun dan mendesak, seperti halnya seorang yang berkeyakinan, diberkahi dengan kualitas-kualitas moralitas, tenang dan mengetahui penyelidikan fenomena (dharmaviniścaya), setelah menaklukan indriya-indriya, diberkahi dengan kekuatan kesabaran, meninggalkan segala kemenenjadian ini tanpa sisa.

 

[19.2] Bhadro yathāśvaḥ kaśayābhitāḍita,

hy ātāpinaḥ saṁvijitāś careta,

śrāddhas tathā śīlaguṇair upetaḥ,

samāhito dharmaviniścayajñaḥ,

saṁpannavidyācaraṇaḥ pratismṛtas,

tāyī sa sarvaṁ prajahāti duḥkham.

 

Seperti halnya seekor kuda yang bagus yang terkena pecut, seseorang seharusnya hidup dengan sangat tekun dan mendesak, seperti halnya seorang yang berkeyakinan, diberkahi dengan kualitas-kualitas moralitas, tenang dan mengetahui penyelidikan fenomena (dharmaviniścaya), seseorang diberkahi dengan pemahaman dan perilaku bajik, penuh perhatian, ia yang demikian meninggalkan segala penderitaan.

 

[19.3] Yasyendriyāṇi samatāṁ gatāni,

aśvo yathā sārathinā sudāntaḥ,

prahīṇadoṣāya nirāsravāya –

Devāpi tasmai spṛhayanti nityam.

 

Bagi seseorang yang indera-inderanya telah tenang, seperti seekor kuda yang terlatih baik oleh pelatihnya, bagi ia yang telah meninggalkan segala cela, tanpa kekotoran – bahkan para Deva terus iri terhadapnya.

 

[19.4] Apramattaḥ pramatteṣu, supteṣu bahujāgaraḥ,

abalāśva iva bhadrāśvaṁ hitvā yāti sumedhasam.

 

Ia yang waspada diantara mereka yang lengah, ia yang terjaga diantara mereka yang tidur, ia yang bijaksana bergerak seperti seekor kuda unggulan meninggalkan seekor kuda yang lemah.

 

[19.5] Hrīniṣevī hi puruṣaḥ, prājño yaḥ susamāhitaḥ,

sarvapāpaṁ jahāty eṣa, bhadrāśvo hi kaśām iva.

 

Seseorang yang, terkendali dengan rasa malu, adalah bijaksana dan amat tenang, meninggalkan segala kesalahan, seperti seekor kuda unggulan yang meninggalkan pecut.

 

[19.6] Dānto vai samitiṁ yāti, dāntaṁ rājādhirohati,

dāntaḥ śreṣṭho manuṣyāṇāṁ, yo ’tivākyaṁ titīkṣati.

 

Yang terlatih pergi diantara kerumunan, seorang raja mengandalkan ia yang terlatih, diantara manusia seseorang yang terlatih adalah yang terbaik, ia yang dapat menahankan kejahatan.

 

[19.7.i.] Yo hy aśvaṁ damayej jānyam ājāneyaṁ ca Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmā dāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor kuda, seekor kuda biasa, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.7.ii.] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.8.i.] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim adhigacchati,

ātmanā hi sudāntena, kṣipraṁ śāntiṁ nigacchati.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang dengan cepat mencapai kedamaian.

 

[19.8.ii.] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, dānto dāntena gacchati.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, yang terlatih berjalan sesuai dengan pelatihan.

 

[19.8A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.8B] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, bhave duḥkhasya pāragaḥ.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, orang itu telah menyeberangi penderitaan dalam kemenjadian.

 

[19.8C] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.9.i.] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim adhigacchati,

ātmanā hi sudāntena, sarvās tyajati durgatīḥ.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang meninggalkan segala kelahiran yang buruk.

 

[19.9.ii.] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ tyajati durgatīḥ.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang sepenuhnya meninggalkan kelahiran yang buruk.

 

[19.9A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.10.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim adhigacchati,

ātmanā hi sudāntena, sarvāṁ chinatti bandhanam.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang memotong segala belenggu.

 

[19.10.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ chindati bandhanam.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang memotong segala belenggu.

 

[19.10A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.11.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim adhigacchati,

ātmanā hi sudāntena, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang terbebas dari segala penderitaan.

 

[19.11.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang terbebas dari segala penderitaan.

 

[19.11A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.11B] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ jahāti saṁpadam.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang meninggalkan segala kesuksesan duniawi.

 

[19.11C] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi Saindhavam,

kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.

 

Ada orang yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.

 

[19.12.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim adhigacchati,

ātmanā hi sudāntena, Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[19.12.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,

yām ātmanā sudāntena, Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Bukan dengan kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, seseorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[19.13] Ātmānam eva damayed, bhadrāśvam iva sārathiḥ,

ātmanā hi sudāntena, smṛtimāṁ duḥkhapāragaḥ.

 

Seseorang seharusnya melatih dirinya sendiri, seperti seorang pelatih kuda (melatih) seekor kuda unggulan, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, dengan penuh perhatian seseorang akan menyeberangi penderitaan.

 

[19.14] Ātmaiva hy ātmano nāthaḥ, ātmā śaraṇam ātmanaḥ,

tasmāt saṁyamayātmānaṁ, bhadrāśvam iva sārathiḥ.

 

Diri sendiri adalah penjaga bagi diri sendiri, diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, karena itulah seseorang harus mengendalikan dirinya sendiri, seperti seorang pelatih kuda (melatih) seekor kuda unggulan.

 

 

 

Aśvavargaḥ, 19

 

Bab tentang Kuda, yang Kesembilan Belas.

 

20. Krodhavarga

Bab tentang Kemarahan

 

(20 Syair)

 

[20.1] Krodhaṁ jahed, viprajahec ca mānaṁ,

saṁyojanaṁ sarvam atikrameta,

taṁ nāmne rūpe ca asajyamānam,

akiñcanaṁ nānupatanti saṅgāḥ.

 

Seseorang seharusnya meninggalkan kemarahan, seseorang seharusnya sepenuhnya meninggalkan kesombongan, seseorang seharusnya mengatasi segala belenggu, tanpa melekat pada batin dan jasmani, kemelekatan tidak akan muncul pada ia yang tidak memiliki apapun.

 

[20.2] Krodhaṁ jahed utpatitaṁ, rāgaṁ jātaṁ nivārayet,

avidyāṁ prajahed dhīraḥ, satyābhisamayāt sukham.

 

Seseorang seharusnya meninggalkan kemarahan yang sedang muncul, seseorang seharusnya menyingkirkan nafsu ragawi yang berlangsung, ia yang tekun seharusnya meninggalkan ketidak-tahuan, kebahagiaan adalah berasal dari merealisasikan kebenaran.

 

[20.3] Krodhaṁ hatvā sukhaṁ sete, krodhaṁ hatvā na śocati,

krodhasya viṣamūlasya, madhuraghnasya, bhikṣavaḥ,

vadham āryāḥ praśaṁsanti, taṁ ca hatvā na śocati.

 

Setelah menghancurkan kemarahan seseorang hidup bahagia, setelah menghancurkan kemarahan seseorang tidak berduka, pemotongan akar beracun kemarahan adalah manis, para Bhikṣu, Para Mulia memuji penghancurannya, karena dengan menghancurkannya, seseorang tidak berduka.

 

[20.4] Yat tu rocayati kruddho duṣkṛtaṁ sukṛtaṁ tv iti,

paścāt sa vigate krodhe, spṛṣṭvāgnim iva tapyate.

 

Apapun yang disetujui orang yang marah, perbuatan buruk atau bajik, setelahnya, ketika kemarahannya berhenti, orang itu tersiksa seperti ia yang menyentuh api.

 

[20.5.i.] Ahrīkaś cānavatrāpī, cāvrataś caiva roṣaṇaḥ,

krodhena hy abhibhūtasya, dvīpaṁ nāstīha kiṁ cana.

 

Tanpa rasa malu dan takut (berbuat salah), sulit diatur dan penuh amarah, bagi seseorang yang dikendalikan kemarahan, tidak ada pulau (pelindung) di manapun.

 

[20.5.ii.] Ahrīkyo ’py anavatrāpī, bhavati krodhano ’vrataḥ,

krodhena cābhibhūtasya, na dvīpo bhavati kaś cana.

 

Tanpa rasa malu atau takut (berbuat salah), seseorang menjadi pemarah dan sulit diatur, bagi seseorang yang dikendalikan kemarahan, tidak ada pulau (pelindung) sama sekali.

 

[20.6] Abalaṁ hi balaṁ tasya, yasya krodhe balaṁ balam,

kruddhasya Dharmahīnasya, pratipattir na vidyate.

 

Kelemahan adalah kekuatannya, pada ia yang kekuatannya hanyalah kekuatan dalam amarah, bagi ia yang pemarah, tanpa Dharma, tidak ada Jalan Kebenaran yang terlihat.

 

[20.7] Yas tv ayaṁ balavāṁ bhūtvā, durbalasya titīkṣati,

tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati durbalaḥ.

 

Namun bagi ia yang, menjadi kuat, menahankan seseorang yang lemah, mereka katakan bahwa itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu bersabar.

 

[20.8] Yaḥ pareṣāṁ prabhūḥ saṁs tu, durbalāṁ saṁtitīkṣati,

tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati durbalaḥ.

 

Namun ia yang, dengan menguasai orang lain, sepenuhnya sabar dengan orang yang lemah, mereka katakan bahwa itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu bersabar.

 

[20.9] Atyukto hi parair yo vai, balavāṁ saṁtitīkṣati,

tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati durbalaḥ.

 

Seorang kuat yang, sepenuhnya bersabar walaupun diprovokasi oleh orang lain, mereka katakan bahwa itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu bersabar.

 

[20.10] Ātmānaṁ ca paraṁ caiva mahato rakṣate bhayāt,

yaḥ paraṁ kupitaṁ jñātvā, svayaṁ tatropaśāmyati.

 

Seseorang melindungi dirinya sendiri dan orang lain dari bahaya besar, ia yang, mengetahui orang lain marah, ia sendiri tetap tenang dalam situasi itu.

 

[20.11] Ubhayoś carate so ’rtham ātmanasya parasya ca,

yaḥ paraṁ kupitaṁ jñātvā, svayaṁ tatropaśāmyati.

 

Ia yang hidup demi manfaat baik dirinya sendiri dan orang lain, ia yang, mengetahui orang lain marah, ia sendiri tetap tenang dalam situasi itu.

 

[20.12] Ubhārthe caramāṇaṁ taṁ hy ātmanasya parasya ca,

abalaṁ manyate bālo, Dharmeṣv avavicakṣaṇaḥ.

 

Walaupun ia hidup demi manfaat baik dirinya sendiri dan orang lain, dengan tidak terampil dalam Dharma, orang bodoh menganggap ia lemah.

 

[20.13] Jayaṁ hi manyate bālo vacobhiḥ paruṣair vadan,

nityam iva jayas tasya yo ’tivākyaṁ titīkṣati.

 

Orang bodoh menganggap ia adalah seorang pemenang ketika mengucapkan kata-kata kasar, seperti halnya kemenangan yang sebenarnya dimiliki seseorang yang dapat selalu menahankan kejahatan.

 

[20.14] Śreṣṭhasya vākyaṁ kṣamate bhayena,

saṁrambhahetoḥ sadṛśasya caiva,

yo vai nihīnasya vacaḥ kṣameta,

tām uttamāṁ kṣāntim ihāhur āryāḥ.

 

Seseorang menahankan ucapan mereka yang lebih tinggi karena takut, atau ucapan mereka yang setara karena terburu-buru, namun ia yang menahankan ucapan mereka yang lebih rendah, itulah yang disebut Para Mulia di sini sebagai kesabaran tertinggi.

 

[20.15] Kruddho vācaṁ na bhāṣeta pariṣatsv atha vā mithaḥ,

krodhābhibhūtaḥ puruṣaḥ svam arthasṁ hi na budhyate.

 

Seseorang yang marah seharusnya mengucapkan kata-kata di satu perkumpulan atau secara privat, orang yang diliputi kemarahan tidak mengerti manfaat bagi dirinya sendiri.

 

[20.16] Satyaṁ vaden, na ca krudhyed, dadyād alpād api svayam,

sthānair ebhis tribhir yukto, Devānām antikaṁ vrajet.

 

Seseorang seharusnya mengucapkan kebenaran, tidak menjadi marah, bahkan pemberian dari orang kecil yang, diberkahi dengan tiga kondisi ini, ia dapat pergi ke hadapan para Deva.

 

[20.17] Śāntasya hi kutaḥ krodho, dāntasya sama-jīvinaḥ,

samyagājñāvimuktasya? Krodho nāsti prajānataḥ.

 

Bagaimana mungkin terdapat kemarahan bagi ia yang tenang, terlatih, hidup dalam harmoni, terbebas dengan pengetahuan benar? Tidak ada kemarahan bagi seseorang yang memahami.

 

[20.18] Tasyaiva pāpaṁ bhavati yaḥ kruddhe krudhyate punaḥ,

kruddheṣv akruddhamānas tu, saṁgrāmaṁ durjayaṁ jayet.

 

Yang didapatkan seseorang hanyalah keburukan bagi siapapun yang berbalik marah pada orang yang sedang marah, namun ia yang tidak berbalik marah diantara yang marah, akan memenangkan suatu pertempuran yang sulit dimenangkan.

 

[20.19] Akrodhena jayet krodham, asādhuṁ sādhunā jayet,

jayet kadaryaṁ dānena, satyena tv anṛtaṁ jayet.

 

Dengan tidak menjadi marah ia seharusnya mengatasi kemarahan seseorang, dengan menjadi baik ia harus mengatasi keburukan seseorang, dengan memberi ia harus mengatasi kekikiran seseorang, dengan kejujuran ia harus mengatasi seseorang yang berbohong.

 

atau:

 

Akrodhena jayet krodham, asādhuṁ sādhunā jayet,

jayet kadaryaṁ dānena, satyena tv anṛtaṁ jayet.

 

Dengan tanpa kemarahan seseorang harus mengatasi kemarahan, dengan kebajikan mengatasi tanpa kebajikan, dengan memberi seseorang harus mengatasi kekikiran, dengan kebenaran seseorang harus mengatasi kebohongan.

 

[20.20] Akruddhasya kutaḥ krodho, dāntasya sama-jīvinaḥ,

samyagājñāvimuktasya? Krodhas tasya na vidyate.

 

Bagaimana mungkin terdapat kemarahan, bagi ia yang terbebas dari kemarahan, terlatih, hidup dalam harmoni, terbebas dengan pengetahuan benar? Kemarahan orang itu tidak ditemukan.

 

[20.21] Akrodhaś cāvihiṁsā ca vasaty āryeṣu sarvadā,

sadā pāpajane krodhas, tiṣṭhati parvato yathā.

 

Tanpa kemarahan dan tanpa kekerasan selalu berdiam diantara Para Mulia, selalu ada kemarahan didalam orang-orang jahat, (kemarahan) itu menetap seperti suatu gunung.

 

[20.22] Yas tv ihotpatitaṁ krodhaṁ rathaṁ bhrāntam iva dhārayet,

vadāmi sārathiṁ taṁ tu, raśmigrāho ’yam anyathā.

 

Seseorang yang akan menahankan kemarahan yang muncul di sini seperti suatu kereta yang berbelok, orang itu Aku katakan adalah seorang kusir, jika tidak seseorang hanyalah seorang pemegang tali kemudi.

 

 

 

Krodhavargaḥ, 20

 

Bab tentang Kemarahan, yang Kedua Puluh

 

 

 

Uddānam

Ringkasan

 

Śramaṇo mārgasatkāro drohasmṛtiprakīrṇakaḥ,

udakaṁ puṣpaṁ aśvaś-ca saha krodhena te daśaḥ.

 

Śramaṇa, Sang Jalan, kehormatan, melukai, perhatian, serbaneka, air, bunga, dan kuda bersama dengan kemarahan, inilah sepuluh.

 

21. Tathāgatavarga

Bab tentang Tathāgata

 

(20 Syair)

 

[21.1] Sarvābhibhūḥ Sarvavid eva cāsmi,

sarvaiś ca dharmaiḥ satataṁ na liptaḥ,

sarvaṁjahaḥ, sarvabhayād vimuktaḥ,

svayaṁ hy abhijñāya, kam uddiśeyam.

 

Akulah Sang Penakluk, Sang Bijaksana, selalu tak tercemar oleh segala fenomena, telah meninggalkan segalanya, terbebas dari segala bahaya, sangat mengenal Diriku sendiri, siapakah yang harus Kutunjuk (sebagai guru)?

 

[21.2] Kam uddiśeyaṁ tv asamo hy atulyaḥ?

Svayaṁ pravaktā, hy adhigamya Bodhim,

Tathāgato Devamanuṣyaśāstā,

sarvajñatāṁ prāpya, balair upetaḥ.

 

Siapakah yang harus Kutunjuk, karena Aku Tak Terukur, Tak Tertandingi? Setelah mencapai Pencerahan, Aku menyatakan Diriku, Sang Tathāgata, guru para Deva dan manusia, setelah mencapai Kemahatahuan, diberkahi dengan kekuatan.

 

[21.3] Ahaṁ hi lokeṣv, Arahann, ahaṁ lokeṣv anuttaraḥ,

sadevakeṣu lokeṣu, cāhaṁ Mārābhibhūr Jinaḥ.

 

Tentu saja, Akulah Sang Arahant di dunia, Akulah Yang Terunggul di dunia, di dunia bersama dengan para Devanya, Akulah Sang Pemenang yang mengalahkan Māra.

 

[21.4] Ācāryo me na vai kaś cit, sadṛśaś ca na vidyate,

eko ’smiṁ loke Saṁbuddhaḥ, prāptaḥ Saṁbodhim uttamām.

 

Tidak ada seorang guru untuk-Ku, tidak ada seseorang yang setara dengan-Ku yang dapat ditemukan, Aku sendiri Saṁbuddhaḥ di dunia, setelah mencapai Pencerahan Sempurna yang Tertinggi.

 

[21.5] Jinā hi mādṛśā jñeyā, ye prāptā hy āsravakṣayam,

jitā me pāpakā dharmās, tato ’ham Upagā Jinaḥ.

 

Tentu saja Sang Pemenang seperti-Ku patut dikenal, mereka yang telah mencapai penghancuran kekotoran, Aku menaklukkan pikiran-pikiran jahat, karena itulah, Upaga, Akulah Sang Pemenang.

 

[21.6] Bārāṇasīṁ gamiṣyāmi, haniṣye ’mṛtadundubhim,

Dharmacakraṁ pravartayiṣye, lokeṣv aprativartitam.

 

Aku akan pergi ke Bārāṇasī, Aku akan memukul genderang tanpa kematian. Aku akan memutar Roda Dharma, yang tidak dapat ditarik kembali di dunia.

 

[21.7] Na hi santaḥ prakāśyante, viditvā lokaparyāyam,

ādeśayanto virajaḥ padaṁ śāntamanīṣiṇaḥ.

 

Sesungguhnya, orang bajik tidak menjadi terkenal, setelah memahami jalan dunia, mereka yang damai dan bijaksana hanya menunjukkan keadaan yang tanpa debu.

 

[21.8] Nadantīha mahāvīrāḥ Saddharmeṇa Tathāgatāḥ,

Dharmeṇa nadamānānāṁ, ke tv asūyed vijānakāḥ.

 

Sang Pahlawan Besar, Sang Tathāgatāḥ, yang menyatakan Dharma Sejati di sini, ketika menyatakan Dharma, bagaimana mungkin mereka yang mengerti membencinya?

 

[21.9] Ye dhyānaprasṛtā dhīrā, naiṣkramyopaśame ratāḥ,

Devāpi spṛhayanty eṣāṁ, Buddhānāṁ śrīmatāṁ sadā.

 

Mereka yang tekun, berdedikasi pada meditasi, yang telah bersenang dalam kedamaian pelepasan keduniawian, bahkan para Deva iri kepada mereka, Buddha yang selalu mulia.

 

[21.10] Teṣāṁ Devā manuṣyāś ca Saṁbuddhānāṁ yaśasvinām,

spṛhayanty āśubuddhīnāṁ, śarīrāntimadhāriṇām.

 

Para Deva dan manusia iri terhadap para Saṁbuddhā, mereka Yang Terkenal, mereka Yang Berkebijaksanaan Cepat, Yang Membawa Tubuh Terakhirnya.

 

[21.11–21.12] Ye cābhyatītāḥ Saṁbuddhā, ye ca Buddhā hy anāgatāḥ,

yaś cāpy etarhi Saṁbuddho, bahūnāṁ śokanāśakaḥ,

sarve Saddharmaguravo vyāhārṣu viharanti ca,

athāpi vihariṣyanti, eṣā Buddheṣu dharmatā.

 

Mereka yang adalah para Saṁbuddhā di masa lampau, dan Mereka yang akan menjadi Buddha di masa depan, dan Beliau yang adalah Saṁbuddha di masa sekarang, penghancur dukacita bagi banyak orang, mereka semua memiliki rasa hormat pada Dharma Sejati dalam ucapan-Nya, dan demikian juga cara hidup Mereka, inilah hukum alam (Dharmata) pada Para Buddha.

 

[21.13] Tasmād ihātmakāmena, māhātmyam abhikāṅkṣatā,

Saddharmo gurukartavyaḥ, smaratā Buddhaśāsanam.

 

Karena itulah di sini, seseorang yang mencari keluhuran, dengan mencintai dirinya sendiri, Dharma Sejati harus dihormati, dengan mengingat Ajaran Para Buddha (Buddhaśāsanam).

 

[21.14] Na śraddhāsyanti vai ye tu narā Buddhasya śāsanam,

vyasanaṁ te gamiṣyanti, vaṇijo Rākṣasīṣv iva.

 

Mereka yang tidak berkeyakinan pada Ajaran Buddha, akan pergi menuju kehancuran, seperti pedagang diantara para Rakṣasīs.

 

[21.15] Śraddhāsyanti tu ye nityaṁ narā Buddhasya śāsanam,

svastinā te gamiṣyanti, vālāhenaiva vāṇijāḥ.

 

Namun mereka yang akan selalu memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, mereka akan pergi dengan aman, seperti para pedagang dengan kuda-awan.

 

[21.16] Tathāgataṁ Buddham iha svayaṁbhuvaṁ,

dvau vai vitarkau bahulaṁ samudācarete:

Kṣemas tathaiva pravivekayuktas,

tamonudaṁ pāragataṁ maharṣim.

 

Pada Sang Tathāgata, Sang Buddha, Yang Terlahir Sendiri di sini, Penghalau kegelapan, Beliau yang telah menyeberang, Sang Penglihat Agung, dua jenis pikiran sering muncul: Pikiran tentang keamanan, dan juga apa yang berhubungan dengan pelepasan.

 

[21.17] Prāptaḥ sa cāryo vaśitām aśeṣāṁ,

viṣvottaraḥ sarvabhayād vimuktaḥ,

tṛṣṇāprahīṇo vimalo nirāśaś,

cālokayaṁ lokahitāya satvān.

 

Sang Guru yang telah mencapai penguasaan sempurna, terunggul atas segalanya, terbebas dari segala bahaya, Yang telah meninggalkan nafsu, tanpa noda, tanpa kerinduan, menerangi makhluk-makhluk demi manfaat dunia.

 

[21.18] Śaile yathā parvatamūrdhani sthito

yathaiva paśyej janatāṁ samantāt,

tathā hy asau Dharmamayaṁ sumedhāḥ

prāsādam āruhya, samantacakṣuḥ.

Śokābhibhūtāṁ janatām aśoko drākṣīd imāṁ jātijarābhibhūtām.

 

Seperti halnya seseorang yang berdiri pada suatu puncak gunung berbatu dapat melihat orang-orang di segala sisi, demikian juga ia yang bijaksana, mendaki istana yang terbuat dari Dharma, adalah penglihat segalanya. Ia yang tanpa dukacita melihat orang-orang diliputi dukacita, diliputi oleh kelahiran dan usia tua.

 

 

 

Tathāgatavargaḥ, 21

 

Bab tentang Tathāgata, yang Kedua Puluh Satu.

 

22. Śrutavarga

Bab tentang Pembelajaran

 

(21 Syair)

 

[22.1] Sādhu śrutaṁ sucaritaṁ, sādhu cāpy aniketatā,

pradakṣiṇaṁ pravrajyā ca śrāmaṇyasyānulomikam.

 

Pembelajaran dan perilaku bajik adalah baik, meninggalkan rumah juga adalah baik, melakukan pradakṣiṇa dan pelepasan keduniawian adalah sesuai dengan kehidupan pertapa.

 

[22.2] Bālā ihāvijānantaś caranti hy amarā iva,

vijānatāṁ tu Saddharmam āturasyaiva śarvarī.

 

Orang-orang bodoh yang tidak mengetahui di sini hidup seolah-olah mereka kekal, namun mereka yang mengerti Dharma Sejati adalah seperti malam bagi yang sakit.

 

[22.3–22.4 ] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ praviśya tamasā sphuṭam,

vidyamānāni rūpāṇi cakṣuṣmāṁ hi na paśyati,

tathaiveha naro nityaṁ jñānavān api yo bhavet,

aśrutvā na vijānāti Dharmāṁ kalyāṇapāpakān.

 

Seperti halnya ketika memasuki suatu rumah beratap jerami yang gelap gulita, walaupun terdapat bentuk-bentuk, seseorang dengan mata tidak melihatnya, demikianlah, walaupun seorang manusia di sini yang bahkan akan selalu dapat belajar, tanpa mendengarkan Dharma, ia tidak mengerti kebajikan dan keburukan.

 

[22.5] Pradīpena tu rūpāṇi cakṣuṣmāṁ paśyate yathā,

evaṁ śrutvā vijānāti Dharmāṁ kalyāṇapāpakān.

 

Namun seperti halnya dengan suatu pelita seseorang dengan mata dapat melihat bentuk, demikianlah setelah mendengar Dharma ia dapat mengerti kebajikan dan keburukan.

 

[22.6] Śrutvā Dharmāṁ vijānāti, śrutvā pāpaṁ na sevate,

śrutvā hy anarthaṁ varjayate, śrutvā prāpnoti nirvṛtim.

 

Setelah mendengar Dharma seseorang mengerti, setelah mendengar, seseorang tidak bersenang dalam keburukan, setelah mendengar, seseorang menghindari apa yang tidak bermanfaat, setelah mendengar, seseorang mencapai pembebasan.

 

[22.7] Bahuśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu tv asamāhitaḥ,

śīlatas taṁ vigarhanti, nāsya saṁpadyate śrutam.

 

Bahkan jika seseorang telah banyak belajar, namun tidak teguh dalam moralitas, atas dasar moralitasnya yang buruk mereka mencelanya, pembelajarannya tidak berhasil.

 

[22.8] Alpaśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu susamāhitaḥ,

śīlatas taṁ praśaṁsanti, tasya saṁpadyate śrutam.

 

Bahkan jika seseorang sedikit belajar, namun teguh dalam moralitas, atas dasar moralitasnya mereka memujinya, pembelajarannya berhasil.

 

[22.9] Alpaśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu tv asamāhitaḥ,

ubhayatas taṁ vigarhanti, nāsya saṁpadyate vratam.

 

Bahkan jika seseorang sedikit belajar, dan tidak teguh dalam moralitas, mereka mencelanya atas dua hal, latihannya (vrata) nya tidak berhasil.

 

[22.10] Bahuśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu susamāhitaḥ,

ubhayatas taṁ praśaṁsanti, tasya saṁpadyate vratam.

 

Jika seseorang banyak belajar, dan sangat teguh dalam moralitas, mereka memujinya atas dua hal, latihannya berhasil.

 

[22.11] Bahuśrutaṁ Dharmadharaṁ, prājñaṁ nityaṁ samāhitam,

niṣkaṁ Jāmbunadasyaiva, kas taṁ ninditum arhati?

 

Terpelajar, seorang pelindung Dharma, bijaksana, selalu tenang, seperti sekeping koin sungai Jambu, siapakah yang dapat mencelanya?

 

[22.12.i.] Ye me rūpeṇa minvanti, ye me ghoṣeṇa cānvagāḥ,

chandarāgavaśopetā, na māṁ jānanti te janāḥ.

 

Mereka yang menilai bentuk-Ku, mereka yang mengikuti reputasi-Ku, dikalahkan oleh nafsu dan hasrat, mereka tidak mengetahui-Ku.

 

[22.12.ii.] Ye rūpeṇa pramiṇvanti, māṁ  ghoṣeṇānuyānti ca,

chandarāgavaśopetā, na māṁ jānanti te janāḥ.

 

Mereka yang menilai-Ku berdasarkan bentuk, dan mengejar-Ku karena reputasi, dikalahkan oleh nafsu dan hasrat, mereka tidak mengetahui-Ku.

 

[22.13] Ādhyātmaṁ ca na jānāti, bahirdhā tu vipaśyati,

bahirdāphaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa nīyate.

 

Karena bukan seorang yang mengetahui apa yang internal, namun melihat apa yang eksternal dengan baik, melihat hasil dari hal-hal eksternal, ia diarahkan oleh reputasi.

 

[22.14] Ādhyātmaṁ tu prajānāti, bahirdhā ca na paśyati,

ādhyātmaphaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa nīyate.

 

Namun seseorang yang mengetahui apa yang internal dengan baik, seseorang tidak melihat hal-hal eksternal, melihat berbagai hasil dari apa yang internal, ia tetap diarahkan oleh reputasi.

 

[22.15] Ādhyātmaṁ ca na jānāti, bahirdhā ca na paśyati,

ubhaye ’phaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa nīyate.

 

Karena bukan seorang yang mengetahui apa yang internal, seseorang tidak melihat hal-hal eksternal, melihat tanpa hasil dalam keduanya, ia tetap diarahkan oleh reputasi.

 

[22.16] Ādhyātmaṁ ca prajānāti, bahirdhā ca vipaśyati,

sa tu niḥsaraṇaprajño, na vai ghoṣeṇa nīyate.

 

Namun ia yang mengetahui apa yang internal, dan melihat apa yang eksternal dengan baik memiliki kebijaksanaan tentang jalan keluar, ia tidak diarahkan oleh reputasi.

 

[22.17.i.] Bahu śṛṇoti śrotreṇa, bahū paśyati cakṣuṣā,

na tad dṛṣṭaṁ śrutaṁ dhīraḥ sarvaṁ śraddhātum arhati.

 

Seseorang mendengar begitu banyak dengan telinga, seseorang melihat banyak hal dengan mata, ia yang tekun seharusnya tidak memiliki keyakinan dalam segala yang terlihat dan terdengar.

 

[22.17.ii.] Śrotreṇa śrūyate bahu, dṛśyate bahu  cakṣuṣā,

na tad dṛṣṭaṁ śrutaṁ dhīraḥ

sarvaṁ śraddhātum arhati.

 

Banyak hal yang didengar dengan telinga, banyak hal yang terlihat dengan mata. ia yang tekun seharusnya tidak memiliki keyakinan dalam segala yang terlihat dan terdengar.

 

[22.18] Vijñānasārāṇi subhāṣitāni,

jñātaṁ śrutaṁ caiva samādhisāram,

na tasya vijñānaśrutaṁ mahārthaṁ,

yaḥ sāhaso bhavati naraḥ pramattaḥ.

 

Kata-kata yang diucapkan dengan baik memiliki kesadaran sebagai intinya, pengetahuan dan pembelajaran memiliki konsentrasi sebagai intinya, baginya kesadaran dan pembelajaran tidak memberikan manfaat yang besar padanya, orang itu yang gegabah dan lalai.

 

[22.19] Dharme tu ye hy āryanivedite ratās,

tadā carante vacasā yadāhuḥ,

te kṣāntisauratyasamādhigocarāḥ,

śrutasya buddher api sāram adhyaguḥ.

 

Namun, mereka yang bersenang dalam Dharma yang diajarkan oleh Para Mulia, dan kemudian hidup sesuai dengan kata-kata yang telah diucapkan, mereka yang menguasai konsentrasi, kebajikan, dan kesabaran, telah mencapai hakikat kecerdasan dan pembelajaran.

 

 

 

Śrutavargaḥ, 22

 

Bab tentang Pembelajaran, yang Kedua Puluh Dua.

 

23. Ātmavarga

Bab tentang Diri Sendiri

 

(26 Syair)

 

[23.1] Subhāṣitasya śikṣeta, śramaṇopāsanasya ca,

ekāsanasya ca rahaś, cittavyupaśamasya ca.

 

Seseorang harus berlatih dalam kata-kata yang diucapkan dengan baik, mengikuti kehidupan suci, duduk sendiri dalam keterasingan, dan dalam menenangkan pikiran.

 

[23.2] Ekāsanaṁ tv ekaśayyām, ekacaryām atandritaḥ,

ramayec caikam ātmānaṁ, vaneṣv ekaḥ sadā vaset.

 

Duduk sendiri, berbaring sendiri, hidup selibat dan tekun, ia seharusnya bersenang dalam keterasingan dirinya sendiri, dan seharusnya selalu hidup sendiri di hutan.

 

[23.3] Yaḥ sahasraṁ sahasrāṇāṁ saṁgrāme dviṣatāṁ jayet,

yaś cātmānaṁ jayed ekaṁ – saṁgrāmo durjayaḥ sa vai.

 

Terdapat seseorang yang mungkin menaklukkan seribu kali seribu musuh di dalam pertempuran, dan terdapat seseorang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri – itulah pertempuran yang tentu sulit dimenangkan.

 

[23.4–23.5] Ātmā hy asya jitaḥ śreyāṁ yac ceyam itarāḥ prajāḥ,

ātmadāntasya puruṣasya, nityaṁ saṁvṛtacāriṇaḥ,

na Devā nāpi Gandharvā na Māro Brāhmaṇā saha,

jitasyāpajitaṁ kuryus, tathā prājñasya bhikṣuṇaḥ.

 

Menaklukkan diri sendiri adalah lebih baik daripada menaklukkan orang lain, bagi orang yang melatih dirinya sendiri, yang selalu hidup terkendali dengan baik, (karena) baik para Deva, Gandharva, ataupun Māra bersama dengan Brāhmaṇā, tidak dapat mengubah kemenangan menjadi kekalahan, bagi seorang Bhikṣu yang bijaksana.

 

[23.6] Ātmānam eva prathamaṁ pratirūpe niveśayet,

tato ’nyam anuśāsīta, . . . . yathā hy ah .

Pertama-tama seseorang harus meneguhkan dirinya dalam apa yang sesuai, setelahnya seseorang dapat menasehati orang lain, . . . . seperti halnya . . . .  .

 

[23.7] Ātmānam eva prathamaṁ pratirūpe niveśayet,

tato ’nyam anuśāsīta, na kliśyeta hi paṇḍitaḥ.

 

Pertama-tama seseorang harus meneguhkan dirinya dalam apa yang sesuai, setelahnya seseorang dapat menasehati orang lain, karena orang yang bijaksana seharusnya tidak tercemar.

 

[23.8] Ātmānaṁ hi tathā kuryāc chāsītānyaṁ yathā svayam,

sudānto bata me nityam: ātmā sa hi sudurdamaḥ.

 

Seseorang seharusnya melakukan seperti halnya ketika ia akan menasehati orang lain, selalu terlatih dengan baik. Karena diri sendiri adalah sangat sulit untuk dilatih.

 

[23.9] Ātmānaṁ hi tathā kuryāc chāsītānyaṁ yathā svayam,

ātmā dānto mayā nityam, ātmadānto hi paṇḍitaḥ.

 

Seseorang seharusnya melakukan seperti halnya ketika ia akan menasehati orang lain, dengan selalu terlatih oleh dirinya sendiri, karena diri sendiri yang terlatih adalah bijaksana.

 

[23.10] Ātmano ’rthaṁ parārthena bahunāpi na hāpayet,

ātmārthaṁ paramaṁ jñātvā, svakārthaparamo bhavet.

 

Seseorang seharusnya tidak mengabaikan tujuannya sendiri demi manfaat orang lain, betapapun besarnya, mengetahui tujuan diri sendiri adalah yang tertinggi, jadilah orang yang baginya tujuannya adalah yang tertinggi.

 

[23.11] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, nāthaṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh suatu pelindung.

 

[23.12 ] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, arthaṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh tujuan.

 

[23.13] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, Dharmaṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh Dharma.

 

[23.14] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, yaśo labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh reputasi.

 

[23.15] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, kīrtiṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh kemashyuran.

 

[23.16] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, sukhāṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh kebahagiaan.

 

[23.17] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, svargaṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh surga.

 

[23.18] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, ciraṁ svargeṣu modate.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, ia bergembira di surga untuk waktu yang lama.

 

[23.19] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, ciraṁ svarge pratiṣṭhati.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, ia teguh di surga untuk waktu yang lama.

 

[23.20] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, prajñāṁ labhati paṇḍitaḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh kebijaksanaan.

 

[23.21] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet,

Ātmanā hi sudāntena, jñātimadhye virocate.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bersinar ditengah kerabat-kerabatnya.

 

[23.22] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, śokamadhye na śocati.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang tidak bersedih ditengah mereka yang bersedih.

 

[23.23] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, sarvaṁ chindati bandhanam.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang memotong segala belenggu.

 

[23.24] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, sarvās tyajati durgatīḥ.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang meninggalkan segala tujuan yang buruk.

 

[23.25] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang terbebas dari segala penderitaan.

 

[23.26] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro bhavet?

Ātmanā hi sudāntena, Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

 

 

Ātmavargaḥ, 23

 

Bab tentang Diri Sendiri, yang Kedua Puluh Tiga.

 

24. Peyālavarga

Bab tentang Pengulangan

 

(35 Syair)

 

[24.1] Yac ca gāthāśataṁ bhāṣed anarthapadasaṁhitam,

ekam arthapadaṁ śreyo, yac chrutvā hy upaśāmyati.

 

Ada orang yang dapat mengucapkan seratus syair yang tidak bermanfaat, namun lebih baik adalah satu syair yang bermakna, yang dengan mendengarnya seseorang ditenangkan.

 

[24.2] Yac ca gāthāśataṁ bhāṣed adharmapadasaṁhitam,

ekaṁ Dharmapadaṁ śreyo, yac chrutvā hy upaśāmyati.

 

Ada orang yang dapat mengucapkan seratus syair yang tidak bermanfaat, namun lebih baik adalah satu syair Dharma, yang dengan mendengarnya seseorang ditenangkan.

 

[24.3] Yac ca varṣaśataṁ jīved, duḥśīlo hy asamāhitaḥ,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, sadā śīlavataḥ śuceḥ.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, tidak bermoral dan tidak tenang, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang selalu memiliki moralitas dan kemurnian.

 

[24.4] Yac ca varṣaśataṁ jīved, duṣprajño hy asamāhitaḥ,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, prājñasya dhyāyinaḥ sadā.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, tidak bijaksana, dan tidak tenang, namun lebih baik satu hari, selalu bijaksana dan bermeditasi.

 

[24.5] Yac ca varṣaśataṁ jīvet, kusīdo hīnavīryavān,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyo, vīryam ārabhato dṛḍham.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun, lamban, tidak bersemangat, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang tekun dengan semangat dibangkitkan.

 

[24.6] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann udayavyayam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy udayavyayam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kemunculan dan kehancuran, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kemunculan dan kehancuran.

 

[24.7] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ vedanākṣayam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato vedanākṣayam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tanpa melihat penghancuran perasaan, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat penghancuran perasaan.

 

[24.8] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann āsravakṣayam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy āsravakṣayam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat penghancuran kekotoran, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat penghancuran kekotoran.

 

[24.9] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann acalaṁ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy acalaṁ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tak bergerak, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tak bergerak.

 

[24.10] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann acyutaṁ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy acyutaṁ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa kematian, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa kematian.

 

[24.11] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann arajaḥ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy arajaḥ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa noda, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa noda.

 

[24.12] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ virajaḥ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato virajaḥ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi terbebas dari noda, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi terbebas dari noda.

 

[24.13] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ durdṛśaṁ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato durdṛśaṁ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tanpa melihat kondisi yang sulit dilihat, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi yang sulit dilihat.

 

[24.14] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann uttamaṁ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy uttamaṁ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi yang terunggul, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi yang terunggul.

 

[24.15] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann amṛtaṁ padam,

ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy amṛtaṁ padam.

 

Ada orang yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa kematian, namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa kematian.

 

[24.16] Yac ca varṣaśataṁ pūrṇam agniṁ paricared vane,

yac caikaṁ bhāvitātmānaṁ muhūrtam api pūjayet –

sā tasya pūjanā śreṣṭhā na tad varṣaśataṁ hutam.

 

Ada orang yang dapat merawat api suci di dalam hutan selama seratus tahun penuh, dan orang yang menghormati seseorang dengan batin yang terkembang bahkan selama satu momen – penghormatan itu tentu saja lebih baik daripada pengorbanan seratus tahun.

 

[24.17] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tad Buddhe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Buddha.

 

[24.18] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tad Dharme prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Dharma.

 

[24.19] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tat Saṁghe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Saṁgha.

 

[24.20] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tac chīle prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada moralitas (Sīla).

 

[24.20A] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na taṁ maitrasya cittasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan satu pikiran cinta kasih.

 

[24.20B] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tat satvānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk hidup.

 

[24.20C] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tat prāṇānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk yang bernafas.

 

[24.20D] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tad bhūtānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk-makhluk.

 

[24.20E] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,

na tat svākhyāta-Dharmasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang mengetahui Dharma yang diajarkan dengan baik.

 

[24.21] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tad Buddhe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Buddha.

 

[24.22] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tad Dharme prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Dharma.

 

[24.23] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tat Saṁghe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Saṁgha.

 

[24.24] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tac chīle prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada moralitas.

 

[24.25] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na taṁ maitrasya cittasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan satu pikiran cinta kasih.

 

[24.26] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tat satvānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk hidup.

 

[24.27] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tat prāṇānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk yang bernafas.

 

[24.28] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tad bhūtānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk-makhluk.

 

[24.29] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,

na tat svākhyātadharmasya kalām arghati ṣoḍaśīm.

 

Ada orang yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang mengetahui Dharma yang diajarkan dengan baik..

 

[24.30] Yat kiṁ cid iṣṭaṁ ca hutaṁ ca loke

saṁvatsaraṁ yajati puṇyaprekṣī,

sarvaṁ pi taṁ na caturbhāgam eti –

abhivādanaṁ tv ṛjjugateṣu śreyaḥ.

 

Derma makanan atau pengorbanan apapun di dunia yang dipersembahkan seseorang selama satu tahun demi mencari jasa kebajikan, semua itu bahkan tidak sebanding dengan seperempat jasa kebajikan – penghormatan kepada mereka yang lurus adalah lebih baik.

 

 

 

Peyālavargaḥ, 24

 

Bab tentang Pengulangan, yang Kedua Puluh Empat.

 

25. Mitravarga

Bab tentang Sahabat

 

(25 Syair)

 

[25.1] Aśrāddhebhiḥ kadaryebhiḥ, piśunair vibhūtinandibhiḥ

sākhyaṁ kurvīta na prājñaḥ, saṁgatiḥ pāpair hi pāpikā.

 

Dengan yang tanpa keyakinan, kikir, yang memfitnah dan mereka yang bersenang dalam kejatuhan orang lain, orang bijaksana seharusnya tidak melakukan pertemanan, pergaulan dengan yang jahat adalah buruk.

 

[25.2] Śrāddhebhiḥ peśalebhiś ca, śīlavadbhir bahuśrutaiḥ

sākhyaṁ kurvīta saprajñaḥ, saṁgatir bhadrair hi bhadrikā.

 

Dengan yang berkeyakinan, terampil, bermoral dan terpelajar, seseorang yang bijaksana seharusnya melakukan pertemanan, pergaulan dengan yang baik adalah baik.

 

[25.3] Na bhajet pāpakaṁ mitraṁ, na bhajet puruṣādhamam,

bhajeta mitraṁ kalyāṇaṁ bhajed uttamapūruṣam.

 

Seseorang seharusnya tidak bergaul dengan teman yang jahat, seseorang seharusnya tidak bergaul dengan orang yang rendah, seseorang seharusnya bergaul dengan teman yang baik, seseorang seharusnya bergaul dengan orang yang terunggul.

 

[25.4] Addhā narāḥ sevitavyāḥ, śrutāḍhyāḥ sthānacintakāḥ,

teṣāṁ hi śrutvā tu subhāṣitāni,

vināpi tebhyo labhate viśeṣam.

 

Tentu saja beberapa orang kaya dalam pembelajaran, mereka yang pikirannya dapat menjadi alasan untuk menjalin pergaulan, setelah mendengar perkataan mereka yang diucapkan dengan baik, bahkan tanpa mereka, seseorang memperoleh penyelidikan.

 

[25.5] Hīyati puruṣo nihīnasevī,

na tu khalu hāyeta tulyasevī,

śreṣṭham upagato hy upaiti śraiṣṭhyaṁ,

tasmāc chreṣṭham ihātmano bhajeta.

 

Mereka yang mengikuti orang yang lebih rendah akan mundur, namun mereka yang mengikuti orang yang setara tentu tidak akan mundur, yang mendekati yang terbaik mencapai yang terbaik, karena itulah, demi manfaatnya sendiri, seseorang seharusnya bergaul dengan yang terbaik di sini.

 

[25.6] Śreyo hi labhate nityaṁ yaḥ śreṣṭhān upasevate,

prajñayā cottamatamāṁ śīlenopaśamena ca.

 

Tentu saja seseorang yang bergaul dengan yang terbaik terus menerus memperoleh yang terbaik, memiliki kebijaksanaan, moralitas tertinggi dan ketenangan.

 

[25.7] Pūtimatsyāṁ kuśāgreṇa yo naro hy upanahyate

kuśāpi pūtikā vānti, hy evaṁ pāpopasevanāḥ.

 

Orang yang membungkus ikan busuk dengan sebilah rumput suci mengetahui bahkan rumput suci akan berbau busuk, demikian mereka yang bergaul dengan yang jahat akan berbau busuk.

 

[25.8] Tagaraṁ Palāśapatreṇa yo naro hy upanahyati

patrāṇy api sugandhīni, sad evaṁ saṁgamāt satām.

 

Orang itu yang membungkus dupa dengan selembar daun Pālaśa mengetahui bahkan daun itu terharumkan, demikian mereka terharumkan dari pergaulan dengan yang baik.

 

[25.9] Akurvann api pāpāni kurvāṇam upasevate,

śaṅkito bhavati pāpasya, avarṇaś cāsya vardhate.

 

Bahkan jika seseorang tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh teman jahatnya, ia dicurigai melakukan kejahatan, dan reputasi buruknya meningkat.

 

[25.10] Saṁsevamānaḥ pāpo hi saṁspṛṣṭaḥ saṁspṛśet parān,

śaro liptaḥ kalāpasthān aliptān upalimpati,

upalepabhayād dhīro naiva pāpasakhā bhavet.

 

Melalui pergaulan dengan orang jahat atau bersentuhan dengan mereka—seperti halnya anak panah tercemar yang mengotori anak-anak panah lain di dalam tabung yang bersih—orang yang tekun seharusnya tidak akan pernah memiliki teman yang jahat karena takut akan tercemar.

 

[25.11] Yādṛśaṁ kurute mitraṁ, yādṛśaṁ copasevate,

na cirāt tādṛśo bhavati, saṁsevā hy asya tādṛśī.

 

Pertemanan apapun yang dijalin seseorang, pergaulan apapun yang dijalin seseorang, nantinya ia akan berkarakter seperti demikian, dengan pergaulan dengan seseorang demikian.

 

[25.12] Tasmāt phalapuṭasyaiva dṛṣṭvā saṁpākam ātmanaḥ,

asanto nopaseveta, santaḥ seveta paṇḍitaḥ.

 

Karena itulah, dengan melihat hasil yang sama bagi dirinya sendiri seperti daun pembungkus, seseorang seharusnya tidak bergaul dengan orang jahat, orang bijaksana seharusnya bergaul dengan orang baik.

 

[25.13] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

na sa Dharmaṁ vijānāti, darvī sūparasān iva.

 

Bahkan jika orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti Dharma, seperti halnya sebuah sendok yang tidak mengerti rasa dari kari.

 

[25.14] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

sa vai Dharmaṁ vijānāti, jihvā sūparasān iva.

 

Jika seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk satu waktu, ia tentu mengerti Dharma, seperti halnya lidah mengerti rasa kari.

 

[25.15] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

na sa Dharmaṁ vijānāti, prajñā hy asya na vidyate.

 

Bahkan jika orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti Dharma, baginya kebijaksanaan tidak ditemukan.

 

[25.16] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

sa vai Dharmaṁ vijānāti, prajñā tasya hi vidyate.

 

Jika seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk satu waktu, ia tentu mengerti Dharma, baginya kebijaksanaan ditemukan.

 

[25.17] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

na sa Dharmaṁ vijānāti Samyaksaṁbuddhadeśitam.

 

Bahkan jika orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti Dharma yang diajarkan oleh Samyaksaṁbuddha.

 

[25.18] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,

sa vai Dharmaṁ vijānāti Samyaksaṁbuddhadeśitam.

 

Jika seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk satu waktu, ia tentu mengerti Dharma yang diajarkan oleh Samyaksaṁbuddha.

 

[25.19] Ekam arthapadaṁ proktaṁ paṇḍitasyārthakārakam,

bālasya tu na kṛtyāya syāt sarvaṁ Buddhabhāṣitam.

 

Sebait syair bermakna yang diucapkan kepada orang bijaksana akan bermanfaat bagi mereka, namun bagi orang bodoh, segala yang Buddha katakan tidak akan bermanfaat.

 

[25.20] Bālaḥ padasahasreṇa padam ekaṁ na budhyate,

padenaikena medhāvī padānāṁ vindate śatam.

 

Orang bodoh tidak akan mengerti satu syair diantara seribu syair, namun orang cerdas dengan satu syair mengerti seribu syair.

 

[25.21] Amitraḥ paṇḍitaḥ śreyāṁ na tu bālo ’nukampakaḥ,

bālo ’nukampamāno hi narakān upakarṣati.

 

Orang bijaksana yang tidak ramah adalah lebih baik dari orang bodoh yang berbelas kasihan, karena orang bodoh yang berbelas kasihan tetap akan menarik seseorang turun ke neraka.

 

[25.22] Yo jānīyād: Ahaṁ bāla iti bālaḥ sa paṇḍitaḥ,

bālaḥ paṇḍitamānī tu, bāla eva nirucyate.

 

Orang yang menyadari: Aku orang bodoh, orang bodoh itu bijaksana dalam hal itu, namun orang bodoh yang membayangkan dirinya sendiri bijaksana, tentu saja disebut orang bodoh.

 

[25.23] Yac ca bālaḥ praśaṁseta, yac ca nindeta paṇḍitaḥ,

nindā tu paṇḍitāc chreṣṭhā, na tu bālāt praśaṁsanā.

 

Inilah apa yang orang bodoh akan puji, dan apa yang orang bijaksana akan cela, namun celaan dari orang bijaksana adalah yang terbaik, bukan pujian dari orang bodoh.

 

[25.24] Bālaṁ na paśyec chṛṇuyān, na ca no tena saṁvaset,

duḥkho bālair hi saṁvāso, hy amitreṇaiva sarvaśaḥ,

dhīrais tu sukhasaṁvāso, jñātīnām iva saṁgramaḥ.

 

Seseorang seharusnya tidak menemui orang bodoh, juga tidak mendengarkan orang bodoh, juga seseorang seharusnya tidak hidup bersama dengan orang bodoh, kehidupan bersama dengan orang bodoh adalah penderitaan, seperti halnya selalu bersama dengan musuh, namun seseorang hidup bahagia dengan yang tekun, seperti seseorang yang bergaul dengan sanak keluarganya.

 

[25.25] Dhīraṁ prājñaṁ niṣeveta śīlavantaṁ bahuśrutam,

dhaureyaṁ javasaṁpannaṁ, candraṁ tārāgaṇā iva.

 

Seseorang seharusnya bergaul dengan ia yang tekun, yang bijaksana, bermoral, terpelajar, yang dapat diandalkan, berpikiran cepat, seperti rembulan diantara banyaknya bintang.

 

 

 

Mitravargaḥ, 25

 

Bab tentang Sahabat, yang Kedua Puluh Lima.

 

26. Nirvāṇavarga

Bab tentang Nirvāṇa

 

(32 Syair)

 

[26.1] Kurmo yathāṅgāni svake kapāle,

samādadhītātmavitarkitāni,

aniḥśrito hy anyam aheṭhayānaḥ,

parinirvṛto nāpavadeta kaṁ cit.

 

Seperti halnya seekor kura-kura yang akan menarik tangan dan kakinya kedalam tempurung, seseorang seharusnya menarik pikirannya sendiri, bebas, tidak melukai yang lain, sepenuhnya terbebas, seseorang seharusnya tidak mencela siapapun.

 

[26.2] Kṣāntiḥ paramaṁ tapas titīkṣā,

Nirvāṇaṁ paramaṁ vadanti Buddhāḥ,

na hi pravrajitaḥ paropatāpī,

śramaṇo bhavati paraṁ viheṭhayaṁ vai.

 

Menahankan kesabaran adalah pertapaan tertinggi, Nirvāṇa adalah yang tertinggi sabda para Buddha, bagi ia yang meninggalkan keduniawian bukanlah seseorang yang melukai orang lain, seorang pertapa (Śramaṇa) bukanlah orang yang mengusik orang lain.

 

[26.3] Mā kaṁ cit paruṣaṁ brūthaḥ, proktāḥ prativadanti tam,

duḥkhā hi saṁrambhakathāḥ, pratidaṇḍaṁ spṛśanti hi.

 

Janganlah mengucapkan apapun yang kasar, mengucapkannya, mereka membalasnya, pembicaraan tanpa kesabaran tentu adalah penderitaan, mereka tentu memukulmu dengan suatu pukulan balasan.

 

[26.4] Yadīrayasi hātmānaṁ, kaṁsīvopahatā sadā,

jātimaraṇasaṁsāraṁ ciraṁ hy anubhaviṣyasi.

 

Jika engkau sendiri gelisah, seperti sebuah gong yang dipukul berulang kali, engkau akan mengalami transmigrasi kelahiran dan kematian untuk waktu yang lama.

 

[26.5] Na tv īrayasi hātmānaṁ kaṁsir nopahatā yathā,

eṣa prāpto ’si Nirvāṇaṁ, saṁrambhas te na vidyate.

 

Namun jika engkau sendiri tidak gelisah, seperti sebuah gong yang tidak dipukul, engkau adalah orang yang telah mencapai Nirvāṇa, kegelisahan tidak ditemukan dalam dirimu.

 

[26.6] Ārogyaparamā lābhā, saṁtuṣṭiparamaṁ dhanam,

viśvāsaparamaṁ mitraṁ, Nirvāṇaparamaṁ sukham.

 

Kesehatan adalah perolehan tertinggi, kepuasan adalah harta tertinggi, orang yang terpercaya adalah teman yang tertinggi, Nirvāṇa adalah kebahagiaan tertinggi.

 

[26.7] Kṣudhā parama rogāṇāṁ, saṁskārā duḥkham eva tu,

etaj jñātvā yathābhūtaṁ, Nirvāṇaparamo bhavet.

 

Kelaparan adalah yang tertinggi diantara penyakit, namun segala yang terkondisi adalah penderitaan yang sesungguhnya, mengetahui hal ini sebagaimana adanya, biarlah Nirvāṇa menjadi yang tertinggi.

 

[26.8] Alpakāḥ sugatiṁ yānti, bahavo yānti durgatim,

etaj jñātvā yathābhūtaṁ, Nirvāṇaparamo bhavet.

 

Sedikit yang pergi ke alam bahagia, banyak yang pergi ke alam menderita, mengetahui hal ini sebagaimana adanya, biarlah Nirvāṇa menjadi yang tertinggi.

 

[26.9] Sahetuṁ sugatiṁ yānti, sahetuṁ yānti durgatim,

sahetuṁ Parinirvānti, hy evam etat sahetukam.

 

Dengan penyebab mereka pergi ke alam bahagia, dengan penyebab mereka pergi ke alam menderita, dengan penyebab mereka mencapai pembebasan sepenuhnya.

 

[26.10] Gatir mṛgāṇāṁ pravaṇam, ākāśaṁ pakṣiṇāṁ gatiḥ,

Dharmo gatir vibhāgīnāṁ, Nirvāṇaṁ tv Arhatāṁ gatiḥ.

 

Tujuan rusa-rusa adalah lembah, tujuan burung-burung adalah langit, tujuan para penyelidik adalah Dharma, namun tujuan para Arhat adalah Nirvāṇa

 

[26.11] Na hīdaṁ hīnavīryeṇa,

mandenāpy avijānatā,

Nirvāṇaṁ śakyam adhigantuṁ,

sarvagrantha pradālanam.

 

Bukan oleh seseorang dengan sedikit semangat, dengan orang bodoh atau yang tidak tahu, adalah ia yang mampu mencapai Nirvāṇa, yang adalah penghancur segala belenggu.

 

[26.12] Siñca bhikṣor imāṁ nāvaṁ, siktā laghvī bhaviṣyati,

hitvā rāgaṁ ca doṣaṁ ca, tato Nirvāṇam eṣyasi.

 

Kosongkan perahu ini, para Bhikṣu, setelah dikosongkan perahu itu akan menjadi ringan, meninggalkan nafsu indera dan kebencian, dari sana engkau akan pergi menuju Nirvāṇa.

 

[26.13] Abhūt pūrve, tato nābhūn, nābhūt pūrve, tato hy abhūt,

na cābhūn na bhaviṣyati, na vāpy etarhi vidyate.

 

Sebelumnya ada, kemudian tidak ada, sebelumnya tidak ada, kemudian ada, (sebelumnya) tidak ada, dan tidak akan ada, dan bahkan saat ini hal itu tidak ditemukan.

 

[26.14] Durdṛśaṁ satyam acalaṁ, sudṛśaṁ pratividhyataḥ,

tṛṣṇākṣayaṁ paśyato hi, duḥkhasyānto nirucyate.

 

Kebenaran yang stabil adalah sulit untuk dilihat, namun bagi ia yang memahaminya adalah mudah untuk dilihat, tentulah bagi ia yang melihat penghancuran nafsu, akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.15] Chitvā tṛṣṇāṁ, praśāmyeha rajaḥ sarvaṁ, samāhitaḥ,

viśoṣayitvā saritāṁ – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Ia yang tenang, setelah memotong nafsu, setelah menyelesaikan segala kekotoran di sini, setelah mengeringkan arus, akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.16] Bhitvā kāyaṁ ca saṁjñāṁ ca, vedanāṁ vyupaśāmya ca,

vijñānāstagamaṁ labdhvā – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Setelah menghancurkan kemelakatan pada tubuh, persepsi, dan perasaan, setelah menenangkan mereka,  setelah memperoleh penghentian kesadaran kelahiran kembali – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.17] Dṛṣṭe tu dṛṣṭamātreṇa, śrute ca śrutamātratā,

mate tathaiva vijñāte – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Namun dalam apa yang terlihat, hanya ada apa yang terlihat, dan dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar, seperti itulah dalam berpikir dan dalam mengenali – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.18] “Ene mene” tathā: “dapphe daḍapphe,” ceti budhyataḥ,

sarvasmād viratiḥ pāpād – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Bagi ia yang memahami: “Ene, mene,” “dapphe, daḍapphe,”  menghindari segala macam kejahatan – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.19] Māśā! Tuṣā saṁśamā ca, sarvatra viraḍī tathā,

sarvasmād viratiḥ pāpād – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Janganlah berharap! Berpuas diri dan terkendali, juga hidup sederhana dimanapun, menahan diri dari segala kejahatan – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.20] Aniḥśritasyācalitaṁ, prasrabdhiś ceha vidyate,

na gatir, na cyutiś caiva – duḥkhasyānto nirucyate.

 

Bagi ia yang terbebas dan teguh, ketenangan ditemukan di sini, tidak ada tujuan, tidak ada kematian – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.21] Ajāte sati, jātasya vaden niḥsaraṇaṁ sadā,

asaṁskṛtaṁ ca saṁpaśyaṁ saṁskṛtāt parimucyate.

 

Ketika terdapat yang tidak terlahir, seseorang dapat mengatakan jalan keluar dari yang terlahir, melihat yang tak terkondisi, seseorang sepenuhnya terbebas dari segala yang terkondisi.

 

[26.22] Jātaṁ bhūtaṁ samutpannaṁ, kṛtaṁ saṁskṛtam adhruvam,

jarāmaraṇasaṁghātaṁ, moṣadharmapralopanam,

āhāranetrīprabhavaṁ – nālaṁ tad abhinanditum.

 

Apa yang terlahir, menjadi, muncul, terbentuk, terkondisi, tidak stabil, terjangkit oleh usia tua dan kematian, menghancurkan sifat tipu dayanya, berasal dari nutrisi dan nafsu – tidaklah layak untuk bersenang didalam hal itu.

 

[26.23] Tasya niḥsaraṇaṁ śāntam, atarkāvacaraṁ padam,

nirodho duḥkhadharmāṇāṁ, saṁskāropaśamaṁ sukham.

 

Jalan keluar dari apa yang damai, suatu kondisi dan bidang yang melampaui logika, penghentian berbagai penderitaan, penenangan segala yang terkondisi, kebahagiaan.

 

[26.24] Abhijānāmy ahaṁ sthānaṁ yatra bhūtaṁ na vidyate,

nākāśaṁ na ca vijñānaṁ, na sūryaś candramā na ca.

 

Aku mengetahui keadaan itu di mana elemen-elemen tidak ditemukan, tidak ada ruang, tidak ada kesadaran, juga rembulan dan matahari.

 

[26.25] Naivāgatir na ca gatir, nopapattiś cyutir na ca,

apratiṣṭham anālambaṁ – duḥkhāntaḥ sa nirucyate.

 

Tidak ada kedatangan, tidak ada kepergian, tidak ada kelahiran kembali dan kematian, yang tidak tersusun, tanpa penyokong – akhir dari penderitaan dinyatakan.

 

[26.26] Yatra nāpo na pṛthivī tejo vāyur na gāhate,

na tatra śuklā dyotanti, tamas tatra na vidyate.

 

Di mana air, tanah, api, dan angin tidak dapat ditopang, di sana, bintang-bintang tidak bersinar, di sana, tidak ada kegelapan yang ditemukan.

 

[26.27] Na tatra candramā bhāti, nādityo vai prakāśyate,

yathā tv ihātmanā vetti munir mauneyam ātmanaḥ,

atha rūpād arūpāc ca, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Di sana rembulan tidak bersinar, juga tentu matahari tidak memancarkan cahaya; dan seperti halnya orang bijaksana di sini, dengan dirinya sendiri, mengetahui kebijaksanaannya sendiri, maka ia pun terbebas baik dari bentuk dan tanpa bentuk, dan dari segala penderitaan.

 

[26.28] Niṣṭhāgato hy asaṁtrāsī, na vikanthī na kaukṛtiḥ,

ācchettā bhavaśalyānām, antimo ’sya samucchrayaḥ.

 

Ia yang mencapai akhir, tanpa gemetar, ia yang tanpa kerinduan, tanpa penyesalan, ia yang memotong anak panah kemenjadian, baginya ini adalah tubuh terakhirnya.

 

[26.29] Eṣā hi paramā niṣṭhā, śāntaṁ padam anuttaram,

kṣayaḥ sarvanimittānāṁ, pradānapadam acyutam.

 

Inilah akhir yang tertinggi, kondisi kedamaian yang terunggul, penghancuran segala tanda, kondisi tanpa kematian (sesuai) Ajaran.

 

[26.30] Tulyam atulyaṁ ca saṁbhavaṁ

bhavasaṁskāram avāsṛjan muniḥ,

ādhyātmarataḥ samāhito,

hy abhinat kośam ivāṇḍasaṁbhavam.

 

Orang bijaksana meninggalkan yang terukur dan tidak terukur, kelahiran dan proses kelahiran, bersenang secara internal, tenang, ia membelah cangkang, seperti ia yang terlahir dari sebuah telur.

 

[26.31.i] Jayate dānaṁ Dharmadānaṁ ca sarvaṁ,

jayate ratiṁ Dharmaratiṁś ca sarvām,

jayate balaṁ kṣāntibalaṁ ca sarvaṁ,

jayate sukhaṁ sarvaṭṛṣānirodhaḥ.

 

Pemberian Dharma melampaui segala pemberian, bersenang dalam Dharma melampaui segala kesenangan, kekuatan kesabaran melampaui segala kekuatan, pemadaman nafsu melampaui segala kebahagiaan.

 

[26.31.ii] Sarvaṁ dānaṁ Dharmadānaṁ jināti,

sarvāṁ ratiṁ Dharmaratiṁ jināti,

sarvaṁ balaṁ kṣāntibalaṁ jināti,

tṛṣṇākṣayaḥ sarvasukhaṁ jināti.

 

Pemberian Dharma adalah penakluk segala pemberian, bersenang dalam Dharma adalah penakluk segala kesenangan, kekuatan kesabaran adalah penakluk segala kekuatan, penghancuran nafsu adalah penakluk segala kebahagiaan.

 

 

 

Nirvāṇavargaḥ, 26

 

Bab tentang Nirvāṇa, yang Kedua Puluh Enam

 

27. Paśyavarga

Bab tentang Melihat

 

(52 Syair)

 

[27.1] Supaśyaṁ paravadyaṁ syād, ātmavadyaṁ tu durdṛśam,

paraḥ parasya vadyāni tūtpunāti busaṁ yathā,

ātmanaś chādayaty eṣa, kṛtvā yadvat kaliṁ śaṭhaḥ.

 

Kesalahan orang lain dapat dengan mudah terlihat, namun kesalahan diri sendiri dapat sulit terlihat, namun ia menyaring kesalahan orang lain seperti sekam, orang itu menutupi kesalahannya sendiri, seprti halnya seorang penipu menutupinya, setelah membuat sebuah lemparan yang gagal.

 

[27.2] Paravadyānudarśino, nityāvadhyānasaṁjñinaḥ,

vāmā dharmāḥ pravardhante, sa hy ārād Dharmadarśanāt.

 

Bagi ia yang mencari-cari kesalahan orang lain, yang terus-menerus memperhatikan pelanggaran, pikiran salah meningkat, orang itu jauh dari melihat Dharma.

 

[27.3] Ahrīkena sujīvaṁ syāt, kākaśūreṇa dhvāṅkṣiṇā,

praskandinā pragalbhena saṁkliṣṭaṁ tv iha jīvate.

 

Hidup dapat lebih mudah dijalani oleh seseorang tanpa rasa malu, dengan seekor gagak, dengan keberanian besar seekor gagak, namun di sini seseorang hidup tercemar, dengan fitnah dan kecerobohan

 

[27.4] Hrīmatā tv iha durjīvaṁ, nityaṁ śucigaveṣiṇā,

Sulīnenāpragalbhena, śuddhājīvena paśyatā.

 

Namun, kehidupan di sini dijalani dengan susah payah oleh seseorang dengan rasa malu, yang selalu mencari kemurnian, yang taat dan tidak gegabah, yang, dengan melihat, memiliki penghidupan yang murni.

 

[27.5] Andhabhūto hy ayaṁ lokas, tanuko ’tra vipaśyakaḥ,

śakunto jālamuktaiva hy alpaṁ svargeṣu modate.

 

Dunia ini telah menjadi buta, sedikit yang memiliki penglihatan di sini, sedikit seperti mereka yang bergembira di surga seperti seekor burung yang terbebas dari jaring.

 

[27.6] Moṣasaṁbandhano loko, bhavyarūpa iva dṛśyate,

upadhībandhanā bālās, tamasā parivāritāḥ,

asat sad iva dṛśyate, paśyato nāsti kiñcanam.

 

Dunia ini, dibelenggu oleh kebohongan, terlihat seperti indah di awalnya, orang-orang bodoh, yang terbelenggu oleh kemelekatan, dikelilingi oleh kegelapan, yang muncul seolah-olah yang tidak nyata adalah nyata, namun bagi ia yang melihat di sana tidak ada apa-apa.

 

[27.7] Ahaṁkārasṛtā martyāḥ, parakāropasaṁhitāḥ,

etad eke na jānanti, paśyanti na hi śalyataḥ.

 

Makhluk-makhluk bergantung pada pembuat aku, atau berawal dari diciptakan oleh yang lain, beberapa tidak mengetahui hal ini, mereka tidak melihatnya karena anak panah.

 

[27.8] Etat tu śalyaṁ pratiyatya paśyato,

hy adhyavasitā yatra prajāḥ prasaktāḥ,

ahaṁ karomīti na tasya hiṁsyāt;

paraḥ karotīti na tasya hiṁsyāt.

 

Namun bagi ia yang melihat anak panah itu adalah penyebab, di mana generasi ini hidup dengan menggenggam dan melekat, biarlah tidak ada bahaya baginya, dengan berpikir: Aku pembuatnya; Biarlah tidak ada bahaya baginya, dengan berpikir: Orang lain pembuatnya.

 

[27.9] Mānopeto hy ayaṁ loko, mānasaktaḥ sadā sthitaḥ,

dṛṣṭibhiś caiva saṁrabdhaḥ, saṁsāraṁ nātivartate.

 

Dunia ini dikuasai oleh kesombongan, dunia ini berdiam, melekat pada kesombongan, dan tergesa-gesa akibat pandangan salah, dunia ini tidak terbebas dari transmigrasi.

 

[27.10] Yat prāptaṁ yac ca prāptavyaṁ – rajaḥkīrṇam idaṁ dvayam,

āturyam iti taṁ jñātvā, jahyād vidvāṁ samāhitaḥ.

 

Apa yang telah tercapai, dan apa yang akan dicapai – kedua hal ini diliputi debu, mengetahui hal ini sebagai penyakit, ia yang bijaksana, ia yang tenang, seharusnya meninggalkannya.

 

[27.11] Śikṣāsārāś ca ye satvā, jīvino brahmajīvinaḥ,

upasthānarataye ca, sa eko ’ntaḥ prakīrtitaḥ.

 

Makhluk-makhluk itu yang menggenggam aturan pelatihan sebagai intinya, menjalani kehidupan suci, yang bersenang dalam pengabdian, inilah dinyatakan sebagai ekstrim pertama.

 

[27.12] Bhoktavyāḥ śucayaḥ kāmā, na doṣas teṣu vidyate,

ya evaṁ darśino bālā, dvitīyo ’ntaḥ prakīrtitaḥ.

 

Nafsu indera murni hanya untuk dinikmati, tidak ada cela didalamnya, orang-orang bodoh yang melihat berbagai hal demikian, inilah dinyatakan sebagai ekstrim kedua.

 

[27.13] Etāv antāv anajñāya, tv atilīyanti bāliśaḥ,

apare tv atidhāvanti – cakṣuṣmāṁs tāṁ prapaśyati.

 

Dengan tidak mengetahui ekstrim-ekstrim ini, orang-orang bodoh mengendur, yang lainnya berjalan terlalu jauh – ia yang memiliki penglihatan melihat melalui hal ini.

 

[27.14] Etāv antau viditvā tu, nābhavaṁs tatra ye budhāḥ,

na caiva tena manyante, vartmas teṣāṁ na vidyate.

 

Namun dengan memahami kedua ekstrim ini, orang cerdas yang tidak melekat di sana, tidak memahami suatu pandangan salah melalui hal tersebut, jejak mereka tidak ditemukan.

 

[27.15] Yathā budbudikāṁ paśyed, yathā paśyen marīcikām,

evaṁ lokam avekṣaṁ vai Mṛtyurājaṁ na paśyati.

 

Seperti seseorang yang harus melihatnya sebagai gelembung, seperti seseorang yang harus melihatnya sebagai fatamorgana, melihat dunia dengan cara ini seseorang tidak melihat Raja Kematian.

 

[27.16] Yathā budbudikāṁ paśyed, yathā paśyen marīcikām,

evaṁ kāyam avekṣaṁ vai Mṛtyurājaṁ na paśyati.

 

Seperti seseorang yang harus melihatnya sebagai gelembung, seperti seseorang yang harus melihatnya sebagai fatamorgana, melihat tubuh dengan cara ini seseorang tidak melihat Raja Kematian.

 

[27.17] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ rājarathopamam,

yatra bālāḥ pramuhyante – saṅgo nāsti prajānatām.

 

Selalu lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh menjadi terdelusi – tidak ada kemelekatan bagi mereka yang memahami.

 

[27.17A] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ rājarathopamam,

yatra bālā viṣīdanti, paṇḍito ’tra virajyate.

 

Selalu lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh menjadi sedih, orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.18] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ rājarathopamam,

yatra bālā viṣīdanti – yathā paṅke jaradgavaḥ.

 

Selalu lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh menjadi sedih – seperti seekor banteng tua di dalam lumpur.

 

[27.19] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ rājarathopamam,

yatra bālāḥ pramuhyante, paṇḍito ’tra virajyate.

 

Selalu lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh menjadi terdelusi, orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.20] Paśya citrakṛtaṁ bimbam, arukaṁ kāyasaṁjñitam,

āturaṁ moṣasaṁkalpaṁ, yasya nāsti dhruvasthitiḥ.

 

Lihatlah boneka ini dibuat cantik, suatu penyakit menandakan suatu jasmani, sakit, memiliki kehendak menipu, yang mana tanpa keteguhan atau kestabilan.

 

[27.21 ] Paśya citrakṛtaṁ bimbaṁ, maṇibhiḥ kuṇḍalais tathā,

alaṁ bālasya mohāya, na tu pāragaveṣiṇām.

 

Lihatlah boneka ini dibuat cantik, dengan perhiasan dan anting-anting, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak untuk mereka yang mencari cara menyeberang.

 

[27.22] Paśya citrakṛtaṁ bimbaṁ, maṇibhiḥ kuṇḍalais tathā,

alaṁ bālasya mohāya, paṇḍito ’tra virajyate.

 

Lihatlah boneka ini dibuat cantik, dengan perhiasan dan anting-anting, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.22A] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau gairikarañjitau,

alaṁ bālasya mohāya, na tu pāragaveṣiṇām.

 

Lengan dan tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari cara menyeberang.

 

[27.22B] Gandhena gātrām anuliptaḥ pādau gairikarañjitau,

alaṁ bālasya mohāya, paṇḍito ’tra virajyate.

 

Lengan dan tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.23] Aṣṭāpadīkṛtāḥ keśā, netre cāñjanarañjite,

alaṁ bālasya mohāya na tu pāragaveṣiṇām.

 

Dengan rambut dikepang dalam delapan untaian, dan dua mata diwarnai dengan collyrium, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari cara menyeberang.

 

[27.24] Aṣṭāpadīkṛtāḥ keśā, netre cāñjanarañjite,

alaṁ bālasya mohāya paṇḍito ’tra virajyate.

 

Dengan rambut dikepang dalam delapan untaian, dan dua mata diwarnai dengan collyrium, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.25] Añjanīva navā citrā, pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,

alaṁ bālasya mohāya na tu pāragaveṣiṇām.

 

Seperti sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari cara menyeberang.

 

[27.26] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,

alaṁ bālasya mohāya paṇḍito ’tra virajyate.

 

Seperti sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, namun orang bijaksana tidak melekat di sini.

 

[27.26A] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau gairikarañjitau,

alaṁ bālasya mohāya, yasya nāsti dhruvasthitiḥ.

 

Lengan dan tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, yang tidak stabil atau tekun.

 

[27.26B] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau gairikarañjitau,

alaṁ bālasya mohāya, saṅgo nāsti prajānatām.

 

Lengan dan tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak ada kemelekatan bagi mereka yang memahami.

 

[27.26C] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,

alaṁ bālasya mohāya, yasya nāsti dhruvasthitiḥ.

 

Seperti sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, yang tidak stabil atau tekun.

 

[27.26D] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,

alaṁ bālasya mohāya, saṅgo nāsti prajānatām.

 

Seperti sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, walaupun dihias, cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak ada kemelekatan bagi mereka yang memahami.

 

[27.27] Kāmeṣu saktāḥ satataṁ hi mūḍhāḥ,

saṁyojane vadyam apaśyamānāḥ,

na jātu saṁyojanasaṅgasaktā

hy oghaṁ tareyur vipulaṁ mahāntam.

 

Mereka yang terdelusi selalu melekat pada kenikmatan indera, tidak melihat cela dalam belenggu, mereka yang melekat dan menggenggam belenggu-belenggu tidak akan dapat menyeberang banjir yang besar dan luas.

 

[27.28] Ūrdhvaṁ cādhaḥ sarvato vītarāgo,

hy ayam aham asmīti ca nānupaśyan,

evaṁ vimukto hi tared ihaugham

atīrṇapūrvaṁ hy apunarbhavāya.

 

Diatas, dibawah, dimanapun tanpa nafsu, orang itu, tidak memikirkan kesombongan: Aku, terbebas dalam cara ini, seharusnya menyeberangi banjir yang tidak dapat diseberangi sebelumnya di sini, demi tanpa kelahiran kembali lagi.

 

[27.29] Yo nirvanagair vimokṣitaḥ,

saṁvanamukto vanam eva dhāvati,

taṁ paśyatha pudgalaṁ tv imaṁ,

mukto bandhanam eva dhāvati.

 

Ia yang, terbebas oleh mereka yang mengarahkannya keluar dari hutan, walaupun terbebas dari hutan, kembali lagi ke hutan, lihatlah orang ini, walaupun terbebas, ia berlari kembali menuju belenggu.

 

[27.30] Nelāṅgaḥ śvetasaṁchanna ekāro vartate rathaḥ,

anighaṁ paśyathāyāntaṁ,

chinnayoktram abandhanam.

 

Sebuah kereta dengan tanpa bagian yang cacat, tertutupi dengan warna putih, berjeruji tunggal, berjalan, lihatlah ia yang tidak memiliki masalah mendekat, yang telah memotong kuknya, yang tidak terikat.

 

[27.31 ] Bahavaḥ śaraṇaṁ yānti parvatāṁś ca vanāni ca,

ārāmāṁ vṛkṣacaityāṁś ca, manuṣyā bhayatarjitāḥ.

 

Banyak yang pergi berlindung ke gunung-gunung dan hutan-hutan, ke taman-taman yang menyenangkan dan pohon-pohon keramat, manusia takut akan ketakutan.

 

[27.32] Naitad dhi śaraṇaṁ kṣemaṁ, naitac charaṇam uttamam,

naitac charaṇam āgamya, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Tentu saja, ini bukanlah perlindungan yang aman, ini bukanlah perlindungan terunggul, setelah datang ke perlindungan itu, seseorang tidak terbebas dari segala penderitaan.

 

[27.33] Yas tu Buddhaṁ ca Dharmaṁ ca Saṁghaṁ ca śaraṇaṁ gataḥ,

catvāri cāryasatyāni prajñayā paśyate yadā:

 

Namun ia yang telah pergi berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṁgha, yang melihat melalui kebijaksanaan benar sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia:

 

[27.34] Duḥkhaṁ duḥkhasamutpādaṁ, duḥkhasya samatikramam,

āryaṁ cāṣṭāṅgikaṁ mārgaṁ duḥkhopaśamagāminam,

 

Penderitaan, kemunculan penderitaan, dan mengatasi penderitaan, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang mengarah pada penenangan penderitaan.

 

[27.35] etad dhi śaraṇaṁ kṣemam, etac charaṇam uttamam,

etac charaṇam āgamya, sarvaduḥkhāt pramucyate.

 

Itulah perlindungan yang aman, itulah perlindungan terunggul, setelah datang ke perlindungan itu, seseorang terbebas dari segala penderitaan.

 

[27.36] Paśyataḥ paśyate paśyaṁ, paśyate cāpy apaśyataḥ,

apaśyaṁ paśyate naiva, paśyato nāpy apaśyataḥ.

 

Yang terlihat terlihat oleh penglihat, bahkan terlihat oleh yang tidak melihat, yang tidak terlihat tidak akan pernah terlihat, oleh yang tidak melihat atau bahkan oleh penglihat.

 

[27.37] Anupaśyanayā ca paśyanā,

nānātvaṁ hi tayor ihocyate,

divasasya yathaiva rātribhiḥ,

saṁdhānaṁ ca tayor na vidyate.

 

Perenungan dan penglihatan biasa, suatu perbedaan dinyatakan di sini diantara keduanya, seperti halnya dengan siang dan malam hari, suatu kesepakatan tidak dapat ditemukan bagi kedua hal ini.

 

[27.38] Anupaśyati cen na paśyati,

tv atha cet paśyati nānupaśyati,

paśyann ayaṁ nānupaśyati,

tv anupaśyaṁs tu sadā na paśyati.

 

Jika seseorang merenung, ia tidak melihat, namun jika seseorang melihat, ia tidak merenung, orang yang melihat itu tidak merenung, tetapi orang yang merenung tidak selalu hanya melihat.

 

[27.39] Paśyaṁ nu kiṁ nānupaśyate? Kim apaśyaṁ nānupaśyate sadā?

Kasmiṁ sati hānupaśyanā? Kasmiṁ na sati nānupaśyanā?

 

Mengapa seseorang yang melihat tidak merenung? Mengapa seseorang yang tidak selalu melihat tidak merenung? Kapan sesuatu muncul jika terdapat perenungan? Kapan sesuatu tidak muncul tidak terdapat perenungan?

 

[27.40] Duḥkhaṁ yad ayaṁ na paśyati,

tad apaśyann ātmeti paśyati,

duḥkhaṁ tu yathā tathā prapaśyann,

ayam ātmeti sadānupaśyati.

 

Seseorang tidak melihat apa yang merupakan penderitaan, dengan tidak melihatnya, seseorang melihatnya sebagai diri, namun ketika dengan jelas melihat penderitaan sebagaimana adanya, seseorang selalu merenungkan hal ini sebagai diri.

 

[27.41] Yenāvṛtaḥ pṛthagjanaḥ saṁskārāṁ duḥkhaṁ na paśyati,

tasmiṁ sati hānupaśyanā, vigate ’smiṁ vigatānupaśyanā.

 

Orang awam diliputi dengan ketidak-tahuan tidak melihat segala yang terkondisi sebagai penderitaan, ketika pandangan terang muncul terdapat perenungan, ketika pandangan terang lenyap, perenungan telah terhenti.

 

 

 

Paśyavargaḥ, 27

 

Bab tentang Melihat, yang Kedua Puluh Tujuh

 

28. Pāpavarga

Bab tentang Kejahatan

 

(40 Syair)

 

[28.1] Sarvapāpasyākaraṇaṁ, kuśalasyopasaṁpadaḥ,

svacittaparyavadanam – etad Buddhasya śāsanam.

 

Tidak melakukan kejahatan apapun, melaksanakan apa yang bajik, pemurnian pikiran sendiri – inilah ajaran Sang Buddha.

 

[28.2] Dadataḥ puṇyaṁ pravardhate,

vairaṁ na kriyate ca saṁyamāt.

Kuśalī prajahāti pāpakaṁ,

rāgadoṣamohakṣayāt tu nirvṛtiḥ.

 

Bagi ia yang memberi, jasa kebajikan meningkat, dari pengendalian diri kebencian tidak terbentuk. Orang yang terampil meninggalkan kejahatan, namun terdapat kebebasan dari penghancuran nafsu indera, kebencian, dan delusi.

 

[28.3] Sārdhaṁ carann, ekakaḥ sadā

miśro hy anyajanena Vedakaḥ,

kuśalī prajahāti pāpakaṁ,

krauñcaḥ kṣīrapako yathodakam.

 

Walaupun mengembara bersama dan bergabung dengan orang-orang lain, seorang Arhat selalu sendiri, orang yang terampil meninggalkan apa yang jahat, seperti halnya bangau peminum susu meninggalkan air.

 

[28.4] Dṛṣṭvā hy ādīnavaṁ loke, jñātvā dharmaniraupadhim,

āryo na ramate pāpe, pāpo na ramate śubhe.

 

Setelah melihat bahaya dalam dunia ini, setelah mengetahui kondisi kebasan dari kemelekatan, Orang Mulia (Ārya) tidak bersenang dalam kejahatan, orang yang jahat tidak bersenang dalam kebajikan.

 

[28.5] Pravivekarasaṁ jñātvā, rasaṁ copaśamasya vai,

nirjvaro bhavati niṣpāpo, Dharmaprītirasaṁ piban.

 

Mengetahui rasa keterasingan, dan tentu rasa kedamaian, seseorang terbebas dari demam dan kejahatan, meminum rasa kesenangan dari Dharma.

 

[28.6] Anavasrutacittasya, tv anunnahanacetasaḥ,

puṇyapāpaprahīṇasya, nāsti durgatito bhayam.

 

Bagi seseorang dengan pikiran yang terbebas dari nafsu, yang pikirannya tidak mencintai, bagi ia yang meninggalkan kebajikan dan keburukan, tidak ada ketakutan pada alam kelahiran yang buruk.

 

[28.7] Niṣeddhāraṁ pravaktāraṁ yaj jāned vadyadarśinam,

nigṛhyavādinaṁ dhīraṁ tādṛśaṁ satataṁ bhajet,

tādṛśaṁ bhajamānasya śreyo bhavati na pāpakam.

 

Seseorang harus mengetahui ia yang menunjukkan kesalahan, yang menyatakan pengendalian, seseorang harus selalu menjaga pertemanan dengan ia yang tekun dan terkendali dalam ucapan, bagi ia yang menjaga pertemanan dengan orang demikian adalah lebih baik, bukan lebih buruk.

 

[28.8] Upaśānto hy uparato, mandabhāṣī hy anuddhataḥ,

dhunāti pāpakāṁ dharmāṁ, drumapatraṁ yathānilaḥ.

 

Tenang, tidak mabuk-mabukan, berbicara lembut, tidak sombong, ia menghempaskan pikiran-pikiran jahat, seperti angin menghempaskan dedaunan suatu pohon.

 

[28.9] Yo hy apraduṣṭasya narasya duṣyate,

śuddhasya nityaṁ vigatāṅgaṇasya,

tam eva bālaṁ pratiyāti pāpaṁ,

kṣiptaṁ rajaḥ prativātaṁ yathaiva.

 

Ia yang menyinggung orang yang tidak melanggar, yang selalu murni dan tanpa kekotoran, kejahatan itu kembali ke orang bodoh, seperti abu yang dilemparkan ke angin.

 

[28.10] Yad yat karoti puruṣas, tat tat paśyati hātmanaḥ,

kalyāṇakārī kalyāṇaṁ, pāpakārī ca pāpakam.

 

Apapun yang dilakukan seseorang, dengan cara yang sama ia akan melihat dengan dirinya sendiri, orang yang berbuat kebajikan melihat kebajikan, orang yang berbuat kejahatan melihat kejahatan.

 

[28.11] Ātmanā hi kṛte pāpe, tv ātmanā kliśyate sadā,

ātmanā tv akṛte pāpe, hy ātmanaiva viśudhyate.

 

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, selalu oleh diri sendiri seseorang tercemar, oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri seseorang dimurnikan.

 

[28.12] Aśuddhabuddhiṁ pratyātmaṁ, nānyo hy anyaṁ viśodhayet,

abhimathnāti taṁ pāpaṁ, vajram aśmamaṇiṁ yathā.

 

Secara individu, seseorang memiliki pemahaman yang tercemar, karena tidak ada satupun yang dapat memurnikan orang lain, suatu kejahatan menghancurkan orang itu, seperti halnya sebuah berlian menghancurkan sebuah batu permata.

 

[28.13] Cakṣuṣmāṁ viṣamānīva vidyamāne parākramet,

paṇḍito jīvaloke ’smiṁ pāpāni parivarjayet.

 

Seseorang dengan penglihatan harus berupaya ketika bahaya muncul, demikianlah orang bijaksana di alam kehidupan ini harus menghindari perbuatan jahat.

 

[28.14] Vaṇig vā sabhayaṁ mārgam alpaśāstro mahādhano,

viṣaṁ jīvitakāmo vā, pāpāni parivarjayet.

 

Seperti seorang pedagang dengan sedikit pendamping dan banyak harta seharusnya menghindari jalan yang menakutkan, seperti orang yang mencintai kehidupan seharusnya menghindari racun, demikianlah seseorang seharusnya menghindari perbuatan jahat.

 

[28.15] Pāṇau cāsya vraṇo na syād dhārayet pāṇinā viṣam,

nāvraṇe krāmati viṣaṁ, nāsti pāpam akurvataḥ.

 

Jika tidak ada luka di tangan seseorang, ia dapat membawa racun di tangannya, racun tidak dapat masuk pada ia yang tanpa luka, tidak ada kejahatan bagi orang yang tidak melakukan kejahatan.

 

[28.16] Sukarāṇi hy asādhūni, svātmano hy ahitāni ca,

yad vai hitaṁ ca pathyaṁ ca tad vai paramaduṣkaram.

 

Hal-hal yang tidak bajik dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri adalah sangat mudah untuk dilakukan, namun apa yang bermanfaat dan sesuai, hal-hal itu sangat sulit untuk dilakukan.

 

[28.17] Sukaraṁ sādhunā sādhu, sādhu pāpena duṣkaram,

pāpaṁ pāpena sukaraṁ, pāpam āryeṇa duṣkaram.

 

Kebajikan begitu mudah dilakukan oleh orang bajik, kebajikan dilakukan oleh orang jahat dengan bersusah-payah, keburukan begitu mudah dilakukan oleh orang jahat, kejahatan dilakukan oleh orang bajik dengan bersusah-payah.

 

[28.18] Madhuvad manyate bālo, yāvat pāpaṁ na pacyate,

yadā tu pacyate pāpam, atha duḥkhaṁ nigacchati.

 

Orang bodoh menganggapnya seperti madu, sepanjang perbuatan buruk belum matang, namun ketika perbuatan buruk matang, maka ia menjalani penderitaan.

 

[28.19] Pāpo ’pi paśyate bhadraṁ yāvat pāpaṁ na pacyate,

yadā tu pacyate pāpam atha pāpāni paśyati.

 

Bahkan orang jahat mengalami nasib baik selama perbuatan buruknya belum matang, namun ketika perbuatan buruk matang, maka seseorang mengalami nasib buruk.

 

[28.20] Bhadro ’pi paśyate pāpaṁ yāvad bhadraṁ na pacyate,

yadā tu pacyate bhadram atha bhadrāṇi paśyati.

 

Bahkan orang bajik mengalami nasib buruk selama perbuatan bajiknya belum matang, namun ketika perbuatan bajik matang, maka seseorang mengalami nasib baik.

 

[28.21] Kuryāc cet puruṣaḥ pāpaṁ, nainaṁ kuryāt punaḥ punaḥ,

na tatra cchandraṁ kurvīta, duḥkhaṁ pāpasya saṁcayaḥ.

 

Jika seseorang harus melakukan kejahatan, ia seharusnya tidak melakukannya lagi dan lagi, biarlah ia tidak memiliki kecenderungan pada kejahatan, dari kumpulan kejahatan terdapat penderitaan.

 

[28.22] Kuryāc cet puruṣaḥ puṇyaṁ, kuryāc cainaṁ punaḥ punaḥ,

tatra cchandraṁ ca kurvīta, sukhaṁ puṇyasya saṁcayaḥ.

 

Jika seseorang harus melakukan kebajikan, ia seharusnya melakukannya lagi dan lagi, biarlah ia memiliki kecenderungan pada kebajikan, dari kumpulan kebajikan terdapat kebahagiaan.

 

[28.23] Abhitvareta kalyāṇe, pāpāc cittaṁ nivārayet,

dhandhaṁ hi kurvataḥ puṇyaṁ pāpeṣu ramate manaḥ.

 

Seseorang harus bergegas dalam berbuat kebajikan, seseorang harus menghalau pikiran dari kejahatan, bagi pikiran seseorang yang lamban dalam berbuat kebajikan, bersenang dalam keburukan

 

[28.24] Alpakaṁ pi kṛtaṁ pāpaṁ duḥkhāya parataḥ sadā,

mahate bhavaty anarthāya, viṣaṁ koṣṭhagataṁ yathā.

 

Bahkan suatu kejahatan kecil yang dilakukan selalu membawa penderitaan di masa depan, kejahatan itu membawa kehancuran besar, seperti racun yang memasuki perut.

 

[28.25] Alpakaṁ pi kṛtaṁ puṇyaṁ paraloke sukhāvaham,

arthāya mahate nityaṁ, sasyānām iva saṁcayaḥ.

 

Bahkan suatu kebajikan kecil yang dilakukan selalu membawa kebahagiaan di alam nanti, kebajikan itu selalu membawa keberuntungan yang besar, seperti kumpulan biji-bijian.

 

[28.26] Adaṇḍeṣu hi daṇḍena yo ’praduṣṭeṣu duṣyate

daśānām anyatamaṁ sthānaṁ kṣipram eva nigacchati:

 

Orang yang menyerang dengan sebilah tongkat pada mereka yang tidak bersenjata dan tidak menyinggung dengan cepat pergi ke antara salah satu dari kondisi-kondisi ini:

 

[28.27] jñātīnāṁ vā vinābhāvaṁ, bhogānāṁ vā parikṣayam,

rājato hy upasargaṁ vāpy, abhyākhyānaṁ ca dāruṇam,

 

Kehilangan kerabat, atau hancurnya kekayaan, bahkan bahaya dari raja, atau fitnah yang sangat buruk,

 

[28.28] vedanāṁ kaṭukāṁ vāpi, śarīrasya ca bhedanam,

ābādhaṁ vāpi paruṣaṁ, cittakṣepam athāpi vā,

 

Atau persaan pahit, dan hancurnya tubuh, atau penyakit yang parah, atau setelahnya tentu ia akan menjadi gila,

 

[28.29] atha vāsyāpy agārāṇi hy agnir dahati sarvathā,

bhedāt kāyasya cāprājño daśamāṁ durgatiṁ vrajet.

 

Juga api dapat membakar rumahnya dalam segala cara, dan yang kesepuluh, dari hancurnya jasmani, orang bodoh itu dapat pergi ke alam yang buruk.

 

[28.30] Pāpe tu kṛte hi nāśvasec,

cirakṛte dūrakṛte ’pi nāśvaset,

rahasi ca kṛte ’pi nāśvased,

asti tasya vipāka iti nāśvaset.

 

Namun seseorang seharusnya tidak merasa nyaman dalam kejahatan yang telah dilakukan, seseorang bahkan tidak seharusnya merasa nyaman dalam kejahatan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya tidak merasa nyaman dalam kejahatan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya tidak merasa nyaman dengan berpikir, hal itu tidak ada hasilnya.

 

[28.31] Puṇye tu kṛte hi ihāśvasec,

cirakṛte dūrakṛte ’pi cāśvaset,

rahasi ca kṛte ’pi cāśvased,

asti tasya vipāka iti cāśvaset.

 

Namun seseorang seharusnya merasa nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan saat ini, seseorang bahkan harus merasa nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya merasa nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya merasa nyaman dengan berpikir, hal itu ada hasilnya.

 

[28.32] Pāpe tu kṛte hi śocate,

cirakṛte dūrakṛte ’pi śocate,

rahasi ca kṛte ’pi śocate,

asti tasya vipāka iti śocate.

 

Namun seseorang harus bersedih dalam kejahatan yang telah dilakukan, seseorang seharusnya bersedih bahkan dengan kejahatan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersedih dalam kejahatan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya bersedih dengan berpikir, itu ada hasilnya.

 

[28.33] Puṇye tu kṛte hi nandate,

cirakṛte dūrakṛte ’pi nandate,

rahasi ca kṛte ’pi nandate,

asti tasya vipāka iti nandate.

 

Namun seseorang harus bersenang dalam kebajikan yang telah dilakukan, seseorang seharusnya bersenang bahkan dengan kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersenang dalam kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya bersenang dengan berpikir, itu ada hasilnya.

 

[28.34] Iha śocati, pretya śocati,

pāpakarmā hy ubhayatra śocati,

sa hi śocati sa praśocati,

dṛṣṭvā karma hi kliṣṭam ātmanaḥ.

 

Di sini ia bersedih, setelah kematian ia bersedih, ia yang berbuat kejahatan bersedih di kedua tempat, ia sesungguh bersedih, ia sangat bersedih, melihat kekotoran dari perbuatannya sendiri.

 

[28.35] Iha nandati, pretya nandati,

kṛtapuṇyo hy ubhayatra nandati,

sa hi nandati sa pramodate,

dṛṣṭvā karma hi viśuddham ātmanaḥ.

 

Di sini ia bergembira, setelah kematian ia bergembira, ia yang berbuat kebajikan bergembira di kedua tempat, ia bergembira, ia sangat bergembira, melihat kemurnian dari perbuatannya sendiri.

 

[28.36] Pāpe tu kṛte hi śocate,

cirakṛte dūrakṛte ’pi śocate,

rahasi ca kṛte ’pi śocate,

bhūyaḥ śocati durgatiṁ gataḥ.

 

Namun seseorang seharusnya bersedih tentang kejahatan yang telah dilakukan, seseorang seharusnya bersedih bahkan pada kejahatan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersedih tentang kejahatan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bersedih setelah pergi ke alam menderita.

 

[28.37] Puṇye tu kṛte hi nandate,

cirakṛte dūrakṛte ’pi nandate,

rahasi ca kṛte ’pi nandate,

bhūyo nandati sadgatiṁ gataḥ.

 

Namun seseorang seharusnya bersenang tentang kebajikan yang telah dilakukan, seseorang seharusnya bersenang bahkan pada kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersenang tentang kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bersenang setelah pergi ke alam bahagia.

 

[28.38] Puṇye tu kṛte hi modate,

cirakṛte dūrakṛte ’pi modate,

rahasi ca kṛte ’pi modate,

bhūyo modati sadgatiṁ gataḥ.

 

Namun seseorang seharusnya bangga tentang kebajikan yang telah dilakukan, seseorang bahkan seharusnya bangga pada kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bangga tentang kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bangga setelah pergi ke alam bahagia.

 

[28.39] Kṛte ca pāpe ’py akṛte ca puṇye,

’dharmaṁ samādāya, vihāya dharmam,

bibheti mṛtyor iha pāpakarmā,

bhinnaplavo madhya ivodakasya.

 

Setelah melakukan kejahatan dan tidak melakukan kebajikan, menjalani kejahatan, dan meninggalkan kebenaran, orang yang melakukan kejahatan takut akan kematian di sini, seperti seseorang takut akan perahu rusak di tengah perairan.

 

[28.40] Kṛtaṁ ca puṇyaṁ hy akṛtaṁ ca pāpaṁ,

satāṁ ca dharmaś caritaḥ purāṇaḥ,

bibheti mṛtyor na kadaṁ cid eva,

yathaiva nāvā dṛḍhayā tarantaḥ.

 

Setelah melakukan kebajikan dan tidak melakukan kejahatan, setelah menjalani kehidupan yang benar dan sesuai dengan prinsip kuno, seseorang tidak akan pernah takut akan kematian, seperti mereka yang menyeberangi sungai dengan perahu yang kokoh.

 

 

 

Pāpavargaḥ, 28

 

Bab tentang Kejahatan, yang Kedua Puluh Delapan.

 

29. Yugavarga

Bab tentang Pasangan

 

(69 Syair)

 

[29.1] Avabhāsati tāvat sa kṛmir yāvan nodayate divākaraḥ,

vairocane tūdgate bhṛśaṁ, śyāvo bhavati, na cāvabhāsate.

 

Cacing cahaya bersinar selama pembuat siang tidak terbit, namun ketika yang bercahaya sepenuhnya terbit, cacing itu meredup, dan tidak bersinar.

 

[29.2] Evaṁ bhāsitam āsi tārkitair

yāvan nodayate Tathāgataḥ,

Buddhapratibhāsite tu loke

na tārkiko bhāsati, nāsya śrāvakaḥ.

 

Demikianlah, para pemikir spekulatif bersinar terang selama Sang Tathāgataḥ belum muncul, namun ketika Sang Buddha muncul di dunia, tidak ada pemikir spekulatif yang bersinar terang, maupun juga murid-muridnya.

 

[29.3] Asāre sāramatayaḥ, sāre cāsārasaṁjñinaḥ,

te sāraṁ nādhigacchanti, mithyāsaṁkalpagocarāḥ.

 

Mereka yang berpandangan apa yang esensial sebagai yang tidak esensial, dan menganggap apa yang tidak esensial sebagai yang esensial, mereka tidak mencapai yang esensial, hasil mereka adalah pikiran salah.

 

[29.4] Sāraṁ tu sārato jñātvā, hy asāraṁ cāpy asārataḥ,

te sāram adhigacchanti, samyaksaṁkalpagocarāḥ.

 

Namun mengetahui apa yang esensial sebagai esensial, dan yang tidak esensial sebagai tidak esensial, mereka mencapai yang esensial, hasil mereka adalah pikiran benar.

 

[29.5] Upātidhāvanti hi sārabuddhyā,

navaṁ navaṁ bandhanam ādadantaḥ,

patanti hi dyotam ivāndhakārād,

dṛṣṭe śrute caiva niviṣṭacittāḥ.

 

Mereka melampaui pemahaman hal-hal yang esensial, mereka mengambil belenggu baru dan segar, seperti percikan api yang jatuh dalam kegelapan, mereka telah memusatkan pikiran mereka pada apa yang dilihat atau didengar.

 

[29.6] Kāṅkṣā hi yā syād iha vā pṛthag vā,

ihavedikā vā paravedikā vā,

tāṁ dhyāyino viprajahanti sarvā,

hy ātāpino brahmacaryaṁ carantaḥ.

 

Keragu-raguan apapun yang mungkin terdapat di sini atau di manapun, dapat dipahami di dunia ini, atau dapat dipahami di alam nanti, para meditator meninggalkan segala hal ini, mereka yang tekun menjalankan kehidupan suci.

 

[29.7] Aniṣkaṣāyaḥ kāṣāyaṁ yo vastraṁ paridhāsyati,

apetadamasauratyo, nāsau kāṣāyam arhati.

 

Ia yang, ketika masih belum murni, akan mengenakan jubah pelepasan keduniawian, tidak terberkahi dengan pelatihan dan kebenaran, adalah tidak layak untuk jubah itu.

 

[29.8] Yas tu vāntakaṣāyaḥ syāc, chīleṣu susamāhitaḥ,

upetadamasauratyaḥ, sa vai kāṣāyam arhati.

 

Namun ia yang menghilangkan ketidak-murnian, teguh dalam moralitas, diberkahi baik dengan pelatihan dan kebenaran, orang itu tentu layak untuk jubah pelepasan keduniawian.

 

[29.9] Yasya doṣāḥ samucchinnās, tālamastakavad dhatāḥ,

sa vāntadoṣo medhāvī sādhurūpo nirucyate.

 

Ia yang padanya hal-hal tercela telah terpotong, teguh, seperti tunggul pohon palem yang terpotong, ia yang cerdas yang telah menyingkirkan hal-hal tercela disebut Yang Terhormat.

 

[29.10] Na nāmarūpamātreṇa, varṇapuṣkalayā na ca,

sādhurūpo naro bhavati, māyāvī matsarī śaṭhaḥ.

 

Bukan sekedar dengan batin dan jasmani, atau juga dengan corak kulit yang indah, menjadikan orang yang iri, egois, dan penipu menjadi Yang Terhormat.

 

[29.11] Na varṇarūpeṇa naro hi sarvo,

vijñāyate netvaradarśanena,

susaṁvṛtānām iha vyañjanena,

tv asaṁvṛtā lokam imaṁ caranti.

 

Tidak semua orang diketahui dengan penampilannya, juga tidak diketahui dengan melihat sekilas, bagi mereka yang terkendali dengan baik hidup dengan ciri mereka di sini, namun mereka yang tidak terkendali juga hidup di dunia ini.

 

[29.12] Pratirūpakaṁ dhūpitakarṇikā vā,

lohārdhamāṣa iva hiraṇyacchannaḥ,

caranti haike parivāravantas,

tv antar hy aśuddhā, bahi śobhamānāḥ.

 

Seperti halnya sebuah anting-anting yang diasapkan, atau sekeping koin tembaga palsu yang dilapisi kilauan emas, sebagian hidup dengan rombongan, didalamnya tidak murni, diluarnya bersinar.

 

[29.13] Middhī ca yo bhavati mahāgrasaś ca,

rātriṁ divaṁ saṁparivartaśāyī,

mahāvarāhaiva nivāpapuṣṭaḥ,

punaḥ punar mandam upaiti garbham.

 

Orang yang malas, banyak makan, yang berguling-guling siang dan malam ketika tidur, seperti seekor babi besar yang diberi makan pakan, orang bodoh itu pergi ke rahim lagi dan lagi.

 

[29.14] Manujasya sadā smṛtīmato,

labdhvā bhojanamātrajānataḥ,

tanukāsya bhavanti vedanāḥ,

śanakair jīryati, āyuḥ pālayam.

 

Bagi seorang manusia yang selalu penuh perhatian, yang, setelah menerimanya, mengetahui ukuran yang tepat dalam hal makanan, perasaannya melemah, ia menua dengan lambat, menjaga kehidupannya.

 

[29.15.i] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate rāgo, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, tanpa keawasan – nafsu inderawi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15.ii] Śubhānupaśyī viharann, indriyair hi asaṁvṛtaḥ,

bhojane cāpy amātrajñaḥ, kusīdo hīnavīryavān –

taṁ vai prasahate rāgo vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Orang yang hidup dengan memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lamban, tanpa semangat – nafsu inderawi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15A] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate dveṣo, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan keawasan – kebencian tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15B] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate moho, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan keawasan – delusi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15C] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate māno, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan keawasan – kesombongan tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15D] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate lobho, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan keawasan – keserakahan tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.15E] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,

bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ vai prasahate tṛṣṇā, vāto vṛkṣam ivābalam.

 

Terus menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan keawasan – nafsu tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon yang lemah.

 

[29.16.i] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate rāgo, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – nafsu ragawi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.16.ii] Aśubhānupaśyī viharann, indriyair hi susaṁvṛtaḥ,

bhojane cāpi mātrajñaḥ, śrāddha ārabdhavīryavān –

taṁ na prasahate rāgo, vātaḥ śailam iva parvatam.

 

Orang yang hidup dengan memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, berkeyakinan, dengan semangat dibangkitkan – nafsu ragawi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung berbatu.

 

[29.16A] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate dveṣo, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – kebencian tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.16B] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate moho, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – delusi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.16C] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate māno, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – kesombongan tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.16D] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate lobho, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – keserakahan tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.16E] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,

bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca –

taṁ na prasahate tṛṣṇā, vātaḥ śailam iva sthiram.

 

Terus menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan – nafsu tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah gunung yang stabil.

 

[29.17] Ramaṇīyāny araṇyāni, na cātra ramate janaḥ,

vītarāgātra raṁsyante, na tu kāmagaveṣiṇaḥ.

 

Hutan yang menyenangkan, ada orang-orang yang tidak bersenang (didalamnya), mereka yang tanpa nafsu akan bersenang didalamnya, namun tidak bagi orang yang mencari kenikmatan inderawi.

 

[29.18] Grāme vā yadi vāraṇye, nimne vā yadi vā sthale,

yatrārhanto viharanti, te deśā ramaṇīyakāḥ.

 

Apakah di desa atau di hutan, apakah pada dataran rendah atau tinggi, di manapun para Arhat hidup, tempat-tempat itu adalah menyenangkan.

 

[29.19] Dūrāt santaḥ prakāśyante, Himavān iva parvataḥ,

asanto na prakāśyante, rātrikṣiptāḥ śarā yathā.

 

Orang bajik terlihat dari jauh, seperti Gunung Himālaya, namun orang jahat tidak terlihat, seperti anak panah yang ditembakkan di malam hari.

 

[29.20] Sadbhir eva sahāsīta, paṇḍitair arthacintakaiḥ,

arthaṁ mahāntaṁ gambhīraṁ, prajñayā pratividhyate.

 

Seseorang harus bergaul dengan orang bajik, dengan para bijaksana yang memikirkan tujuan, tujuan yang agung dan mendalam, yang ditembus dengan kebijaksanaan.

 

[29.21] Ahaṁ nāga iva saṁgrāme cāpād utpatitāṁ śarān,

ativākyaṁ titīkṣāmi, duḥśīlo hi mahājanaḥ.

 

Seperti seekor gajah di pertempuran menahankan tembakan anak panah dari sebuah panah, demikianlah Aku menahankan caci-maki, dari banyak orang yang tidak bermoral.

 

[29.22] Bhave cāhaṁ bhayaṁ dṛṣṭvā, bhūyaś ca vibhavaṁ bhave,

tasmād bhavaṁ nābhinande, nandī ca vibhavena me.

 

Setelah melihat bahaya dalam kemenjadian, dan lebih jauh penghancuran dalam kemenjadian, Aku tidak sungguh-sungguh bersenang dalam kemenjadian, karena itulah, Aku bukanlah orang yang bersenang karena penghancuran-Ku.

 

[29.23] Aśraddhaś cākṛtajñaś ca, saṁdhicchettā ca yo naraḥ,

hatāvakāśo vāntāśaḥ, sa vai tūttamapūruṣaḥ.

 

Orang yang melampaui keyakinan belaka, yang mengetahui yang tidak terbentuk, yang telah memotong rantai kelahiran kembali, yang telah menghancurkan peluang untuk kelahiran kembali, yang telah menghilangkan harapan, ia tentu adalah orang yang terunggul.

 

[29.24] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā, rājānaṁ dvau ca śrotriyau,

rāṣṭraṁ sānucaraṁ hatvā, anigho yāti Brāhmaṇaḥ.

 

Dengan menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, dengan menghancurkan suatu kerajaan dan pengikut-pengikutnya, sang Brāhmaṇa berjalan tanpa gangguan.

 

[29.25] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.

 

Bagi mereka yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan terasing, seperti burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.

 

[29.26] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.

 

Bagi mereka yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.

 

[29.27] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.

 

Bagi mereka yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.

 

[29.28] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.

 

Bagi mereka yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.

 

[29.29] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno, hy aparāntaṁ ca nāśritāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.

 

Bagi mereka yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.

 

[29.30] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno hy aparāntaṁ ca nāśritāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.

 

Bagi mereka yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.

 

[29.31] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno hy aparāntaṁ ca nāśritāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.

 

Bagi mereka yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.

 

[29.32] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno, hy aparāntaṁ ca nāśritāḥ,

śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,

ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.

 

Bagi mereka yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.

 

[29.33–29.34] Alpakās te manuṣyeṣu ye janāḥ pāragāminaḥ,

atheyam itarāḥ prajās tīram evānudhāvati,

ye tarhi samyag ākhyāte Dharme Dharmānudarśinaḥ,

te janāḥ pāram eṣyanti mṛtyudheyasya sarvaśaḥ.

 

Sedikit di antara para manusia mereka yang telah menyeberang, dan kebanyakan orang berlarian ke atas dan bawah di antara pantai sini, namun mereka yang, pada saat itu, dalam Dharma yang diajarkan dengan benar, melihat Dharma, orang-orang itu akan pergi menyeberangi alam kematian dalam segala cara.

 

[29.35] Gatādhvano viśokasya, vipramuktasya tāyinaḥ,

sarvagranthaprahīṇasya, paridāgho na vidyate.

 

Bagi orang yang telah menempuh Sang Jalan, yang tidak bersedih, sepenuhnya terbebaskan, bagi orang demikian, yang telah meninggalkan segala belenggu, tidak ada demam yang ditemukan.

 

[29.36] Uttīrṇaḥ sabhayo mārgaḥ, pātālaḥ parivarjitaḥ,

mukto yogais tathā granthaiḥ, sarvaṁ rāgaviṣaṁ hatam.

 

Orang itu yang telah menyeberangi jalan yang menakutkan, menghindari jurang, terbebas dari kuk dan belenggu, dengan segala racun nafsu inderawi dihancurkan.

 

[29.37] Nāsti kāmasamo hy ogho, nāsti doṣasamo grahaḥ,

nāsti mohasamaṁ jālaṁ, nāsti tṛṣṇāsamā nadī.

 

Tidak ada banjir seperti nafsu indera, tidak ada genggaman seperti kebencian, tidak ada jebakan seperti delusi, tidak ada sungai seperti nafsu.

 

[29.38] Ākāśe tu padaṁ nāsti, śramaṇo nāsti bāhyakaḥ,

prapañcābhiratā bālā, niṣprapañcās Tathāgatāḥ.

 

Tidak ada jalan di langit, tidak ada pertapa di luar (Sasana), orang-orang dungu sungguh bersenang dalam proliferasi, Sang Tathāgatā terbebas dari proliferasi.

 

[29.39] Yogaiḥ samuhyate bālo, yogāṁ nudati paṇḍitaḥ,

yogāṁ praṇudya medhāvī, ye divyā ye ca mānusāḥ,

sarvayogāṁ praṇudyeha, sarvaduḥkhāṭ pramucyate.

 

Orang bodoh disingkirkan dengan kuk, orang bijaksana membuang kuk, orang cerdas menyingkirkan kuk, apakah surgawi atau manusia, setelah menyingkirkan segala kuk di sini, orang itu terbebas dari segala penderitaan.

 

[29.40] Yogād bhavaḥ prabhavati, viyogād bhavasaṁkṣayaḥ,

etad dvaidhāpathaṁ jñātvā bhavāya vibhavāya ca,

tatra śikṣeta medhāvī, yatra yogān atikramet.

 

Dari kuk muncul kemenjadian, dari tidak memiliki kuk terdapat penghancuran kemenjadian, setelah memahami kedua jalan perkembangan dan kehancuran kuk, orang cerdas seharusnya berlatih di dalamnya, di mana kuk harus dilampaui.

 

[29.41] Akṛtaṁ kukṛtāc chreyaḥ, paścāt tapati duṣkṛtam,

śocate duṣkṛtaṁ kṛtvā, śocate durgatiṁ gataḥ.

 

Suatu perbuatan yang tidak dilakukan adalah lebih baik dari suatu perbuatan buruk, nantinya seseorang menyesali suatu perbuatan buruk, seseorang bersedih setelah melakukan suatu perbuatan buruk, seseorang bersedih pergi ke alam menderita.

 

[29.42] Kṛtaṁ tu sukṛtaṁ śreyo, yat kṛtvā nānutapyate,

nandate sukṛtaṁ kṛtvā, nandate sugatiṁ gataḥ

 

Namun suatu perbuatan bajik adalah lebih baik dilakukan, yang mana, setelah melakukannya, seseorang tidak merasa menyesal, seseorang bergembira setelah melakukan perbuatan bajik, seseorang bergembira pergi ke alam bahagia.

 

[29.43] Nābhāṣamāṇā jñāyante, miśrā bālair hi paṇḍitāḥ,

jñāyante bhāṣamāṇās tu, deṣayanto ’rajaḥ padam.

 

Ketika tidak berbicara, mereka tidak mengetahui orang bijaksana, karena mereka bercampur dengan orang bodoh, namun mereka tahu ketika berbicara, ketika mengacarkan kondisi tanpa debu.

 

[29.44] Bhāṣayed dyotayed Dharmam, ucchrayed ṛṣiṇāṁ dhvajam,

subhāṣitadhvajā nityam, ṛṣayor Dharmagauravāḥ.

 

Seseorang seharusnya membabarkan dan menerangkan Dharma, seseorang seharusnya menaikkan panji para penglihat (ṛṣi), bagi para penglihat, panji mereka selalu diucapkan dengan baik, dan memiliki rasa hormat kepada Dharma.

 

[29.45] Nindanti tuṣṇim āsīnaṁ, nindanti bahubhāṣiṇam,

alpabhāṇiṁ ca nindanti, nāsti lokeṣv aninditaḥ.

 

Mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara, dan mereka mencela orang yang sedikit bicara, tidak ada satupun di dunia yang tidak dicela.

 

[29.46] Ekāntaninditaḥ puruṣaḥ, ekāntaṁ vā praśaṁsitaḥ,

nābhūd bhaviṣyati ca no, na cāpy etarhi vidyate.

 

Tidak ada sebelumnya dan tidak akan ada, dan di masa sekarang tidak ada seorangpun yang sepenuhnya dicela atau sepenuhnya dipuji.

 

[29.47] Yaṁ tu vijñāḥ praśaṁsanti, hy anuyujya śubhāśubham,

praśaṁsā sā samākhyātā, na tv ajñair yaḥ praśaṁsitaḥ.

 

Orang yang dipuji oleh orang bijaksana, setelah menyelidiki baik yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, pujian demikian adalah dengan benar diucapkan, namun bukan pujian oleh orang yang tidak mengetahui.

 

[29.48] Medhāvinaṁ vṛttayuktaṁ, prājñaṁ śīleṣu saṁvṛtam,

niṣkaṁ jāmbunadasyaiva, kas taṁ ninditum arhati?

 

Orang yang cerdas, bajik dalam perilaku, bijaksana, terkendali dalam moralitas, ia yang bagaikan sekeping koin emas, siapakah yang pantas mencelanya?

 

[29.49] Śailo yathāpy ekaghano vāyunā na prakampyate,

evaṁ nindāpraśaṁsābhir na kampyante hi paṇḍitāḥ.

 

Seperti halnya sebongkah gunung yang kokoh tidak tergerak oleh angin, demikianlah orang bijaksana tidak tergerak baik oleh celaan maupun pujian.

 

[29.50] Yasya mūle tvacā nāsti,

parṇā nāsti, tathā latāḥ,

taṁ dhīraṁ bandhanān muktaṁ –

kas taṁ ninditum arhati?

 

Bagi ia yang tanpa kulit pada akar(nya), tanpa daun, seperti halnya tanpa tumbuhan menjalar, orang tekun itu terbebas dari belenggu – siapakah yang pantas menghinanya?

 

[29.51] Yasya ha prapañcitaṁ hi no sat,

saṁtānaṁ parikhaṁ ca yo nivṛttaḥ,

tṛṣṇāvigataṁ muniṁ carantaṁ –

na vijānāti sadevako ’pi lokaḥ.

 

Ia yang padanya tidak terdapat proliferasi, yang arus dan paritnya telah terhenti, orang bijaksana yang mengembara tanpa nafsu – bahkan dunia dan para Devanya tidak mengenali(nya).

 

[29.52] Yasya jitaṁ nopajīyate,

jitam anveti na kaṁ cid eva loke,

taṁ Buddham anantagocaraṁ,

hy apadaṁ kena padena neṣyasi.

 

Ia yang kemenangan-Nya tak pernah pudar, kemenangan yang tak seorang pun di dunia ini dapat menandingi, Sang Buddha, Yang jangkauannya tak terbatas, dengan jalan apa engkau akan menuntun ia yang tanpa jalan?

 

[29.53] Yasya jālinī viṣaktikā,

tṛṣṇā nāsti hi lokanāyinī,

taṁ Buddham anantagocaraṁ,

hy apadaṁ kena padena neṣyasi.

 

Bagi Ia yang tanpa belenggu ataupun kemelekatan, tidak ada nafsu yang akan membawanya di dunia ini, Sang Buddha, yang jangkauannya tanpa akhir, dengan jalan apa engkau akan menuntun ia yang tanpa jalan?

 

[29.54] Yasya mūlaṁ kṣitau nāsti,

parṇā nāsti tathā latāḥ,

taṁ dhīraṁ bandhanān muktaṁ –

ko nu ninditum arhati?

 

Bagi Ia yang tanpa akar di dalam tanah, tanpa daun, seperti halnya tanpa tanaman menjalar, orang tekun itu terbebas dari belenggu – siapakah yang pantas menghinanya?

 

[29.55] Yasya jālinī viṣaktikā,

tṛṣṇā nāsti hi lokanāyinī,

taṁ Buddham anantavikramaṁ,

hy apadaṁ kena padena neṣyasi.

 

Bagi Ia yang tanpa belenggu ataupun kemelekatan, tidak ada nafsu yang akan membawanya di dunia ini, Sang Buddha, yang kemajuannya tanpa akhir, dengan jalan apa engkau akan menuntun ia yang tanpa jalan?

 

[29.56] Yasya vitarkā vidhūpitās,

tv ādhyātmaṁ vinivartitā hy aśeṣam,

sa hi saṅgam atītya sarvasaṁjñāṁ,

yogāpetam atīrṇasaṅgam eti.

 

Bagi orang yang pemikiran-pemikirannya telah sirna, yang telah sepenuhnya melihat ke dalam diri, melampaui kemelekatan dan segala persepsi, diberkahi dengan upaya, orang itu akan mencapai keadaan melampaui kemelekatan.

 

[29.57] Muñca purato, muñca paścato,

madhye muñca, bhavasya pāragaḥ,

sarvatra vimuktamānaso,

na punar jātijarām upeṣyasi.

 

Terbebaslah dari masa lalu, terbebaslah dari masa depan, terbebaslah dari masa sekarang, setelah menyeberangi kemenjadian, dengan pikiran yang terbebas dalam segala cara, engkau tidak akan menjalani kelahiran dan usia tua lagi.

 

 

 

Yugavargaḥ, 29

 

Bab tentang Pasangan, yang Kedua Puluh Sembilan.

 

 

30. Sukhavarga

Bab tentang Kebahagiaan

 

(52 Syair)

 

[30.1] Jayād vairaṁ prasavate, duḥkhaṁ śete parājitaḥ,

upaśāntaḥ sukhaṁ śete, hitvā jayaparājayau.

 

Dari kemenangan muncul kebencian, yang kalah hidup tidak bahagia, yang damai hidup bahagia, setelah meninggalkan kemenangan dan kekalahan.

 

[30.2] Paraduḥkhopadhānena ya icchet sukham ātmanaḥ,

vairasaṁsargasaṁsakto duḥkhān na parimucyate.

 

Terdapat orang yang menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan menyebabkan penderitaan bagi orang lain, namun ia yang melekat pada pelibatan dengan kebencian tidak sepenuhnya terbebas dari penderitaan.

 

[30.3] Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena vihiṁsati,

ātmanaḥ sukham eṣāṇaḥ, sa vai na labhate sukham.

 

Seseorang yang memukul dengan sebilah tongkat makhluk-makhluk yang mengharapkan kebahagiaan, ketika mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri, tentu saja orang itu tidak akan menemukan kebahagiaan.

 

[30.4] Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena na hiṁsati,

ātmanaḥ sukham eṣānaḥ, sa pretya labhate sukham.

 

Seseorang yang tidak memukul dengan sebilah tongkat makhluk-makhluk yang mengharapkan kebahagiaan, ketika mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri, orang itu akan menemukan kebahagiaan setelah kematian.

 

[30.5] Dharmaṁ caret sucaritaṁ, nainaṁ duścaritaṁ caret,

Dharmacārī sukhaṁ śete hy asmiṁ loke paratra ca.

 

Seseorang seharusnya mempraktekkan Dharma dan perilaku bajik, seseorang seharusnya tidak mempraktekkan perilaku buruk, seseorang yang hidup sesuai dengan Dharma akan hidup bahagia di dunia ini dan di dunia selanjutnya.

 

[30.6] Dharmaḥ sadā rakṣati Dharmacāriṇaṁ,

chatraṁ mahadvarṣakāle yathaiva,

eṣānuśaṁso Dharme sucīrṇe:

na durgatiṁ gacchati Dharmacārī.

 

Dharma selalu melindungi orang yang hidup sesuai dengan Dharma, seperti sebuah payung besar yang melindungi seseorang selama musim hujan, inilah keuntungan ketika Dharma dipraktekkan dengan baik: Orang yang hidup sesuai dengan Dharma tidak pergi ke alam menderita.

 

[30.7] Dharmaḥ sadā rakṣati Dharmacāriṇaṁ,

Dharmaḥ sucīrṇaḥ sukham ādadhāti,

eṣānuśaṁso Dharme sucīrṇe:

na durgatiṁ gacchati Dharmacārī.

 

Dharma selalu melindungi orang yang hidup sesuai dengan Dharma, Dharma yang dipraktekkan dengan baik membawa kebahagiaan, inilah keuntungan ketika Dharma dipraktekkan dengan baik: Orang yang hidup sesuai dengan Dharma tidak pergi ke alam menderita.

 

[30.8] Alpāpi santo bahavo jayanti,

susaṁvidhāne, na ’saṁvidhānam,

alpam api cec chraddadhāno dadāti,

tenaivāsau bhavati sukhī paratra.

 

Bahkan sedikit orang bajik adalah pemenang di antara banyak orang, ketika dipersiapkan dengan baik, bukan tanpa persiapan, jika seseorang dengan keyakinan memberi bahkan sedikit, karena itulah seseorang berbahagia di alam nanti.

 

[30.9] Dānaṁ ca yuddhaṁ ca samānam āhur,

naite guṇāḥ kāpuruṣeva santi,

saṁgrāmaveleva hi dānavelā

tulyaṁ bhavet, kāraṇasaṁgraheṇa.

 

Kedermawanan dan peperangan adalah sama, mereka bilang, kualitas ini tidak terdapat pada orang yang buruk, karena waktu untuk memberi haruslah seperti waktu pada pertempuran, melalui pengerahan sumber daya.

 

[30.10] Ayaṁ hi pratyūhaśatāni jitvā,

mātsaryam ākramya ca śatrubhūtam,

śurād dhi taṁ śūrataraṁ vadāmi,

dadāti yo dānam asaktacittaḥ.

 

Orang itu, dengan memenangkan ratusan penghalang, dan setelah pergi melampaui keegoisan, yang telah menjadi suatu musuh, sesungguhnya, Aku katakan ia adalah lebih kesatria daripada seorang pahlawan, orang yang memberikan sebuah pemberian dengan pikiran yang tidak melekat.

 

[30.11] Sukho vipākaḥ puṇyānām, abhiprāyaḥ samṛdhyate,

kṣipraṁ ca paramāṁ śāntiṁ, nirvṛtiṁ so ’dhigacchati.

 

Kebahagiaan adalah hasil dari kebajikan, kehendak yang berhasil, terdapat kedamaian tertinggi, orang itu dengan cepat mencapai pembebasan.

 

[30.12] Parato hy upasargāṁś ca Devatā Mārakāyikāḥ,

antarāyaṁ na śaktiṣṭāḥ kṛtapuṇyasya kartu vai.

 

Bahaya dari orang lain, dan dari para Devatā yang dirasuki Māra, adalah tak berdaya dalam membuat sebuah penghalang bagi seseorang yang kebajikannya tentu telah selesai.

 

[30.13] Dharmaprītiḥ sukhaṁ śete, viprasannena cetasā,

Āryapravedite Dharme ramate paṇḍitaḥ smṛtaḥ.

 

Seseorang yang bersenang dalam Dharma hidup bahagia, dengan pikiran yang jernih, orang yang penuh perhatian dan bijaksana bersenang dalam Dharma yang dinyatakan oleh Para Mulia.

 

[30.14] Yeṣāṁ Dharmarataṁ cittam, anupādāya nirvṛtim,

smṛtyupasthānanirataṁ, Bodhyaṅgeṣu ca saptasu.

 

Mereka yang pikirannya bersenang dalam Dharma, yang terbebaskan melalui tanpa kemelekatan, bersenang dalam penegakan perhatian, dan tujuh faktor Pencerahan.

 

[30.15] Yeṣāṁ Dharmarataṁ cittam, anupādāya nirvṛtim,

ṛddhipādarataṁ caiva, mārge cāṣṭāṅgike ratam.

 

Mereka yang pikirannya bersenang dalam Dharma, yang terbebaskan melalui tanpa kemelekatan, bersenang dalam landasan kemampuan batin, dan bersenang dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.

 

[30.16] Sukhaṁ te bhuñjate piṇḍaṁ, dhārayanti ca cīvaram,

sukhaṁ caṅkramaṇaṁ teṣāṁ parvateṣu guhāsu ca.

 

Mereka bahagia memakan makanan derma mereka, dan mengenakan jubah mereka, mereka berbahagia ketika melangkah dalam meditasi di pegunungan dan gua-gua.

 

[30.17] Kṣemaprāptā hi sukhitā, dṛṣṭadharmābhinirvṛtāḥ,

sarvavairabhayātītās, tīrṇā loke viṣaktikām.

 

Setelah mencapai keamanan dan kebahagiaan, sepenuhnya terbebas dalam kehidupan saat ini, setelah pergi melampaui segala kebencian dan ketakutan, mereka telah menyeberangi kemelekatan di dunia.

 

[30.18] Sukho vivekas tuṣṭasya, śrutadharmasya paśyataḥ,

avyāvadhyaḥ sukhaṁ loke, prāṇabhūteṣu saṁyamaḥ.

 

Terdapat kebahagiaan dalam keterasingan bagi orang yang berpuas diri, yang telah mendengarkan Dharma, dan yang melihat, terdapat kebahagiaan bagi mereka yang terbebas dari niat buruk di dunia, yang memiliki pengendalian (diri) terhadap makhluk-makhluk yang bernafas.

 

[30.19] Sukhaṁ virāgatā loke kāmānāṁ samatikramaḥ,

asmimānasya vinaya – etad vai paramaṁ sukham.

 

Pelepasan adalah kebahagiaan di dunia, sepenuhnya melampaui nafsu indera, namun bagi ia yang telah menghilangkan kesombongan “Aku” – tentu inilah kebahagiaan tertinggi.

 

[30.20] Sukhaṁ yāvaj jarā śīlaṁ, sukhaṁ śraddhā pratiṣṭhitā,

sukhaṁ cārtharatā vācā, pāpasyākaraṇaṁ sukham.

 

Moralitas hingga usia tua adalah baik, teguh dalam keyakinan adalah baik, bersenang dalam kata-kata yang bermakna adalah baik, tidak melakukan kejahatan adalah baik.

 

[30.21] Sukhaṁ mātṛvyatā loke, sukhaṁ caiva pitṛvyatā,

sukhaṁ śrāmaṇyatā loke, tathā Brāhmaṇyatā sukhaṁ.

 

Menghormati ibu seseorang adalah baik di dunia, juga menghormati ayah seseorang adalah baik, menghormati para pertapa adalah baik di dunia, dan menghormati para Brahmana adalah baik.

 

[30.22] Sukhaṁ Buddhasya cotpādaḥ, sukhaṁ Dharmasya deśanā,

sukhaṁ Saṁghasya sāmagrī, samagrāṇāṁ tapaḥ sukham.

 

Kemunculan Sang Buddha adalah baik, pembabaran Dharma adalah baik, keharmonisan Saṁgha adalah baik, yang tekun berlatih dengan mereka di dalam harmoni adalah baik.

 

[30.23] Śīlavantaḥ sukhaṁ dṛṣṭuṁ, sukhaṁ dṛṣṭuṁ bahuśrutāḥ,

Arhantaś ca sukhaṁ dṛṣṭuṁ, vipramuktapunarbhavāḥ.

 

Untuk melihat mereka yang bermoral adalah baik, untuk melihat yang terpelajar adalah baik, untuk melihat para Arhat adalah baik, mereka yang terbebas dari kelahiran berulang.

 

[30.24] Sukhā nadī sūpatīrthā, sukhaṁ Dharmajino jinaḥ,

prajñālābhaḥ sukho nityam, asmimānakṣayaḥ sukham.

 

Adalah baik sebuah sungai dengan dermaga yang indah, adalah baik seorang penakluk, menaklukkan dengan Dharma, perolehan kebijaksanaan adalah selalu baik, penghancuran kesombongan “Aku” adalah baik.

 

[30.25] Sukhaṁ darśanam āryāṇāṁ, saṁvāso ’pi sadā sukham,

adarśanena bālānāṁ nityam eva sukhī bhavet.

 

Pertemuan dengan para mulia adalah baik, dan hidup bersama (dengan mereka) adalah selalu baik, dengan tidak bertemu orang-orang bodoh seseorang akan selalu berbahagia.

 

[30.26] Bālasaṁsargacārī hi dīrghādhvānaṁ praśocati,

duḥkho bālair hi saṁvāso, hy amitrair iva sarvaśaḥ,

dhīrais tu sukhasaṁvāso, jñātīnām iva saṁgamaḥ.

 

Bagi orang yang berkumpul bersama orang bodoh (akan) sangat bersedih untuk waktu yang lama, terdapat penderitaan dari hidup bersama dengan orang-orang bodoh,  seperti halnya selalu bersama musuh, namun hidup bersama dengan yang tekun adalah baik, seperti halnya dengan kumpulan kerabatnya.

 

[30.27] Durlabhaḥ puruṣo jātyo, nāsau sarvatra jāyate,

yatrāsau jāyate vīras, tat kulaṁ sukham edhate.

 

Seseorang yang terlahir demikian adalah langka, orang itu tidak terlahir di mana saja, di manapun pahlawan itu terlahir, keluarga itu mencapai kebahagiaan.

 

[30.28] Sarvathā vai sukhaṁ śete Brāhmaṇaḥ parinirvṛtaḥ,

yo na lipyate kāmebhir, vipramukto nirāsravaḥ.

 

Seorang Brāhmaṇa yang terbebas hidup bahagia dalam segala cara, orang yang tidak terkotori dengan nafsu indera, sepenuhnya terbebas, tanpa kekotoran.

 

[30.29] Sarvā hy āśāstayaś chitvā, vinīya hṛdayajvaram,

upaśāntaḥ sukhaṁ śete, śāntiṁ prāpyeha cetasaḥ.

 

Setelah memotong segala harapan, setelah menyingkirkan demam dari hati (hṛdaya), orang yang damai hidup bahagia, setelah mencapai kedamaian pikiran di sini.

 

[30.30] Mātrāsukhaparityāgād yaḥ paśyed vipulaṁ sukham,

tyajen mātrāsukhaṁ dhīraḥ, saṁpaśyaṁ vipulaṁ sukham.

 

Dari meninggalkan sebuah kebaikan yang terbatas seseorang dapat melihat suatu kebaikan yang besar, orang yang tekun seharusnya meninggalkan kebaikan yang terbatas itu, melihat kebaikan yang besar.

 

[30.31] Yac ca kāmasukhaṁ loke, yac cāpi divijaṁ sukham,

tṛṣṇākṣayasukhasyaitat, kalāṁ nārghati ṣoḍaśīm.

 

Hal itu yang adalah kebahagiaan inderawi di dunia, dan bahkan kebahagiaan itu yang adalah surgawi, dibandingkan dengan kebahagiaan dari penghancuran nafsu, tidak sebanding dengan seperenam belas bagian.

 

[30.32] Nikṣipya hi guruṁ bhāraṁ, nādadyād bhāram eva tu,

bhārādānaṁ paraṁ duḥkhaṁ, bhāranikṣepaṇaṁ sukham.

 

Setelah meletakkan beban berat, seseorang seharusnya tidak mengangkat beban yang lain, mengangkat beban tentu adalah penderitaan, meletakkan beban adalah kebahagiaan.

 

[30.33] Sarvaṭṛṣṇāṁ viprahāya sarvasaṁyojanakṣayāt,

sarvopadhiṁ parijñāya, nāgacchanti punarbhavam.

 

Setelah meninggalkan segala nafsu dari penghancuran segala belenggu, setelah sepenuhnya mengetahui segala kemelekatan, mereka tidak akan datang lagi dalam kemenjadian.

 

[30.34] Artheṣu jāteṣu sukhaṁ sahāyāḥ,

puṇyaṁ sukhaṁ jīvitasaṁkṣayeṣu,

tuṣṭiḥ sukhā yā tv itaretareṇa,

sarvasya duḥkhasya sukho nirodhaḥ.

 

Teman-teman yang muncul kapanpun dibutuhkan adalah baik, saat hancurnya kehidupan jasa kebajikan adalah baik, menjadi puas dengan apapun yang dimiliki seseorang adalah baik, penghentian segala penderitaan adalah baik.

 

[30.35–30.36] Ayoghanahatasyaiva jvalato jātavedasaḥ,

anupūrvopaśāntasya, yathā na jñāyate gatiḥ,

evaṁ samyagvimuktānāṁ, kāmapaṅkaughatāriṇām:

prajñāpayituṁ gatir nāsti prāptānām acalaṁ sukham.

 

Seperti halnya sebuah batang besi yang dipukul dengan api dan panas, dan secara perlahan mendingin, tujuan dari api itu tidaklah diketahui, demikian pula bagi mereka yang sepenuhnya terbebas, yang telah menyeberangi banjir rawa nafsu indera: Tidak ada tujuan yang menandakan mereka yang telah mencapai kebahagiaan yang tak bergerak.

 

[30.37] Yasyāntarato na santi kopā, itthaṁbhāvagataṁ ca yo nivṛttaḥ,

akhilaṁ taṁ sukhinaṁ sadā viśokaṁ – Devā nānubhavanti darśanena.

 

Bagi orang yang batinnya tidak cemas, yang telah berpaling dari tujuan-tujuan atau kondisi-kondisi kemenjadian ini, selalu terbuka batinnya, bahagia, tanpa kesedihan – Para Deva tidak merasakan hal ini melalui penglihatan.

 

[30.38] Sukhaṁ hi yasyeha na kiñcanaṁ syāt,

svākhyātadharmasya bahuśrutasya,

sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,

janaṁ janeṣu pratibaddhacittam.

 

Terdapat kebahagiaan bagi orang yang tidak memiliki apapun di sini, bagi orang yang terpelajar dalam Dharma yang dibabarkan dengan baik, lihatlah bagaimana orang yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang yang pikirannya terikat pada orang lain.

 

[30.39] Sukhaṁ hi yasyeha na kiñcanaṁ syāt,

svākhyātadharmasya bahuśrutasya,

sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,

janaṁ janeṣu pratibaddharūpam.

 

Terdapat kebahagiaan bagi orang yang tidak memiliki apapun di sini, bagi orang yang terpelajar dalam Dharma yang dibabarkan dengan baik, lihatlah bagaimana orang yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang dalam suatu kondisi yang terikat pada orang lain.

 

[30.40] Sukhino hi janā hy akiñcanā,

Vedaguṇā hi janā hy akiñcanāḥ,

sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,

janaṁ janeṣu pratibaddhacittam.

 

Orang yang tidak memiliki apapun di sini tentulah bahagia, Mereka Yang Sempurna (Para Buddha) tentu adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun, lihatlah bagaimana orang yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang yang pikirannya terikat pada orang lain.

 

[30.41] Sukhino hi janā hy akiñcanā,

Vedaguṇā hi janā hy akiñcanāḥ,

sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,

janaṁ janeṣu pratibaddharūpam.

 

Orang yang tidak memiliki apapun di sini tentulah bahagia, Mereka Yang Sempurna tentu adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun, lihatlah bagaimana orang yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang dalam suatu kondisi yang terikat pada orang lain.

 

[30.42] Sarvaṁ paravaśaṁ duḥkhaṁ, sarvam ātmavaśaṁ sukham,

sādhāraṇe vihanyante, yogā hi duratikramāḥ.

 

Segala yang dikuasai orang lain adalah menyakitkan, segala yang dikuasai diri sendiri adalah menyenangkan, orang-orang awam menderita kekesalan, karena kuk adalah sulit untuk dilampaui.

 

[30.43] Susukhaṁ bata jīvāmo hy utsukeṣu tv anutsukāḥ,

utsukeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy anutsukāḥ.

 

Kami yang tanpa kerinduan tentu hidup bahagia diantara mereka yang merindu, diantara manusia yang merindu kami hidup tanpa kerinduan.

 

[30.44] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti kiñcanam,

Mithilāyāṁ dahyamānāyāṁ, na no dahyati kiñcanam.

 

Kami yang tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, ketika (kota) Mithilā terbakar, tidak ada milik kami yang terbakar.

 

[30.45] Susukhaṁ bata jīvāmo hy ātureṣu tv anāturāḥ,

ātureṣu manuṣyeṣu viharāmo hy anāturāḥ.

 

Kami yang tanpa penyakit tentu hidup bahagia diantara mereka yang sakit, diantara para manusia yang sakit kami hidup tanpa penyakit.

 

[30.46] Susukhaṁ bata jīvāmo hiṁsakeṣu tv ahiṁsakāḥ,

hiṁsakeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy ahiṁsakāḥ.

 

Kami yang tanpa kekerasan tentu hidup bahagia diantara mereka yang melakukan kekerasan, diantara para manusia yang melakukan kekerasan kami hidup tanpa kekerasan.

 

[30.47] Susukhaṁ bata jīvāmo vairikeṣu tv avairikāḥ,

vairikeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy avairikāḥ.

 

Kami yang tanpa kebencian tentu hidup bahagia diantara mereka yang membenci, diantara para manusia yang membenci kami hidup tanpa kebencian.

 

[30.48] Susukhaṁ bata jīvāmo heṭhakeṣu tv aheṭhakāḥ,

heṭhakeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy aheṭhakāḥ.

 

Kami yang tidak berbahaya tentu hidup bahagia diantara mereka yang berbahaya, diantara para manusia yang berbahaya kami hidup tanpa bahaya.

 

[30.49] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti kiñcanam,

prītibhakṣā bhaviṣyāmo Devā hy Ābhasvarā yathā.

 

Kami yang tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, kami akan menjadi pemakan kebahagiaan, seperti para Deva Ābhasvarā.

 

[30.50] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti kiñcanam,

prītibhakṣā bhaviṣyāmo, satkāyenopaniḥśritāḥ.

 

Kami yang tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, kami akan menjadi pemakan kebahagiaan, didukung oleh tubuh yang ada.

 

[30.51] Grāme araṇye sukhaduḥkhaspṛṣṭo,

naivātmano no parato dadhāti,

sparśāḥ spṛśanti hy upadhiṁ pratītya,

niraupadhiṁ kiṁ sparśāḥ spṛśeyuḥ?

 

Tersentuh oleh kenikmatan dan kesakitan di desa atau di hutan, seseorang tidak menganggapnya sebagai disebabkan oleh dirinya sendiri atau orang lain, kontak berdampak pada seseorang dengan kemelakatan sebagai kondisi, bagaimana mungkin kontak berdampak pada seseorang yang tanpa kemelekatan?

 

[30.52] Sāpatrapāḥ satpuruṣā bhavanti,

na kāmahetor lapayanti santaḥ,

spṛṣṭā hi duḥkhena tathā sukhena,

noccāvacāḥ satpuruṣā bhavanti.

 

Orang bajik memiliki kepedulian, orang bajik tidak berbicara demi nafsu inderawi, ketika tersentuh dengan kenikmatan atau dengan penderitaan, orang bajik tidak menjadi gembira atau depresi.

 

 

 

Sukhavargaḥ, 30

 

Bab tentang Kebahagiaan, yang Ketiga Puluh

 

31. Cittavarga

Bab tentang Pikiran

 

(63 Syair)

 

[31.1] Durnigrahasya laghuno, yatrakāmanipātinaḥ,

cittasya damanaṁ sādhu, cittaṁ dāntaṁ sukhāvaham.

 

Bagi seseorang yang pikirannya sulit dijinakkan, melompat-lompat, dan terbang kemanapun yang dimau, pelatihan pikiran adalah baik, pikiran yang terlatih membawa kebahagiaan.

 

[31.2] Vārijo vā sthale kṣipta, okād oghāt samuddhṛtaḥ,

parispandati vai cittaṁ, Māradheyaṁ prahātavai.

 

Seperti ikan yang dilempar ke daratan yang kering, atau dikeluarkan dari arus air, pikiran tentulah gelisah, alam Māra harus ditinggalkan.

 

[31.3] Pṛthag vidhāvate cittaṁ, sūryasyeva hi raśmayaḥ,

tat paṇḍito vārayati, hy aṅkuśenaiva kuñjaram.

 

Pikiran berkeliaran ke segala arah, seperti sinar matahari, orang bijaksana mengendalikannya, seperti seseorang mengendalikan seekor gajah dengan sebilah tongkat pengait.

 

[31.4] Bhrūṇadheyam idaṁ cittaṁ, niḥsāram anidarśanam,

sadainam anuśāsāmi – mā me ’narthāya niścaret.

 

Pikiran ini dalam keadaan rapuh, tanpa esensi, tidak nyata, aku selalu menasehatinya – semoga ia tidak muncul demi kehancuranku.

 

[31.5] Idaṁ purā cittam acāri cārikāṁ,

yenecchakaṁ yena kāmaṁ yatheṣṭam,

tat saṁnigṛhṇāmi hi yoniśas tv idaṁ,

nāgaṁ prabhinnaṁ hi yathāṅkuśena.

 

Sebelumnya pikiran yang liar ini mengembara seperti yang diinginkannya, seperti yang disenanginya, seperti yang disukainya, namun hari ini aku dengan bijaksana dan menyeluruh mengendalikannya, seperti seseorang dengan sebilah tongkat pengait (mengendalikan) gajah yang mengamuk.

 

[31.6] Anekaṁ jātisaṁsāraṁ saṁdhāvitvā punaḥ punaḥ

gṛhakārakaiṣamāṇas tvaṁ: duḥkhā jātiḥ punah punaḥ.

 

Melalui transmigrasi kelahiran yang tanpa akhir aku telah mengembara lagi dan lagi mencarimu, pembuat rumah: Menderita kelahiran lagi dan lagi.

 

[31.7] Gṛhakāraka dṛṣṭo ’si! Na punar gehaṁ kariṣyasi:

sarve te pārśukā bhagnā, gṛhakūṭaṁ visaṁskṛtam,

visaṁskāragate citte ihaiva kṣayam adhyagāḥ.

 

O pembuat rumah, engkau telah terlihat! Engkau tidak akan membuat rumah lagi: Segala kasokmu telah rusak, dan tiang bubungan telah dihancurkan, ketika pikiran telah mencapai yang tak terkondisi, penghancuran nafsu telah tercapai di sini/.

 

[31.8] Spandanaṁ capalaṁ cittaṁ, durakṣyaṁ durnivāraṇam –

ṛjuṁ karoti medhāvī, iṣukāra iva tejasā.

 

Pikiran itu gelisah, goyah, sulit untuk dijaga, sulit untuk dikendalikan – orang yang cerdas meluruskannya, seperti seorang pengrajin panah meluruskan sebatang anak panah dengan panas.

 

[31.8A] Dūraṁgamam ekacaram, aśarīraṁ guhāśayam,

ye cittaṁ damayiṣyanti vimokṣyante mahābhayāt.

 

Berkeliaran jauh, bergerak sendiri, tanpa wujud, tersembunyi di dalam tubuh, mereka yang melatih pikiran akan terbebas dari bahaya besar.

 

[31.9] Na dveṣī dveṣiṇaḥ kuryād, vairī vā vairiṇo hitam –

mithyāpraṇihitaṁ cittaṁ yat kuryād ātmanātmanaḥ.

 

Manfaat itu yang mungkin tidak diberikan oleh seorang penyerang kepada penyerang lainnya, atau seorang musuh kepada musuhnya – karena pikiran seseorang yang dengan salah diarahkan akan merugikan diri sendiri.

 

[31.10] Na taṁ mātā pitā vāpi kuryāj jñātis tathāparaḥ –

samyakpraṇihitaṁ cittaṁ yat kuryād dhitam ātmanaḥ.

 

Hal itu yang bahkan ibu, ayah, kerabat, atau orang lain pun tidak mampu lakukan – pikiran yang diarahkan dengan benar dapat membawa lebih banyak kepuasan bagi diri sendiri.

 

[31.11] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ rāgaḥ samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga nafsu ragawi merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.12 ] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ dveṣaḥ samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga kebencian merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.13] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ mohaḥ samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga delusi merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.14] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ mānaḥ samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga kesombongan merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.15] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ lobhaḥ samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga keserakahan merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.16] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,

evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ tṛṣṇā samatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk, demikianlah juga nafsu merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.

 

[31.17] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ rāgo na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga nafsu ragawi tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.18] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ dveṣo na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga kebencian tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.19] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ moho na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga delusi tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.20] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ māno na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga kesombongan tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.21] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ lobho na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga keserakahan tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.22] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na vyatibhindati,

evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ tṛṣṇā na vyatibhindati.

 

Seperti halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik, demikianlah juga nafsu tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan baik.

 

[31.23] Manaḥpūrvaṅgamā dharmā, manaḥśreṣṭhā manojavāḥ,

manasā hi praduṣṭena bhāṣate vā karoti vā,

tatas taṁ duḥkham anveti, cakraṁ vā vahataḥ padam.

 

Pikiran mendahului pemikiran-pemikiran, pikiran adalah pemimpin mereka, mereka didorong dengan pikiran, ketika seseorang berbicara atau berperilaku dengan suatu pikiran buruk, melalui itulah, penderitaan mengikuti seseorang, seperti sebuah roda mengikuti kaki kerbau.

 

[31.24] Manaḥpūrvaṅgamā dharmā manaḥśreṣṭhā manojavāḥ,

manasā hi prasannena bhāṣate vā karoti vā,

tatas taṁ sukham anveti cchāyā vā hy anugāminī.

 

Pikiran mendahului pemikiran-pemikiran, pikiran adalah pemimpin mereka, mereka didorong dengan pikiran, ketika seseorang berbicara atau berperilaku dengan suatu pikiran murni, melalui itulah kebahagiaan mengikuti seseorang seperti sebuah bayangan yang tidak pergi.

 

[31.25] Nāprasannena cittena duṣṭena kṣubhitena vā,

Dharmo hi śakyam ājñātuṁ saṁrambhabahulena vā.

 

Tidak dengan pikiran yang tanpa keyakinan, rusak, gelisah, atau sangat tidak sabaran seseorang dapat memahami Dharma.

 

[31.26] Vinīya yas tu saṁrambham aprasādaṁ ca cetasā,

āghātaṁ caiva niḥsṛjya, prajānīyāt subhāṣitam.

 

Namun seseorang yang melenyapkan pikiran ketidak-sabaran dan tanpa keyakinan, dan melenyapkan pembunuhan, dapat mengetahui apa yang diucapkan dengan baik.

 

[31.27] Na pratyanīkasāreṇa suvijñeyaṁ subhāṣitam,

upakliṣṭena cittena saṁrambhabahulena vā.

 

Apa yang diucapkan dengan baik tidak dapat diketahui dengan mudah oleh seseorang yang memiliki esensi permusuhan, atau dengan suatu pikiran tercemar yang sangat tidak sabaran.

 

[31.28] Anavasthitacittasya, Saddharmam avijānataḥ,

pāriplavaprasādasya, prajñā na paripūryate.

 

Bagi seseorang yang memiliki pikiran yang tidak mantap, yang tidak mengetahui Dharma Sejati, yang keyakinannya terguncang, kebijaksanaan tidak terpenuhi.

 

[31.29] Srotāṁsi yasya ṣaṭtiṁśan manaḥprasravaṇāni hi,

vahanti nityaṁ durdṛṣṭeḥ saṁkalpair gredhaniḥśritaiḥ.

 

Bagi seseorang yang padanya tiga puluh enam arus pikiran mengalir, bagi seseorang dengan suatu pandangan salah, ia terus menerus dibawa oleh niat-niatnya yang berlandaskan nafsu.

 

[31.30] Ratim anusṛtam indriyānugaṁ

puruṣaṁ cittavaśānuvartakam,

yaśa iha hi jahāti sarvadā,

drumam iva śīrṇaphalaṁ yathāṇḍajaḥ.

 

Seseorang yang bersenang dalam mengejar dan mengikuti indera-indera, yang menuruti pikirannya, selalu meninggalkan kemahsyurannya di sini, seperti seekor burung meninggalkan sebatang pohon dengan buah yang layu.

 

[31.31] Ātāpī vihara tvam apramatto,

mā te kāmaguṇo matheta cittam,

mā lohaguḍāṁ gileḥ pramattaḥ,

krandaṁ vai narakeṣu pacyamānaḥ.

 

Engkau harus berdiam dengan tekun, penuh perhatian, jangan biarkan untaian nafsu mengganggu pikiranmu, janganlah, lalai, menelan suatu bola besi panas, tentu ada teriakan, ketika tersiksa di neraka.

 

[31.32] Utthānakāleṣu nihīnavīryo,

vācā balī tv ālasiko nirāśaḥ,

sadaiva saṁkalpahataḥ kusīdo,

jñānasya mārgaṁ satataṁ na vetti.

 

Orang yang kurang bersemangat ketika waktunya bersemangat, kuat dalam ucapan, namun malas, tanpa niatan, selalu lamban, dengan tekad yang hancur, ia tidak akan pernah mengetahui jalan menuju pengetahuan.

 

[31.33] Sthūlāṁ vitarkān, atha vāpi sūkṣmāṁ,

samudgatāṁ mānasasaṁplavārtham,

vitarkayaṁ vai satataṁ vitarkān,

etāṁ sadā dhāvati bhrāntacittaḥ.

 

Apakah terdapat pikiran-kasar, atau bahkan yang halus, mereka muncul untuk tujuan membanjiri pikiran, terus menerus memikirkan pikiran-pikiran ini, pikiran yang tidak terlatih selalu berkelana.

 

[31.34] Etāṁs tu vidvāṁ manaso vitarkān,

ātāpavāṁ saṁvaravāṁ smṛtātmā,

jahāty aśeṣān apunarbhavāya,

samāhito dhyānarataḥ sumedhāḥ.

 

Namun setelah memahami pemikiran-pemikiran ini dari pikiran, orang yang tekun, terkendali, penuh perhatian pada dirinya sendiri, meninggalkannya sepenuhnya demi tidak adanya kemenjadian lagi, orang yang tenang, orang yang cerdas, bersenang dalam meditasi.

 

[31.35] Kumbhopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,

nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,

yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,

jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.

 

Memahami tubuh ini rapuh seperti sebuah vas, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.

 

[31.36] Phenopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,

nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,

yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,

jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.

 

Memahami tubuh ini seperti buih, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.

 

[31.37] Kumbhopamaṁ lokam imaṁ viditvā

nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,

yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,

jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.

 

Memahami dunia ini rapuh seperti sebuah vas, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.

 

[31.38] Phenopamaṁ lokam imaṁ viditvā

nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,

yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,

jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.

 

Memahami dunia ini seperti buih, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.

 

[31.39] Saṁbodhyaṅgeṣu yeṣāṁs tu samyak cittaṁ subhāvitam,

ādānaṁ pratiniḥsṛjya, cānupādāyam āśritāḥ,

kṣīṇāsravā vāntadoṣās, te loke parinirvṛtāḥ.

 

Namun bagi mereka yang dengan benar mengembangkan pikiran dalam faktor-faktor Pencerahan Sempurna, setelah meninggalkan kemelekatan, dan bergantung pada ketidak-melekatan, tanpa kekotoran, setelah menghilangkan kesalahan-kesalahan, mereka sepenuhnya terbebaskan di dunia.

 

[31.40] Svacittam anurakṣaṁ vai svavālaṁ camarī yathā,

bhūteṣu ca dayāpannaḥ, sukhān na parihīyate.

 

Jagalah pikiranmu sendiri seperti seekor Yak betina menjaga ekornya sendiri, penuh simpati terhadap para makhluk, ia tidak akan terjatuh dari kebahagiaan.

 

[31.41] Etaṁ nāgasya Nāgena tv īṣādantasya hastinaḥ,

sameti cittaṁ cittena: yad eko ramate vane.

 

Dalam hal ini, pikiran Nāga (makhluk besar) gajah bertanduk setuju dengan pikiran Nāga Sang Buddha: Bahwa suatu Nāga bersenang dalam kesendirian di hutan.

 

[31.42] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,

maitraḥ sa sarvasatveṣu vairaṁ tasya na kena cit.

 

Orang yang, dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam bentuk apapun pada dirinya  sehubungan dengan semua makhluk.

 

[31.42A] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,

maitraḥ sa sarvaprāṇeṣu vairaṁ tasya na kena cit.

 

Orang yang, dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam bentuk apapun pada dirinya  sehubungan dengan semua makhluk yang bernafas.

 

[31.42B] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,

maitraḥ sa sarvabhūteṣu vairaṁ tasya na kena cit.

 

Orang yang, dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam bentuk apapun pada dirinya  sehubungan dengan semua makhluk hidup.

 

[31.43] Ekam api cet prāṇam aduṣṭacitto,

maitrāyate, kuśalaṁ tena hi syāt,

sarvāṁs tu satvāṁ manasānukampaṁ

prabhūtam āryaḥ prakaroti puṇyam.

 

Bahkan jika, dengan pikiran yang tidak rusak, seseorang memiliki cinta kasih terhadap suatu makhluk yang bernafas, melalui itu seseorang akan memiliki kebajikan, namun dengan memiliki suatu pikiran belas kasihan kepada semua makhluk seorang Mulia membentuk banyak jasa kebajikan.

 

[31.44–31.45] Yo hy udagreṇa cittena tv adīnena sadā naraḥ,

bhāvayet kuśalāṁ dharmāṁ, yogakṣemasya prāptaye,

śāntam asya mano bhavati, śāntā vāk kāyakarma ca,

samyagājñāvimuktasya, hy upaśāntasya bhikṣuṇaḥ.

 

Orang itu yang, dengan batin yang tergugah, selalu tersenyum, yang mengembangkan pikiran kebajikan, demi pencapaian keamanan, pikirannya tenang, ucapan dan perbuatannya juga tenang, bagi Bhikṣu yang terbebas dengan pengetahuan benar adalah sungguh menenangkan.

 

[31.46] Pañcāṅgikena tūryeṇa na ratir bhavati tādṛśī,

yādṛśy ekāgracittasya, samyag Dharmāṁ vipaśyataḥ.

 

Tidak ada kenikmatan seperti dengan grup musik lima suara, seperti halnya bagi suatu pikiran yang terfokus, yang memiliki penglihatan benar tentang Dharma.

 

[31.47] Sukhaṁ svapanti munayo, na te śocanti māmikām,

yeṣāṁ dhyānarataṁ cittaṁ, kāmas teṣāṁ na vidyate.

 

Para bijaksana tidur dengan bahagia, mereka tidak bersedih atas apa yang “milikku”, bagi mereka yang pikirannya bersenang dalam meditasi, nafsu inderawi tidak muncul bagi mereka.

 

[31.48] Sukhaṁ modanti munayo, na te śocanti māmikām,

yeṣāṁ dhyānarataṁ cittaṁ, vartmas teṣāṁ na vidyate.

 

Para bijaksana tidur dengan bahagia, mereka tidak bersedih atas apa yang “milikku”, bagi mereka yang pikirannya bersenang dalam meditasi, jejak tidak muncul bagi mereka.

 

[31.49] Yasya śailopamaṁ cittaṁ, sthitaṁ nānuprakampate,

viraktaṁ rajanīyebhyaḥ, kopanīye na kupyate,

yasyaivaṁ bhāvitaṁ cittaṁ, kutas taṁ duḥkham eṣyati?

 

Bagi orang yang pikirannya seperti sebuah gunung, stabil, tidak bergejolak, tidak tertarik dengan apa yang menarik, tidak gelisah pada apa yang menggelisahkan, bagi orang yang pikirannya terkembang demikian, dalam cara apakah penderitaaan datang kepadanya?

 

[31.50] Nopavādī nopaghātī, prātimokṣe ca saṁvaraḥ,

mātrajñatā ca bhakteṣu, prāntaṁ ca śayanāsanam,

adhicitte samāyoga – etad Buddhasya śāsanam.

 

Tidak menemukan celaan dan tidak melukai, terkendali sehubungan dengan aturan, mengetahui ukuran yang benar dalam hal makan, hidup dalam suatu kediaman terasing, melatih pikiran yang lebih tinggi – inilah ajaran Sang Buddha.

 

[31.51] Cittanimittasya kovidaḥ, pravivekasya rasaṁ prajānakaḥ,

dhyāyī nipakaḥ pratismṛto, vetti prītisukhaṁ nirāmiṣam.

 

Orang yang terpelajar dalam gambaran pikiran, yang mengenal rasa keterasingan, sang meditator, penyelidik, dan penuh perhatian, orang itu mengetahui kebahagiaan dan kegembiraan adiduniawi.

 

[31.52] Manaś ca yo rakṣati bhāṣitaṁ ca,

ceṣṭe ca kāyasya sadaiva yuktaḥ,

sa prāpya śokaṁ hi na duḥkhitaḥ syāt,

satyasthitaḥ satyavidaḥ sumedhāḥ.

 

Orang yang menjaga baik pikiran dan ucapan, dan selalu mengendalikan jasmani dan pergerakannya, orang bijaksana itu, bahkan setelah menghadapi kesedihan tidak akan menderita, ia teguh dalam kebenaran, mengetahui kebenaran.

 

[31.53] Arakṣitena cittena, mithyādṛṣṭihatena ca,

stīnamiddhābhibhūtena vaśaṁ mṛtyor nigacchati.

 

Dengan pikiran yang tidak terlindungi, dan terpukul dengan pandangan salah, dengan diliputi oleh kelambanan dan kantuk seseorang datang ke dalam pengaruh kematian.

 

[31.54] Tasmād rakṣitacittaḥ syāt, samyaksaṁkalpagocaraḥ,

samyagdṛṣṭipuraskāro, jñātvā caivodayavyayam.

Stīnamiddhābhibhūr bhikṣuḥ sarvadurgatayo jahet.

 

Karena itulah seseorang seharusnya melindungi pikiran, seseorang yang kediamannya adalah pikiran benar, setelah meletakkan pandangan benar di depan, mengetahui kemunculan dan kejatuhan. Seorang Bhikṣu yang mengatasi kelambanan dan kantuk akan meninggalkan segala alam yang buruk.

 

[31.55] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā narakeṣu pacyate.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di neraka.

 

[31.56] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā tīryakṣu pacyate.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di antara para binatang.

 

[31.57] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā Preteṣu pacyate.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di antara para Preta.

 

[31.58] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

citte tu surakṣite prajā, hy ekatyā manujeṣu modate.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu bergembira diantara para manusia.

 

[31.59] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

citte tu surakṣite prajā, hy ekatyā svargeṣu modate.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu bergembira di alam surga.

 

[31.60] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,

citte tu surakṣite prajā, hy ekatyā Nirvāṇam āpnute.

 

Tentu saja pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah, namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu mencapai Nirvāṇa.

 

 

 

Cittavargaḥ, 31

 

Bab tentang Pikiran, Yang Ketiga Puluh Satu

 

32. Bhikṣuvarga

Bab tentang Bhikṣu

 

(82 Syair)

 

[32.1] Piṇḍacārikāya bhikṣave,

hy ātmabharāya nānyapoṣiṇe,

Devāḥ spṛhayanti tāyine,

hy upaśāntāya sadā smṛtātmane.

 

Seorang Bhikṣu pengumpul derma, menyokong diri sendiri, tidak menyokong orang lain, para Deva iri dengan seseorang demikian, seorang damai yang selalu penuh perhatian pada dirinya sendiri.

 

[32.2] Piṇḍapātikāya bhikṣave,

hy ātmabharāya nānyapoṣiṇe,

Devāḥ spṛhayanti tāyine,

na tu satkārayaśo ’bhikāṅkṣiṇe.

 

Kumpulkanlah derma makan para Bhikṣu, sokonglah diri sendiri, jangan menyokong orang lain, para Deva iri dengan seseorang demikian, namun tidak dengan seseorang yang mencari kehormatan dan ketenaran.

 

[32.3] Sarvakarmajahasya bhikṣuṇo,

dhunvānasya puraskṛtaṁ rajaḥ,

amamasya sadā sthitātmano,

hy artho nāsti janasya lāpanam.

 

Bagi seorang Bhikṣu yang meninggalkan segala perbuatan, yang menyingkirkan debu apa yang telah diselesaikan sebelumnya, yang tidak egois, selalu stabil, berbicara kepada orang-orang bukanlah kebutuhan.

 

[32.4] Tudanti vācābhir asaṁyatā janāḥ,

śarair hi saṁgrāmagataṁ yathā gajam,

śrutvā tu vācāṁ paruṣām udīritām,

adhivāsayed bhikṣur aduṣṭacittaḥ.

 

Orang-orang yang tidak terkendali menyerang dengan kata-kata, seperti mereka menyerang seekor gajah yang pergi ke pertempuran dengan anak panah, namun setelah mendengar bahwa ucapan kasar yang terucapkan, seorang Bhikṣu harus menahankannya dengan pikiran yang tidak rusak.

 

[32.5] Yas tv alpajīvī laghur ātmakāmo,

yatendriyaḥ sarvagatiḥ pramuktaḥ,

anokasārī hy amamo nirāśaḥ,

kāmaṁjahaś, caikacaraḥ – sa bhikṣuḥ.

 

Namun orang yang hidup dengan yang sedikit, ringan, menginginkan kebaikannya sendiri, dengan indera-indera yang terkendali, seseorang terbebas dari segala tujuan, tanpa rumah, tanpa ego, tanpa kerinduan, setelah meninggalkan nafsu indera, hidup menyendiri – orang itu adalah seorang Bhikṣu.

 

[32.6] Mātraṁ bhajeta pratirūpaṁ, śuddhājīvo bhavet sadā,

pratisaṁstāravṛttiḥ syād, ācārakuśalo bhavet,

tataḥ prāmodyabahulaḥ, smṛto bhikṣuḥ parivrajet.

 

Seseorang seharusnya mengikuti ukuran yang sesuai, seseorang seharusnya selalu memiliki penghidupan yang murni, seseorang seharusnya bersikap ramah, seseorang seharusnya terampil dalam perilaku, banyak kebahagiaan karena hal itu, seorang Bhikṣu harus berkelana dengan penuh perhatian.

 

[32.7] Hastasaṁyataḥ pādasaṁyato,

vācāsaṁyataḥ sarvasaṁyataḥ,

ādhyātmarataḥ samāhito,

hy ekaḥ saṁtuṣito: hi yaḥ sa bhikṣuḥ.

 

Seseorang yang terkendali dalam tangan, terkendali dalam kaki, terkendali dalam ucapan, terkendali dalam apapun, bersenang secara internal, tenang, menyendiri, berpuas diri: Orang itulah yang adalah seorang Bhikṣu.

 

[32.8] Dharmārāmo Dharmarato Dharmam evānucintayan,

Dharmaṁ cānusmaraṁ bhikṣur, Dharmān na parihīyate.

 

Menikmati kenikmatan dalam Dharma, bersenang dalam Dharma, merefleksikan hanya pada Dharma, seorang Bhikṣu yang mengingat Dharma, tidak akan terjatuh dari Dharma.

 

[32.9] Śunyāgāraṁ praviṣṭasya, prahitātmasya bhikṣuṇaḥ,

amānuṣā ratir bhavati, samyag dharmāṁ vipaśyataḥ.

 

Bagi seseorang yang telah mamasuki suatu tempat yang kosong, seorang Bhikṣu yang mengerahkan dirinya sendiri, yang memiliki penglihatan benar dalam fenomena, terdapat kenikmatan adimanusiawi.

 

[32.10] Yato yataḥ saṁpṛśati skandhānām udayavyayam,

prāmodyaṁ labhate tatra, prītyā sukham analpakam,

tataḥ prāmodyabahulaḥ, smṛto bhikṣuḥ parivrajet.

 

Bagaimanapun dan kapanpun seseorang sadar atas kemunculan dan kehancuran komponen-komponen jasmani dan batin, seseorang memperoleh kegembiraan di sana, dan melalui sukacita yang bukanlah suatu kebahagiaan kecil, berlimpah dalam sukacita karena hal itu, seorang Bhikṣu haruslah berkelana dengan penuh perhatian.

 

[32.11] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ rāgakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran nafsu ragawi, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.12] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ dveṣakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran kebencian, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.13] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ mohakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran delusi, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.14] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ mānakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran kesombongan, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.15] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ lobhakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran keserakahan, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.16] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,

evaṁ tṛṣṇākṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.

 

Bahkan seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu, melalui penghancuran nafsu, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.

 

[32.17] Yasya saṁnicayo nāsti, yasya nāsti mamāyitam,

asantaṁ śocate naiva, sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Bagi seseorang yang tidak memiliki timbunan, yang tidak menganggap apapun sebagai “milikku”. Yang tidak bersedih pada apa yang tidak eksis, ia tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.18] Bhikṣur na tāvatā bhavati yāvatā bhikṣate parān,

veśmāṁ dharmāṁ samādāya bhikṣur bhavati na tāvatā.

 

Seseorang bukanlah seorang Bhikṣu karena meminta makanan dari orang lain, seseorang juga bukanlah seorang Bhikṣu karena menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah.

 

[32.19] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ ca prahāya, brahmacaryavān,

viśreṇayitvā carati, sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Namun seseorang yang menjalani kehidupan suci yang, meninggalkan baik kebajikan maupun keburukan, yang mengembara dengan bebas dari perkumpulan, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.20] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno Buddhaśāsane,

adhigacchet padaṁ śāntam, asecanakadarśanam.

 

Seorang Bhikṣu yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, dapat mencapai keadaan kedamaian, penglihatan yang tidak rusak.

 

[32.21] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno Buddhaśāsane,

adhigacchet padaṁ śāntam, saṁskāropaśamaṁ sukham.

 

Seorang Bhikṣu yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, dapat mencapai keadaan kedamaian, kebahagiaan dalam penenangan segala yang terkondisi.

 

[32.22] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno Buddhaśāsane,

abhavyaḥ parihāṇāya, Nirvāṇasyaiva so ’ntike.

 

Seorang Bhikṣu yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, tidak dapat terjatuh, orang itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[32.23] Udagracittaḥ sumanā, hy abhibhūya priyāpriyam,

prāmodyabahulo bhikṣur, duḥkhakṣayam avāpnuyāt.

 

Dengan pikiran yang tergugah dan bahagia, setelah mengatasi apa yang dicintai dan tidak dicintai, seorang Bhikṣu, berlimpah dalam kebahagiaan, seharusnya mencapai penghancuran penderitaan.

 

[32.24] Śāntakāyaḥ ⸱ ⸱ ⸱ śāntavāk susamāhitaḥ,

vāntalokāmiṣo bhikṣur upaśānto nirucyate.

 

Tenang dalam jasmani ⸱ ⸱ ⸱ tenang dalam ucapan, benar-benar tenang, setelah menyingkirkan keduniawian, seorang Bhikṣu disebut orang yang tenang.

 

[32.25] Nāsty aprajñasya vai dhyānaṁ, prajñā nādhyāyato ’sti ca,

yasya dhyānaṁ tathā prajñā sa vai Nirvāṇasāntike.

 

Tidak ada konsentrasi (Dhyana) bagi seseorang tanpa kebijaksanaan, dan tidak ada kebijakasanaan bagi seseorang tanpa konsentrasi, orang yang memiliki baik konsentrasi dan kebijaksanaan tentu dekat dengan Nirvāṇa.

 

[32.26] Tasmād dhyānaṁ tathā prajñām anuyujyeta paṇḍitaḥ,

tasyāyam ādir bhavati, tathā prājñasya bhikṣuṇaḥ.

 

Oleh karena itu orang bijaksana harus mengerahkan dirinya pada konsentrasi dan pada kebijaksanaan, inilah yang paling pertama baginya dan bagi seorang Bhikṣu yang bijaksana.

 

[32.27] Saṁtuṣṭir indriyair guptiḥ, prātimokṣe ca saṁvaraḥ,

mātrajñatā ca bhakteṣu, prāntaṁ ca śayanāsanam,

adhicitte samāyogaṁ – yasyāsau bhikṣur ucyate.

 

Kepuasan diri, menjaga indera-indera, pengendalian sehubungan dengan prātimokṣa, mengetahui ukuran benar dalam hal makan, sebuah kediaman terasing, tekun dalam pikiran yang lebih tinggi – bagi orang itu ia disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.28] Yasya kāyena vācā ca manasā ca na duṣkṛtam,

kalyāṇaśīlam āhus taṁ, hrīmantaṁ bhikṣum uttamam.

 

Bagi seseorang yang tidak memiliki perbuatan salah dari jalur jasmani, ucapan dan pikiran, mereka katakan bahwa Bhikṣu itu memiliki moralitas yang indah, memiliki rasa malu (atas perbuatan salah), dan adalah seorang Bhikṣu yang terunggul.

 

[32.29] Dharmāḥ subhāvitā yasya saptasaṁbodhapakṣikāḥ,

kalyāṇadharmam āhus, taṁ sadā bhikṣuṁ samāhitam.

 

Bagi seseorang yang padanya tujuh hal yang mengarah ke Pencerahan sepenuhnya terkembang, mereka katakan bahwa Bhikṣu itu memiliki kualitas yang indah, yang selalu tenang.

 

[32.30] Ihaiva yaḥ prajānāti duḥkhasya kṣayam ātmanaḥ,

kalyāṇaprajñam āhus taṁ, sadā śīlam anāsravam.

 

Seseorang yang mengetahui bahgi dirinya sendiri kehancuran penderitaan di sini, mereka katakan bahwa orang itu memiliki kebijaksanaan yang indah, selalu bermoral, tanpa kekotoran.

 

[32.31–32.32] Na śīlavratamātreṇa, bahuśrutyena vā punaḥ,

tathā samādhilābhena viviktaśayanena vā –

bhikṣur viśvāsam āpadyed aprāpte hy āsravakṣaye,

spṛśet tu Saṁbodhisukham, akāpuruṣasevitam.

 

Bukan melalui moralitas atau sumpah semata, atau juga melalui banyak belajar, atau melalui pencapaian konsentrasi, atau melalui rencana berdiam – seorang Bhikṣu seharusnya tidak merasa yakin ketika penghancuran kekotoran belum tercapai, namun ia seharusnya mengalami kebahagiaan Pencerahan Sempurna, yang tidak dipraktekkan oleh orang jahat.

 

[32.33] Tāpajāto hy ayaṁ lokaḥ skandhā nātmeti manyate,

manyate yena yenāhaṁ, tat tad bhavati cānyathā.

 

Dunia ini, terlahir dari penyiksaan, tidak menganggap komponen batin dan jasmani sebagai bukan diri, dengan apapun seseorang menganggapnya sebagai Aku, hal itulah yang menjadi orang lain.

 

[32.34] Loko ’yam anyathābhūto, bhavasakto, bhave rataḥ,

bhavābhinandī satataṁ, bhavān na parimucyate.

 

Dunia ini, menjadi orang lain, melekat pada kemenjadian, memiliki kesenangan dalam kemenjadian, selalu gembira dalam kemenjadian, (dunia) ini tidak sepenuhnya terbebas dari kemenjadian.

 

[32.35] Yan nandate sa hi bhavo, duḥkhasya sa bibheti ca,

uṣyate bhavahānāya brahmacaryaṁ mamāntike.

 

Kemenjadian apapun yang disenangi seseorang, ia takut akan penderitaan, kehidupan suci dijalankan dihadapanku demi penghancuran kemenjadian.

 

[32.36] Ye bhavena bhavasyaiva prāhur niḥsaraṇaṁ sadā,

aniḥsṛtāṁ bhavā sarvāṁs tāṁ vadāmi sadā-v-aham.

 

Terdapat mereka yang selalu mengatakan bahwa jalan keluar dari kemenjadian adalah melalui kemenjadian, namun Aku selalu mengatakan mereka tidak terbebas dari segala kemenjadian.

 

[32.37] Pratītya duḥkham upadhiṁ bhavaty – upadhisaṁbhavam,

kṣayāt sarvopadhīnāṁ tu nāsti duḥkhasya saṁbhavaḥ.

 

Dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penderitaan – berawal mula dari kemelekatan, melalui penghancuran segala kemelekatan tidak terdapat awal mula penderitaan.

 

[32.38] Anityā hi bhavāḥ sarve duḥkhā vipariṇāminaḥ,

paśyataḥ prajñayā, sarve kṣīyante nābhinanditāḥ.

 

Segala kemenjadian adalah tidak kekal, penderitaan, dapat berubah, bagi seseorang yang melihat ini dengan kebijaksanaan, mereka semua dihancurkan dan tidak disenangi.

 

[32.39] Nirvṛtasya sadā bhikṣor, āyatyām upaśāmyate,

abhibhūto bhavaḥ sarvo, duḥkhāntaḥ sa nirucyate.

 

Bagi seorang Bhikṣu yang selalu terbebas, bagi ia yang kemenjadian di masa depannya telah berhenti, setelah mengatasi segala kemenjadian, itulah yang disebut akhir penderitaan.

 

[32.40] Sadopaśāntacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau Mārabandhanāt.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya selalu damai, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.

 

[32.41] Sadopaśāntacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya selalu damai, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.

 

[32.42] Anavasrutacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau Mārabandhanāt.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya terbebas dari nafsu, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.

 

[32.43] Anavasrutacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya terbebas dari nafsu, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.

 

[32.44] Vikṣīnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau Mārabandhanāt.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya telah sepenuhnya menghancurkan nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.

 

[32.45] Vikṣīnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.

 

Bagi Bhikṣu yang pikirannya telah sepenuhnya menghancurkan nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.

 

[32.46] Ucchinnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau Mārabandhanāt.

 

Bagi Bhikṣu yang telah memotong nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.

 

[32.47] Ucchinnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,

vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.

 

Bagi Bhikṣu yang telah memotong nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.

 

[32.48] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca rāgakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya nafsu ragawi, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.49] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca dveṣakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya kebencian, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.50] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca mohakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya delusi, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.51] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca mānakṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya kesombongan, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.52] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca lobhakṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya keserakahan, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.53] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,

yaś ca tṛṣṇākṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur nirucyate.

 

Seseorang yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai hancurnya nafsu, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.

 

[32.54] Yena jitā grāmakaṇṭakā,

hy ākrośāś ca vadhāś ca bandhanaṁ ca,

yaḥ parvatavat sthito hy aneyaḥ,

sukhaduḥkhena na vethate sa bhikṣuḥ

 

Seseorang yang, dengan menjadi pemenang atas duri keduniawian, pelecehan, pembunuhan, dan belenggu lainnya, orang yang berdiri tegak tanpa bergerak seperti sebuah gunung, Bhikṣu itu tidak terguncang dengan kenikmatan dan kesakitan.

 

[32.55] Yo nātyasaraṁ na cātyalīyaṁ,

jñātvā vitatham imaṁ hi sarvalokam,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Seseorang yang tidak berlebihan juga menahan diri, mengetahui seluruh dunia ini adalah palsu, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.56] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong nafsu ragawi sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.57] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong kebencian sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.58] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong delusi sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.59] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong kesombongan sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.60] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong keserakahan sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.61] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,

bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong nafsu sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.62] Yas tūtpatitaṁ nihanti rāgaṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan nafsu ragawi yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.63] Yas tūtpatitaṁ nihanti dveṣaṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan kebencian yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.64] Yas tūtpatitaṁ nihanti mohaṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan delusi yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.65] Yas tūtpatitaṁ nihanti mānaṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan kesombongan yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.66] Yas tūtpatitaṁ nihanti lobhaṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan keserakahan yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.67] Yas tūtpatitaṁ nihanti tṛṣṇāṁ,

visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang menghancurkan nafsu yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.68] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya nafsu ragawi, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.69] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya kebencian, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.70] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya delusi, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.71] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya kesombongan, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.72] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya keserakahan, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.73] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,

naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong sepenuhnya nafsu, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.74] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,

saritāṁ śīghrajavām aśoṣayajñaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang memotong nafsu sepenuhnya, orang berpengetahuan yang mengeringkan arus yang mengalir deras, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.75] Yaḥ kāmaguṇāṁ prahāya sarvāṁ,

chitvā kāmagatāni bandhanāni,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang meninggalkan segala untaian nafsu indera, setelah memotong belenggu yang mengarah ke nafsu indera, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.76] Yo nīrvaraṇāṁ prahāya pañca,

tv anighaś chinnakathaṁkatho viśalyaḥ,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang meninggalkan lima rintangan batin, tanpa gangguan, yang telah memutus keragu-raguan, dan tanpa anak panah, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.77] Yasya vitarkā vidhūpitās,

tv ādhyātmaṁ vinivartitā hy aśeṣam,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Bagi orang yang menghalau pemikiran-pemikirannya, yang telah sepenuhnya berbalik secara internal, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.78] Yasya hi vanasā na santi ke cin,

mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang tanpa keinginan terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah hancur, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.79] Yasya jvarathā na santi ke cin,

mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang tanpa demam terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah hancur, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.80] Yasyānuśayā na santi ke cin,

mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,

sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,

hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.

 

Orang yang tanpa kecenderungan tersembunyi terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah hancur, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.

 

[32.81] Sa bhikṣur yasya śīlāni, sa dhyāyī yatra śunyatā,

sa yogī yatra sātatyaṁ, tat sukhaṁ yatra nirvṛtiḥ.

 

Orang itu adalah seorang Bhikṣu yang memiliki moralitas, orang itu adalah seorang meditator di mana terdapat kekosongan, orang itu adalah seorang Yogi di mana terdapat upaya, terdapat kebahagiaaan di mana terdapat pembebasan.

 

 

 

Bhikṣuvargaḥ, 32

 

Bab tentang Bhikṣu, yang Ketiga Puluh Dua

 

33. Brāhmaṇavarga

Bab tentang Brāhmaṇa

 

(98 Syair)

 

[33.1] Na nagnacaryā, na jaṭā, na paṅkā,

no ’nāśanaṁ sthaṇḍilaśāyikā vā,

na rajomalaṁ notkuṭukapradhāṇaṁ,

śodheta martyaṁ hy avitīrṇakāṅkṣam.

 

Bukan dengan berjalan telanjang, atau berambut gimbal, atau dengan lumpur, tidak berpuasa, atau dengan berbaring pada dasar berbatu, tidak debu atau tanah, tidak berupaya dalam posisi berjongkok, dapat memurnikan suatu makhluk yang tidak menyeberangi keragu-raguan.

 

[33.2] Alaṁkṛtaś cāpi, careta dharmaṁ, k

ṣānto dānto niyato brahmacārī,

sarveṣu bhūteṣu nidhāya daṇḍaṁ,

sa Brahmaṇaḥ sa śramaṇaḥ sa bhikṣuḥ.

 

Bahkan jika dihias, seseorang harus hidup dengan benar, menjadi sabar, terlatih, terkendali, spiritual, setelah mengesampingkan tongkat terhadap semua makhluk, ia adalah seorang Brāhmaṇa, ia adalah seorang Śramaṇa, ia adalah seorang Bhikṣu.

 

[33.3] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,

antareṇa viṣīdanti, hy aprāpyaivāsravakṣayam.

 

Beberapa Śramaṇa dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, mereka menjadi putus asa di pertengahan jalan, tidak mencapai penghancuran kekotoran.

 

[33.4] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,

vigṛhya vivadantīme bālā hy ekāntadarśinaḥ.

 

Beberapa Śramaṇa dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, setelah menggenggam dengan erat, perselisihan ini, mereka orang-orang dungu yang melihat hanya dari satu sisi.

 

[33.5] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,

antareṇa viṣīdanti, hy aprāpyaivottamaṁ padam.

 

Beberapa Śramaṇa dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, mereka menjadi putus asa di pertengahan jalan, tidak mencapai kondisi tertinggi.

 

[33.6] Kiṁ te jaṭābhir durbuddhe, kiṁ cāpy ajinaśāṭibhiḥ?

Abhyantaraṁ te gahanaṁ, bāhyakaṁ parimārjasi.

 

Mengapa engkau membuat rambutmu gimbal, orang dungu, dan mengapa mengenakan kulit rusa? Didalammu terdapat sebuah rimba, engkau hanya memoles yang diluar.

 

[33.6A] Kiṁ te jaṭābhir durbuddhe kiṁ cāpy ajinaśāṭibhiḥ?

Abhyantaraṁ te kaluṣaṁ, bāhyakaṁ parimārjasi.

 

Mengapa engkau membuat rambutmu gimbal, orang dungu, dan mengapa mengenakan kulit rusa? Didalammu tidaklah murni, engkau hanya memoles yang diluar.

 

[33.7] Na jaṭābhir na gotreṇa na jātyā Brāhmaṇaḥ smṛtaḥ,

yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, sa śucir Brāhmaṇaḥ sa ca.

 

Bukan karena rambut gimbal, keluarga atau kasta seseorang diingat sebagai seorang Brāhmaṇa sejati, yang padanya terdapat kebenaran dan Dharma, orang itu murni, dan orang itu adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.8] Na jaṭābhir na gotreṇa na jātyā Brāhmaṇaḥ smṛtaḥ,

yas tu vāhayate pāpāny, aṇusthūlāni sarvaśaḥ –

vāhitatvāt tu pāpānāṁ, Brāhmaṇo vai nirucyate.

 

Bukan karena rambut gimbal, keluarga atau kasta seseorang diingat sebagai seorang Brāhmaṇa sejati, orang yang mengendalikan perbuatan jahat, kecil atau besar, dalam segala cara – karena mengendalikan perbuatan jahat, orang itu sesungguhnya adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.9] Na muṇḍitena śramaṇo, na Bhoḥkāreṇa Brāhmaṇaḥ,

yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, Brāhmaṇaḥ śramaṇaḥ sa ca.

 

Bukan dengan kepala tercukur seseorang adalah seorang Śramaṇa, bukan dengan mengatakan ‘Bho’ seseorang adalah seorang Brāhmaṇa, bagi orang yang memiliki kebenaran dan Dharma, orang itu adalah seorang Brāhmaṇa dan seorang Śramaṇa.

 

[33.10] Na muṇḍitena śramaṇo, na Bhoḥkāreṇa Brāhmaṇaḥ,

yas tu vāhayate pāpāny, aṇusthūlāni sarvaśaḥ –

vāhitatvāt tu pāpānāṁ Brāhmaṇaḥ śramaṇaḥ sa ca.

 

Bukan dengan kepala tercukur seseorang adalah seorang Śramaṇa, bukan dengan mengatakan ‘Bho’ seseorang adalah seorang Brāhmaṇa, orang yang mengendalikan perbuatan jahat, kecil dan besar, dalam segala cara – karena mengendalikan perbuatan jahat, orang itu adalah seorang Brāhmaṇa dan seorang Śramaṇa.

 

[33.11] Nodakena śucir bhavati – bahv atra snāti vai janaḥ!

Yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, sa śucir Brāhmaṇaḥ sa ca.

 

Bukan dengan melalui air terdapat kemurnian – banyak orang berendam di sini! Yang padanya terdapat kebenaran dan Dharma, orang itu adalah murni, dan orang itu adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.12] Pravāhya pāpakāṁ dharmāṁ, ye caranti sadā smṛtāḥ,

kṣīṇasaṁyojanā Buddhā, Brāhmaṇās te prakīrtitāḥ.

 

Mereka yang, dengan menyingkirkan pikiran jahat, selalu hidup berkesadaran, Para Tercerahkan yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka disebut para Brāhmaṇa.

 

[33.13] Yo Brāhmaṇo vāhitapāpadharmo,

niṣkautilyo niṣkaṣāyaḥ sthitātmā,

vedāntagaś coṣitabrahmacaryaḥ,

kālenāsau brahmavādaṁ vadeta.

 

Brāhmaṇa itu yang mengendalikan pikiran jahat, tidak berbohong, terbebas dari cela, stabil, dengan pemahaman yang sempurna, kehidupan suci telah selesai, ketika di waktu yang tepat orang itu dapat mengucapkan suatu kata tentang spiritualitas.

 

[33.14] Yasmiṁ na māyā vasate na māno,

yo vītalobho hy amamo nirāśaḥ,

praṇunnadoṣo hy abhinirvṛtātmā,

sa brāhmaṇaḥ sa śramaṇaḥ sa bhikṣuḥ.

 

Yang berdiam tanpa menipu dan tanpa kesombongan, orang yang terbebas dari nafsu, tidak egois, tanpa kerinduan, yang telah menyingkirkan cela, ia yang sepenuhnya terbebaskan dengan dirinya sendiri, orang itu adalah seorang Brāhmaṇa, orang itu adalah seorang Śramaṇa, orang itu adalah seorang Bhikṣu.

 

[33.15] Bravīmi Brāhmaṇaṁ nāhaṁ yonijaṁ mātṛsaṁbhavam,

Bhovādī nāma sa bhavati sa ced bhavati sakiñcanaḥ,

akiñcanam anādānaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Aku tidak menyatakan seseorang sebagai Brāhmaṇa melalui kelahiran dari rahim ibu tertentu, orang itu hanyalah seseorang yang mengatakan ‘Bho’ jika ia memiliki sesuatu, tidak memiliki apapun, tidak melekat, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.16] Yasya kāyena vācā ca manasā ca na duṣkṛtam,

susaṁvṛtaṁ tṛbhiḥ sthānair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang tidak melakukan perbuatan salah dengan jasmani, dengan ucapan, atau dengan pikiran, terkendali dengan baik dalam tiga hal ini, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.17] Yo ’karkaśāṁ vijñapanīṁ giraṁ nityaṁ prabhāṣate,

yayā nābhiṣajet kaś cid, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang selalu mengucapkan ucapan yang instruktif dan tidak kasar, yang dengannya tidak ada satupun yang tersinggung, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.18] Ākrośāṁ vadhabandhāṁś ca yo ’praduṣṭas titīkṣate,

kṣāntivratabalopetaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang tidak rusak dan menahankan ucapan kasar, hukuman, dan belenggu, dan diberkahi dengan kekuatan tekad kesabaran, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.19] Akrodhanaṁ vratavantaṁ śīlavantaṁ bahuśrutam,

dāntam antimaśārīraṁ – bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Tanpa kemarahan, tekun, bermoral, terpelajar, terlatih, dalam tubuh terakhirnya – orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.20] Asaṁsṛṣṭaṁ gṛhasthebhir, anagārais tathobhayam,

anokasāriṇaṁ tuṣṭaṁ – bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Tidak berbaur baik dengan perumah tangga atau dengan yang tanpa rumah, berkelana tanpa rumah, berpuas diri – orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.21] Āgataṁ nābhinandanti, prakramantaṁ na śocati,

saṅgāt Saṁgrāmajin mukto, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Mereka tidak bersenang pada apa yang datang, ia tidak bersedih ketika seseorang pergi, Saṅgrāmajī (pemenang pertempuran), terbebas dari kemelekatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.22] Āgataṁ nābhinandanti, prakramantaṁ na śocati,

aśokaṁ virajaṁ śāntaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Mereka tidak bersenang pada apa yang datang, ia tidak bersedih ketika seseorang pergi, tanpa kesedihan, tanpa noda, damai, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.23] Ananyapoṣī hy ājñātā dāntaḥ sāre pratiṣṭitaḥ,

kṣīṇāsravo vāntadoṣo yaḥ, sa vai Brāhmaṇaḥ smṛtaḥ.

 

Tidak mendukung yang lain, berpengetahuan, terlatih, teguh dalam yang esensial, orang itu yang menghancurkan kekotoran, setelah menyingkirkan cela, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.24] Yasya pāram apāraṁ ca pārāpāraṁ na vidyate,

pāragaṁ sarvadharmāṇāṁ, bravīmi brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Baginya pantai seberang, pantai sini atau keduanya tidak eksis, yang telah pergi melampaui segala kondisi, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.25] Yas tu dīrghaṁ tathā hrasvam aṇusthūlaṁ śubhāśubham,

loke na kiṁ cid ādatte, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Panjang, pendek, kecil, besar, menarik atau tidak menarik, apapun di dunia tidak ada yang digenggam, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.26] Yasya pāram apāraṁ ca pārāpāraṁ na vidyate,

asaktaṁ triṣu lokeṣu, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Baginya pantai seberang, pantai sini atau keduanya tidak eksis, tidak melekat dalam tiga alam, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.27] Ihaiva yaḥ prajānāti duḥkhasya kṣayam ātmanaḥ,

vītarāgaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang bahkan mengetahui di sini penghancuran penderitaannya sendiri, tanpa nafsu, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.28] Yas tu puṇyais tathā pāpair ubhayena na lipyate,

aśokaṁ nirjvaraṁ śāntaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang tidak terkotori baik oleh kebajikan maupun keburukan, tanpa kesedihan, tanpa demam, damai, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.29] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ cāpy ubhau saṅgāv upatyagāt,

saṅgātigaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang telah meninggalkan kemelekatan baik pada kebajikan dan keburukan, mengatasi kemelekatan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.29A] Yasya paścāt pure cāpi madhye cāpi na vidyate,

virajaṁ bandhanān muktaṁ,

bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Yang padanya masa lalu, masa depan, dan saat ini tidak ditemukan, tanpa noda, terbebas dari belenggu, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.30] Vāri puṣkarapatreṇevārāgreṇeva sarṣapaḥ,

na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti air dengan selembar daun teratai, seperti sebutir biji mustard dengan sebuah jarum, orang yang tidak tidak terkotori dengan nafsu inderawi, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.31] Vāri puṣkarapatreṇevārāgreṇeva sarṣapaḥ,

na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti air dengan selembar daun teratai, seperti sebutir biji mustard dengan sebuah jarum, orang yang tidak tidak terkotori dengan kejahatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.31A] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy anāvilaḥ,

na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang tidak terkotori dengan nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.31B] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy anāvilaḥ,

na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang tidak terkotori dengan kejahatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.31C] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy anāvilaḥ,

nandībhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang menghancurkan kebahagiaan dalam kemenjadian, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.32] Dhyāyinaṁ vītarajasaṁ kṛtakṛtyam anāsravam,

kṣīṇāsravaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seorang meditator yang tanpa debu, yang telah menyelesaikan tugasnya, yang tanpa kekotoran, dengan kekotoran dihancurkan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.33] Gambhīrabuddhiṁ medhāḍhyam, mārgāmārgeṣu kovidam,

uttamārtham anuprāptaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang menyelidiki secara mendalam dan kaya dalam kecerdasan, terampil dalam apa yang merupakan Jalan dan bukan jalan, yang telah mencapai tujuan tertinggi, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.34] Yas tu kaś cin manuṣyeṣu bhaikṣācaryeṇa jīvati,

amamo ’hiṁsako nityaṁ, dhṛtimāṁ brahmacaryavān,

ājñāya Dharmaṁ deśayati, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Namun siapapun yang hidup diantara manusia dengan mencari derma makanan, selalu tidak egois, tanpa kekerasan, tekun, menjalani kehidupan suci, yang, setelah memahami, mengajarkan Dharma, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.35] Sarvakāmāṁ viprahāya yo ’nagāraḥ parivrajet,

kāmāsravavisaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang, setelah meninggalkan segala nafsu indera, akan mengembara tanpa rumah, terlepas dari kekotoran nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.36] Nikṣiptadaṇḍaṁ bhūteṣu traseṣu sthāvareṣu ca,

yo na hanti hi bhūtāni, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Stelah meletakkan tongkat yang digunakan terhadap makhluk-makhluk yang bergerak dan tidak bergerak, orang yang tidak melukai makhluk-makhluk, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.37] Ākāśam iva paṅkena, rajasā candramā iva,

na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang tidak terkotori oleh nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.38] Ākāśam iva paṅkena rajasā candramā iva,

na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang tidak terkotori oleh kejahatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.38A] Ākāśam iva paṅkena rajasā candramā iva,

nandībhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seperti cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang telah menghancurkan kebahagiaan dalam kemenjadian, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.39] Aviruddho viruddheṣu, tv āttadaṇḍeṣu nirvṛtaḥ,

hitānukampī bhūteṣu, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Tanpa permusuhan diantara yang bermusuhan, yang tenang diantara mereka yang memegang sebilah tongkat, berbelas-kasihan demi manfaat makhluk hidup, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.40] Yasya rāgaś ca doṣaś ca māno mrakṣaś ca śātitaḥ,

na lipyate yaś ca doṣair, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang telah melenyapkan nafsu ragawi, kebencian, kesombongan dan tipu daya, orang yang tidak terkotori oleh cela, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.41] Ya imāṁ parikhāṁ durgāṁ saṁsāraugham upatyagāt,

tīrṇaḥ pāragato dhyāyī, hy aneyo niṣkathaṁkathaḥ,

nirvṛtaś cānupādāya, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang telah meninggalkan rintangan ini, yang sulit untuk diseberangi, banjir transmigrasi, yang menyeberang, pergi ke pantai seberang, sang meditator, bebas dari nafsu dan keraguan, terbebas dan tanpa melekat, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.42] Na vidyate yasya tṛṣṇā cāsmiṁ loke pare ’pi ca,

tṛṣṇābhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang padanya nafsu pada dunia ini dan selanjutnya tidak ditemukan, bagi mereka yang nafsu pada kemenjadian telah dihancurkan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.43] Na vidyate yasya cāśā hy asmiṁ loke pare ’pi ca,

nirāśiṣaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang padanya kerinduan pada dunia ini dan selanjutnya tidak ditemukan, dengan tanpa kerinduan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.44] Hitvā ratiṁ cāratiṁ ca śītībhūto niraupadhiḥ,

sarvalokābhibhūr dhīro, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Meninggalkan kenikmatan dan bukan kenikmatan, dingin dan terbebas dari kemelekatan, orang tekun yang mengatasi seluruh dunia, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.45] Hitvā mānuṣyakāṁ kāmāṁ, divyāṁ kāmān upatyagāt,

sarvalokavisaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Meninggalkan kenikmatan indera manusia, meninggalkan kenikmatan indera surgawi, dengan terlepas pada seluruh dunia, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.46] Gatiṁ yasya na jānanti, Devagandharvamānuṣāḥ,

anantajñānasaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang tujuannya tidak diketahui para Deva, Gandharva, dan manusia – Yang diberkahi dengan pengetahuan tiada akhir, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.47] Pūrvenivāsaṁ yo vetti, svargāpāyāṁś ca paśyati,

atha jātikṣayaṁ prāpto, hy abhijñāvyavasito muniḥ,

duḥkhasyāntaṁ prajānāti, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang mengetahui kehidupan lampaunya, serta melihat surga dan kejatuhan, dan telah mencapai penghancuran kelahiran, orang bijaksana, berhasil dalam pengetahuan yang lebih luhur, yang mengetahui akhir penderitaan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.48] Cyutiṁ yo vetti satvānām upapattiṁ ca sarvaśaḥ,

asaktaḥ sugato buddho, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang mengetahui dalam segala cara kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk, tanpa kemelekatan, bahagia dan sadar, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.49] Sarvasaṁyojanātīto yo vai na paritasyate,

asaktaḥ sugato buddho, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Orang yang telah pergi melampaui segala belenggu tentulah tidak gemetar, tanpa kemelekatan, bahagia dan sadar, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.50.i] Ṛṣabhaṁ pravaraṁ nāgaṁ, maharṣiṁ vijitāvinam,

aneyaṁ snātakaṁ buddhaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Seorang pemimpin, seorang Mulia, seorang besar, seorang penglihat, seorang pemenang, bebas dari nafsu indera, suci dan tercerahkan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.50.ii] Ṛṣabhaḥ pravaro nāgo, maharṣir vijitāvinaḥ,

yo ’neyaḥ snātako buddho, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy aham.

 

Seorang pemimpin, seorang Mulia, seorang besar, seorang penglihat, seorang pemenang, seorang bebas dari nafsu indera, suci dan tercerahkan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.51.i] Sarvābhibhūṁ bhavātītam, oghatīrṇam anāsravam,

pāraṁ gataṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Penakluk segalanya, melampaui kemenjadian, setelah menyeberangi banjir, tanpa kekotoran, pergi melampaui, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.51.ii] Sarvābhibhūr bhavātīta, oghatīrṇo vināyakaḥ,

pārago hi visaṁyukto, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy aham.

 

Penakluk segalanya, melampaui kemenjadian, setelah menyeberangi banjir, seorang pemandu, telah pergi menuju pantai seberang, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.52.i] Gatābhidhyaṁ vītajalpaṁ, pāpacittavivarjitam,

dhyāyinaṁ vītarajasaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Dengan ketamakan dihilangkan, terbebas dari gosip, yang menyingkirkan pikiran jahat, seorang meditator yang tanpa debu, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.52.ii] Nābhidhyāyen nābhijalpet pāpakānāṁ vivarjayet,

āsīno virajā dhyāyī, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy aham.

 

Seseorang seharusnya tidak memiliki ketamakan, tidak mengucapkan gosip, menghindari kejahatan, seorang meditator duduk bermeditasi, tanpa noda, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.53.i] Pāṁsukūladharaṁ bhikṣuṁ, kāmeṣu niravekṣiṇaṁ,

dhyāyantaṁ vṛkṣamūlasthaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bhikṣu itu yang memakai kain buangan, tidak mencari objek nafsu indera, yang duduk bermeditasi di akar sebatang pohon, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.53.ii] Pāṁsukūladharo hrīmāṁ, kāmeṣu niravekṣakaḥ,

niṣaṇṇo vṛkṣamūle yo, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy aham.

 

Orang yang memiliki rasa malu yang mengenakan kain buangan, tidak memperhatikan nafsu indera, orang yang duduk di akar sebatang pohon, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.54] Yasyālayo nāsti sadā, yo jñātā niṣkathaṁkathaḥ,

amṛtaṁ caiva yaḥ prāpto, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang tidak pernah memiliki kemelekatan, yang, mengetahui, tanpa keraguan, yang tentu telah mencapai tanpa kematian, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.55.i] Yasyālayo nāsti sadā, yo jñātā niṣkathaṁkathaḥ,

dūraṁgamaś caikacaro, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Bagi seseorang yang tidak pernah memiliki kemelekatan, yang, mengetahui, tanpa keraguan, yang tentu telah berkelana jauh dan hidup menyendiri, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.55.ii] Dūraṁgamam ekacaram aśarīraṁ guhāśayam,

durdamaṁ ye damiṣyanti tenai ⸱ kasya Brāhmaṇam,

. . . . . . . . u . . . . . . . . . Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy aham.

 

Berkelana jauh, hidup menyendiri, tanpa jasmani, tersembunyi, mereka yang akan melatih apa yang sulit untuk dilatih, dengannya Brāhmaṇa, . . . . . . . . . . . . . . . . . . orang itu Aku katakan adalah Brāhmaṇa.

 

[33.56] Yeṣāṁ ca bhāvito mārgaḥ āryo hy aṣṭāṅgikaḥ śivaḥ

sarvaduḥkhaprahāṇāya, lokeṣu Brāhmaṇā hi te.

 

Dan bagi mereka yang telah mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan untuk meninggalkan segala penderitaan, mereka tentu adalah para Brāhmaṇa di dunia.

 

[33.57.i] Arūpiṇaṁ sadā cittam asāram anidarśanam,

damayitvā hy abhijñāya, ye caranti sadā smṛtāḥ,

kṣīṇasaṁyojanā Buddhā, lokeṣu Brāhmaṇā hi te.

 

Pikiran selalu tanpa bentuk, tanpa esensi, tanpa wujud, mereka yang, melatihnya, dengan mendalam mengetahuinya, selalu hidup dengan penuh perhatian, yang Tercerahkan yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka tentu adalah para Brāhmaṇa di dunia.

 

[33.57.ii] Arūpam anidarśanam, anantam asudarśanam,

sūkṣmaṁ padam abhijñāya, ye caranti sadā smṛtāḥ,

kṣīṇasaṁyojanā Buddhās, te loke Brāhmaṇā iha.

 

Tanpa bentuk, tanpa wujud, tanpa akhir, tidak mudah untuk dilihat, mereka yang, dengan mengetahui kondisi yang halus secara mendalam, selalu hidup dengan penuh perhatian, yang Tercerahkan yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka adalah para Brāhmaṇa di dunia ini.

 

[33.58.i] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ca, saṁtānaṁ duratikramam,

utkṣiptaparikhaṁ Buddhaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Setelah memotong tali pijak dan tali kekang, keberlanjutan yang sulit untuk diatasi, yang Tercerahkan yang telah melenyapkan parit, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.58.ii] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ, ye saṁtānaṁ duratikramam,

utkṣiptaparikhā Buddhās, te loke Brāhmaṇā iha.

 

Mereka yang telah memotong tali pijak, tali kekang, keberlanjutan yang sulit untuk diatasi, mereka yang Tercerahkan yang telah melenyapkan parit, mereka adalah para Brāhmaṇa di dunia ini.

 

[33.59.i] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ca, icchālobhaṁ ca pāpakam,

tṛṣṇāṁ samūlām āvṛhya, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.

 

Mereka yang telah memotong tali pijak, tali kekang, keinginan, keserakahan dan kejahatan, setelah mencabut nafsu dengan akarnya, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.

 

[33.59.ii] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ye icchālobhaṁ ca pāpakam,

samūlāṁ coddhṛtās tṛṣṇāṁ, te loke Brāhmaṇā iha.

 

Mereka yang telah memotong tali pijak, tali kekang, keinginan, keserakahan dan kejahatan, setelah menghilangkan akar nafsu, mereka adalah para Brāhmaṇa di dunia ini.

 

[33.60.i] Chindhi srotaḥ parākramya, kāmāṁ praṇuda Brāhmaṇa,

saṁskārāṇāṁ kṣayaṁ jñātvā, hy akṛtajño bhaviṣyasi.

 

Setelah berusaha, memotong arus, engkau harus menghilangkan nafsu indera, Brāhmaṇa, dengan mengetahui kehancuran segala yang berkondisi, tentu engkau akan menjadi seseorang yang mengetahui yang tak terbentuk.

 

[33.60.ii] Chindhi srotaḥ parākramya, kāmāṁ sarvāṁ praṇuda ca,

saṁskārāṇāṁ kṣayaṁ jñātvā, Brāhmaṇo yāti hānighaḥ.

 

Setelah berusaha, memotong arus, engkau harus menghilangkan semua nafsu indera, dengan mengetahui kehancuran segala yang berkondisi, Brāhmaṇa itu mencapai penghancuran kejatuhan.

 

[33.61] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā, rājānaṁ dvau ca śrotiyau,

rāṣṭraṁ sānucaraṁ hatvā, anigho yāti Brāhmaṇaḥ.

 

Setelah menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, setelah menghancurkan sebuah kerajaan dengan para pengikutnya, sang Brāhmaṇa pergi tanpa gangguan.

 

Komentar Pāḷi mengintepretasikan makna syair ini: Menghancurkan nafsu dan kesombongan ‘Aku’ dan dua ekstrim: keabadian dan pemusnahan, menghancurkan kenikmatan indera dalam dua belas bidang indera, seseorang yang tanpa kekotoran berjalan tanpa gangguan.

 

[33.62] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā rājānaṁ dvau ca śrotiyau,

vyāghraṁ ca pañcamaṁ hatvā, śuddha ity ucyate naraḥ.

 

Setelah menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, setelah menghancurkan seekor macan sebagai yang kelima, orang demikian disebut murni.

 

Komentar Pāḷi yang pararel mengintepretasikan makna syair ini: Menghancurkan nafsu dan kesombongan ‘Aku’ dan dua ekstrim: keabadian dan pemusnahan, menghancurkan lima rintangan dengan keraguan sebagai yang kelima, seseorang yang tanpa kekotoran berjalan tanpa gangguan.

 

[33.63] Na Brāhmaṇasya praharen, na ca muñceta Brāhmaṇaḥ,

dhig Brāhmaṇasya hantāraṁ, dhik taṁ yaś ca pramuñcati.

 

Seorang Brāhmaṇa seharusnya tidak memukul seorang Brāhmaṇa, dan juga seharusnya seorang Brāhmaṇa tidak melepaskan kemarahan, sungguh memalukan ia  yang memukul seorang Brāhmaṇa, sungguh memalukan siapapun yang melepaskan kemarahannya.

 

[33.64] Yasya Dharmaṁ vijānīyād, vṛddasya daharasya vā,

satkṛtyainaṁ namasyeta, hy agnihotram iva dvijaḥ.

 

Pada siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma, apakah tua atau muda, dengan hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua kalinya saat pengorbanan api.

 

[33.65] Yasya Dharmaṁ vijānīyād, vṛddasya daharasya vā,

satkṛtyainaṁ paricared, agnihotram iva dvijaḥ.

 

Pada siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma, apakah tua atau muda, dengan hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua kalinya saat pengorbanan api.

 

[33.66] Yasya Dharmaṁ vijānīyāt Samyaksaṁbuddhadeśitam,

satkṛtyainaṁ namasyeta, hy agnihotram iva dvijaḥ.

 

Pada siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma yang diajarkan oleh seorang Samyaksaṁbuddha, dengan hormat engkau harus menghormatinya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua kalinya saat pengorbanan api.

 

[33.67] Yasya Dharmaṁ vijānīyāt Samyaksaṁbuddhadeśitam,

satkṛtyainaṁ paricared, agnihotram iva dvijaḥ.

 

Pada siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma yang diajarkan oleh seorang Samyaksaṁbuddha, dengan hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua kalinya saat pengorbanan api.

 

[33.68] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

atha caikaḥ piśācīṁ ca bakkulaṁ cātivartate.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka ia sendiri yang melampaui hantu wanita (piśācī) ini dan suara kebingungan.

 

[33.69] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

athāsya vedanāḥ sarve astaṁ gacchanti paśyataḥ.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka bagi seseorang yang melihat hal ini, segala perasaan mereda.

 

[33.70] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

athāsya pratyayāḥ sarve astaṁ gacchanti paśyataḥ.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka bagi seseorang yang melihat hal ini segala kondisi mereda.

 

[33.71] Yadā hi sveṣu Dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

athāsya cāsravāḥ sarve astaṁ gacchanti paśyataḥ.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka bagi seseorang yang melihat hal ini segala kekotoran mereda.

 

[33.72] Yadā hi sveṣu Dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

athāsya sarvasaṁyogā astaṁ gacchanti paśyataḥ.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka bagi seseorang yang melihat hal ini segala belenggu mereda.

 

[33.73] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago bhavet,

atha jātijarāṁ caiva maraṇaṁ cātivartate.

 

Ketika seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka ia melampaui kelahiran, usia tua dan kematian.

 

[33.74] Divā tapati hādityo, rātrāv ābhāti candramāḥ,

saṁnaddhaḥ kṣatriyas tapati, dhyāyī tapati Brāhmaṇaḥ,

atha nityam ahorātraṁ Buddhas tapati tejasā.

 

Matahari bersinar di siang hari, rembulan bersinar saat malam, Kṣatriya yang bersenjata lengkap tampak bersinar, Brāhmaṇa yang bermeditasi tampak bersinar, juga Sang Buddha dengan kekuatan-Nya selalu bersinar siang dan malam.

 

[33.75] Na Brāhmaṇasyedṛśam asti kiṁ cid

yathā priyebhyo manaso niṣedhaḥ,

yathā yathā hy asya mano nivartate,

tathā tathā saṁvṛtam eti duḥkham.

 

Tidak ada yang lebih baik bagi seorang Brāhmaṇa demikian yang pikirannya ditarik dari apa yang dicintai, dimanapun pikirannya ditarik, dalam cara itulah penderitaan akan terkendali.

 

[33.76] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,

yadā prajānāti sahetuduḥkham.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala keraguan menghilang, ketika ia mengetahui penderitaan dan akarnya.

 

[33.77] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,

yadā prajānāti sahetudharmam.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala keraguan menghilang, ketika ia mengetahui setiap hal dan akarnya.

 

[33.78] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,

yadā kṣayaṁ pratyayānām upaiti.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran kondisi.

 

[33.79] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,

yadā kṣayaṁ vedanānām upaiti.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran perasaan.

 

[33.80] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,

yadā kṣayaṁ hy āsravāṇām upaiti.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran kekotoran.

 

[33.81] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

avabhāsayaṁs tiṣṭhati sarvalokaṁ,

sūryo yathaivābhyudito ’ntarīkṣam.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang berdiam menerangi seluruh dunia, seperti halnya matahari yang terbit di cakrawala.

 

[33.82] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā

ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,

avabhāsayaṁs tiṣṭhati sarvalokaṁ,

Buddho hi saṁyojanavipramuktaḥ.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang berdiam menerangi seluruh dunia, Sang Buddha, yang terbebas dari belenggu.

 

[33.83] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā ātāpino

dhyāyato Brāhmaṇasya,

vidhūpayaṁs tiṣṭhati Mārasainyaṁ,

Buddho hi saṁyojanavipramukta iti.

 

Namun ketika hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang berdiam menyingkirkan pasukan Māra, Sang Buddha, yang terbebas dari belenggu.

 

 

 

Brāhamaṇavargaḥ, 33

 

Bab tentang Brāhamaṇa, yang Ketiga Puluh Tiga

 

 

Uddānam

Ringkasan

 

Anityakāmatṛṣṇā ca apramādas tathā priyaḥ,

śīlaṁ sucaritaṁ vācakarmaśraddhā ca te daśaḥ.

 

Ketidak-kekalan, nafsu indera, nafsu, kewaspadaan, juga cinta, moralitas, perilaku bajik, ucapan, perbuatan dan keyakinan, inilah sepuluh.

 

Śramaṇo mārgasatkāro drohasmṛtiprakīrṇakaḥ,

udakaṁ puṣpaṁ aśvaś-ca saha krodhena te daśaḥ.

 

Śramaṇa, Sang Jalan, kehormatan, melukai, perhatian, serbaneka, air, bunga, dan kuda bersama dengan kemarahan, inilah sepuluh.

 

Tathāgataḥ śrutaṁ cātmā peyālaṁ mitrapañcamam,

Nirvāṇaṁ paśyapāpaṁ ca yugavargaḥ sukhena ca,

 

Sang Tathāgata, pembelajaran, diri sendiri, pengulangan, dan sahabat sebagai yang kelima, Nirvāṇa, melihat, kejahatan, dan bab tentang pasangan dengan kebahagiaan,

 

cittaṁ bhikṣur Brāhmaṇaś-ca, trayastriṁśatime smṛtāḥ,

vargāḥ samāptāś-coddānaṁ Samyaksaṁbuddhabhāṣitāḥ.

 

Pikiran, Bhikṣu dan Brāhmaṇa, inilah ketiga puluh tiga yang diingat, bab-bab telah selesai, dan inilah ringkasan dari apa yang diucapkan oleh Samyaksaṁbuddha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udānavarga Sansekerta Bahasa Indonesia

Udānavarga ini secara tradisional dikompilasikan oleh Dharmatrāta, namun studi modern seringkali menganggap koleksi ini sebagai antologi gab...