Udānavarga ini secara tradisional dikompilasikan oleh Dharmatrāta, namun studi modern seringkali menganggap koleksi ini sebagai antologi gabungan yang terus berlanjut. Kitab ini adalah bentuk Prakrit yang disanskritkan (Buddhist Hybrid Sanskrit). Teks awal berasal dari teks Sansekerta oleh Franz Bernhard (Udānavarga, Band I, Abhandlungen der Akademie der Wissenschaften di Göttingen, Philologisch-Historische Klasse, Dritte Folge, Nr. 54, Vandenhoeck & Ruprecht: Göttingen, 1965). Teks ini kemudian diterjemahan kedalam Bahasa Inggris oleh Ven. Anandajoti pada tahun 2025. Saya (Arya Karniawan) yang menerjemahkan Udānavarga ini. Udānavarga ini tidak pernah dipublikasikan di mana pun selain di sini. Jika terdapat kesalahan dalam terjemahan ini, jangan disungkan komen di kolom komentar. Hak Cipta Udānavarga ini adalah:
Diterjemahkan oleh Arya Karniawan, 2026.
Diterjemahkan dari teks milik Ven. Anandajoti.
Anda dipersilahkan menyalin, mengubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apa pun, dengan syarat: (1) tidak diperjualbelikan; (2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan (3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.
Disiapkan oleh Arya Karniawan.
Udānavarga
Kumpulan Ucapan
Inspiratif
Uddesa
Pendahuluan
Siddham!
Sukses!
[1.1] Stīnamiddhaṁ vinodyeha, saṁpraharṣya ca
mānasam,
śṛṇutemaṁ pravakṣyāmi udānaṁ Jinabhāṣitam.
Setelah
melenyapkan kelambanan dan kantuk di sini, setelah menggembirakan pikiran,
dengarkanlah hal ini, aku akan menyatakan ucapan-ucapan inspiratif yang
dinyatakan oleh Sang Penakluk.
[1.2] Evam uktaṁ Bhagavatā, Sarvābhijñena tāyinā,
anukampakenarṣiṇā śarīrāntimadhāriṇā:
Inilah yang
dikatakan oleh Sang Bhagava, Sang Mahatahu, Ia yang demikian, Yang Melihat
Dengan Belas Kasih, Yang membawa tubuh terakhirnya:
1. Anityavarga
Bab tentang Ketidak-kekalan
(40 Syair)
[1.3] Anityā bata saṁskārā, utpādavyayadharmiṇaḥ,
utpadya hi nirudhyante, teṣāṁ vyupaśamaḥ
sukham.
Segala yang
berkondisi tentu tidaklah kekal, hakikatnya adalah muncul dan hancur, setelah
muncul mereka lenyap, pemadamannya adalah hal baik.
[1.4] Ko nu harṣaḥ ka ānanda, evaṁ prajvalite
sati?
Andhakāraṁ praviṣṭāḥ stha, pradīpaṁ na gaveṣatha?
Mengapa
tertawa, apalah kegembiraan ini, ketika sedang terbakar demikian? Engkau telah
memasuki kegelapan, tidakkah engkau mencari cahaya?
[1.5] Yānīmāny apaviddhāni, vikṣiptāni diśo diśam,
kāpotavarṇāny asthīni, tāni dṛṣṭveha kā ratiḥ?
Tulang-tulang
berwarna merpati ini, terbuang, tersebar di segala penjuru, setelah melihat
mereka di sini, mengapa terdapat kenikmatan?
[1.6] Yām eva prathamāṁ rātriṁ garbhe vasati
mānavaḥ,
aviṣṭhitaḥ sa vrajati, gataś ca na
nivartate.
Sejak malam
pertama kalinya orang tersebut berdiam di dalam rahim, yang goyah berjalan,
setelah pergi tidak kembali lagi.
[1.7] Sāyam eke na dṛśyante kālyaṁ dṛṣṭā mahājanāḥ,
kālyaṁ caike na dṛṣṭante sāyaṁ dṛṣṭā
mahājanāḥ.
Beberapa
orang yang terlihat saat fajar tidak melihat senja, beberapa orang yang
terlihat saat senja tidak melihat fajar.
[1.8] Tatra ko viśvasen martyo, daharo ’smī ti
jīvite?
daharāpi mriyante hi, narā nāryaś ca-n-ekaśaḥ.
Karena
itulah, apakah yang dapat dipercaya oleh makhluk dalam kehidupan ini, dengan
berpikir: Apakah aku masih muda? Karena bahkan yang muda juga mati, pria dan
wanita, satu demi satu.
[1.9] Garbhe hy eke vinaśyante, tathaike sūtikākule,
parisṛptās tathā hy eke, tathaike
paridhāvinaḥ.
Beberapa
gugur di rahim, juga beberapa di tempat kelahiran, juga beberapa ketika
merangkak, dan beberapa ketika berlari kesana-kemari.
[1.10] Ye ca vṛddhā, ye ca dahrā, ye ca
madhyamapuruṣāḥ,
anupūrvaṁ pravrajanti, phalaṁ pakvaṁ va
bandhanāt.
Orang-orang
itu yang sepuh, mereka yang muda, dan mereka yang paruh baya, mereka meninggal
sesuai masanya, seperti satu buah yang telah matang dari tangkainya.
[1.11] Yathā phalānāṁ pakvānāṁ nityaṁ patanato
bhayam,
evaṁ jātasya martyasya nityaṁ maraṇato
bhayam.
Seperti
halnya buah yang matang selalu terdapat ketakutan akan kejatuhan, demikianlah
bagi makhluk yang terlahir di sini selalu takut akan kematian.
[1.12] Yathāpi kumbhakāreṇa mṛttikābhājanaṁ kṛtam,
sarvaṁ bhedanaparyantam evaṁ martyasya
jīvitam.
Seperti
halnya dengan sebuah mangkuk gerabah yang dibuat oleh pengrajin, demikianlah
kehidupan setiap makhluk berakhir dengan kehancuran.
[1.13] Yathāpi tantre vitate yad yad utaṁ
samupyate,
alpaṁ bhavati vātavyam, evaṁ martyasya
jīvitam.
Seperti
halnya ketika dibentangkan di atas alat tenun, apapun yang ditenun akan habis
terpakai, dan hanya sedikit yang belum ditenun, demikianlah dengan kehidupan
suatu makhluk.
[1.15] Yathā nadī pārvatīyā gacchate na nivartate,
evam āyur manuṣyāṇāṁ gacchate na nivartate.
Seperti
halnya satu sungai yang berasal dari gunung mengalir dan tidak kembali,
demikianlah kehidupan manusia yang terus berjalan dan tidak berbalik kembali.
[1.16] Kisaraṁ ca parittaṁ ca, tac ca duḥkhena saṁyutam,
udake daṇḍarājīva, kṣipram eva vinaśyati.
Menyedihkan
dan singkat, dan tergabung dengan penderitaan, seperti suatu garis yang
digambar dengan sebilah tongkat di air, tentu saja dengan cepat (garis) itu
akan hilang.
[1.17] Yathā daṇḍena gopālo gāḥ prāpayati gocaram,
evaṁ rogair jarāmṛtyuḥ āyuḥ prāpayate nṛṇām.
Seperti
halnya sang penggembala mengarahkan ternaknya ke padang rumput dengan sebilah
tongkat, demikianlah melalui penyakit, usia tua dan kematian mengeluarkan
kehidupan dari manusia.
[1.18] Atiyānti hy ahorātrā, jīvitaṁ coparudhyate,
āyuḥ kṣīyati martyānāṁ, kunadīṣu
yathaudakam.
Siang dan
malam berlalu, kehidupan sedang berkurang, kehidupan para makhluk menyusut,
seperti air di arus yang dangkal.
[1.19] Dīrghā jāgarato rātrir, dīrghaṁ śrāntasya
yojanam,
dīrgho bālasya saṁsāraḥ Saddharmam avijānataḥ.
Malam adalah
panjang bagi ia yang terjaga, satu yojana adalah panjang bagi ia yang
kelelahan, kelahiran kembali seorang bodoh yang tidak mengenal Dhamma Sejati
adalah panjang.
[1.20] “Putro me ’sti, dhanaṁ me ’stī,” ty evaṁ
bālo vihanyate,
ātmaiva hy ātmano nāsti, kasya putraḥ, kuto
dhanam?
“Anak ini
milikku, dan harta ini milikku,” demikianlah orang bodoh menderita akibat
penyesalan, ketika bahkan dirinya sendiri bukanlah miliknya, juga bagaimana
anak, (dan) harta?
[1.21] Anekāni sahasrāṇi naranārīśatāni ca
bhogāṁ vai samudānīya: vaśaṁ gacchanti mṛtyunaḥ.
Tak
terhitung ratusan ribu pria dan wanita yang tentu saja telah mengumpulkan
kekayaan: tetap saja mereka berada di bawah pengaruh kematian.
[1.22] Sarve kṣayāntā nicayāḥ, patanāntāḥ
samucchrayāḥ,
saṁyogā viprayogāntā, maraṇāntaṁ hi jīvitam.
Segala yang
dikumpulkan berakhir dalam penghancuran, segala yang meningkat berakhir di
kejatuhan, apa yang tergabung berakhir dalam perpisahan, kehidupan tentulah
berakhir dalam kematian.
[1.23] Sarve satvā mariṣyanti, maraṇāntaṁ hi
jīvitam,
yathākarma gamiṣyanti, puṇyapāpaphalopagāḥ.
Semua
makhluk akan mati, kehidupan tentu berakhir dalam kematian, berdasarkan
perbuatannya, mereka akan bertumimbal lahir, merasakan buah dari kebajikan dan
keburukan.
[1.24] Narakaṁ pāpakarmāṇaḥ, kṛtapuṇyās tu
sadgatim,
anye tu mārgaṁ bhāvyeha, Nirvāsyanti nirāsravāḥ.
Mereka yang
berbuat buruk pergi ke neraka, tetapi mereka yang berbuat bajik pergi ke alam
bahagia, namun mereka harus mengembangkan Sang Jalan di sana, seseorang yang
tanpa kekotoran akan mencapai Nirvāṇa.
[1.25] Naivāntarīkṣe, na samudramadhye,
na parvatānāṁ vivaraṁ praviśya:
na vidyate ’sau pṛthivīpradeśo
yatra sthitaṁ na prasaheta mṛtyuḥ.
Tidak di
langit, ataupun di tengah samudera, ataupun setelah memasuki celah di tengah
pegunungan: Tidak ada tempat di dunia ini di mana kematian tidak dapat
mengalahkan seseorang.
[1.26] Ye ceha bhūtā, bhaviṣyanti vā punaḥ,
sarve gamiṣyanti, prahāya deham,
tāṁ sarvahāniṁ kuśalo viditvā,
Dharme sthito, brahmacaryaṁ careta.
Makhluk
apapun yang terdapat di sini, atau mereka yang akan terlahir kembali, mereka
semua akan pergi, setelah meninggalkan tubuhnya, setelah memahami bahwa hal itu
adalah kehilangan total, yang terampil, teguh dalam Dhamma, seharusnya
menjalankan kehidupan suci.
[1.27] Jīrṇaṁ ca dṛṣṭveha, tathaiva rogiṇaṁ,
mṛtaṁ ca dṛṣṭvā, vyapayātacetasam,
jahau sa dhīro gṛhabandhanāni,
kāmā hi lokasya na supraheyāḥ.
Melihat yang
tua di sini, dan yang sakit, melihat yang mati, seseorang yang pikirannya telah
pergi, ia yang tekun telah meninggalkan ikatan pada keduniawian, keinginan
duniawi tentulah sulit untuk ditinggalkan.
[1.28] Jīryanti vai rājarathāḥ sucitrā,
hy atho śarīram api jarām upaiti,
satāṁ tu Dharmo na jarām upaiti,
santo hi taṁ satsu nivedayanti.
Kereta
kerajaan yang terhias dengan baik tentu akan lapuk, dan bahkan jasmani akan
membusuk, tetapi Dharma Orang Bajik tidak akan membusuk, Yang Bajik tentu
menyatakannya diantara yang bajik.
[1.29] Dhik tvām astu, jare grāmye, virūpakaraṇī hy
asi,
tathā manoramaṁ bimbaṁ jarayā hy
abhimarditam.
Biarlah
engkau memalukan, usia tua yang hina, karena engkau adalah pembuat keburukan,
demikian pula boneka-boneka yang menyenangkan pikiran dihancurkan oleh
pembusukan.
[1.30] Yo ’pi varṣaśataṁ jīvet so ’pi mṛtyuparāyaṇaḥ,
anu hy enaṁ jarā hanti, vyādhir vā yadi
vāntakaḥ.
Bahkan ia
yang dapat hidup selama seratus tahun, ia bahkan memiliki kematian sebagai
tujuan finalnya, yang, terus mengikutinya, usia tua menjatuhkannya, atau
penyakit, atau Pembuat Akhir.
[1.31] Sadā vrajanti, hy anivartamānā,
divā ca rātrau ca vilujyamānāḥ,
matsyā ivātīva hi tapyamānā,
duḥkhena jātīmaraṇena yuktāḥ.
Mereka
selalu melangkah maju, tanpa berbalik kembali, siang dan malam mereka
dihancurkan, seperti ikan yang direbus secara berlebihan, mereka terpasung
bersama dengan penderitaan, dengan kelahiran dan kematian.
[1.32] Āyur divā ca rātrau ca, caratas tiṣṭhatas
tathā,
nadīnāṁ vā
yathā sroto, gacchate na nivartate.
Kehidupan,
siang dan malam, bagi seseorang yang berjalan dan berdiri diam, seperti arus
sungai, mengalir dan tidak kembali lagi.
[1.33] Yeṣāṁ rātridivāpāye, hy āyur alpataraṁ
bhavet,
alpodake va matsyānāṁ, kā nu teṣāṁ ratir
bhavet?
Bagi mereka
yang merosot di malam dan siang, kehidupan akan menjadi semakin pendek, seperti
ikan dalam sedikit air, kesenangan apa yang ada bagi mereka?
[1.34] Parijīrṇam idaṁ rūpaṁ, roganīḍaṁ prabhaṅguram,
bhetsyate pūty asaṁdehaṁ, maraṇāntaṁ hi
jīvitam.
Tubuh ini
lapuk, sarang penyakit, dan rentan, tubuh ini pasti akan hancur dan menjadi
busuk, karena kehidupan tentu berakhir dalam kematian.
[1.35] Aciraṁ bata kāyo ’yaṁ pṛthivīm adhiśeṣyate,
śunyo vyapetavijñāno, nirastaṁ vā kaḍaṅgaram.
Tidak lama
lagi, sial, tubuh ini akan terbaring di tanah, kosong, tanpa kesadaran, dibuang
seperti sebatang kayu.
[1.36] Kim anena śarīreṇa, sravatā pūtinā sadā?
Nityaṁ rogābhibhūtena, jarāmaraṇabhīruṇā.
Ada apa
dengan tubuh ini, yang selalu berlendir dan berbau busuk? Tubuh ini selalu
terjangkit penyakit, takut akan usia tua dan kematian.
[1.37] Anena pūtikāyena hy ātureṇa prabhaṅguṇā,
nigacchatha parāṁ śāntiṁ, yogakṣemam
anuttaram.
Dengan tubuh
busuk yang sakit dan rentan ini, engkau harus pergi ke kedamaian tertinggi,
keamanan tertinggi.
[1.38] “Iha varṣaṁ kariṣyāmi, hemantaṁ grīṣmam eva
ca,”
bālo vicintayaty evam, antarāyaṁ na paśyati.
“Di sini aku
akan menghabiskan musim hujan, musim dingin, dan musim panas,” orang bodoh
berpikir demikian, ia tidak melihat bahaya.
[1.39] Taṁ putrapaśusaṁmattaṁ, vyāsaktamanasaṁ
naram,
suptaṁ grāmaṁ mahaughaiva, mṛtyur ādāya
gacchati.
Orang itu
yang pikirannya melekat, dimabukkan dengan ternak dan anak, kematian mengambil
dan membawanya, seperti banjir yang membawa satu desa yang tertidur.
[1.40] Na santi putrās trāṇāya, na pitā nāpi
bāndhavāḥ,
Antakenābhibhūtasya, na hi trāṇā bhavanti
te.
Anak-anak
bukanlah perlindungan, juga ayah, tidak juga saudara, bagi seseorang yang
ditaklukkan oleh Pembuat Akhir, tentu saja tidak ada perlindungan untukmu.
[1.41] “Idaṁ kṛtaṁ me kartavyam, idaṁ kṛtvā bhaviṣyati,”
ity evaṁ spondato martyāṁ jarā mṛtyuś ca
mardati.
“Ini yang harus saya kerjakan, aku akan
mengerjakan ini di masa depan,” berpikir demikian, satu makhluk yang sedang
berupaya dihancurkan oleh pembusukan dan kematian.
[1.42] Tasmāt sadā dhyānaratāḥ samāhitā,
hy ātāpino jātijarāntadarśinaḥ,
Māraṁ sasainyaṁ hy abhibhūya bhikṣavo,
bhaveta jātīmaraṇasya pāragāḥ!
Karena
itulah selalu bersenang dalam meditasi, tenang, tekun, melihat akhir kelahiran
dan usia tua, mengalahkan Māra dengan pasukannya, para Bhikṣu, seseorang harus menjadi mereka yang
melampaui kelahiran dan kematian!
Anityavargaḥ,
1
Bab tentang
Ketidak-kekalan, yang Pertama.
2. Kāmavarga
Bab tentang Nafsu Indera
(20 Syair)
[2.1] Kāma jānāmi te mūlaṁ, saṁkalpāt kāma jāyase,
na tvāṁ saṁkalpayiṣyāmi, tato me na bhaviṣyasi.
Nafsu
indera, aku tahu akarmu, dari pemikiran, nafsu indera, engkau muncul, aku tidak
akan memikirkanmu, karena itulah engkau tidak akan bersamaku.
[2.2] Kāmebhyo jāyate śokaḥ, kāmebhyo jāyate
bhayam,
kāmebhyo vipramuktānāṁ, nāsti śokaḥ, kuto
bhayam?
Dari nafsu
indera muncul kesedihan, dari nafsu indera muncul ketakutan, bagi mereka yang
sepenuhnya terbebas dari nafsu indera, tidak ada kesedihan, bagaimana bisa terdapat
ketakutan?
[2.3] Ratibhyo jāyate śoko, ratibhyo jāyate
bhayam,
ratibhyo vipramuktānāṁ, nāsti śokaḥ, kuto
bhayam?
Dari
kesenangan muncul kesedihan, dari kesenangan muncul ketakutan, bagi mereka yang
sepenuhnya terbebas dari kesenangan, tidak ada kesedihan, bagaimana bisa
terdapat ketakutan?
[2.4] Madhurāgrā vipāke tu kaṭukā hy abhinanditāḥ.
Kāmā dahanti vai bālān, ulkevāmuñcataḥ
karam.
Manis pada
awalnya, namun bagi mereka yang bersenang hasilnya pahit. Orang bodoh sangat
terbakar dengan nafsu indera, seperti sebuah obor yang membakar tangan
seseorang yang memegangnya.
[2.5] Na tad dṛḍhaṁ bandhanam, āhur āryā,
yad āyasaṁ dāravaṁ balbajaṁ vā,
saṁraktacittasya hi mandabuddheḥ,
putreṣu dāreṣu ca yā avekṣā.
Tidak begitu
kuat belenggu-belenggu ini, kata Para Mulia, yang terbuat dari besi, kayu atau
buluh bambu, karena bagi seseorang, yang pikirannya penuh hasrat dan memiliki
pemahaman orang bodoh, yang terikat pada anak dan para istri.
[2.6] Etad dṛḍhaṁ bandhanam, āhur āryāḥ,
samantataḥ susthiraṁ duṣpramokṣam,
etad api cchitvā tu parivrajanti
hy anapekṣiṇaḥ, kāmasukhaṁ prahāya.
Inilah
belenggu yang kuat, kata Para Mulia, sangat kokoh di segala sisi dan sulit
untuk terlepas darinya, setelah memotong belenggu ini, yang tidak terobsesi
meninggalkan keduniawian, meninggalkan pemuasan nafsu indera.
[2.7] Na te kāmā yāni citrāṇi loke,
saṁkalparāgaḥ puruṣasya kāmaḥ,
tiṣṭhanti citrāṇi tathaiva loke,
athātra dhīrā vinayanti cchandam.
Hal apapun
yang indah di dunia, mereka bukanlah nafsu indera, nafsu indera seseorang
adalah kehendak dengan penuh hasrat mereka, hal-hal yang indah tetap
sebagaimana adanya di dunia, tetapi mereka yang tekun menghalau dorongan
(hasrat) di sini.
[2.8] Na santi nityā manujeṣu kāmāḥ,
santi tv anityāḥ kāmino, yatra baddhāḥ,
tāṁs tu prahāya hy apunarbhavāya,
hy anāgataṁ mṛtyudheyaṁ vadāmi.
Nafsu indera
tidaklah kekal diantara manusia, mereka yang bernafsu tidaklah kekal, di mana
terdapat belenggu, namun, demi penghentian kelahiran kembali, setelah
meninggalkan hal-hal ini, Aku katakan seseorang tidak akan kembali di alam
kematian.
[2.9] Chandajāto hy avasrāvī, manasānāvilo bhavet,
kāmeṣu tv apratibaddhacitta ūrdvasroto
nirucyate.
Ia yang
nafsu keinginannya muncul akan terdistraksi, tetapi ia dapat menjadi tenang
dengan pikiran, dengan pikiran tidak terbelenggu oleh nafsu inderawi seseorang
disebut ia yang melawan arus.
[2.10] Anupūrveṇa medhāvī, stokaṁ stokaṁ kṣaṇe kṣaṇe
karmāro rajatasyaiva nirdhamen malam ātmanaḥ.
Secara
bertahap, sedikit demi sedikit, dari waktu demi waktu, ia yang cerdas
seharusnya menghilangkan ketidak-murniannya, seperti halnya seorang pengrajin
yang menghilangkan kotoran pada perak.
[2.11] Rathakāra iva carmaṇaḥ parikartann upānaham,
yad yaj jahāti kāmānāṁ, tat tat saṁpadyate
sukham.
Seperti
seorang pengrajin kulit, yang membuat sendal dari kulit, nafsu indera apapun ia
tinggalkan, hasilnya adalah kebahagiaan.
[2.12] Sarvaṁ cet sukham iccheta, sarvakāmāṁ
parityajet,
sarvakāmaparityāgī hy atyantaṁ sukham
edhate.
Jika
seseorang mengharapkan kebahagiaan penuh, seseorang seharusnya meninggalkan
segala nafsu indera, ia yang meninggalkan segala nafsu indera mencapai
kebahagiaan tanpa akhir.
[2.13] Yāvat kāmān anusaraṁ na tṛptiṁ manaso
’dhyagāt,
tato nivṛttiṁ pratipaśyamānās;
te vai tṛptāḥ, prajñayā ye sutṛptāḥ.
Selama
seseorang mengejar nafsu indera pikiran tidak merasakan kepuasan, karena
itulah, melihat hal ini, ia berhenti mengejar; Mereka tentu terpuaskan, mereka
yang sepenuhnya terpuaskan dengan kebijaksanaan.
[2.14] Śreyasī prajñayā tṛptir, na hi kāmair vitṛpyate,
prajñayā puruṣaṁ tṛptaṁ, tṛṣṇā na kurute
vaśam.
Lebih baik
kepuasan dengan kebijaksanaan, seseorang tidak pernah terpuaskan dengan nafsu
indera, ketika seseorang terpuaskan dengan kebijaksanaan, nafsu tidak
berpengaruh kepadanya.
[2.15] Gṛddhā hi kāmeṣu narāḥ pramattā, hy adharme
bata te ratāḥ,
antarāyaṁ na te paśyanty alpake jīvite sati.
Orang-orang
yang lengah sangat menginginkan nafsu indera, sial, mereka bersenang dalam apa
yang bukan Dharma, mereka tidak melihat bahaya karena kehidupan itu singkat.
[2.16] Durmedhasaṁ hanti bhogo, na tv ihātmagaveṣiṇam,
durmedhā bhogatṛṣnābhir hanty ātmānam atho
parān.
Kekayaan
menghancurkan ia yang bodoh, tetapi tidak dengan ia yang mencari jati dirinya
di sini, dengan nafsu akan kekayaan orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri
dan orang lain.
[2.17–2.18] Na karṣāpaṇavarṣeṇa tṛptiḥ kāmair hi
vidyate,
“Alpāsvādasukhāḥ kāmā,” iti vijñāya paṇḍitaḥ
api divyeṣu kāmeṣu sa ratiṁ nādhigacchati,
tṛṣṇākṣayarato bhavati Buddhānāṁ śrāvakaḥ
sadā.
Tidak dengan
nafsu inderawi kepuasan ditemukan bahkan dengan hujan koin (karṣāpaṇa), “Nafsu indera memiliki
sedikit kepuasan dan kebahagiaan,” mengetahui hal ini, ia yang bijaksana tidak
bersenang bahkan dalam nafsu surgawi, tetapi seorang Siswa Sang Buddha (śrāvakaḥ) selalu bersenang dalam
penghancuran nafsu.
[2.19] Parvato ’pi suvarṇasya samo Himavatā bhavet
–
vittaṁ taṁ nālam ekasya, etaj jñātvā samaṁ
caret.
Bahkan jika
terdapat sebuah gunung emas setinggi Himālaya – kekayaan itu tidak akan cukup
bagi seseorang, mengetahui hal ini, seseorang seharusnya hidup dalam harmoni.
[2.20] Duḥkhaṁ hi yo veda yato nidānaṁ,
kāmeṣu jantu sa kathaṁ rameta?
Upadhiṁ hi loke śalyam iti matvā,
tasyaiva dhīro vinayāya śikṣet.
Bagaimana
mungkin orang tersebut yang mengetahui penderitaan dan dari mana penderitaan
itu berasal bersenang dalam nafsu indera? Mengetahui kemelekatan adalah duri di
dunia, yang tekun seharusnya berlatih untuk melenyapkannya.
Kāmavargaḥ
2.
Bab tentang
Nafsu Indera, yang Kedua.
3. Tṛṣṇāvarga
Bab tentang
Nafsu
(18 Syair)
[3.1] Vitarkapramathitasya jantunas,
tīvrarāgasya, śubhānudarśinaḥ,
bhūyas tṛṣṇā pravardhate, gāḍhaṁ
hy eṣa karoti bandhanam.
Bagi ia yang
dihancurkan dengan pikiran-pikirannya, sangat berhasrat, memikirkan apa yang
menyenangkan, nafsunya meningkat, hal ini tentu membuat belenggu semakin kuat.
[3.2] Vitarkavyupaśame tu yo rato,
hy aśubhāṁ bhāvayate, sadā smṛtaḥ,
tṛṣṇā hy eṣa prahāsyate, sa tu
khalu pūtikaroti bandhanam.
Tetapi bagi
ia yang bersenang dalam menenangkan pikiran-pikiannya, yang mengembangkan
ketidak-menarikkan, selalu penuh perhatian, orang ini tentu akan meninggalkan
nafsu, ia tentu merusak belenggu.
[3.3] Kāmāndhajālaprakṣiptās, tṛṣṇayācchāditāḥ
prajāḥ,
pramattā bandhane baddhā, matsyavat kupināmukhe,
jarāmaraṇam āyānti, vatsaḥ kṣīrapaka iva
mātaram.
Orang-orang,
dibutakan oleh nafsu indera dan terjerat dalam jaring, diselimuti oleh nafsu,
lengah, terbelenggu dengan belenggu, seperti ikan di mulut perangkap, mendekati
usia tua dan kematian, seperti seekor anak sapi yang (akan menyusu) ke
induknya.
[3.4] Manujasya pramattacāriṇas tṛṣṇā vardhati
māluteva hi,
sa hi saṁsarate punaḥ punaḥ, phalam icchann
iva vānaro vane.
Bagi
seseorang yang menjalani kehidupan dengan lengah nafsu meningkat seperti
tanaman merambat mematikan yang semakin besar, ia bertransmigrasi lagi dan
lagi, seperti seekor monyet menginginkan buah-buahan di hutan.
[3.5] Saritāni vai snehitāni vai saumanasyāni
bhavanti jantunaḥ,
ye sātasitāḥ sukhaiṣiṇas, te vai
jātijaropagā narāḥ.
Terdapat
aliran arus kecintaan dan kesenangan untuk seseorang, orang-orang itu yang
bergantung pada kenikmatan, mencari kesenangan, mereka tentu mengalami
kelahiran dan usia tua.
[3.6] Tṛṣṇābhir upaskṛtāḥ prajāḥ
paridhāvanti śaśā va vāgurām,
saṁyojanaiḥ saṅgasaktā, duḥkhaṁ,
yānti punaḥ punaś cirarātram.
Orang-orang
yang diserang oleh nafsu berlarian seperti kelinci dalam suatu jaring, tertaut
dan melekat melalui belenggu-belenggu, mereka pergi untuk menderita lagi dan
lagi untuk banyak malam.
[3.7] Tṛṣṇayā grathitāḥ satvā, raktacittā
bhavābhave,
te yogayukta Māreṇa, hy ayogakṣemiṇo janāḥ,
jarāmaraṇam āyānti, yogā hi duratikramāḥ.
Malhluk-makhluk
terbelenggu oleh nafsu, pikiran mereka melekat pada kemenjadian berulang,
mereka terpasung oleh kuk Māra, orang-orang tidak terpasung pada keamanan,
mereka mendekati usia tua dan kematian, karena kuk-kuk tersebut sulit untuk
diatasi.
[3.8] Yas tu tṛṣṇāṁ prahāyeha, vītatṛṣṇo
bhavābhave,
tṛṣṇayā vibhavad, bhikṣur, anicchuḥ,
parinirvṛtaḥ.
Namun ia
yang telah meninggalkan nafsu di sini, menjadi tak bernafsu pada kemenjadian
berulang, dengan nafsu dihancurkan, Bhikṣu
itu, tanpa nafsu, sepenuhnya terbebas.
[3.9] Ya etāṁ sahate grāmyāṁ tṛṣṇāṁ, loke
sudustyajām,
śokās tasya pravardhante, hy avavṛṣṭā bīraṇā yathā.
Ia yang
terbelenggu oleh nafsu yang hina, yang sulit untuk ditinggalkan, terkalahkan di
dunia, baginya kesedihan meningkat, seperti rumput yang telah terhujani.
[3.10] Yas tv etāṁ tyajate grāmyāṁ tṛṣṇāṁ loke
sudustyajām,
śokās tasya nivartante, udabindur iva puṣkarāt.
Namun bagi
ia yang meninggalkan nafsu yang hina ini, yang sangat sulit ditinggalkan di
dunia, baginya kesedihan berhenti, seperti tetesan air dari setangkai bunga
teratai.
[3.11] Tad vai vadāmi: “Bhadraṁ vo, yāvantaḥ stha
samāgatāḥ,”
tṛṣṇāṁ samūlāṁ khanata, uśīrārthīva bīraṇām,
tṛṣṇāyāḥ khātamūlāyā, nāsti śokaḥ, kuto
bhayam?
Hal ini
tentu kukatakan: “Semoga kalian beruntung, sebanyak kalian yang berkumpul di
sini,” galilah nafsu dengan akarnya, seperti seseorang yang mencari akar harum
menggali rerumputan, ketika akar nafsu telah digali, tidak ada kesedihan,
bagaimana mungkin terdapat ketakutan?
[3.12] Tṛṣṇādvitīyaḥ puruṣo, dīrgham adhvānam
āśayā,
punaḥ punaḥ saṁsarate, garbham eti punaḥ punaḥ,
itthaṁbhāvānyathībhāvaḥ, saṁsare tv āgatiṁ
gatim.
Seseorang
yang menjadikan nafsu sebagai temannya berkelana untuk waktu yang lama akibat
harapan, lagi dan lagi ia bertransmigrasi, lagi dan lagi ia memasuki rahim,
pergi dari kelahiran ini ke yang lain, datang dan pergi dalam transmigrasi.
[3.13] Tāṁ tu tṛṣṇāṁ prahāyeha, vītatṛṣṇo
bhavābhave,
nāsau punaḥ saṁsarate, tṛṣṇā hy asya na
vidyate.
Namun ia
yang telah meninggalkan nafsu di sini, dengan tanpa nafsu untuk kemenjadian
berulang, orang itu tidak akan bertransmigrasi lagi, baginya nafsu tidak
ditemukan.
[3.14] Yayā Devā manuṣyāś ca sitās tiṣṭhanti
hārthikāḥ,
tarataitāṁ viṣaktikāṁ, kṣaṇo vo mā hy
upatyagāt,
kṣaṇātītā hi śocante narakeṣu samarpitāḥ.
Hal itu yang
membuat para Deva dan manusia tetap bergantung dan kekurangan, melampaui
kemelekatan ini, janganlah engkau membiarkan saat ini berlalu, bagi mereka yang
saatnya telah berlalu bersedih ketika mereka dilempar ke neraka.
[3.15] Tṛṣṇā hi hetuḥ saritā viṣaktikā,
gaṇḍasya nityaṁ visṛteha jālinī,
latāṁ pipāsām apanīya sarvaśo,
nivartate duḥkham idaṁ punaḥ punaḥ.
Karena nafsu
adalah penyebab belenggu, arus kemelekatan, seperti bisul yang terus membengkak
di sini, setelah menghilangkan jerat ini, kehausan ini, dalam segala cara,
penderitaan berhenti lagi dan lagi.
[3.16] Yathāpi mūlair anupadrutaiḥ sadā,
chinno ’pi vṛkṣaḥ, punar eva jāyate,
evaṁ hi tṛṣṇānuśayair anuddhṛtair,
nirvartate duḥkham idaṁ punaḥ punaḥ.
Seperti
halnya akibat akar yang selalu tidak rusak, sebatang pohon, walaupun ditebang,
tumbuh lagi, demikian pula akibat kecenderungan pada nafsu tidak dicabut,
penderitaan ini muncul lagi dan lagi.
[3.17] Yathāpi śalyo dṛḍham ātmanā kṛtas
tam eva hanyād balasā tv adhiṣṭhitaḥ,
tathā tv ihādhyātmasamutthitā latās
tṛṣṇā vadhāyopanayanti prāṇinām.
Seperti
halnya sebuah anak panah yang terpasang dengan kuat, dibuat oleh seseorang,
dapat dengan kuat melukai orang tersebut, demikian pula jerat nafsu, muncul di dalam
diri seseorang, menggiring makhluk yang bernafas menuju kehancuran.
[3.18] Etad ādīnavaṁ jñātvā – tṛṣṇā duḥkhasya saṁbhavam
–
vītatṛṣṇo hy anādānaḥ, smṛto bhikṣuḥ
parivrajet.
Mengetahui
bahaya ini – nafsu itu adalah sumber penderitaan – dengan tanpa nafsu, tidak
melekat, seorang Bhikṣu seharusnya
berkelana dengan penuh perhatian.
Tṛṣṇāvargaḥ,
3
Bab tentang
Nafsu, yang Ketiga.
4. Apramādavarga
Bab tentang
Kewaspadaan
(39 Syair)
[4.1] Apramādo hy amṛtapadaṁ, pramādo mṛtyunaḥ
padam,
apramattā na mriyante, ye pramattāḥ sadā mṛtāḥ.
Kewaspadaan
adalah jalan menuju tanpa kematian, kelengahan adalah jalan menuju kematian,
yang waspada tidak akan mati, tetapi mereka yang lengah selalu mati.
[4.2] Etāṁ viśeṣatāṁ jñātvā hy apramādasya, paṇḍitaḥ,
apramādaṁ pramudyeta nityam āryaḥ
svagocaram.
Mengetahui
karakteristik pembeda kewaspadaan, Ia Yang Bijaksana, Ia Yang Mulia, seharusnya
selalu bersenang dalam kewaspadaan, yang adalah wilayahnya sendiri.
[4.3] Apramattāḥ sātatikā, nityaṁ dṛḍhaparākramāḥ,
spṛśanti dhīrā Nirvāṇaṁ, yogakṣemam
anuttaram.
Yang
waspada, gigih, selalu tekun dalam usahanya, ia yang tekun mengalami Nirvāṇa, keamanan tertinggi.
[4.4] Pramādam apramādena yadā nudati paṇḍitaḥ,
prajñāprāsādam āruhya, tv aśokaḥ, śokinīṁ
prajām,
parvatasthaiva bhūmisthāṁ dhīro bālān avekṣate.
Ketika yang
bijaksana menghilangkan kelengahan melalui kewaspadaan, menaiki istana
kebijaksanaan, tanpa kesedihan, kepada orang-orang yang bersedih, kepada
orang-orang bodoh, ia yang tekun melihat kebawah, seperti seseorang yang
berdiri di satu gunung melihat ke bawah pada orang-orang yang berdiri di
lembah.
[4.5] Utthānenāpramādena, saṁyamena damena ca,
dvīpaṁ karoti medhāvī tam ogho nābhimardati.
Melalui daya
upaya, kewaspadaan, dan melalui pengendalian dan pelatihan, Ia Yang Pintar
membuat pulau yang tidak dapat dihancurkan oleh banjir.
[4.6] Utthānavataḥ smṛtātmanaḥ, śubhacittasya
niśāmyacāriṇaḥ,
saṁyatasya hi Dharmajīvino, hy apramattasya
yaśobhivardhate.
Bagi ia yang
berdaya upaya, penuh perhatian pada dirinya sendiri, piawai dalam perilaku,
bagi Ia yang Berpikiran Murni, terkendali, hidup dengan Dharma, dan waspada,
ketenaran akan sangat meningkat.
[4.7] Adhicetasi mā pramadyata,
pratataṁ maunapadeṣu śikṣata,
śokā na bhavanti tāyino,
hy upaśāntasya, sadā smṛtātmanaḥ.
Janganlah
menjadi lalai sehubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, engkau harus
berlatih dengan tekun dalam Jalan Sang Bijaksana, tidak ada kesedihan bagi
orang demikian, baginya selalu damai, selalu penuh perhatian pada dirinya
sendiri.
[4.8] Hīnāṁ dharmāṁ na seveta, pramādena na saṁvaset,
mithyādṛṣṭiṁ na roceta, na bhavel
lokavardhanaḥ.
Seseorang
seharusnya tidak mengejar pikiran rendah, seseorang seharusnya tidak hidup
dengan kelengahan, seseorang seharusnya tidak menerima pandangan salah,
seseorang seharusnya tidak merawat keduniawian.
[4.9] Samyagdṛṣṭir adhīmātrā laukikī yasya
vidyate,
api jātisahasrāṇi, nāsau gacchati durgatim.
Seseorang
yang padanya terdapat pandangan benar duniawi yang tak terukur, bahkan selama
ribuan kelahiran, orang itu tidak akan pergi ke alam menderita.
[4.10] Pramādam anuvartante bālā durmedhaso janāḥ,
apramādaṁ tu medhāvī, dhanaṁ śreṣṭhīva rakṣati.
Mereka yang
bodoh, orang-orang yang tidak pintar, bersenang dalam kelengahan, namun ia yang
pintar menjaga kewaspadaan, seperti seseorang menjaga harta terbesar.
[4.11] Pramādam anuvartante bālā durmedhaso janāḥ,
apramattaḥ, sadā dhyāyī, prāpnute hy āsravakṣayam.
Mereka yang
bodoh, orang-orang yang tidak pintar, bersenang dalam kelengahan, ia yang
waspada, seorang meditator, selalu mencapai penghancuran kekotoran.
[4.12] Pramādaṁ nānuyujyeta, na kāmaratisaṁstavam,
apramattaḥ sadā dhyāyī, prāpnute hy acalaṁ
sukham.
Seseorang
seharusnya tidak membiarkan dirinya terjerumus pada kelalaian, juga tidak
menikmati kesenangan intim dalam nafsu indera, ia yang waspada, sang meditator,
selalu mencapai kebahagiaan yang tak tergoyahkan.
[4.13] Nāyaṁ pramādakālaḥ syād, aprāpte hy āsravakṣaye,
Māraḥ pramattam anveti, siṁhaṁ vā mṛgramātṛkā.
Sekarang
bukanlah waktunya untuk kelalaian, ketika penghancuran kekotoran belum
tercapai, Māra mengikuti yang lengah,
seperti singa yang mengikuti induk rusa.
[4.14] Sthānāni catvāri naraḥ pramatta,
āpadyate yaḥ paradārasevī:
apuṇyalābhaṁ, hy anikāmaśayyāṁ,
nindāṁ tṛtīyaṁ, narakaṁ caturtham.
Terdapat
empat keadaan yang dialami pria yang lalai, yang berhubungan intim dengan istri
orang lain: Ia memperoleh keburukan, tidurnya gelisah, celaan yang ketiga, dan
kelahiran kembali di neraka sebagai yang keempat.
[4.15.i] Apuṇyalābhaṁ ca gatiṁ ca pāpikāṁ,
bhītasya bhītābhir athālpikāṁ ratim,
nindāṁ ca paśyaṁ nṛpateś ca daṇḍaṁ –
parasya dārāṇi vivarjayeta.
Terdapat
perolehan keburukan dan kelahiran di alam rendah, kesenangan kecil seorang pria
yang takut bersama wanita-wanita yang takut, dan melihat celaan dan hukuman
raja – seseorang seharusnya menghindari istri-istri seseorang.
[4.15.ii] Apuṇyalābhaś ca gatiś ca pāpikā,
bhītasya bhītābhir athālpikā ratiḥ,
rājā ca daṇḍaṁ gurukaṁ dadāti –
kāyasya bhedād narakeṣu pacyate.
Terdapat
perolehan keburukan dan kelahiran di alam rendah, kesenangan kecil seorang pria
yang takut bersama wanita-wanita yang takut, dan seorang raja yang memberikan
hukuman berat – setelah hancurnya jasmani ia tersiksa di neraka.
[4.16] Pratiyatyeva tat kuryād yaj jāned dhitam
ātmanaḥ,
na śākaṭikacintābhir, mandaṁ dhīraḥ
parākramet.
Hendaknya seseorang dengan saksama melakukan apa yang ia
ketahui bermanfaat bagi dirinya sendiri, bukan dengan pikiran layaknya kusir
gerobak yang bodoh; Seorang yang teguh seharusnya berupaya (demikian).
[4.17–4.18] Yathā śākaṭiko mārgaṁ samaṁ hitvā
mahāpatham,
viṣamaṁ mārgam āgamya, cchinnākṣaḥ śocate bhṛśam,
evaṁ Dharmād apakramya, hy adharmam
anuvartya ca,
bālo mṛtyuvaśaṁ prāptac, chinnākṣa iva
śocate.
Seperti
halnya seorang kusir kereta, setelah meninggalkan jalan yang rata, jalan raya,
dan mengarah ke jalan yang tidak rata, sangat bersedih seperti seseorang dengan
poros roda yang rusak, demikian pula, keluar dari Dharma, dan mengikuti apa
yang bukan Dharma, orang bodoh, setelah datang kedalam kuasa kematian, bersedih
seperti seseorang dengan poros roda yang rusak.
[4.19] Yat kṛtyaṁ tad apaviddham, akṛtyaṁ kriyate
punaḥ,
uddhatānāṁ pramattānāṁ, teṣāṁ vardhanti
āsravāḥ,
āsravās teṣu vardhante, ārāt te hy āsravakṣayāt.
Apa yang
harus dilakukan, hal itu ditolak, apa yang seharusnya tidak dilakukan,
dilakukan lagi, bagi orang yang arogan dan lalai, kekotorannya meningkat,
kekotoran meningkat di dalam mereka, mereka jauh dari penghancuran kekotoran.
[4.20] Yeṣāṁ tu susamārabdhā nityaṁ kāyagatā smṛtiḥ,
akṛtyaṁ te na kurvanti, kṛtye sātatyakāriṇaḥ,
smṛtānāṁ saṁprajānānām astaṁ gacchanti
āsravāḥ.
Tetapi bagi
ia yang perhatiannya diarahkan ke jasmani telah melaksanakan dengan baik dan
berkesinambungan, mereka tidak melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan,
mereka tetap melakukan apa yang harus dilakukan, bagi mereka yang penuh
perhatian dan berpandangan terang, kekotoran pergi menjauh.
[4.21] Na tāvatā Dharmadharo, yāvatā bahu bhāṣate,
yas tv ihālpam api śrutvā, Dharmaṁ kāyena
vai spṛśet,
sa vai Dharmadharo bhavati, yo Dharme na
pramādyate.
Seseorang
bukanlah penjaga Dharma hanya karena ia banyak bicara, tetapi ia yang, setelah
mendengar sedikit di sini, mau mempraktikkan Dharma secara pribadi, ia tentu
adalah seorang penjaga Dharma, orang yang tidak lengah terhadap Dharma.
[4.22] Subahv apīha sahitaṁ bhāṣamāṇo,
na tatkaro bhavati naraḥ pramattaḥ,
gopaiva gāḥ saṁgaṇayaṁ pareṣāṁ,
na bhāgavāṁ cchrāmaṇyārthasya bhavati.
Bahkan jika
orang lengah melafalkan banyak kanon di sini, tetapi tidak berperilaku sesuai
dengannya, seperti seorang gembala yang menghitung ternak orang lain, ia
bukanlah seseorang yang mencapai tujuan kehidupan suci.
[4.23] Alpam api cet sahitaṁ bhāṣamāṇo
Dharmasya, bhavati hy anudharmacārī,
rāgaṁ ca doṣaṁ ca tathaiva mohaṁ prahāya,
bhāgī śrāmaṇyārthasya bhavati.
Bahkan jika
seseorang melafalkan sedikit kanon Dharma, tetapi berperilaku sesuai dengan
Dharma, meninggalkan nafsu indera, kebencian dan delusi, ia adalah seseorang
yang mencapai tujuan kehidupan suci.
[4.24] Apramādaṁ praśaṁsanti, pramādo garhitaḥ
sadā,
apramādena Maghavāṁ Devānāṁ śreṣṭhatāṁ gataḥ.
Kewaspadaan
mereka puji, kelengahan selalu dicela, melalui kewaspadaan Maghavā (Sakka/
Indra) menjadi pemimpin para Deva.
[4.25–4.26] Apramādaṁ praśaṁsanti sadā kṛtyeṣu paṇḍitāḥ,
apramatto hy ubhāv arthāv atigṛhṇāti paṇḍitaḥ:
Dṛṣṭadhārmika eko ’rthas, tathānyaḥ
sāmparāyikaḥ,
arthābhisamayād dhīraḥ paṇḍito hi nirucyate.
Orang
bijaksana selalu memuji kewaspadaan dalam tugas-tugasnya, mereka yang waspada
dan bijaksana memperoleh kedua manfaat ini: Satu manfaat terlihat dalam
kehidupan ini, dan yang lainnya di kehidupan selanjutnya, ia yang tekun, dari
realisasi manfaat-manfaat ini, tentu disebut seorang bijaksana.
[4.27] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
durgād uddharatetmānaṁ paṅkasannaiva kuñjaraḥ.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, harus
mengeluarkan dirinya dari lubang (keterpurukan), seperti gajah yang berendam di
dalam lumpur.
[4.28] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
dhunāti pāpakāṁ dharmāṁ, patrāṇīva hi mārutaḥ.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan,
menghempaskan pikiran jahat, seperti halnya angin menghempaskan dedaunan dari
sebatang pohon.
[4.29] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
saṁyojanam aṇusthūlaṁ dahann agnir iva
gacchati.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan,
mengalami kemajuan, membakar belenggu, kecil atau besar, seperti sebuah api.
[4.30] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
spṛśati hy anupūrveṇa sarvasaṁyojanakṣayam.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, secara
bertahap mengalami penghancuran segala belenggu.
[4.31] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
pratividhyate padaṁ śāntaṁ, saṁskāropaśamaṁ
sukham.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan,
menembus keadaan yang damai, terhentinya segala sesuatu yang berkondisi,
kebahagiaan.
[4.32] Apramādarato bhikṣuḥ, pramāde bhayadarśakaḥ,
abhavyaḥ parihāṇāya: Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Seorang Bhikṣu
yang bersenang dalam kewaspadaan, yang melihat bahaya dalam kelengahan, tidak
mampu untuk terjatuh: Bhikṣu itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.
[4.33–4.34] Uttiṣṭhata vyāyamata, dṛḍhaṁ śikṣata
śāntaye!
Asmṛtiś ca pramādaś caivānutthānam asaṁyamaḥ,
nidrā tandrīr anāyoga – ete śikṣāntarāyikāḥ,
tad aṅgaṁ pratibudhyadhvaṁ! Smṛtir māntaradhīyata!
Bangkitkan
dirimu, berusahalah, berlatihlah dengan tekun untuk kedamaian! Kurangnya
perhatian, kelengahan, kemalasan, kurangnya pengendalian, tidur, kelesuan,
kurangnya praktek – ini semua adalah belenggu untuk latihan, sadarlah dengan
fakta ini! Janganlah kehilangan perhatian!
[4.35] Uttiṣṭhen na pramādyeta, Dharmaṁ sucaritaṁ
caret,
Dharmacārī sukhaṁ śete hy asmiṁ loke paratra
ca.
Seseorang
seharusnya berjuang, jangan menjadi lengah, hidup dengan Dharma dan berperilaku
baik, seseorang yang hidup dengan Dharma hidup bahagia di dunia ini dan di
dunia berikutnya.
[4.36] Apramādaratā bhavata! Suśīlā bhavata, bhikṣavaḥ,
susamāhitasaṁkalpāḥ, svacittam anurakṣata.
Jadilah ia
yang bersenang dalam kewaspadaan! Jadilah yang terdisiplinkan dengan baik, para
Bhikṣu, dengan niat yang tersusun baik, lindungilah pikiranmu sendiri.
[4.37] Ārabhadhvaṁ niṣkramadhvaṁ, yujyadhvaṁ
Buddhaśāsane,
dhunidhvaṁ mṛtyunaḥ sainyaṁ, naḍāgāram iva
kuñjaraḥ.
Engkau harus
berusaha dan melepaskan, dan teguhkan dirimu kepada Ajaran Sang Buddha,
hempaskanlah pasukan kematian, seperti seekor gajah menghancurkan sebuah gubuk
bambu.
[4.38] Yo hy asmiṁ Dharmavinaye tv apramatto bhaviṣyati,
prahāya jātisaṁsāraṁ, duḥkhasyāntaṁ sa
yāsyati.
Ia yang akan
waspada dalam Dharma dan Vinaya ini, setelah meninggalkan transmigrasi melalui
kelahiran, akan pergi menuju akhir penderitaan.
Apramādavargaḥ,
4.
Bab tentang
Kewaspadaan, yang Keempat.
5. Priyavarga
Bab tentang
yang Dicintai
(29 Syair)
[5.1] Priyebhyo jāyate śokaḥ, priyebhyo jāyate
bhayam,
priyebhyo vipramuktānāṁ nāsti śokaḥ, kuto
bhayam?
Dari yang
dicintai muncul kesedihan, dari yang dicintai muncul ketakutan, bagi mereka
yang sepenuhnya terbebas dari yang dicintai, tidak terdapat kesedihan,
bagaimana (mungkin) terdapat ketakutan?
[5.2] Priyebhyo jāyate śokaḥ, priyebhyo jāyate
bhayam,
priyāṇām anyathībhāvād, unmādam api
gacchati.
Dari yang
dicintai kesedihan muncul, dari yang dicintai ketakutan muncul, karena
perubahan dalam ia yang terkasih, seseorang bahkan menjadi marah.
[5.3] Śokā hi ye vai paridevitaṁ ca,
duḥkhaṁ ca lokasya hi naikarūpam,
priyaṁ pratītyeha tad asti sarvaṁ,
priye ’sati, syān na kathaṁ cid etat?
Memang,
kesedihan dan dukacita apapun, dan banyak jenis penderitaan di dunia, semuanya
muncul karena yang dicintai di sini, tanpa yang dicintai, penderitaan apa yang
dapat terjadi?
[5.4] Tasmād dhi te sukhitā vītaśokā,
yeṣāṁ priyaṁ nāsti kathaṁ cid eva,
tasmād aśokaṁ padam eṣamāṇaḥ,
priyaṁ na kurvīta hi jīvaloke.
Karena
itulah mereka bahagia dan bebas dari kesedihan, bagi mereka tidak ada siapapun
yang dicintai, karena itulah ia yang mencari keadaan tanpa kesedihan,
seharusnya tidak membuat cinta untuk apapun pada dunia kehidupan.
[5.5] Mā priyaiḥ saṁgamo jātu, mā ca syād apriyaiḥ
sadā,
priyāṇām adarśanaṁ duḥkham, apriyāṇāṁ ca
darśanam.
Jangan
pernah berhubungan dengan yang dicintai, dan seseorang seharusnya tidak selalu
bersama dengan yang dibenci, tidak melihat mereka yang dicintai adalah
penderitaan, dan juga melihat mereka yang dibenci.
[5.6] Priyāṇāṁ ca vinābhāvād apriyāṇāṁ ca saṁgramāt
tīvra utpadyate śoko, jīryante yena mānavāḥ.
Dari
berpisah dengan yang dicintai dan berhubungan dengan yang dibenci memunculkan
kesedihan yang besar, yang dengannya seseorang merosot.
[5.7] Priyaṁ mṛtaṁ kālagataṁ, jñātayaḥ sahitāḥ
sthitāḥ,
śocanti dīrgham adhvānaṁ, duḥkho hi priyasaṁgamaḥ.
Ketika
seseorang yang dicintai telah pergi dan meninggal, para kerabat, berkumpul,
mengelilinginya, mereka bersedih untuk waktu yang lama, akibat kemelekatan pada
yang dicintai adalah penderitaan.
[5.8] Tasmāt priyaṁ na kurvīta, priyabhāvo hi
pāpakaḥ,
granthās teṣāṁ na vidyante yeṣāṁ nāsti
priyāpriyam.
Karena
itulah seseorang tidak seharusnya mencintai, karena kehadiran yang dicintai
adalah menyakitkan, tidak ada ikatan bagi mereka yang tidak menggenggam apapun
seperti yang dicintai atau yang dibenci.
[5.9] Ayoge yujya cātmānaṁ, yoge cāyujya sarvadā,
arthaṁ hitvā, priyagrāhī spṛhayaty
arthayogine.
Setelah meneguhkan
dirinya pada apa yang tidak layak, tidak pernah meneguhkan dirinya pada apa
yang layak, meninggalkan kebaikan, ia yang menggenggam yang dicintai iri pada
ia yang teguh pada kebaikan.
[5.10] Priyarūpasātagrathitā Devakāyāḥ pṛthaksthitāḥ,
āghādinaḥ paridyūnā, Mṛtyurājavaśaṁ gatāḥ.
Tubuh para
Deva, terikat oleh kenikmatan bentuk-bentuk yang dicintai, berdiri terpisah (di
alamnya masing-masing), tersiksa, menua, mereka pergi ke dalam kekuasaan Raja
Kematian.
[5.11] Ye vai divā ca rātrau caivāpramattāḥ priyaṁ
jahati nityam,
te vai khananti tv aghamūlaṁ,
Mṛtyu-r-āmiṣaṁ durativartyam.
Tentu saja
mereka yang waspada di siang dan malam, selalu meninggalkan yang dicintai,
mereka tentu menggali akar dukacita, jebakan kematian, sangat sulit untuk
dilampaui.
[5.12] Asādhu sādhurūpeṇa, priyarūpeṇa cāpriyam,
duḥkhaṁ sukhyasya rūpeṇa, pramattān
abhimardati.
Yang tidak
menyenangkan dengan bentuk yang menyenangkan, yang tidak dicintai dengan bentuk
yang dicintai, kesakitan di bentuk kesenangan, menghancurkan yang lengah.
[5.13] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyān, nainaṁ pāpena
yojayet,
na hy etat sulabhaṁ bhavati sukhaṁ duṣkṛtakāriṇā.
Jika
seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia tidak akan
melibatkan dirinya sendiri pada kesalahan, karena kebahagiaan tidak mudah
diperoleh oleh ia yang melakukan perbuatan buruk.
[5.14] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyān, nainaṁ pāpena
yojayet,
etad dhi sulabhaṁ bhavati sukhaṁ sukṛtakāriṇā.
Jika
seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia tidak akan
melibatkan dirinya sendiri pada kesalahan, karena kebahagiaan mudah diperoleh
oleh ia yang melakukan perbuatan bajik.
[5.15] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyād, rakṣed enaṁ surakṣitam,
yathā pratyantanagaraṁ gambhīraparikhaṁ dṛḍham,
trayāṇām anyatamaṁ yāmaṁ pratijāgreta paṇḍitaḥ.
Jika
seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia seharusnya menjaga
dirinya sendiri dengan baik, seperti suatu perbatasan kota yang dibangun kokoh
dengan parit yang dalam, orang bijaksana harus selalu waspada di salah satu
dari tiga jaga malam.
[5.16–5.17] Ātmānaṁ cet priyaṁ vidyād, gopayet taṁ
sugopitam,
yathā pratyantanagaraṁ, guptam
antarbahisthiram,
evaṁ gopayatātmānaṁ, kṣaṇo vo mā hy
upatyagāt,
kṣaṇātītā hi śocante, narakeṣu samarpitāḥ.
Jika
seseorang memahami dirinya sendiri sebagai yang dicintai, ia seharusnya menjaga
dirinya sendiri, seperti halnya suatu perbatasan kota yang dijaga, kokoh dari
dalam dan luar, demikianlah seseorang seharusnya menjaga dirinya sendiri,
janganlah membiarkan momen itu berlalu, bagi mereka yang membiarkan momen akan
bersedih, ketika terlahir ke alam neraka.
[5.18] Sarvā diśas tv anuparigamya cetasā,
naivādhyagāt priyataram ātmanaḥ kva cit,
evaṁ priyaḥ pṛthagātmā pareṣāṁ,
tasmān na hiṁsyāt param ātmakāraṇam.
Setelah
mencari ke segala arah dengan pikiran, seseorang menemukan bahwa tidak ada yang
lebih dicintai daripada dirinya sendiri, dalam cara inilah, orang lain
masing-masing mencintai dirinya sendiri, karena itulah ia yang peduli pada
dirinya sendiri tidak seharusnya menyakiti yang lain.
[5.19] Sarve daṇḍasya bibhyanti, sarveṣāṁ jīvitaṁ
priyam,
ātmānam upamāṁ kṛtvā, naiva hanyān na
ghātayet.
Semuanya
takut pada tongkat, bagi semua kehidupan adalah yang dicintai, setelah membuat
suatu perbandingan pada dirinya sendiri, seseorang tidak seharusnya melukai
akau menyebabkan terlukanya (makhluk lain).
[5.20–5.21] Cirapravāsinaṁ yadvad dūrataḥ svastināgatam,
jñātayaḥ suhṛdo mitrāś cābhinandanti āgatam,
kṛtapuṇyaṁ tathā martyam asmāl lokāt paraṁ
gatam,
puṇyāny evābhinandanti, priyaṁ jñātim
ivāgatam.
Seperti
halnya ketika seseorang yang tinggal di luar negeri data dengan selamat dari
jauh, kerabatnya, rekan dan sahabatnya bergembira saat kepulangannya,
demikianlah, ketika satu makhluk yang telah melakukan kebajikan pergi dari
dunia ini ke dunia berikutnya, kebajikannya bergembira, seperti halnya seorang
kerabat bergembira atas kepulangan seseorang yang mereka cintai.
[5.22] Tasmāt kuruta puṇyānāṁ, nicayaṁ
sāmparāyikam,
puṇyāni paraloke hi pratiṣṭhā prāṇināṁ hi
sā.
Karena
itulah lakukan perbuatan bajik, satu perbekalan untuk kehidupan di masa depan,
kebajikan itu tentu adalah satu penyokong untuk makhluk-makhluk yang bernafas
di dunia berikutnya.
[5.23] Puṇyaṁ Devāḥ praśaṁsanti, samacaryāṁ ca yaś
caret,
iha cānindito bhavati, pretya svarge ca
modate.
Para Deva
memuji kebajikan seseorang yang hidup dalam harmoni, seseorang menjadi tanpa
cela di sini, dan setelah kematian, seseorang berbahagia di surga.
[5.24] Dharmasthaṁ śīlasaṁpannaṁ hrīmantaṁ
satyavādinam,
ātmanaḥ kārakaṁ santaṁ, taṁ janaḥ kurute
priyam.
Teguh dalam
Dharma, diberkahi dengan moralitas, memiliki rasa malu (akan perbuatan buruk),
seorang pengucap kebenaran, orang baik itu yang berperilaku untuk dirinya
sendiri, ialah yang dicintai oleh orang-orang.
[5.25] Pareṣāṁ ca priyo bhavati, hy ātmārthaṁ
kriyate ’pi ca,
dṛṣte ca dharme prāśaṁsyaḥ, sāmparāye ca
sadgatiḥ.
Ia bahkan
dicintai oleh orang lain, bahkan ketika berbuat demi dirinya sendiri, ia patut
dipuji di dunia ini, dan memiliki tujuan yang baik di kehidupan mendatang.
[5.26] Avavadetānuśāsīta, cāsabhyāc ca nivārayet,
asatāṁ na priyo bhavati, satāṁ bhavati tu
priyaḥ.
Ia
seharusnya menasehati dan juga menginstruksikan, dan melarang apa yang keji, ia
tidak dicintai dengan keburukan, tetapi ia dicintai dengan kebajikan.
[5.27] Asantaś caiva santaś ca nānā yānti tv itaś
cyutāḥ,
asanto narakaṁ yānti, santaḥ svargaparāyaṇāḥ.
Orang jahat
dan orang baik ketika meninggal pergi ke berbagai tujuan dari sini, orang jahat
pergi ke neraka, orang baik menyeberang ke alam surga.
Priyavargaḥ,
5.
Bab tentang
Yang Dicintai, yang Kelima.
6. Śīlavarga
Bab tentang
Moralitas
(18 Syair)
[6.1] Śīlaṁ rakṣeta medhāvī, prārthayaṁ vai
sukhatrayam:
praśaṁsā vittalābhaṁ ca, pretya svarge ca
modanam.
Ia yang
cerdas seharusnya melindungi moralitasnya, ketika mengharapkan tiga
kebahagiaan: Pujian dan perolehan kekayaan, dan berbahagia di surga setelah
kematian.
[6.2] Sthānāny etāni saṁpaśyaṁ śīlaṁ rakṣeta paṇḍitaḥ,
āryo darśanasaṁpannaḥ, sa loke labhate
śivam.
Melihat
keadaan-keadaan ini, ia yang bijaksana seharusnya melindungi moralitasnya, Ia
Yang Suci, diberkahi dengan pandangan terang, memperoleh keamanan di dunia.
[6.3] Sukhaṁ śīlasamādānaṁ, kāyo na paridahyate,
sukhaṁ ca rātrau svapati, pratibuddhaś ca
nandati.
Adalah baik
menjalani moralitas, tubuh tidak menjadi sakit, ia yang baik tidur saat malam,
dan, setelah terjaga, ia berbahagia.
[6.4] Śīlaṁ yāvaj jarā sādhu, śraddhā sādhu pratiṣṭhitā,
prajñā narāṇāṁ ratnaṁ vai, puṇyaṁ coraiḥ
sudurharam.
Moralitas
adalah baik hingga usia tua, meneguhkan keyakinan adalah baik, kebijaksanaan
tentu ialah satu permata diantara manusia, adalah sulit bagi jasa kebajikan
dicuri oleh pencuri.
[6.5] Kṛtvā puṇyāni saprajño, datvā dānāni
śīlavān,
iha cātha paratrāsau sukhaṁ samadhigacchati.
Orang
bijaksana dan bermoral, setelah membuat kebajikan dan memberikan pemberian,
orang itu kemudian mencapai kebahagiaan baik di sini dan di dunia selanjutnya.
[6.6-7] Śīle pratiṣṭhito bhikṣur, indriyaiś ca susaṁvṛtaḥ,
bhojane cāpi mātrajño, yukto jāgarikāsu ca,
viharann evam ātāpī, hy ahorātram atandritaḥ,
abhavyaḥ parihāṇāya: Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Seorang Bhikṣu, yang teguh dalam moralitas, dengan indera-indera
yang terkendali dengan baik, tahu ukuran dalam hal makan, dan mengabdikan diri
pada keawasan, berdiam dengan gigih dalam cara ini, tekun, siang dan malam,
kemunduran adalah mustahil baginya: Orang itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.
[6.8] Śīle pratiṣṭhito bhikṣuś, cittaṁ prajñāṁ ca
bhāvayet,
ātāpī nipako nityaṁ, prāpnuyād duḥkhasaṁkṣayam.
Seorang Bhikṣu yang teguh dalam moralitas, seharusnya
mengembangkan pikiran dan kebijaksanaan, dengan tekun dan menyelidiki
terus-menerus, ia dapat mencapai penghancuran penderitaan sepenuhnya.
[6.9] Tasmāt satataśīlī syāt, samādher anurakṣakaḥ,
vipaśyanāyāṁ śikṣec ca, saṁprajānapratismṛtaḥ.
Karena
itulah, seseorang seharusnya selalu bermoral, seorang penjaga konsentrasi, dan
seseorang seharusnya berlatih dalam pandangan terang, memahami dengan jelas dan
penuh perhatian.
[6.10] Sa tu vikṣīnasaṁyogaḥ, kṣīṇamāno niraupadhiḥ,
kāyasya bhedāt, saprajñaḥ, saṁkhyān nopaiti,
nirvṛtaḥ.
Namun ia,
dengan kuk dihancurkan, dengan kesombongan dihancurkan, tanpa kemelekatan,
ketika hancurnya jasmani, ia yang bijaksana, terbebaskan, tidak akan dihitung
(sebagai makhluk lagi).
[6.11] Śīlaṁ samādhiḥ prajñā ca yasya hy ete
subhāvitāḥ,
so ’tyantaniṣṭho vimalas tv aśokaḥ kṣīṇasaṁbhavaḥ.
Baginya
hal-hal ini: Moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan, telah dengan baik
dikembangkan, orang itu teguh dalam pendirian, tanpa noda, tanpa kesedihan,
dengan kemenjadian dihancurkan.
[6.12] Saṅgāt pramukto hy asita, ājñātāvī
niraupadhiḥ,
atikramya Māraviṣayam, ādityo vā virocate.
Terbebas dari
kemelekatan, tidak bergantung, memiliki pengetahuan yang sempurna, tanpa
kemelekatan, setelah melampaui kuasa Māra, ia bersinar seperti matahari.
[6.13] Uddhatasya pramattasya, bhikṣuṇo bahirātmanaḥ,
śīlaṁ samādhiḥ prajñā ca pāripūriṁ na
gacchati.
Bagi seorang
Bhikṣu yang arogan, lalai, dengan dirinya sendiri diarahkan ke hal-hal luar,
moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan tidak mencapai pemenuhan.
[6.14] Channam evābhivarṣati, vivṛtaṁ nābhivarṣati,
tasmād dhi cchannaṁ vivared, evaṁ taṁ
nābhivarṣati.
Hujan
membasahi apa yang tertutup, hujan tidak membasahi apa yang terbuka, karena
itulah, seseorang seharusnya membuka apa yang tertutup, sehingga hujan tidak
membasahinya.
[6.15] Etad dhi dṛṣṭvā śikṣeta sadā śīleṣu paṇḍitaḥ,
Nirvāṇagamanaṁ mārgaṁ kṣipram eva
viśodhayet.
Setelah
melihat hal ini, ia yang bijaksana seharusnya berlatih dalam moralitas, ia
seharusnya bergegas memurnikan Sang Jalan menuju Nirvāṇa.
[6.16] Na puṣpagandhaḥ prativātam eti,
na vāhnijāt tagarac candanād vā,
satāṁ tu gandhaḥ prativātam eti,
sarvā diśaḥ satpuruṣaḥ pravāti.
Harumnya
bunga tidak pergi melawan angin, juga melati, tagara, dan cendana, namun
harumnya kebajikan dapat pergi melawan angin, orang bajik melingkupi segala
arah.
[6.17] Tagarāc candanāc cāpi, vārṣikāyās tathotpalāt,
etebhyo gandhajātebhyaḥ, śīlagandhas tv
anuttaraḥ.
Diantara
tagara, cendana, dan kembang melati, demikian pula teratai biru, diantara
aroma-aroma yang harum ini, harumnya kebajikan tidaklah tertandingi.
[6.18] Alpamātro hy ayaṁ gandho, yo ’yaṁ
tagaracandanāt,
yas tu śīlavatāṁ gandho vāti deveṣv apīha saḥ.
Tidaklah seberapa
harum ini, yang muncul dari tagara dan cendana, namun harumnya seseorang yang
memiliki moralitas di sini berhembus bahkan di antara para Deva.
[6.19] Teṣāṁ viśuddhaśīlānām, apramādavihāriṇām,
samyagājñāvimuktānāṁ – Māro mārgaṁ na
vindati.
Bagi mereka
yang bermoral murni, yang hidup dengan kewaspadaan, yang terbebas melalui
pengetahuan benar – Māra tidak dapat menemukan jejak mereka.
[6.20] Eṣa kṣemagamo mārga, eṣa mārgo viśuddhaye,
pratipannakāḥ prahāsyanti dhyāyino
Mārabandhanam.
Inilah Sang
Jalan menjuju Keamanan, inilah Sang Jalan menuju Pemurnian, para meditator yang
memasuki Jalan ini akan meninggalkan belenggu Māra.
Śīlavargaḥ,
6.
Bab tentang
Moralitas, yang Keenam.
7. Sucaritavarga
Bab tentang
Perilaku Bajik
(12 Syair)
[7.1] Kāyapradoṣaṁ rakṣeta, syāt kāyena susaṁvṛtaḥ,
kāyaduścaritaṁ hitvā, kāyena sukṛtaṁ caret.
Seseorang
seharusnya berjaga atas kesalahan jasmani, seseorang seharusnya terkendali
dalam jasmani, meninggalkan perilaku jasmani yang salah, seseorang seharusnya
mempraktekkan perilaku jasmani yang baik.
[7.2] Vācaḥ pradoṣaṁ rakṣeta, vacasā saṁvṛto
bhavet,
vāco duścaritaṁ hitvā, vācā sucaritaṁ caret.
Seseorang
seharusnya berjaga atas kesalahan ucapan, seseorang seharusnya terkendali dalam
ucapan, meninggalkan perilaku ucapan yang salah, seseorang seharusnya
mempraktekkan perilaku ucapan yang baik.
[7.3] Manaḥpradoṣaṁ rakṣeta manasā saṁvṛto bhavet,
manoduścaritaṁ hitvā manaḥsucaritaṁ caret.
Seseorang
seharusnya berjaga atas kesalahan pikiran, seseorang seharusnya terkendali
dalam pikiran, meninggalkan perilaku pikiran yang salah, seseorang seharusnya
memiliki perilaku pikiran yang baik.
[7.4–7.5] Kāyaduścaritaṁ hitvā, vacoduścaritāni ca,
manoduścaritaṁ hitvā, yac cānyad doṣasaṁhitaṁ,
kāyena kuśalaṁ kuryād, vacasā kuśalaṁ bahu,
manasā kuśalaṁ kuryād, apramāṇaṁ
niraupadhim.
Meninggalkan
perilaku jasmani yang salah, dan juga perilaku ucapan yang salah, meninggalkan
perilaku pikiran yang salah, dan apapun itu yang berhubungan dengan kesalahan,
seseorang seharusnya membuat jasa kebajikan dengan jasmani, dan banyak jasa
kebajikan dengan ucapan, seseorang seharusnya membuat jasa kebajikan dengan
pikiran, ia akan menjadi tak terukur, bebas dari kemelekatan.
[7.6] Kāyena kuśalaṁ kṛtvā, vacasā cetasāpi ca,
iha cātha paratrāsau sukhaṁ samadhigacchati.
Setelah
membuat jasa kebajikan dengan jasmani, dengan ucapan dan dengan pikiran,
kemudian di sini dan di dunia selanjutnya orang itu mencapai kebahagiaan.
[7.7] Ahiṁsakā vai munayo, nityaṁ kāyena saṁvṛtāḥ,
te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na
śocati.
Tentu saja,
para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam jasmani, pergi
menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak bersedih.
[7.8] Ahiṁsakā vai munayo, nityaṁ vācā susaṁvṛtāḥ,
te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na
śocati.
Tentu saja,
para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam ucapan, pergi
menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak
bersedih.
[7.9] Ahiṁsakā vai munayo, manasā nityasaṁvṛtāḥ,
te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ, yatra gatvā na
śocati.
Tentu saja,
para bijaksanawan tanpa kekerasan itu, selalu terkendali dalam pikiran, pergi
menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi, seseorang tidak
bersedih.
[7.10] Kāyena saṁvṛtā dhīrā, dhīrā vācā susaṁvṛtāḥ,
manasā saṁvṛtā dhīrā, dhīrāḥ sarvatra saṁvṛtāḥ,
te yānti hy acyutaṁ sthānaṁ yatra gatvā na
śocati.
Yang tekun
terkendali dalam jasmani, yang tekun terkendali dengan baik dalam ucapan, yang
tekun terkendali dalam pikiran, yang tekun terkendali dengan baik dalam segala
cara, mereka pergi menuju keadaan tanpa kematian, di mana, setelah pergi,
seseorang tidak bersedih.
[7.11] Kāyena saṁvaraḥ sādhu, sādhu vācā ca saṁvaraḥ,
manasā saṁvaraḥ sādhu, sādhu sarvatra saṁvaraḥ,
sarvatra saṁvṛto bhikṣuḥ sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Pengendalian
jasmani adalah baik, pengendalian ucapan adalah baik, pengendalian pikiran
adalah baik, adalah baik terkendali dalam segala cara, seorang Bhikṣu yang
terkendali dalam segala cara terbebas dari segala penderitaan.
[7.12] Vācānurakṣī manasā susaṁvṛtaḥ,
kāyena caivākuśalaṁ na kuryāt,
etāṁ śubhāṁ karmapathāṁ viśodhayann,
ārādhayen mārgam ṛṣipraveditam.
Seseorang
yang terjaga dalam ucapan, terkendali dengan baik dalam pikiran, seharusnya
tidak melakukan keburukan dengan jasmani, memurnikan Jalan-jalan indah
perbuatan ini, seseorang seharusnya menyelesaikan Jalan yang ditunjukkan oleh
Sang Penglihat.
Sucaritavargaḥ,
7.
Bab tentang
Perilaku Bajik, yang Ketujuh
8. Vācavarga
Bab tentang
Ucapan
(15 Syair)
[8.1] Abhūtavādī narakān upaiti,
yaś cānyad apy ācaratīha karma,
ubhau hi tau pretya samau niruktau,
nihīnadharmau manujau paratra.
Ia yang
mengucapkan kebohongan pergi ke neraka, demikian juga ia yang melakukan
berbagai macam perbuatan salah di sini, keduanya dinyatakan sama setelah
kematian, di dunia berikutnya mereka dinyatakan sebagai manusia yang melakukan
perbuatan-perbuatan rendah.
[8.2] Puruṣasya hi jātasya, kuṭhārī jāyate mukhe,
yayā chinatti hātmānaṁ, vācā durbhāṣitaṁ
vadan.
Ketika
seseorang terlahir, sebuah kapak muncul di mulutnya, yang dengannya ia memotong
dirinya sendiri, mengucapkan kata-kata yang dengan buruk diucapkan.
[8.3] Yo nindiyāṁ praśaṁsati,
tān api nindati ye praśaṁsiyāḥ,
sa cinoti mukhena taṁ kaliṁ,
kalinā tena sukhaṁ na vindati.
Ia yang
memuji yang patut dicela, yang bahkan mencela mereka yang patut dipuji, orang
itu mengumpulkan pelanggaran dengan mulutnya, karena pelanggaran itu
kebahagiaan tidak ditemukan.
[8.4] Alpamātro hy ayaṁ kalir ya ihākṣeṇa dhanaṁ
parājayet,
ayam atra mahattaraḥ kalir, yaḥ sugateṣu
manaḥ pradūṣayet.
Orang yang
kehilangan kekayaan melalui dadu di sini, pelanggaran ini tidaklah signifikan,
inilah pelanggaran yang jauh lebih besar di sini, orang yang berpikiran jahat
terhadap mereka yang bajik.
[8.5] Śataṁ sahasrāṇi nirarbudāni,
ṣaṭtrimśatiṁ pañca tathārbudāni,
yān āryagarhī narakān upaiti,
vācaṁ manaś ca praṇidhāya pāpakam.
Ratusan,
ribuan, banyak milyaran, tiga puluh enam ditambah lima milyar tahun, ia yang
mencela yang suci pergi ke neraka selama ini, setelah mengarahkan pikiran dan
ucapannya pada kesalahan.
[8.6] Asataṁ hi vadanti pāpacittā,
narakaṁ vardhayate, vadhāya nityam,
anavadyabalas titīkṣate, tāṁ
manaso hy āvilatāṁ vivarjayitvā.
Tentu saja
mereka yang berbicara buruk dengan pikiran jahat, memenuhi neraka, selalu
menghukum diri mereka sendiri, namun yang tanpa cela, ia yang kuat, menahankan,
menghindari kegelisahan pikiran itu.
[8.7] Yaḥ śāsanaṁ hy Arhatām Āryāṇāṁ Dharmajīvinām
pratikrośati durmedhā dṛṣṭiṁ niḥśritya
pāpikām,
phalaṁ kaṇṭakaveṇur vā phalaty ātmavadhāya
saḥ.
Orang yang
menghina ajaran mereka yang hidup dengan Dharma para Arhat Yang Mulia, ia yang tidak cerdas, bergantung pada pandangan
salah, seperti bambu berduri ketika menghasilkan buah, membawa kehancurannya
sendiri.
[8.8] Kalyāṇikāṁ vimuñceta, naiva muñceta pāpikām,
muktā kalyāṇikī śreyo, muktā tapati pāpikā.
Seseorang
seharusnya membebaskan mereka yang bajik, jangan pernah membebaskan mereka yang
jahat, membebaskan orang bajik adalah yang terbaik, ketika dibebaskan orang
jahat (akan) membakar.
[8.9] Na ca mukte pramuñcet tāṁ, muñcamāno hi
bādhyate,
naivam Āryāḥ pramuñcanti, muktā bālair hi
pāpikā.
Seseorang
seharusnya tidak membebaskan kejahatan itu yang tidak bebas, ia yang
membebaskannya (akan) menderita, bukan dalam cara ini Para Āryāḥ membebaskannya, namun kejahatan dibebaskan oleh mereka yang
dungu.
[8.10] Mukhena saṁyato bhikṣur,
mandabhāṣī hy anuddhataḥ,
arthaṁ Dharmaṁ ca deśayati,
madhuraṁ tasya bhāṣitam.
Bhikṣu itu
yang terkendali dengan mulutnya, yang berbicara dengan lembut, yang bersikap
madya, yang mengajarkan arti dari Dharma, ucapannya adalah manis.
[8.11] Subhāṣitaṁ hy uttamam āhur āryā;
Dharmaṁ vaden nādharmaṁ tad dvitīyam;
priyaṁ vaden nāpriyaṁ tat tṛtīyaṁ;
satyaṁ vaden nāsatyaṁ tac caturtham.
Yang Mulia
pertama-tama mengatakan apa yang diucapkan dengan baik; Mengucapkan Dharma,
tidak apa yang bukan Dharma, adalah yang kedua; Mengucapkan apa yang menyenangkan,
bukan yang tidak menyenangkan, adalah yang ketiga; Mengucapkan kejujuran, bukan
kebohongan, adalah yang keempat.
[8.12] Tām eva vācaṁ bhāṣeta yayātmānaṁ na tāpayet,
parāṁś ca na vihiṁseta, sā hi vāk sādhu bhāṣitā.
Seseorang
seharusnya mengucapkan perkataan yang dengannya ia tidak menyiksa dirinya
sendiri, dan tidak melukai orang lain, ucapan ini tentu ducapkan dengan baik.
[8.13] Priyodyam eva bhāṣeta, yā hi vācābhinanditā,
nādadāti yayā pāpaṁ, bhāṣamāṇaḥ sadā priyam.
Seseorang
seharusnya mengucapkan apa yang disenangi dan menggugah, kata-kata yang
menyenangkan, yang dengannya kesalahan tidak dilakukan, selalu mengatakan apa
yang menyenangkan.
[8.14] Satyā syād amṛtā vācā, satyavācā hy
anuttarā,
satyam arthe ca Dharme ca vācam āhuḥ pratiṣṭhitām.
Ucapan
kebenaran dapat mengarah ke tanpa kematian, ucapan kebenaran adalah tak
tertandingi, ucapan kebenaran yang mereka katakan adalah kokoh baik dalam
Dharma dan maknanya.
[8.15] Yāṁ Buddho bhāṣate vācaṁ kṣemāṁ Nirvāṇaprāptaye,
duḥkhasyāntakriyāyuktāṁ, sā hi vāk sādhu bhāṣitā.
Apapun sabda
yang Sang Buddha ucapkan adalah untuk mencapai keamanan Nirvāṇa, berhubungan dengan menghentikkan penderitaan, ucapan itu
tentu diucapkan dengan baik.
Vācavargaḥ,
8.
Bab tentang
Ucapan, yang Kedelapan.
9. Karmavarga
Bab tentang
Perbuatan
(20 Syair)
[9.1] Ekadharmam atītasya, mṛṣāvādasya jantunaḥ,
vitīrṇaparalokasya, nākāryaṁ pāpam asti yat.
Bagi
seseorang yang mengucapkan kebohongan, yang melanggar satu hal ini, yang telah
meninggalkan dunia selanjutnya (tidak takut akan alam buruk), tidak ada
kejahatan apapun yang belum dilakukan.
[9.2] Śreyo hy ayoguḍā bhuktās, taptā hy
agniśikhopamāḥ,
na tu bhuñjīta duḥśīlo rāṣṭrapiṇḍam asaṁyataḥ.
Lebih baik
memakan bola-bola besi, menyala seperti bara api, daripada orang itu yang, tak
bermoral dan tak terkendali, menikmati derma makan suatu negeri.
[9.3] Sa ced bibheṣi duḥkhasya, sa cet te duḥkham
apriyam,
mā kārṣīḥ pāpakaṁ karma, tv āvir vā yadi vā
rahaḥ.
Jika engkau
memiliki ketakutan akan penderitaan, jika penderitaan tidak engkau sukai,
janganlah melakukan satu perbuatan jahat, apakah terbuka atau secara rahasia.
[9.4] Sa cet pāpāni karmāṇi kariṣyasi karoṣi vā,
na te duḥkhāt pramokṣo ’sti, hy utplutyāpi
palāyataḥ.
Jika
seseorang melakukannya, atau akan melakukannya, perbuatan buruk, tidak ada
kebebasan dari penderitaan untukmu, bahkan jika engkau melompat tinggi dan
pergi jauh.
[9.5] Naivāntarīkṣe na samudramadhye,
na parvatānāṁ vivaraṁ praviśya:
na vidyate ’sau pṛthivīpradeśo
yatra sthitaṁ na prasaheta karma.
Bukan di
langit, bukan juga di tengah samudera, bukan
juga setelah memasuki suatu jurang di gunung: Tidak terdapat tempat di
bumi yang dapat dipijak di mana karma tidak dapat mengalahkan seseorang.
[9.5A] Kṛṣṇaśuklāni karmāṇi na praṇaśyanti dehinaḥ,
kālaṁ prā[ ]iṣyante, kṛtāny upa[ ]nāni ca.
Perbuatan
gelap dan terang yang diwujudkan tidaklah menghilang, waktu, perbuatan yanng
telah dilakukan …
Catatan
Prof.
Dharmavardhana-Jñānagarbha mengusulkan pembacaan baris terakhir:
kālaṁ prāsahiṣyante kṛtāny upacitāni ca.
Perbuatan
yang telah dilakukan dan dikumpulkan akan bertahan seiring waktu.
[9.6] Yat pareṣāṁ vigarheta karma dṛṣṭveha
pāpakam,
ātmanā tan na kurvīta, karmabaddho hi pāpakaḥ.
Setelah
melihat perilaku jahat orang lain yang harus dikecam, engkau seharusnya tidak
melakukannya, karena seseorang yang jahat terikat oleh perbuatan-perbuatannya.
[9.7] Ye kūṭamānayogena viṣameṇa ca karmaṇā,
manuṣyān upahiṁsanti, paratopakrameṇa vā,
te vai prapātaṁ prapatanti, karmabaddhā hi
te janāḥ.
Mereka yang,
melalui penipuan, keangkuhan, muslihat dan berperilaku bengkok, atau melalui
penyerangan terhadap yang lain, melukai manusia, mereka tentu terjatuh dalam
kehancuran, karena orang-orang terikat oleh perbuatan-perbuatannya.
[9.8] Yat karoti naraḥ karma, kalyāṇam atha
pāpakam,
tasya tasyaiva dāyādo, na hi karma praṇaśyati.
Perilaku
apapun yang seseorang lakukan, bajik atau buruk, pada itulah ia tentu
mewarisinya, karena hasil suatu perbuatan tidaklah menghilang.
[9.9] Vilumpate hi puruṣo yāvad asyopakalpate,
tato ’nye taṁ vilumpanti, sa viloptā
vilupyate.
Bagi
seseorang tentu akan terus menjarah sepanjang itu bermanfaat baginya, karena
itulah (jika) orang lain menjarahnya, seorang penjarah sendiri yang terjarah.
[9.10] Kurvaṁ hi manyate bālo naitaṁ mām āgamiṣyati,
sāmparāye tu jānāti yā gatiḥ pāpakarmaṇām.
Orang dungu
berpikir: Perbuatanku tidak akan kembali kepadaku, namun di kehidupan mendatang
ia mengetahui tujuan mereka yang melakukan perbuatan salah.
[9.11] Kurvaṁ hi manyate bālo naitaṁ mām āgamiṣyati,
paścāt tu kaṭukaṁ bhavati vipākaṁ pratiṣevataḥ.
Orang dungu
berpikir: Perbuatanku tidak akan bembali kepadaku, namun kemudian adalah pahit
bagi seseorang yang merasakan hasilnya.
[9.12] Sa cet pāpāni karmāṇi kurvaṁ bālo na
budhyate,
karmabhiḥ svais tu durmedhā hy agnidagdhaiva
tapyate.
Jika orang
dungu tidak mengerti perbuatan buruk yang ia lakukan, ia yang bodoh tersiksa
oleh perilakunya sendiri, seperti dengan sebuah bara api.
[9.13] Caranti bālā duṣprajñā hy amitrair iva
cātmabhiḥ,
kurvantaḥ pāpakaṁ karma, yad bhavati kaṭukaṁ
phalaṁ.
Orang-orang
dungu yang kurang bijaksana hidup dengan diri mereka sendiri sebagai musuh,
melakukan perbuatan jahat, yang menghasilkan buah yang pahit.
[9.14] Na tat karma kṛtaṁ sādhu, yat kṛtvā hy
anutapyate,
rudann aśrumukho yasya, vipākaṁ pratiṣevate.
Perbuatan
itu tidak dengan baik dilakukan, yang dengannya, setelah dilakukan, seseorang
merasa menyesal, yang setelahnya, menangis, dengan air mata di wajahnya,
seseorang merasakan hasilnya.
[9.15] Tat tu karma kṛtaṁ sādhu, yat kṛtvā nānutapyate,
yasya pratītaḥ sumanā, vipākaṁ pratiṣevate.
Namun
perbuatan itu telah dilakukan dengan baik, yang, setelah melakukannya,
seseorang tidak menyesal, yang setelahnya, seseorang merasa puas dan bahagia,
ketika seseorang merasakan hasilnya.
[9.16] Hasantaḥ pāpakaṁ karma, kurvanty ātmasukhaiṣiṇaḥ,
rudantas tasya vīpākaṁ prativindanti duḥkhitāḥ.
Tertawa pada
perbuatan-perbuatan jahat, mereka melakukannya demi mencari kebahagiaan mereka
sendiri, setelahnya, mereka yang menderita, menangis, merasakan hasilnya.
[9.17] Na hi pāpakṛtaṁ karma, sadyaḥ kṣīram iva
mūrchati,
dahantad bālam anveti, bhasmācchanna ivānalaḥ.
Perbuatan
yang telah dengan buruk dilakukan, seperti halnya susu, tidak langsung menjadi
asam seketika, membakar perlahan, perbuatan itu mengikuti si dungu, seperti
halnya api yang ditutupi oleh abu.
[9.18] Na hi pāpakṛtaṁ karma, sadyaḥ śastram iva kṛntati,
sāmparāye tu jānāti yā gatiḥ pāpakarmaṇām,
paścāt tu kaṭukaṁ bhavati vipākaṁ pratiṣevataḥ.
Perbuatan
yang telah dengan buruk dilakukan, tidak memotong seketika seperti sebilah
pedang, namun di kehidupan mendatang seseorang mengetahui tujuan mereka yang
melakukan perbuatan-perbuatan jahat, dan setelahnya adalah pahit bagi seseorang
yang merasakan hasilnya.
[9.19] Ayaso hi malaḥ samutthitaḥ,
sa tadutthāya tam eva khādati,
evaṁ hy aniśāmyacāriṇaṁ –
svāni karmāṇi nayanti durgatim.
Seperti
halnya karat yang muncul dari besi, dan setelah kemunculannya memakan besi
tersebut, demikianlah dengan seseorang yang hidup tak terkendali – perbuatannya
sendiri mengarahkannya pada suatu tujuan yang buruk.
Karmavargaḥ,
9.
Bab tentang
Perbuatan, yang Kesembilan
10. Śraddhāvarga
Bab tentang
Keyakinan
(16 Syair)
[10.1] Śraddhātha hrīśīlam athāpi dānaṁ,
dharmā ime satpuruṣapraśastāḥ,
etaṁ hi mārgaṁ divyaṁ vadanti,
etenāsau gacchati Devalokam.
Keyakinan,
rasa malu, moralitas, dan kedermawanan, ini semua dipuji oleh orang baik,
inilah yang mereka katakan sebagai jalan menuju alam surgawi, dengan ini
seseorang pergi ke alam para Deva.
[10.2] Na vai kadaryā Devalokaṁ vrajanti,
bālā hi te na praśaṁsanti dānam,
śrāddhas tu dānaṁ hy anumodamāno,
py evaṁ hy asau bhavati sukhī paratra.
Yang pelit
tidak pergi ke alam para Deva, karena orang-orang dungu tidak memuji pemberian,
namun ia yang berkeyakinan bergembira dalam memberi, dan juga berbahagia di
alam selanjutnya.
[10.3] Śraddhā hi vittaṁ puruṣasya śreṣṭhaṁ,
Dharmaḥ sucīrṇaḥ sukham ādadhāti,
satyaṁ hi vai svādutamaṁ rasānāṁ,
prajñājīvī jīvināṁ śreṣṭha uktaḥ.
Keyakinan
adalah harta terbaik seseorang, Dharma, yang dipraktekkan dengan baik, membawa
kebahagiaan. Kebenaran, tentu saja, adalah rasa termanis, ia yang hidup dengan
bijaksana disebut yang terbaik di antara makhluk hidup.
[10.4] Śraddhādhano hy Arhatāṁ Dharmaṁ Nirvāṇaprāptaye,
śuśruṣur labhate prajñāṁ tatra tatra vicakṣaṇaḥ.
Setelah
memiliki kekayaan keyakinan untuk pencapaian Nirvāṇa, Dharma para Arhat,
dengan berkeinginan mendengarnya, sang penyelidik memperoleh kebijaksanaan di
manapun.
[10.5] Śraddhayā tarati hy ogham, apramādena cārṇavam,
vīryeṇa tyajate duḥkhaṁ, prajñayā
pariśudhyate.
Melalui
keyakinan seseorang menyeberangi banjir, melalui kewaspadaan, (seseorang
menyeberangi) samudera, melalui semangat seseorang meninggalkan penderitaan,
melalui kebijaksanaan seseorang dimurnikan.
[10.6] Śraddhā dvitīyā puruṣasya bhavati, prajñā
cainaṁ praśāsati,
Nirvāṇābhirato bhikṣuś chinatti
bhavabandhanam.
Keyakinan
adalah teman perjalanan seseorang, kebijaksanaan mengarahkannya, dengan
memotong belenggu kemenjadian seorang Bhikṣu
sangat bersenang dalam Nirvāṇa.
[10.7] Yasya śraddhā ca śīlaṁ caivāhiṁsā saṁyamo
damaḥ,
sa vāntadoṣo medhāvī sādhurūpo nirucyate.
Bagi
seseorang yang memiliki keyakinan, moralitas, tanpa kekerasan, pengendalian,
dan pelatihan, orang cerdas itu telah menyingkirkan kesalahan-kesalahan, ia
disebut yang terhormat.
[10.8] Śrāddhaḥ śīlena saṁpannas, tyāgavāṁ
vītamatsaraḥ,
vrajate yatra yatraiva, tatra tatraiva
pūjyate.
Ia yang
berkeyakinan diberkahi oleh moralitas, dermawan, tidak egois, kemanapun ia
pergi, di sana ia dihormati.
[10.9] Yo jīvaloke labhate śraddhāṁ prajñāṁ ca paṇḍitaḥ,
tad dhi tasya dhanaṁ śreṣṭhaṁ, hīnam
asyetarad dhanam.
Sang
bijaksana yang, di alam kehidupan, memperoleh keyakinan dan kebijaksanaan, hal
itu tentulah kekayaan terbesarnya, kekayaannya yang lain adalah lebih rendah.
[10.10] Āryāṇāṁ darśanaḥ kāmaḥ, Saddharmaśravaṇe
rataḥ,
vinītamātsaryamalaḥ, sa vai śrāddho
nirucyate.
Seseorang
yang ingin melihat Para Āryā, yang
bersenang dalam mendengar Dharma Sejati, yang telah menyingkirkan kekotoran
dari keegoisan, orang itu tentu disebut berkeyakinan.
[10.11] Śrāddho gṛhṇāti pātheyaṁ, puṇyaṁ coraiḥ
sudurharam,
coraṁ harantaṁ vārayati, harantaḥ śramaṇāḥ
priyāḥ,
śramaṇān āgatāṁ dṛṣṭvā, abhinandati paṇḍitāḥ.
Ia yang
berkeyakinan membawa perbekalan, jasa kebajikan adalah sulit dibawa pergi oleh
para pencuri, ia menjaga (agar) pencuri (tidak) mengambilnya, namun para Śramaṇā yang membawa derma makanan
dicintai, melihat para Śramaṇā kembali,
orang bijaksana sangat bergembira.
[10.12] Dadanty eke yathā śraddhā yathāvibhavato
janāḥ,
tatra yo durmanā bhavati pareṣāṁ
pānabhojane,
nāsau divā ca rātrau ca, samādhim
adhigacchati.
Beberapa
orang memberi berdasarkan keyakinan, berdasarkan kemampuannya, ia yang marah
akibat makanan dan minuman orang lain di sana, tidak akan, baik siang dan
malam, mencapai konsentrasi.
[10.13] Yasya tv ete samucchinnās, tālamastakavad
dhatāḥ,
sa vai divā ca rātrau ca, samādhim
adhigacchati.
Namun bagi
ia yang padanya hal-hal ini diketahui telah terpotong, seperti tunggul pohon
palem, tentu saja akan, siang dan malam, mencapai konsentrasi.
[10.14] Vītaśraddhaṁ na seveta, hradaṁ yadvad dhi
nirjalam,
sa cet khanel labhet tatra, vāri
kardamagandhikam.
Seseorang
seharusnya tidak berhubungan dengan ia yang tanpa keyakinan, ia yang bagaikan
sebuah danau tanpa air, jika ia akan menggali di sana, ia akan menemukan air
yang berlumpur dan berbau busuk.
[10.15] Śrāddhaṁ prājñaṁ tu seveta, hradaṁ yadvaj
jalārthikaḥ,
acchodakaṁ viprasannaṁ, śītatoyam anāvilam.
Namun engkau
seharusnya berhubungan dengan seseorang yang berkeyakinan dan bijaksana,
seperti seseorang mencari air, sebuah danau, dengan air bersih, jernih, yang
dingin dan tidak terganggu.
[10.16] Nānurakta iti rajyeta, hy atra vai dīryate
janaḥ,
aprasannāṁ varjayitvā, prasannān upasevate.
Seseorang seharusnya
tidak melekat dengan berpikir: Aku melekat, karena seseorang tentu akan hancur
di sini, menghindari mereka yang tidak percaya diri, seseorang seharusnya
berhubungan dengan ia yang percaya diri.
Śraddhāvargaḥ,
10.
Bab tentang
Keyakinan, Yang Kesepuluh
Uddānam
Ringkasan
Anityakāmatṛṣṇā ca apramādas tathā priyaḥ,
śīlaṁ sucaritaṁ vācakarmaśraddhā ca te daśaḥ.
Ketidak-kekalan,
nafsu indera, nafsu, kewaspadaan, juga cinta, moralitas, perilaku bajik,
ucapan, perbuatan dan keyakinan, inilah sepuluh.
11. Śramaṇavarga
Bab tentang Śramaṇa (Pertapa)
(15 Syair)
[11.1] Chindhi srotaḥ, parākramya kāmāṁ praṇuda
sarvaśaḥ,
nāprahāya muniḥ kāmān, ekatvam adhigacchati.
Memotong
arus, setelah berupaya, menghilangkan keinginan dalam segala cara, yang bijaksana,
tanpa meninggalkan keinginan, tidak mencapai penyatuan (pikiran).
[11.2] Kurvāṇo hi sadā prājño, dṛḍham eva
parākramet,
śithilā khalu pravrajyā, hy ādadāti puno
rajaḥ.
Tentu saja
ia yang bijaksana, selalu berupaya, harus dengan tekun berupaya, memang mereka
yang meninggalkan keduniawian dengan lalai tentu akan membawa kekotoran lagi.
[11.3] Yat kiṁ cic chitilaṁ karma, saṁkliṣṭaṁ vāpi
yat tapaḥ,
apariśuddhaṁ brahmacaryaṁ na tad bhavati
mahāphalam.
Apapun
perilaku ia yang lalai, atau pertapaan itu yang terkotori, suatu kehidupan
spiritual yang tidak murni tidak memiliki buah yang besar baginya.
[11.4] Śaro yathā durgṛhīto hastam evāpakṛntati,
śrāmaṇyaṁ duṣparāmṛṣṭaṁ, narakān upakarṣati.
Seperti
halnya anak panah, dengan salah digenggam, menembus kedalam tangan, demikian
pula kehidupan suci, (yang) dengan salah digenggam, menarik seseorang ke alam
neraka.
[11.5] Śaro yathā sugṛhīto, na hastam apakṛntati,
śrāmaṇyaṁ suparāmṛṣṭaṁ, Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Seperti
halnya anak panah, dengan benar digenggam, tidak menembus kedalam tangan,
demikian pula kehidupan suci, (yang) dengan benar digenggam, tentu saja berada
dekat dengan Nirvāṇa.
[11.6] Duṣkaraṁ dustitīkṣaṁ ca śrāmaṇyaṁ
mandabuddhinā,
bahavas tatra saṁbādhā yatra mando viṣīdati.
Sulit untuk
dilakukan, sulit untuk ditahankan, adalah kehidupan suci, dengan pemahaman
seorang dungu, terdapat banyak sekali halangan di mana mereka yang dungu
menjadi putus asa.
[11.7] Śrāmaṇye carate yas tu svacittam anivārayet,
punaḥ punar viṣīdet ca, saṁkalpānāṁ vaśaṁ
gataḥ.
Tetapi ia
yang menjalankan kehidupan suci dan tidak mengendalikan pikirannya sendiri,
orang itu akan menjadi putus asa lagi dan lagi, setelah berada dalam pengaruh
pikiran buruk.
[11.8] Duṣpravrajyaṁ durabhiramaṁ, duradhyāvasitā gṛhāḥ,
duḥkhāsamānasaṁvāsā, duḥkhāś copacitā bhavāḥ.
Meninggalkan
keduniawian adalah sulit, adalah sulit untuk menemukan kenikmatan sejati, namun
berdiam di rumah tangga juga adalah sulit, berdiam dengan mereka yang
berpikiran berbeda adalah penderitaan, kumpulan kemenjadian adalah penderitaan.
[11.9] Kāṣāyakaṇṭhā bahavaḥ pāpadharmā hy asaṁyatāḥ,
pāpā hi karmabhiḥ pāpair ito gacchanti
durgatim.
Banyak yang
mengenakan jubah diantara leher mereka yang bersifat jahat, tidak terkendali,
orang jahat dengan tindakan jahat mereka pergi dari sini ke alam menderita.
[11.10] Yo ’sāv atyantaduḥśīlaḥ, Sālavāṁ mālutā
yathā,
karoty asau tathātmānaṁ yathainaṁ dviṣa-d-icchati.
Ia yang
terus menerus memiliki moralitas yang rendah, seperti tumbuhan menjalar yang
mematikan pada pohon Sāla, orang itu
membuat dirinya sendiri seperti halnya seorang musuh yang mengharapkan
kemalangannya.
[11.11] Sthaviro na tāvatā bhavati yāvatā palitaṁ
śiraḥ,
paripakvaṁ vayas tasya, mohajīrṇaḥ sa
ucyate.
Seseorang
bukanlah seorang Sthavira (sesepuh)
karena kepalanya sudah beruban, karena ia yang hanya dewasa, menua, disebut ia
yang menua dalam delusi.
[11.12] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ ca prahāya
brahmacaryavān,
viśreṇayitvā carati, sa vai sthavira ucyate.
Seseorang
yang, meninggalkan baik kebajikan maupun keburukan, menjalankan kehidupan suci,
setelah melepaskan pergaulan, mengembara, orang itu tentu disebut seorang Sthavira.
[11.13] Na muṇḍabhāvāc chramaṇo, hy avṛtas tv anṛtaṁ
vadan,
icchālobhasamāpannaḥ śramaṇaḥ kiṁ bhaviṣyati?
Bukan dengan
kepala yang tercukur seseorang disebut pertapa, jika seseorang tidak
terkendali, mengucapkan kebohongan, bagaimana ia yang memiliki keinginan dan
nafsu akan menjadi seorang pertapa?
[11.14] Na muṇḍabhāvāc chramaṇo, hy avṛtas tv anṛtaṁ
vadan –
śamitaṁ yena pāpaṁ syād, aṇusthūlaṁ hi
sarvaśaḥ –
śamitatvāt tu pāpānāṁ śramaṇo hi nirucyate.
Bukan dengan
kepala yang tercukur seseorang disebut seorang pertapa, jika seseorang tidak
terkendali, mengucapkan kebohongan – seseorang yang padanya perilaku jahat
masih perlu dipadamkan, kecil dan besar, dalam segala cara – namun melalui
pemadaman perilaku jahat seseorang disebut seorang pertapa.
[11.15] Brāhmaṇo vāhitaiḥ pāpaiḥ, śramaṇaḥ
śamitāśubhaḥ,
pravrājayitvā tu malān uktaḥ pravrajitas tv
iha.
Seseorang
adalah Brāhmaṇa, seorang pertapa,
yang telah memadamkan ketidak-senangan, melalui pengendalian perilaku jahat,
namun setelah melenyapkan kekotoran-kekotoran seseorang disebut benar-benar
meninggalkan keduniawian di sini.
Śramaṇavargaḥ
11.
Bab tentang Śramaṇa (Pertapa), yang Kesebelas.
12. Mārgavarga
Bab tentang
Sang Jalan
(20 Syair)
[12.1] Āryasatyāni catvāri prajñayā paśyate yadā,
eṣa mārgaṁ prajānāti bhavatṛṣṇāpradālanam.
Ketika
seseorang melihat dengan kebijaksanaan Empat Kebenaran Mulia, ia mengetahui
Jalan ini menghancurkan nafsu pada kemenjadian.
[12.2] Uddhataṁ hi rajo vātair yathā vṛṣṭena
śamyati,
evaṁ śāmyanti saṁkalpāḥ prajñayā paśyate
yadā.
Seperti
halnya debu yang diterbangkan oleh angin diredakan dengan hujan, demikianlah
kehendak mereda ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan.
[12.3] Śreṣṭhā hi prajñā loke ’smiṁ, yeyaṁ
nirvedhagāminī,
yayā samyak prajānāti jātimaraṇasaṁkṣayam.
Kebijaksanaan
adalah yang terbaik di dunia, yang mengarah pada penembusan (Dharma), yang
dengannya seseorang dengan benar mengetahui kehancuran sepenuhnya dari
kelahiran dan kematian.
[12.4] Mārgeṣv aṣṭāṅgikaḥ śreṣṭhaś, Catvāry Āryāṇi
satyataḥ,
śreṣṭho virāgo dharmāṇāṁ, Cakṣuṣmāṁ dvipadeṣu
ca.
Diantara
berbagai jalan, Jalan Mulia Berunsur Delapan lah yang terbaik, diantara
berbagai kebenaran adalah Empat Kebenaran Mulia, diantara berbagai keadaan,
tanpa nafsu adalah yang terbaik, diantara yang berkaki dua, Yang Melihat
(Dharma) adalah yang terbaik.
[12.5] Anityāṁ sarvasaṁskārāṁ prajñayā paśyate
yadā,
atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo
viśuddhaye.
Ketika
seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah tidak
kekal, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang
Jalan menuju Penyucian.
[12.6] Duḥkhaṁ hi sarvasaṁskārāṁ prajñayā paśyate
yadā,
atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo
viśuddhaye.
Ketika
seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah
penderitaan, maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah
Sang Jalan menuju Penyucian.
[12.7] Śunyataḥ sarvasaṁkārāṁ prajñayā paśyate
yadā,
atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo
viśuddhaye.
Ketika
seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala yang berkondisi adalah kosong,
maka seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan
menuju Penyucian.
[12.8] Sarvadharmā anātmānaḥ prajñayā paśyate yadā,
atha nirvidyate duḥkhād: eṣa mārgo
viśuddhaye.
Ketika
seseorang melihat dengan kebijaksanaan segala fenomena adalah bukan diri, maka
seseorang menumbuhkan kejemuan karena penderitaan: Inilah Sang Jalan menuju
Penyucian.
[12.9] Ākhyāto vo mayā mārgas, tv ajñāyai śalyakṛntanaḥ,
yuṣmābhir eva karaṇīyam, ākhyātāras
Tathāgatāḥ.
Sang Jalan
telah dinyatakan kepadamu oleh-Ku, memotong anak panah ketidak-tahuan, hal ini
tentu harus dilakukan olehmu, Para Tathāgatāḥ
hanya menunjukkan Jalan.
[12.10] Deśito vo mayā mārgas, tṛṣṇāśalyanikṛntanaḥ,
yuṣmābhir eva karaṇīyam, deṣṭāro hi
Tathāgatāḥ.
Sang Jalan
telah dinyatakan kepadamu oleh-Ku, memotong duri nafsu, hal ini tentu harus
dilakukan olehmu, Para Tathāgatāḥ hanyalah
Guru.
[12.11] Eṣo hi mārgo nāsty anyo, darśanasya
viśuddhaye,
pratipannakāḥ prahāsyanti dhyāyino
Mārabandhanam.
Inilah
Jalannya, tidak ada yang lain, untuk pemurnian pandangan, para meditator yang
memasuki Jalan ini meninggalkan belenggu Māra.
[12.12] Eṣo ’ñjaso hy eṣa ca vai parākramas,
tv ekāyano haṁsapatho yathā hrade,
yam adhyagāc Chakyamuniḥ samāhitas,
tam eva cākhyāti gaṇeṣv abhīkṣṇaśaḥ.
Inilah Jalan
yang langsung, tentu inilah Jalan untuk berupaya, Jalan satu arah, seperti
Jalan seekor angsa menyeberangi suatu danau, yang dilalui Śakyamuni, (Yang)
terkonsentrasi, Beliau menyatakannya secara berulang diantara berbagai
komunitas.
[12.13] Ekāyanaṁ jātijarāntadarśī
mārgaṁ vadaty eṣa hitānukampī,
etena mārgeṇa hi tīrṇavantas,
tariṣyate ye prataranti caugham.
Ia yang
berbelas-kasihan demi kesejahteraan, yang mencari akhir kelahiran dan usia tua,
menyatakan Sang Jalan sebagai satu arah, dengan Jalan ini beberapa menyeberangi
banjir lebih awal, beberapa akan menyeberang, dan terdapat mereka yang sedang
menyeberang.
[12.14] Atyantaniṣṭhāya damāya śuddhaye,
saṁsārajātīmaraṇakṣayāya,
anekadhātupratisaṁvidhāya,
mārgo hy ayaṁ lokavidā prakāśitaḥ.
Demi
pencapaian pelatihan dan kesucian sepenuhnya, demi penghancuran transmigrasi
melalui kelahiran dan kematian, demi melepaskan berbagai macam unsur, Jalan ini
telah dinyatakan oleh Sang Pengetahu Dunia.
[12.15] Gaṅgāgataṁ yadvad apetadoṣaṁ,
saṁsyandate vāri tu sāgareṇa,
tathaiva mārgaḥ Sugatapradeśitaḥ,
saṁsyandate ’yaṁ hy amṛtasya prāptaye.
Seperti
halnya air datang dari sungai Gangga, bebas dari cela, mengalir menuju
samudera, demikian juga Jalan ini, yang diajarkan oleh Sang Sugata, mengalir
menuju pencapaian tanpa kematian.
[12.16] Yo Dharmacakraṁ hy ananuśrutaṁ purā,
prāvartayat sarvabhūtānukampī,
taṁ tādṛśaṁ Devanarāgrasatvaṁ,
nityaṁ namasyeta bhavasya pāragam.
Ia yang
memutar Roda Dharma, yang belum didengar sebelumnya, Ia yang berbelas-kasihan
kepada semua makhluk, seperti halnya Beliau, Makhluk Agung di antara para Deva
dan manusia, Ia yang menyeberangi kemenjadian, seseorang seharusnya
menghormati(-Nya) terus menerus.
[12.17] Sadā vitarkāṁ kuśalāṁ vitarkayet,
sadā punaś cākusalāṁ vivarjayet,
tato vitarkāṁś ca vicāritāni ca
prahāsyate vṛṣṭir ivoddhataṁ rajaḥ.
Seseorang
seharusnya selalu memikirkan pikiran-pikiran bajik, dan juga selalu menghindari
pikiran-pikiran tidak bajik, dan kemudian ia akan meninggalkan pikiran-pikiran
dan refleksi-refleksi seperti halnya hujan yang menghilangkan debu yang
mengganggu.
[12.18] Sa vai vitarkopaśamena cetasā,
spṛśeta Saṁbodhisukhaṁ hy anuttaram,
śubhaṁ samādhiṁ manasā nibandhayed,
vivekajaṁ bhāvayitvāpramāṇam,
pradālayitvā tribhur ālayāṁs trīṁ
jahāti bandhāṁ nipakaḥ pratismṛtaḥ.
Dengan
pikiran yang telah tenang dalam berpikir, seseorang seharusnya mengalami
kebahagiaan Pencerahan Sempurna yang tertinggi, ia seharusnya memunculkan
konsentrasi yang indah dengan pikiran, setelah mengembangkan hal-hal yang tak
terukur (Brahmavihara) yang muncul
dari keterasingan, setelah menghancurkan tiga kemelekatan dengan tiga pikiran
bajik, sang penyelidik, dengan penuh perhatian, meninggalkan belenggu-belenggu.
[12.19] Prajñāyudho dhyānabalopapetaḥ,
samāhito dhyānarataḥ smṛtātmā,
lokasya buddhvā hy udayavyayaṁ ca,
vimucyate vedakaḥ sarvato ’sau.
Setelah
memiliki senjata kebijaksanaan, diberkahi dengan kekuatan meditasi, tenang,
bersenang dalam meditasi, penuh perhatian pada dirinya sendiri, setelah
mengerti kemunculan dan kehancuran dunia, sang pengetahu terbebas dalam segala
cara.
[12.20] Sukhaṁ sukhārthī labhate samācaraṁ,
kīrtiṁ samāpnoti yaśaś ca sarvataḥ,
ya āryam aṣṭāṅgikam āñjasaṁ śivaṁ
bhāvayati mārgaṁ hy amṛtasya prāptaye.
Ia yang
mencari kebahagiaan menepukan kebahagiaan melalui perilaku bajik, ia mencapai
kemashyuran dan popularitas di manapun, ia yang mengembangkan Jalan Mulia
Berunsur Delapan yang langsung dan berkah demi pencapaian Sang Jalan menuju
tanpa kematian.
Mārgavargaḥ,
12.
Bab tentang
Sang Jalan, yang Kedua Belas.
13. Satkāravarga
Bab tentang
Kehormatan
(19 Syair)
[13.1] Phalaṁ vai kadaliṁ hanti, phalaṁ veṇuṁ phalaṁ
naḍam,
satkāraḥ kāpuruṣaṁ hanti, svagarbho ’śvatarīṁ
yathā.
Buah tentu
menghancurkan pohon pisang, bambu, (dan) buluh, kehormatan menghancurkan orang
jahat, seperti halnya keturunannya sendiri menghancurkan seekor Bagal.
[13.2] Yāvad eva hy anarthāya jñāto bhavati bāliśaḥ,
hanti bālasya śuklāṁśaṁ, mūrdhānaṁ cāsya
pātayet.
Hanya untuk
kehancurannya seorang dungu belajar, (kehancuran) itu menghancurkan nasib baik
si dungu, (kehancuran) itu akan membelah kepalanya.
[13.3] Asanto lābham icchanti satkāraṁ caiva bhikṣuṣu,
āvāseṣu ca mātsaryaṁ, pūjāṁ parakuleṣu ca.
Orang rendah
mengharapkan perolehan dan kehormatan diantara para Bhikṣu, egoisme mengendalikan tempat tinggal, dan pemujaan diantara
keluarga-keluarga.
[13.4–13.5a-b]
“Mām eva nityaṁ jānīyur gṛhī pravrajitas
tathā,
mama prativaśāś ca syuḥ, kṛtyākṛtyeṣu keṣu
cit,”
iti bālasya saṁkalpā, icchāmānābhivardhakāḥ.
“Seorang
perumah tangga dan seorang yang telah meninggalkan keduniawian seharusnya
selalu mengakuiku saja, biarlah mereka berada di bawah pengaruhku, dalam apapun
yang perlu dilakukan dan tidak dilakukan,” seperti inilah kehendak seorang
dungu, nafsu dan kesombongannya meningkat.
[13.5cd–13.6]
Anyā hi lābhopaniṣad, anyā Nirvāṇagāminī,
etaj jñātvā yathābhūtaṁ Buddhānāṁ śrāvakaḥ
sadā
satkāraṁ nābhinandeta, vivekaṁ anubṛṁhayet.
Karena
tujuan untuk perolehan adalah satu hal, Sang Jalan menuju Nirvāṇa, adalah hal lain, selalu mengetahui hal ini, seperti apa
adanya, seorang siswa Buddha seharusnya tidak bersenang dalam kehormatan, namun
untuk mengabdi pada keterasingan.
[13.7] Na vyāyamente sarvatra, nānyeṣāṁ puruṣo
bhavet,
nānyāṁ niḥśritya jīveta, dharmeṇa na vaṇik
caret.
Seseorang
seharusnya tidak berupaya di manapun, seseorang seharusnya tidak menjadi orang
yang dimiliki orang lain, seseorang seharusnya tidak hidup bergantung pada
orang lain, seorang pedagang seharusnya tidak berpenghidupan salah.
[13.8] Svalābhaṁ nāvamanyeta, nānyeṣāṁ spṛhako
bhavet,
anyeṣāṁ spṛhako bhikṣuḥ samādhiṁ
nādhigacchati.
Seseorang
seharusnya tidak memandang rendah perolehan diri sendiri, seseorang seharusnya
tidak bersikap iri pada orang lain, seorang Bhikṣu
yang iri pada orang lain tidak akan mencapai konsentrasi.
[13.9] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv
avekṣavān,
ahir mūṣakadurgaṁ vā seveta śayanāsanam.
Jika
seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang
bahagia, ia harus menggunakan kediamannya seperti seekor ular menggunakan
sebuah lubang tikus.
[13.10] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv
avekṣavān
itaretareṇa saṁtuṣyed, ekadharmaṁ ca
bhāvayet.
Jika
seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang
bahagia, ia harus merasa puas dengan apapun itu, dan ia harus mengembangkan
satu hal.
[13.11] Sukhaṁ jīvitum icchec cec chramaṇyārtheṣv
avekṣavān,
Sāṁghikaṁ nāvamanyeta cīvaraṁ pānabhojanam.
Jika
seseorang yang merefleksikan tujuan kehidupan suci menginginkan hidup yang
bahagia, ia tidak seharusnya merendahkan jubah, minuman, dan makanan milik Saṁgha.
[13.12] Alpajñāto ’pi ced bhavati śīleṣu susamāhitaḥ,
vidvāṁsas taṁ praśaṁsanti śuddhājīvam
atandritam.
Bahkan jika
seseorang yang terlatih baik dalam moralitas mengetahui sedikit, orang
bijaksana memuji kehidupan suci orang itu yang tekun.
[13.13.i] Traividyaḥ syāt sa ced bhikṣur, mṛtyuhantā
nirāsravaḥ,
alpajñātam iti jñātvā, hy avajānanty ajānakāḥ.
Jika
seseorang dapat menjadi seorang Bhikṣu dengan tiga pengetahuan, seorang
penghancur kematian, tanpa kekotoran, orang bodoh mengetahui: Ia berpengetahuan
sedikit, memandangnya rendah.
[13.13.ii] Sa ced bhavati traividyo, mṛtyuhāyī
nirāsravaḥ,
jñātvālpajñāta iti tam avajānanty ajānakāḥ.
Jika
seseorang memiliki tiga pengetahuan, seorang penghancur kematian, tanpa
kekotoran, orang bodoh mengetahui: Ia kurang dikenal, memandangnya rendah.
[13.14] Sa cet tv ihānnapānasya lābhī bhavati
pudgalaḥ,
pāpadharmāpi ced bhavati, sa teṣāṁ bhavati
pūjitaḥ.
Namun jika
terdapat seseorang di sini yang menerima makanan dan minuman, bahkan jika
sifatnya jahat, ia dipuja oleh mereka.
[13.15–13.16]
Bahūn amitrāṁ labhate, saṁghāṭīpravṛtaḥ
sadā,
lābhī yo hy annapānasya, vastraśayyāsanasya
ca,
etad ādīnavaṁ jñātvā, satkāreṣu mahābhayam,
alpajñāto hy anutsukaḥ smṛto bhikṣuḥ
parivrajet.
Ia
memperoleh banyak musuh, ia yang selalu terbungkus jubah luar, yang menerima
makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur dan tempat tinggal, mengetahui
kerugian ini, bahaya besar dalam kehormatan, sedikit tahu, tanpa keinginan,
seorang Bhikṣu seharusnya mengembara
dengan penuh perhatian.
[13.17] Nāyam anaśanena jīvate, nāhāro hṛdayasya
śāntaye,
āhāraḥ sthitaye tu vidyate, taj jñātvā hi
careta eṣaṇām.
Seseorang
tidak hidup dengan berpuasa, juga dengan makanan untuk kedamaian pikiran, namun
makanan muncul untuk merawat (tubuh), mengetahui hal ini, seseorang seharusnya
mengembara, mencari derma makanan.
[13.18] Paṅkas tv iti yo hi vindate,
nityaṁ vandanamānanā kule
sūkṣmaḥ śalyo duruddharaḥ,
satkāraḥ kāpuruṣeṇa dustyajaḥ.
Namun
seseorang yang baginya kehormatan adalah sebuah rawa menyadari bahwa dengan
dihormati dan dihargai terus menerus di dalam suatu keluarga adalah satu anak
panah yang halus, sulit untuk dicabut, kehormatan adalah sulit ditinggalkan
bagi orang rendah.
Satkāravargaḥ,
13.
Bab tentang
Kehormatan, yang Ketiga Belas.
14. Drohavarga
Bab tentang
Melukai
(18 Syair)
[14.1] Akruddhasya hi yaḥ krudhyet, karma pāpam
akurvataḥ,
duḥkhaṁ tam eva spṛśati, loke ’smiṁś ca
paratra ca.
Seseorang
yang marah pada ia yang tanpa kemarahan, pada ia yang tidak melakukan perbuatan
jahat, orang itu tentu tersentuh oleh penderitaan, baik dunia ini dan di dunia
berikutnya.
[14.2] Pūrvaṁ kṣiṇoti hātmānaṁ, paścād bāhyaṁ vihiṁsati,
sa hatas tv itaraṁ hanti, vītaṁseneva pakṣiṇaḥ.
Pertama-tama
ia menghancurkan dirinya sendiri, kemudian ia melukai orang lain, orang itu,
dipukul, memukul orang lain, seperti halnya seorang pemburu unggas dengan
sebuah umpan.
[14.3] Hantāraṁ labhate hantā, vairī vairāṇi
paśyati,
akroṣṭāraṁ tathākroṣṭā, roṣitāraṁ ca roṣakaḥ.
Sang
pembunuh menemui seorang pembunuh, seorang yang bermusuhan melihat mereka yang
bermusuhan, seperti halnya pencerca menemui seorang pencerca, seorang pemarah
menemui ia yang rentan pada kemarahan.
[14.4] Anyatrāśravaṇād asya Saddharmasyāvijānakāḥ,
āyuṣy evaṁ paritte hi, vairaṁ kurvanti kena
cit.
Kecuali
dengan mendengarkan Dharma Sejati ini, orang dungu, dalam satu kehidupan yang
singkat, membuat permusuhan dengan seseorang.
[14.5] Pṛthakchabdāḥ samutpannās,
“Taṁ ca śreṣṭham,” iti manyathā,
Saṁghe hi bhidyamāne ’smiṁ,
“Śreṣṭham” ity abhimanyathā.
Berbagai
ucapan telah muncul, engkau berpikir: “Inilah yang terbaik,” ketika Saṁgha sedang terpecah, engkau
membayangkan: “Itulah yang terbaik.”
[14.6.i.] Asthicchidāṁ prāṇahṛtāṁ, gavāśvadhanahāriṇāṁ,
rāṣṭraṁ vilumpatāṁ caiva, punar bhavati saṁgatam,
yuṣmākaṁ nu kathaṁ na syād imaṁ Dharmaṁ
vijānatām?
Bagi pemecah
tulang, pengambil kehidupan, mereka yang membawa pergi ternak, kuda dan
kekayaan, dan bahkan perampok kerajaan, terdapat kerukunan kembali, bagaimana
mungkin hal itu mustahil bagi kalian yang memahami Dharma ini?
[14.6.ii.] Asthicchinnāḥ prāṇaharā, gavāśvadhanahārakāḥ,
rāṣṭrāṇāṁ ca viloptāras – teṣāṁ bhavati saṁgatam,
yuṣmākaṁ nu kathaṁ na syād imaṁ Dharmaṁ
vijānatām.
Pemecah
tulang, pengambil kehidupan, mereka yang membawa pergi ternak, kuda dan
kekayaan, dan bahkan perampok dunia – terdapat kerukunan kembali bagi mereka,
bagaimana mungkin hal itu mustahil bagi kalian yang memahami Dharma ini?
[14.7] Paṇḍitābhā parāmṛṣṭā, vāg yā gocarabhāṣiṇī,
vyāyacchanti mukhaṁ vāmā, yayā nītā na te
budhāḥ.
Dikarakteristikan
oleh munculnya kebijaksanaan, yang ucapannya sebagai jalan keluarnya, yang
bengkok (sesat) membengkokkan mulut mereka (mengucapkan fitnah), yang cerdas
tidak dipimpin oleh hal ini.
[14.8] Pare hi na vijānanti vayam atrodyamāmahe,
atra ye tu vijānanti, teṣāṁ śāmyanti methakāḥ.
Orang lain
tidak memahami bahwa kita berupaya di sini, namun bagi mereka yang memahami hal
ini, perselisihan mereka berhenti.
[14.9] “Ākrośan mām avocan, mām ajayan, mām
ajāpayet,”
atra ye hy upanahyanti, vairaṁ teṣāṁ na
śāmyati.
Ia berucap
jahat padaku, ia mengalahkanku, ia dapat merampokku,” mereka yang membawa
pikiran kebencian dengan hal ini, kebencian mereka tidak akan pernah berhenti.
[14.10] “Ākrośan mām avocan, mām ajayan, mām
ajāpayet,”
atra ye nopanahyanti, vairaṁ teṣāṁ
praśāmyati.
Ia berucap
jahat padaku, ia mengalahkanku, ia dapat merampokku,” mereka yang tidak membawa
pikiran kebencian dengan hal ini, kebencian mereka terhenti.
[14.11] Na hi vaireṇa vairāṇi śāmyantīha kadā cana,
kṣāntyā vairāṇi śāmyanti, eṣa dharmaḥ
sanātanaḥ.
Karena bukan
dengan kebencian maka kebencian berhenti kapanpun di sini, kebencian berhenti
melalui kesabaran, kebenaran ini adalah abadi.
[14.12] Vairaṁ na vaireṇa hi jātu śāmyec,
chāmyed avaireṇa tu vairabhāvaḥ,
vairaprasaṅgo hy ahitāya dṛṣṭas,
tasmād dhi vairaṁ na karoti vidvān.
Kebencian
tidak dapat berhenti melalui kebencian, namun dengan tidak membenci keadaan
kebencian dapat terhenti, melihat kurangnya manfaat dalam kemelekatan untuk
membenci, karena itulah orang bijaksana tidak memiliki kebencian.
[14.13] Sa cel labhed vai nipakaṁ sahāyaṁ
loke caraṁ sādhu hi nityam eva,
abhibhūya sarvāṇi parisravāṇi,
careta tenāptamanā smṛtātmā.
Jika
seseorang harus menemukan seorang teman yang kritis yang selalu hidup dengan
baik di dunia, mengatasi segala masalahmu, seseorang harus hidup dengan orang
itu, bergembira dan penuh perhatian pada dirinya sendiri.
[14.14] Sa cel labhed vai nipakaṁ sahāyaṁ
loke caraṁ sādhu hi nityam eva,
rājeva rāṣṭraṁ vipulaṁ prahāya,
ekaś caren, na ca pāpāni kuryāt.
Jika
seseorang harus menemukan seorang teman yang kritis yang selalu hidup dengan
baik di dunia, seperti seorang raja meninggalkan kerajaannya yang luas,
seseorang harus hidup sendiri, seseorang seharusnya tidak melakukan perbuatan
jahat.
[14.15] Caraṁś ca nādhigaccheta sahāyaṁ tulyam
ātmanaḥ,
ekacaryāṁ dṛḍhaṁ kuryān: nāsti bāle
sahāyatā.
Jika selama
pengembaraan seseorang tidak dapat menemukan seorang teman yang setara dengan
dirinya, seseorang seharusnya memutuskan untuk hidup sendiri: tidak ada
pertemanan dengan orang dungu.
[14.16.i] Ekasya caritaṁ śreyo na tu bālaḥ sahāyakaḥ,
ekaś caren na ca pāpāni kuryād,
alpotsuko ’raṇyagataiva nāgaḥ.
Hidup
seorang diri adalah lebih baik daripada memiliki seorang teman yang dungu,
seseorang seharusnya hidup sendiri dan tidak melakukan perbuatan jahat, tak
terganggu, seperti seekor gajah pergi ke hutan.
[14.16.ii] Ekasya caritaṁ ṣreyo na tu bālasahāyatā,
alpotsukaś cared eko, mātaṅgāraṇye nāgavat.
Hidup
sendiri adalah lebih baik daripada pertemanan dengan orang dungu, seseorang
seharusnya hidup tak terganggu, terasing, seperti seekor gajah di dalam hutan.
Drohavargaḥ,
14.
Bab tentang
Melukai, yang Keempat Belas
15. Smṛtivarga
Bab tentang
Perhatian
(29 Syair)
[15.1] Ānāpānasmṛtir yasya paripūrṇā subhāvitā,
anupūrvaṁ parijitā, yathā Buddhena deśitā,
sa imaṁ bhāsate lokam, abhramuktaiva
candramāḥ.
Bagi mereka
yang perhatian pada pernafasan telah terpenuhi, dikembangkan dengan baik, dan
secara bertahap dikuasai, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha, orang itu
menerangi dunia, seperti bulan terbebas dari awan.
[15.2] Sthitena kāyena tathaiva cetasā,
sthito niṣaṇṇo ’py atha vā śayānaḥ,
nityaṁ smṛto bhikṣur adhiṣṭhamāno,
labheta pūrvāparato viśeṣam.
Labdhvā ca pūrvāparato viśeṣam,
adarśanaṁ Mṛturājasya gacchet.
Dengan
jasmani yang siaga, dan begitu pula dengan pikiran, apakah berdiri, duduk, atau
berbaring, seorang Bhikṣu yang selalu
penuh perhatian dan tekad, akan memperoleh dari penyelidikan awal dan
setelahnya. Setelah memperoleh dari penyelidikan awal dan setelahnya, seseorang
dapat pergi melampaui penglihatan Raja Kematian.
[15.3] Smṛtiḥ kāyagatā nityaṁ, saṁvaraś cendriyaiḥ
sadā,
samāhitaḥ sa jānīyāt tena Nirvāṇam ātmanaḥ.
Bagi ia yang
selalu penuh perhatian pada jasmani, selalu terkendali sehubungan dengan
indera-indera, yang terkonsentrasi demikian akan mengetahui Nirvāṇa bagi dirinya sendiri melalui hal
tersebut.
[15.4] Yasya syāt sarvataḥ smṛtiḥ satataṁ kāyagatā
hy upasthitā:
“No ca syān, no ca me syān, na bhaviṣyati,
na ca me bhaviṣyati.”
Anupūrvavihāravān asau kālenottarate viṣaktikām.
Bagi
seseorang yang penuh perhatian pada jasmani, yang selalu teguh di manapun,
dengan berpikir: "Hal itu mungkin sebelumnya tidak ada, dan hal itu
mungkin tidak ada bagiku, hal itu tidak akan ada, dan hal itu tidak akan ada
bagiku." Ia yang berdiam dalam kediaman bertingkat demikian, pada waktu
yang tepat, menyeberangi kemelekatan.
[15.5] Yo jāgaret smṛtimāṁ saṁprajānaḥ,
samāhito mudito viprasannaḥ,
kālena Dharmāṁ mīmāṁsamānaḥ,
so ’tikramej jātijarāṁ saśokām.
Ia yang
selalu awas, penuh perhatian, berpemahaman jernih, tenang, gembira dan jernih,
dengan memeriksa Dharma pada waktu yang tepat, dapat melampaui kelahiran dan
penuaan bersama dengan dukacita.
[15.6] Tasmāt sadā jāgarikāṁ bhajeta,
yo vīryavāṁ smṛtimān apramattaḥ,
saṁyojanaṁ jātijarāṁ ca hitvā,
ihaiva duḥkhasya karoti so ’ntam.
Karena
itulah seseorang harus selalu menjunjung keawasan, seseorang yang semangat,
penuh perhatian, penuh kewaspadaan, setelah meninggalkan belenggu-belenggu yang
mengarah pada kelahiran dan usia tua, orang itu mengakhiri penderitaan di sini.
[15.7] Jāgarantaḥ śṛṇudhvaṁ me! Suptāś ca
pratibudhyata!
Supteṣu jāgaraṁ śreyā, na hi jāgarato
bhayam.
Yang awas,
dengarkan aku! Dan yang tidur, bangunlah! Keawasan adalah baik diantara mereka
yang tertidur, tidak ada bahaya bagi ia yang terjaga.
[15.8] Jāgaryam anuyuktānām, ahorātrānuśikṣiṇām,
amṛtaṁ cādhimuktānām, astaṁ gacchanti āsravāḥ.
Bagi mereka
yang menjunjung keawasan, yang berlatih siang dan malam, dan bertekad pada
tanpa kematian, kekotoran batin akan berhenti.
[15.9] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Buddhaṁ śaraṇaṁ
gatāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Buddhagatā
smṛtiḥ.
Terdapat
perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Sang Buddha, mereka
yang padanya perhatian selalu diarahkan kepada Sang Buddha, siang dan malam.
[15.10] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Dharmaṁ śaraṇaṁ
gatāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Dharmagatā
smṛtiḥ.
Terdapat
perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Dharma, mereka yang
padanya perhatian selalu diarahkan kepada Dharma, siang dan malam.
[15.11] Lābhas teṣāṁ manuṣyāṇāṁ ye Saṁghaṁ śaraṇaṁ
gatāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Saṁghagatā
smṛtiḥ.
Terdapat
perolehan bagi orang-orang itu yang pergi berlindung kepada Saṁgha, mereka yang
padanya perhatian selalu diarahkan kepada Saṁgha, siang dan malam.
[15.12] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Buddhagatā
smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan kepada Sang Buddha, siang dan malam.
[15.13] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Dharmagatā
smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan kepada Dharma, siang dan malam.
[15.14] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Saṁghagatā
smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan kepada Saṁgha, siang dan malam.
[15.15] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ kāyagatā smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan pada jasmani, siang dan malam.
[15.15A] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ samādhayaḥ
smṛtāḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu terkonsentrasi, siang dan malam.
[15.16] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ śīlagatā smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan pada moralitas, siang dan malam.
[15.16A] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ tyāgagatā smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan pada kedermawanan, siang dan malam.
[15.16B] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ Devagatā smṛtiḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang padanya
perhatian selalu diarahkan kepada para Deva, siang dan malam.
[15.17] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau caivāhiṁsāyāṁ rataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam tanpa kekerasan, siang dan malam.
[15.18] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau caivāvyāpāde rataṁ manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam niat baik, siang dan malam.
[15.19] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, naiṣkramye ’bhirataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
sangat bersenang dalam pelepasan keduniawian, siang dan malam.
[15.20] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, nityaṁ dhyānarataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
selalu bersenang dalam meditasi (Dhyana),
siang dan malam.
[15.21] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, viveke ’bhirataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
sangat bersenang dalam keterasingan, siang dan malam.
[15.22] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, śunyatāyāṁ rataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam kekosongan, siang dan malam.
[15.23] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau caivānimitte rataṁ manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam yang tanpa tanda, siang dan malam.
[15.24] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, ākiñcanye rataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam keadaan kekosongan, siang dan malam.
[15.25] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, bhāvanāyāṁ rataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
bersenang dalam pengembangan (pikiran), siang dan malam.
[15.26] Suprabuddhaṁ prabudhyante ime Gautamaśrāvakāḥ,
yeṣāṁ divā ca rātrau ca, Nirvāṇe ’bhirataṁ
manaḥ.
Siswa-siswa
Sang Gotama ini tercerahkan pada pencerahan yang baik, mereka yang pikirannya
sangat bersenang dalam Nirvāṇa, siang
dan malam.
Smṛtivargaḥ,
15.
Bab tentang
Perhatian, yang Kelima Belas.
16. Prakirṇakavarga
Bab tentang
Serbaneka
(25 Syair)
[16.1] Pūrvaṁ hi kṛtyaṁ pratijāgareta:
“Mā me kṛtyaṁ kṛtyakāle vihanyāt,”
taṁ nityakāle pratiyatyakāriṇaṁ,
naiva kṛtyaṁ kṛtyakāle vihanti.
Seseorang
seharusnya menjadi awas tentang apa yang harus dilakukan, dengan berpikir:
“Jangan biarkan apa yang harus dilakukan terganggu olehku ketika waktunya hal
itu harus dilakukan,” bagi ia yang selalu waspada ketika waktu yang tepat,
pekerjaan tidak akan terganggu ketika waktunya hal itu harus diselesaikan.
[16.2] Vyāyametaiva puruṣo yāvad arthasya niṣpadaḥ,
paśyed asau tathātmārthaṁ yathaivecchet
tathā bhavet.
Seseorang
seharusnya berupaya hingga mencapai tujuan, seseorang seharusnya memprediksi
tujuannya sendiri sedemikian rupa sehingga dapat menjadi seperti yang
dinginkannya.
[16.3] Uttiṣṭhata vyāyamata, kurudhvaṁ dvīpam
ātmanaḥ,
karmāro rajatasyaiva, haradhvaṁ malam ātmanaḥ,
nirdhāntamalā hy anaṅgaṇā, na punar
jātijarām upeṣyetha.
Bangkitkan
dirimu sendiri, berupayalah, buatlah pulau bagi dirimu sendiri, bagaikan
pengrajin perak menghilangkan ketidak-murnian, hilangkan ketidak-murnian dari
dirimu sendiri, dengan ketidak-murnian dihilangkan, tanpa cela, engkau tidak akan
mengalami kelahiran dan usia tua lagi.
[16.4] Alajjitavye lajjante, lajjitavye tv alajjinaḥ,
abhaye bhayadarśīno, bhaye cābhayadarśinaḥ,
mithyādṛṣṭisamādānāt, satvā gacchanti
durgatim.
Mereka malu
pada apa yang tidak memalukan, namun tidak malu pada apa yang memalukan,
melihat bahaya dalam apa yang tidak berbahaya, dan tidak melihat bahaya dalam
apa yang berbahaya, karena memiliki pandangan salah, makhluk-makhluk pergi ke
alam yang buruk.
[16.5] Yas tu pūrvaṁ pramādyeha, paścād vai na
pramādyate,
sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.
Tetapi ia
yang sebelumnya lengah, namun kemudian tidak lengah, orang itu menerangi dunia
ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.
[16.6] Yas tu pūrvaṁ pramādyeha, paścād vai na
pramādyate,
sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ
samativartate.
Tetapi ia
yang sebelumnya lengah di sini, namun kemudian tidak lengah, penuh perhatian,
ia mengatasi kemelekatan ini di dunia.
[16.7] Daharo ’pi cet pravrajate, yujyate
Buddhaśāsane,
sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.
Jika bahkan
selagi muda seseorang meninggalkan keduniawian, mengabdikan dirinya pada Buddha Śāsana, orang itu menerangi dunia
ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.
[16.8] Daharo ’pi cet pravrajate, yujyate
Buddhaśāsane,
sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ
samativartate.
Jika bahkan
selagi muda seseorang meninggalkan keduniawian, mengabdikan dirinya pada Buddha Śāsana, penuh perhatian, ia
mengatasi kemelekatan ini di dunia.
[16.9] Yasya pāpakṛtaṁ karma kuśalena pithīyate:
sa imaṁ bhāsate lokam abhramuktaiva candramāḥ.
Ia yang
perbuatan jahatnya tertimbun oleh perbuatan bajik: Orang itu menerangi dunia
ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.
[16.10] Yasya pāpakṛtaṁ karma kuśalena pithīyate,
sa imāṁ viṣaktikāṁ loke smṛtaḥ
samativartate.
Ia yang
perbuatan jahatnya tertimbun oleh perbuatan bajik: Penuh perhatian, ia
mengatasi kemelekatan ini di dunia.
[16.11] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,
sa vai dṛṣṭapado dhīro, maraṇānte na śocate.
Ia yang
tidak tersiksa dalam kehidupan, dan dengan cara apapun dalam kematian, ia yang
tekun itu telah melihat tujuan, pada akhirnya tidak bersedih dalam kematian.
[16.12] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,
sa vai dṛṣṭapado dhīraḥ, śokamadhye na
śocati.
Ia yang
tidak tersiksa dalam kehidupan, dan dengan cara apapun dalam kematian, ia yang
tekun itu telah melihat keadaan kedamaian, tidak akan bersedih di tengah
kesedihan.
[16.13] Yo jīvite na tapate, maraṇānte ca sarvaśaḥ,
sa vai dṛṣṭapado dhīro, jñātimadhye
virocate.
Ia yang
tidak tersiksa dalam kehidupan, juga dengan cara apapun dalam kematian, ia yang
tekun itu telah melihat keadaan kedamaian, bersinar di tengah sanak saudara.
[16.14] Kṛṣnāṁ dharmāṁ viprahāya, śuklāṁ bhāvayata
bhikṣavaḥ,
okād anokam āgamya, vivekam anubṛṁhayet,
tatra cābhirametāryo, hitvā kāmān akiñcanaḥ.
Setelah
meninggalkan pikiran gelap, engkau seharusnya mengembangkan pikiran terang,
para Bhikṣu, pergi meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga, seseorang harus mengabdi pada
keterasingan, di sana Orang Mulia akan menemukan kesenangan yang luhur, setelah
meninggalkan nafsu keinginan, tanpa memiliki apapun.
[16.15] Śuddhasya hi sadā phalguḥ, śuddhasya poṣathaḥ
sadā,
śuddhasya śucikarmaṇaḥ, sadā saṁpadyate
vratam.
Bagi ia yang
murni setiap saat selalu seperti festival musim semi, bagi ia yang murni setiap
saat seperti hari Poṣatha, bagi ia
yang murni, berprerilaku murni, pelatihannya selalu berhasil.
[16.16] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, rāgadoṣā tv iyaṁ prajā,
tasmād vigatarāgebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan nafsu ragawi, karena itulah
apa yang diberikan kepada mereka yang tanpa nafsu ragawi memiliki hasil yang
besar.
[16.17] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, dveṣadoṣā tv iyaṁ
prajā,
tasmād vigatadveṣebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan kebencian, karena itulah apa
yang diberikan kepada mereka yang tanpa kebencian memiliki hasil yang besar.
[16.18] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, mohadoṣā tv iyaṁ prajā,
tasmād vigatamohebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan delusi, karena itulah apa yang
diberikan kepada mereka yang tanpa delusi memiliki hasil yang besar.
[16.19] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, mānadoṣā tv iyaṁ prajā,
tasmād vigatamānebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan kesombongan, karena itulah apa
yang diberikan kepada mereka yang tanpa kesombongan memiliki hasil yang besar.
[16.20] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, lobhadoṣā tv iyaṁ
prajā,
tasmād vigatalobhebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan keserakahan, karena itulah apa
yang diberikan kepada mereka yang tanpa keserakahan memiliki hasil yang besar.
[16.21] Kṣetrāṇi tṛṇadoṣāṇi, tṛṣṇādoṣā tv iyaṁ
prajā,
tasmād vigatatṛṣṇebhyo dattaṁ bhavati
mahāphalam.
Ladang-ladang
hancur dengan rumput, generasi ini hancur dengan nafsu, karena itulah apa yang
diberikan kepada mereka yang tanpa nafsu memiliki hasil yang besar.
[16.22] Ṣaṣṭha adhipatī rājā, rajyamāne rajasvalaḥ,
arakte virajā bhavati, rakte bālo nirucyate.
Penguasa
(indera) keenam (pikiran), adalah seorang raja, ketika melekat, seseorang
tidaklah murni, ketika tidak melekat, seseorang tanpa debu, ketika melekat,
seseorang disebut orang bodoh.
[16.23] Nagaraṁ hy asthiprākāraṁ, māṁsaśoṇitalepanam,
yatra rāgaś ca dveṣaś ca māno mrakṣaś ca
bādhyate.
Benteng ini
memiliki tembok tulang belulang, diplester dengan daging dan darah, di mana ia
terjangkit oleh nafsu ragawi dan kebencian, juga kesombongan dan kebohongan.
[16.24] Hetuprabhavaṁ sadā hi duḥkhaṁ,
tad apaśyaṁ, sa hi tena tatra baddhaḥ,
tasya tu samayāj jahāti saṅgaṁ,
na hi bāhyā prajahanti taṁ mahaugham.
Penderitaan
selalu muncul dari satu sebab, inilah yang Aku lihat, dan dengannya seseorang
terbelenggu di sini, namun melalui penenangan seseorang meninggalkan
kemelekatan terhadapnya, karena apa yang diluar tidak meninggalkan banjir
besar.
Prakīrṇakavargaḥ,
16.
Bab tentang
Serbaneka, yang Keenam Belas
17. Udakavarga
Bab tentang
Air
(12 Syair)
[17.1] Smṛtimantaḥ prayujyante, na nikete ramanti
te,
haṁsavat palvalaṁ hitvā, hy okam oghaṁ
jahante te.
Mereka yang
penuh perhatian berupaya, mereka tidak bersenang dalam tempat tinggal, seperti
seekor angsa meninggalkan sebuah danau, mereka meninggalkan rumah dan banjir.
[17.2] Haṁsādityapathe yānti, ākāśe jīvitendriyāḥ,
niryānti dhīrā lokān, Mārasainyaṁ pramathya
te.
Para angsa
pergi melalui arah matahari, melalui langit dengan indriya kehidupan mereka,
mereka yang waspada keluar dari dunia, setelah menghancurkan pasukan Māra,
[17.3] Acaritvā brahmacaryam, alabdhvā yauvane
dhanam,
jīrṇakrauñcaivă dhyāyante ’lpamatsya iva
palvale.
Tidak menjalani
kehidupan suci, tidak memperoleh kekayaan di masa muda mereka, mereka merenung
seperti bangau tua di suatu kolam kecil dengan sedikit ikan.
[17.4] Acaritvā brahmacaryam, alabdhvā yauvane
dhanam,
śenti cāpātikīrṇā vā, paurāṇāny anucintitāḥ.
Tidak
menjalani kehidupan suci, tidak memperoleh kekayaan di masa muda mereka, mereka
berbaring seperti anak panah yang ditembakkan dari busur, merenungkan berbagai
hal di masa lampau.
[17.5] Nālpaṁ manyeta pāpasya: Naitaṁ mām āgamiṣyati,
udabindunipātena mahākumbho ’pi pūryate,
pūryanti bālāḥ pāpair hi, stokastokaṁ kṛtair
api.
Seseorang
seharusnya tidak menganggap satu kejahatan sebagai sepele dengan berpikir: Itu
tidak akan berpengaruh kepadaku, dengan jatuhnya tetes-tetes air sebuah bejana
air besar terisi penuh, orang bodoh menjadi penuh dengan kejahatan, bahkan
dengan membuatnya sedikit demi sedikit.
[17.6] Nālpaṁ manyeta puṇyasya: Naitaṁ mām āgamiṣyati,
udabindunipātena mahākumbho ’pi pūryate,
pūryanti dhīrāḥ puṇyair hi stokastokaṁ kṛtair
api.
Seseorang
seharusnya tidak menganggap satu kebajikan sebagai sepele dengan berpikir: Itu
tidak akan berpengaruh kepadaku, dengan jatuhnya tetes-tetes air sebuah bejana
air besar terisi penuh, mereka yang waspada menjadi penuh dengan kebajikan,
bahkan dengan membuatnya sedikit demi sedikit.
[17.7] Ye taranty ārṇavaṁ nityaṁ, kolaṁ baddhvā
janāḥ śubham,
na te taranti saritāṁ, tīrṇā medhāvino janāḥ.
Orang-orang
itu yang, setelah merakit sebuah rakit yang bagus, terus menerus menyeberangi
samudera, mereka tetap menyeberang di lautan, bukanlah orang-orang yang cerdas,
yang telah menyeberang.
[17.8] Uttīrṇo Bhagavāṁ Buddhaḥ, sthale tiṣṭhati
Brāhmaṇaḥ,
bhikṣavaḥ snānti caivātra, kolaṁ badhnanti
cāpare.
Sang Buddha
Sang Bhagavā telah menyeberang, Sang Brāhmaṇaḥ berdiri di pantai yang jauh,
terdapat para Bhikṣu yang mandi, sementara yang lain masih mengikat sebuah
rakit.
[17.9] Kiṁ kuryād udapānena, yatrāpaḥ sarvato
bhavet?
Tṛṣṇāyā mūlam uddhṛtya, kasya paryeṣaṇāṇ
caret?
Apakah yang
dapat seseorang lakukan dengan sebuah sumur, jika terdapat air dimana-mana?
Setelah mengangkat akar nafsu keinginan, apakah yang ia cari dalam
pengembaraan?
[17.10] Udakena nijanti nejakā,
iṣukārā namayanti tejasā,
dāruṁ namayanti takṣakā,
hy ātmānaṁ damayanti paṇḍitāḥ.
Tukang air
menyalurkan air, pengrajin panah membentuk anak panah dengan panas, tukang kayu
membentuk kayu, orang bijaksana melatih dirinya sendiri.
[17.11] Yathā hradaḥ sugambhīro, viprasanno hy anāvilaḥ,
evaṁ śrutvā hi Saddharmaṁ viprasīdanti paṇḍitāḥ.
Seperti
halnya sebuah danau yang sangat dalam, jernih, dan tak terganggu, demikianlah
orang bijaksana menjadi jernih setelah mendengar Dharma Sejati (Saddharma).
[17.12] Pṛthivīsadṛśo na lipyate, tāyī kīlavad
aprakampayaḥ,
hrada iva hi vinītakardamo, niṣkaluṣā hi
bhavanti paṇḍitāḥ.
Seseorang
yang seperti tanah tidaklah kotor, orang demikian, seperti sebuah pilar, tak
tergoncangkan, orang bijaksana menjadi tak bernoda seperti sebuah danau yang
lumpurnya telah disingkirkan.
Udakavargaḥ,
17
Bab tentang
Air, yang Ketujuh Belas
18. Puṣpavarga
Bab tentang
Bunga
(27 Syair)
[18.1] Ka imāṁ pṛthivīṁ vijeṣyate
Yamalokaṁ ca tathā sadevakam?
Ko Dharmapadaṁ sudeśitaṁ,
kuśalaḥ puṣpam iva praceṣyate?
Siapa yang
akan memahami dunia ini dan alam Yama, bersama dengan para Deva? Yang akan
memeriksa syair-syair Dharma yang diajarkan dengan baik, seperti halnya seorang
yang terampil akan memeriksa bunga-bunga?
[18.2] Śaikṣaḥ pṛthivīṁ vijeṣyate,
Yamalokaṁ ca tathā sadevakam,
sa hi Dharmapadaṁ sudeśitaṁ,
kuśalaḥ puṣpam iva praceṣyate.
Seorang yang
masih berlatih (Śaikṣaḥ) akan
memahami dunia ini dalam alam Yama, bersama dengan para Deva, orang itu akan
memeriksa syair-syair Dharma yang diajarkan dengan baik, seperti halnya seorang
yang terampil akan memeriksa bunga-bunga.
[18.3] Vanaṁ chindata mā vṛkṣaṁ, vanād vai jāyate
bhayam,
chitvā vanaṁ samūlaṁ tu, nirvaṇā bhavata
bhikṣavaḥ.
Tebanglah
hutan, bukan hanya sebatang pohon, dari hutan muncul satu bahaya, namun setelah
memotong hutan pada akarnya, engkau harus menjadi tanpa nafsu, para Bhikṣu.
[18.4] Na chidyate yāvatā vanaṁ
hy anumātram api narasya bandhuṣu,
pratibaddhamanāḥ sa tatra vai,
vatsaḥ kṣīrapaka iva mātaram.
Hutan itu
tidak ditebang sepanjang masih terdapat bahkan setitik kemelekatan seseorang
terhadap sanak keluarga, di sana pikirannya terikat, seperti anak sapi terikat
pada induknya.
[18.5] Ucchindhi hi sneham ātmanaḥ, padmaṁ śāradakaṁ
yathodakāt,
śāntimārgam eva bṛṁhayen, Nirvāṇaṁ Sugatena
deśitam.
Putuskan
cinta yang besar untuk diri sendiri, seperti setangkai teratai musim gugur
dicabut dari air, tekunilah Sang Jalan untuk Kedamaian, Nirvāṇa yang diajarkan oleh Sang Sugata.
[18.6] Yathāpi ruciraṁ puṣpaṁ, varṇavat syād
agandhavat,
evaṁ subhāṣitā vācā niṣphalāsāv akurvataḥ.
Seperti
halnya setangkai bunga yang cantik, yang mungkin berwarna, namun tanpa aroma,
demikian pula kata-kata yang diucapkan dengan baik adalah tanpa hasil bagi
seseorang yang tidak melaksanakannya.
[18.7] Yathāpi ruciraṁ puṣpaṁ, varṇavat syād
sugandhavat,
evaṁ subhāṣitā vācā saphalā bhavati kurvataḥ.
Seperti
halnya setangkai bunga yang cantik, yang mungkin berwarna dan beraroma,
demikian pula kata-kata yang diucapkan dengan baik adalah memiliki hasil bagi
seseorang yang melaksanakannya.
[18.8] Yathāpi bhramaraḥ puṣpād varṇagandhāv aheṭhayan,
paraiti rasam ādāya, tathā grāmāṁ muniś
caret.
Seperti
halnya seekor lebah, tanpa merusak warna atau aroma setangkai bunga,
mengumpulkan nektarnya dan pergi, demikian pula seharusnya orang bijaksana
mengembara diantara desa-desa.
[18.9] Na pareṣāṁ vilomāni, na pareṣāṁ kṛtākṛtam,
ātmanas tu samīkṣeta, samāni viṣamāni ca.
Bukan pada
kesalahan orang lain, atau apa yang orang lain telah lakukan atau belum
dilakukan, seseorang seharusnya memeriksa dirinya sendiri, apa yang sesuai dan
tidak sesuai.
[18.10] Yathāpi puṣparāśibhyaḥ kuryān mālāguṇāṁ
bahūn,
evaṁ jātena martyena, kartavyaṁ kuśalaṁ
bahu.
Seperti
halnya dari tumpukkan bunga seseorang dapat membuat banyak kalung bunga,
demikian juga, dengan seseorang yang terlahir sebagai makhluk hidup, banyak
perbuatan baik seharusnya dapat dilakukan.
[18.11] Varṣāsu hi yathā puṣpaṁ vaguro vipramuñcati,
evaṁ rāgaṁ ca doṣaṁ ca vipramuñcata, bhikṣavaḥ.
Seperti
halnya ketika hujan sebatang pohon melepaskan bunga-bunganya, demikian pula
kalian harus melepaskan nafsu dan kebencian, para Bhikṣu.
[18.12–18.13]
Yathā saṁkārakūṭe tu vyujjhite hi
mahāpathe
padmaṁ tatra tu jāyeta śucigandhi manoramam,
evaṁ saṁkārabhūte ’sminn, andhabhūte pṛthagjane,
prajñayā vyatirocante Samyaksaṁbuddhaśrāvakāḥ.
Seperti
halnya dalam tumpukkan sampah yang dibuang ditengah jalan utama setangkai
teratai dapat muncul dari sana, murni, harum, menyenangkan pikiran, demikian
pula diantara yang tidak berharga di dunia, orang-orang buta dan awam, siswa (śrāvakāḥ) seorang Samyak Saṁbuddha bersinar dengan kebijaksanaan mereka.
[18.14] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ
naram
suptaṁ grāmaṁ mahaughaiva, mṛtyur ādāya
gacchati.
Seseorang
yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, kematian mengambil dan
membawanya, seperti sebuah banjir membawa pergi satu desa yang tertidur.
[18.15] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ
naram,
atṛptam eva kāmeṣu – tv Antakaḥ kurute
vaśam.
Seseorang
yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, sungguh-sungguh
terpuaskan dengan nafsu – padanya Sang Pembuat Akhir memiliki pengaruhnya.
[18.16] Puṣpāṇy eva pracinvantaṁ vyāsaktamanasaṁ
naram,
anutpanneṣu bhogeṣu – tv Antakaḥ kurute
vaśam.
Seseorang
yang pikirannya melekat pada pengumpulan bunga-bunga, diantara Hartawan yang
belum muncul – padanya Sang Pembuat Akhir memiliki pengaruhnya.
[18.17] Kumbhopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,
marīcidharmaṁ paribudhya caiva,
chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,
tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.
Memahami bahwa
tubuh ini seperti sebuah kendi, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya,
memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan
Raja Kematian.
[18.18] Phenopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,
marīcidharmaṁ paribudhya caiva,
chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,
tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.
Memahami
bahwa tubuh ini seperti buih, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong
bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja
Kematian.
[18.19] Kumbhopamaṁ lokam imaṁ viditvā,
marīcidharmaṁ paribudhya caiva,
chitveha Mārasya tu puṣpakāṇi,
tv adarśanaṁ mṛtyurājasya gacchet.
Memahami
bahwa dunia ini seperti sebuah kendi, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya,
memotong bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan
Raja Kematian.
[18.20] Phenopamaṁ lokam imaṁ viditvā,
marīcidharmaṁ paribudhya caiva,
chitveha mārasya tu puṣpakāṇi,
tv adarśanaṁ Mṛtyurājasya gacchet.
Memahami
bahwa dunia ini seperti buih, sepenuhnya memahami ciri fatamorgananya, memotong
bunga-bunga Māra di sini, seseorang dapat pergi melampaui jangkauan Raja
Kematian.
[18.21] Yo nādhyagamad bhaveṣu sāraṁ,
buddhvā puṣpam udumbarasya yadvat,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
tidak menemukan intisari dalam kemenjadian, seperti seseorang yang memahami pohon
Udumbara tidak memiliki bunga, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21A] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong nafsu ragawi tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21B] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong kebencian tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21C] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong delusi tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21D] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong kesombongan tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21E] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong keserakahan tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
[18.21F] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Ia yang
memotong nafsu tanpa sisa, seperti seseorang yang memasuki sebuah danau
memotong setangkai teratai yang tumbuh dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang terkelupas.
Puṣpavargaḥ,
18
Bab tentang
Bunga, yang Kedelapan Belas
19. Aśvavarga
Bab tentang
Kuda
(26 Syair)
[19.1] Bhadro yathāśvaḥ kaśayābhispṛṣṭa,
hy ātāpinaḥ saṁvijitāś careta,
śrāddhas tathā śīlaguṇair upetaḥ,
samāhito dharmaviniścayajñaḥ,
jitendriyaḥ kṣāntibalair upeto,
jahāti sarvāṁ sa bhavān aśeṣān.
Seperti
halnya seekor kuda yang bagus yang terkena pecut, seseorang seharusnya hidup
dengan sangat tekun dan mendesak, seperti halnya seorang yang berkeyakinan,
diberkahi dengan kualitas-kualitas moralitas, tenang dan mengetahui
penyelidikan fenomena (dharmaviniścaya),
setelah menaklukan indriya-indriya, diberkahi dengan kekuatan kesabaran,
meninggalkan segala kemenenjadian ini tanpa sisa.
[19.2] Bhadro yathāśvaḥ kaśayābhitāḍita,
hy ātāpinaḥ saṁvijitāś careta,
śrāddhas tathā śīlaguṇair upetaḥ,
samāhito dharmaviniścayajñaḥ,
saṁpannavidyācaraṇaḥ pratismṛtas,
tāyī sa sarvaṁ prajahāti duḥkham.
Seperti
halnya seekor kuda yang bagus yang terkena pecut, seseorang seharusnya hidup
dengan sangat tekun dan mendesak, seperti halnya seorang yang berkeyakinan,
diberkahi dengan kualitas-kualitas moralitas, tenang dan mengetahui
penyelidikan fenomena (dharmaviniścaya),
seseorang diberkahi dengan pemahaman dan perilaku bajik, penuh perhatian, ia
yang demikian meninggalkan segala penderitaan.
[19.3] Yasyendriyāṇi samatāṁ gatāni,
aśvo yathā sārathinā sudāntaḥ,
prahīṇadoṣāya nirāsravāya –
Devāpi tasmai spṛhayanti nityam.
Bagi
seseorang yang indera-inderanya telah tenang, seperti seekor kuda yang terlatih
baik oleh pelatihnya, bagi ia yang telah meninggalkan segala cela, tanpa
kekotoran – bahkan para Deva terus iri terhadapnya.
[19.4] Apramattaḥ pramatteṣu, supteṣu bahujāgaraḥ,
abalāśva iva bhadrāśvaṁ hitvā yāti
sumedhasam.
Ia yang
waspada diantara mereka yang lengah, ia yang terjaga diantara mereka yang
tidur, ia yang bijaksana bergerak seperti seekor kuda unggulan meninggalkan
seekor kuda yang lemah.
[19.5] Hrīniṣevī hi puruṣaḥ, prājño yaḥ susamāhitaḥ,
sarvapāpaṁ jahāty eṣa, bhadrāśvo hi kaśām
iva.
Seseorang
yang, terkendali dengan rasa malu, adalah bijaksana dan amat tenang, meninggalkan
segala kesalahan, seperti seekor kuda unggulan yang meninggalkan pecut.
[19.6] Dānto vai samitiṁ yāti, dāntaṁ
rājādhirohati,
dāntaḥ śreṣṭho manuṣyāṇāṁ, yo ’tivākyaṁ
titīkṣati.
Yang
terlatih pergi diantara kerumunan, seorang raja mengandalkan ia yang terlatih,
diantara manusia seseorang yang terlatih adalah yang terbaik, ia yang dapat
menahankan kejahatan.
[19.7.i.] Yo hy aśvaṁ damayej jānyam ājāneyaṁ ca
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmā dāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor kuda, seekor kuda biasa, seekor kuda berdarah murni,
dan seekor kuda dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia
dari itu adalah ia yang melatih dirinya sendiri.
[19.7.ii.] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.8.i.] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim
adhigacchati,
ātmanā hi sudāntena, kṣipraṁ śāntiṁ
nigacchati.
Bukan dengan
kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang dengan cepat mencapai kedamaian.
[19.8.ii.] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, dānto dāntena
gacchati.
Bukan dengan
kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, yang terlatih berjalan sesuai dengan pelatihan.
[19.8A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.8B] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, bhave duḥkhasya pāragaḥ.
Bukan dengan
kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, orang itu telah menyeberangi penderitaan dalam kemenjadian.
[19.8C] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.9.i.] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim
adhigacchati,
ātmanā hi sudāntena, sarvās tyajati durgatīḥ.
Bukan dengan
kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang meninggalkan segala kelahiran yang buruk.
[19.9.ii.] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ tyajati durgatīḥ.
Bukan dengan
kendaraan seseorang dapat mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang sepenuhnya meninggalkan kelahiran yang buruk.
[19.9A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.10.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim
adhigacchati,
ātmanā hi sudāntena, sarvāṁ chinatti
bandhanam.
Bukan dengan
kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang memotong segala belenggu.
[19.10.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ chindati
bandhanam.
Bukan dengan
kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara
baik, seseorang memotong segala belenggu.
[19.10A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, dan seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.11.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim
adhigacchati,
ātmanā hi sudāntena, sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Bukan dengan
kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang terbebas dari segala penderitaan.
[19.11.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, sarvaduḥkhāt pramucyate.
Bukan dengan
kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara
baik, seseorang terbebas dari segala penderitaan.
[19.11A] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.11B] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, sarvāṁ jahāti saṁpadam.
Bukan dengan
kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara
baik, seseorang meninggalkan segala kesuksesan duniawi.
[19.11C] Yac cehāśvataraṁ damayed ājanyaṁ vāpi
Saindhavam,
kuñjaraṁ vā mahānāgam – ātmadāntas tato
varam.
Ada orang
yang dapat melatih seekor bagal, seekor kuda berdarah murni, atau seekor kuda
dari Sindh, atau seekor gajah besar bergading – lebih mulia dari itu adalah ia
yang melatih dirinya sendiri.
[19.12.i] Na hy asau tena yānena tāṁ bhūmim
adhigacchati,
ātmanā hi sudāntena, Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Bukan dengan
kendaraan seseorang menjangkau tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri
secara baik, seseorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.
[19.12.ii] Na hi tena sa yānena tāṁ bhūmim abhisaṁbhavet,
yām ātmanā sudāntena, Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Bukan dengan
kendaraan seseorang mencapai tempat itu, dengan melatih dirinya sendiri secara
baik, seseorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.
[19.13] Ātmānam eva damayed, bhadrāśvam iva sārathiḥ,
ātmanā hi sudāntena, smṛtimāṁ duḥkhapāragaḥ.
Seseorang
seharusnya melatih dirinya sendiri, seperti seorang pelatih kuda (melatih)
seekor kuda unggulan, dengan melatih dirinya sendiri secara baik, dengan penuh
perhatian seseorang akan menyeberangi penderitaan.
[19.14] Ātmaiva hy ātmano nāthaḥ, ātmā śaraṇam
ātmanaḥ,
tasmāt saṁyamayātmānaṁ, bhadrāśvam iva
sārathiḥ.
Diri sendiri
adalah penjaga bagi diri sendiri, diri sendiri adalah pelindung bagi diri
sendiri, karena itulah seseorang harus mengendalikan dirinya sendiri, seperti
seorang pelatih kuda (melatih) seekor kuda unggulan.
Aśvavargaḥ,
19
Bab tentang
Kuda, yang Kesembilan Belas.
20. Krodhavarga
Bab tentang
Kemarahan
(20 Syair)
[20.1] Krodhaṁ jahed, viprajahec ca mānaṁ,
saṁyojanaṁ sarvam atikrameta,
taṁ nāmne rūpe ca asajyamānam,
akiñcanaṁ nānupatanti saṅgāḥ.
Seseorang
seharusnya meninggalkan kemarahan, seseorang seharusnya sepenuhnya meninggalkan
kesombongan, seseorang seharusnya mengatasi segala belenggu, tanpa melekat pada
batin dan jasmani, kemelekatan tidak akan muncul pada ia yang tidak memiliki
apapun.
[20.2] Krodhaṁ jahed utpatitaṁ, rāgaṁ jātaṁ
nivārayet,
avidyāṁ prajahed dhīraḥ, satyābhisamayāt
sukham.
Seseorang
seharusnya meninggalkan kemarahan yang sedang muncul, seseorang seharusnya
menyingkirkan nafsu ragawi yang berlangsung, ia yang tekun seharusnya
meninggalkan ketidak-tahuan, kebahagiaan adalah berasal dari merealisasikan
kebenaran.
[20.3] Krodhaṁ hatvā sukhaṁ sete, krodhaṁ hatvā na
śocati,
krodhasya viṣamūlasya, madhuraghnasya, bhikṣavaḥ,
vadham āryāḥ praśaṁsanti, taṁ ca hatvā na
śocati.
Setelah
menghancurkan kemarahan seseorang hidup bahagia, setelah menghancurkan
kemarahan seseorang tidak berduka, pemotongan akar beracun kemarahan adalah
manis, para Bhikṣu, Para Mulia memuji penghancurannya, karena dengan
menghancurkannya, seseorang tidak berduka.
[20.4] Yat tu rocayati kruddho duṣkṛtaṁ sukṛtaṁ tv
iti,
paścāt sa vigate krodhe, spṛṣṭvāgnim iva
tapyate.
Apapun yang
disetujui orang yang marah, perbuatan buruk atau bajik, setelahnya, ketika
kemarahannya berhenti, orang itu tersiksa seperti ia yang menyentuh api.
[20.5.i.] Ahrīkaś cānavatrāpī, cāvrataś caiva roṣaṇaḥ,
krodhena hy abhibhūtasya, dvīpaṁ nāstīha kiṁ
cana.
Tanpa rasa
malu dan takut (berbuat salah), sulit diatur dan penuh amarah, bagi seseorang
yang dikendalikan kemarahan, tidak ada pulau (pelindung) di manapun.
[20.5.ii.] Ahrīkyo ’py anavatrāpī, bhavati krodhano
’vrataḥ,
krodhena cābhibhūtasya, na dvīpo bhavati kaś
cana.
Tanpa rasa
malu atau takut (berbuat salah), seseorang menjadi pemarah dan sulit diatur,
bagi seseorang yang dikendalikan kemarahan, tidak ada pulau (pelindung) sama
sekali.
[20.6] Abalaṁ hi balaṁ tasya, yasya krodhe balaṁ
balam,
kruddhasya Dharmahīnasya, pratipattir na
vidyate.
Kelemahan
adalah kekuatannya, pada ia yang kekuatannya hanyalah kekuatan dalam amarah,
bagi ia yang pemarah, tanpa Dharma, tidak ada Jalan Kebenaran yang terlihat.
[20.7] Yas tv ayaṁ balavāṁ bhūtvā, durbalasya titīkṣati,
tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati
durbalaḥ.
Namun bagi
ia yang, menjadi kuat, menahankan seseorang yang lemah, mereka katakan bahwa
itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu bersabar.
[20.8] Yaḥ pareṣāṁ prabhūḥ saṁs tu, durbalāṁ saṁtitīkṣati,
tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati
durbalaḥ.
Namun ia
yang, dengan menguasai orang lain, sepenuhnya sabar dengan orang yang lemah,
mereka katakan bahwa itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu
bersabar.
[20.9] Atyukto hi parair yo vai, balavāṁ saṁtitīkṣati,
tām āhuḥ paramāṁ kṣāntiṁ, nityaṁ kṣamati
durbalaḥ.
Seorang kuat
yang, sepenuhnya bersabar walaupun diprovokasi oleh orang lain, mereka katakan
bahwa itulah kesabaran tertinggi, orang lemah harus selalu bersabar.
[20.10] Ātmānaṁ ca paraṁ caiva mahato rakṣate bhayāt,
yaḥ paraṁ kupitaṁ jñātvā, svayaṁ
tatropaśāmyati.
Seseorang
melindungi dirinya sendiri dan orang lain dari bahaya besar, ia yang,
mengetahui orang lain marah, ia sendiri tetap tenang dalam situasi itu.
[20.11] Ubhayoś carate so ’rtham ātmanasya parasya
ca,
yaḥ paraṁ kupitaṁ jñātvā, svayaṁ
tatropaśāmyati.
Ia yang
hidup demi manfaat baik dirinya sendiri dan orang lain, ia yang, mengetahui
orang lain marah, ia sendiri tetap tenang dalam situasi itu.
[20.12] Ubhārthe caramāṇaṁ taṁ hy ātmanasya parasya ca,
abalaṁ manyate bālo, Dharmeṣv avavicakṣaṇaḥ.
Walaupun ia
hidup demi manfaat baik dirinya sendiri dan orang lain, dengan tidak terampil
dalam Dharma, orang bodoh menganggap ia lemah.
[20.13] Jayaṁ hi manyate bālo vacobhiḥ paruṣair
vadan,
nityam iva jayas tasya yo ’tivākyaṁ titīkṣati.
Orang bodoh
menganggap ia adalah seorang pemenang ketika mengucapkan kata-kata kasar,
seperti halnya kemenangan yang sebenarnya dimiliki seseorang yang dapat selalu
menahankan kejahatan.
[20.14] Śreṣṭhasya vākyaṁ kṣamate bhayena,
saṁrambhahetoḥ sadṛśasya caiva,
yo vai nihīnasya vacaḥ kṣameta,
tām uttamāṁ kṣāntim ihāhur āryāḥ.
Seseorang
menahankan ucapan mereka yang lebih tinggi karena takut, atau ucapan mereka
yang setara karena terburu-buru, namun ia yang menahankan ucapan mereka yang
lebih rendah, itulah yang disebut Para Mulia di sini sebagai kesabaran
tertinggi.
[20.15] Kruddho vācaṁ na bhāṣeta pariṣatsv atha vā
mithaḥ,
krodhābhibhūtaḥ puruṣaḥ svam arthasṁ hi na
budhyate.
Seseorang
yang marah seharusnya mengucapkan kata-kata di satu perkumpulan atau secara
privat, orang yang diliputi kemarahan tidak mengerti manfaat bagi dirinya
sendiri.
[20.16] Satyaṁ vaden, na ca krudhyed, dadyād alpād
api svayam,
sthānair ebhis tribhir yukto, Devānām antikaṁ
vrajet.
Seseorang seharusnya
mengucapkan kebenaran, tidak menjadi marah, bahkan pemberian dari orang kecil
yang, diberkahi dengan tiga kondisi ini, ia dapat pergi ke hadapan para Deva.
[20.17] Śāntasya hi kutaḥ krodho, dāntasya
sama-jīvinaḥ,
samyagājñāvimuktasya? Krodho nāsti prajānataḥ.
Bagaimana
mungkin terdapat kemarahan bagi ia yang tenang, terlatih, hidup dalam harmoni,
terbebas dengan pengetahuan benar? Tidak ada kemarahan bagi seseorang yang
memahami.
[20.18] Tasyaiva pāpaṁ bhavati yaḥ kruddhe krudhyate
punaḥ,
kruddheṣv akruddhamānas tu, saṁgrāmaṁ
durjayaṁ jayet.
Yang
didapatkan seseorang hanyalah keburukan bagi siapapun yang berbalik marah pada
orang yang sedang marah, namun ia yang tidak berbalik marah diantara yang
marah, akan memenangkan suatu pertempuran yang sulit dimenangkan.
[20.19] Akrodhena jayet krodham, asādhuṁ sādhunā
jayet,
jayet kadaryaṁ dānena, satyena tv anṛtaṁ
jayet.
Dengan tidak
menjadi marah ia seharusnya mengatasi kemarahan seseorang, dengan menjadi baik
ia harus mengatasi keburukan seseorang, dengan memberi ia harus mengatasi
kekikiran seseorang, dengan kejujuran ia harus mengatasi seseorang yang
berbohong.
atau:
Akrodhena jayet krodham, asādhuṁ sādhunā
jayet,
jayet kadaryaṁ dānena, satyena tv anṛtaṁ
jayet.
Dengan tanpa
kemarahan seseorang harus mengatasi kemarahan, dengan kebajikan mengatasi tanpa
kebajikan, dengan memberi seseorang harus mengatasi kekikiran, dengan kebenaran
seseorang harus mengatasi kebohongan.
[20.20] Akruddhasya kutaḥ krodho, dāntasya
sama-jīvinaḥ,
samyagājñāvimuktasya? Krodhas tasya na
vidyate.
Bagaimana
mungkin terdapat kemarahan, bagi ia yang terbebas dari kemarahan, terlatih,
hidup dalam harmoni, terbebas dengan pengetahuan benar? Kemarahan orang itu
tidak ditemukan.
[20.21] Akrodhaś cāvihiṁsā ca vasaty āryeṣu sarvadā,
sadā pāpajane krodhas, tiṣṭhati parvato
yathā.
Tanpa
kemarahan dan tanpa kekerasan selalu berdiam diantara Para Mulia, selalu ada
kemarahan didalam orang-orang jahat, (kemarahan) itu menetap seperti suatu
gunung.
[20.22] Yas tv ihotpatitaṁ krodhaṁ rathaṁ bhrāntam
iva dhārayet,
vadāmi sārathiṁ taṁ tu, raśmigrāho ’yam
anyathā.
Seseorang
yang akan menahankan kemarahan yang muncul di sini seperti suatu kereta yang
berbelok, orang itu Aku katakan adalah seorang kusir, jika tidak seseorang
hanyalah seorang pemegang tali kemudi.
Krodhavargaḥ,
20
Bab tentang
Kemarahan, yang Kedua Puluh
Uddānam
Ringkasan
Śramaṇo mārgasatkāro drohasmṛtiprakīrṇakaḥ,
udakaṁ puṣpaṁ aśvaś-ca saha krodhena te daśaḥ.
Śramaṇa, Sang Jalan, kehormatan,
melukai, perhatian, serbaneka, air, bunga, dan kuda bersama dengan kemarahan,
inilah sepuluh.
21. Tathāgatavarga
Bab tentang
Tathāgata
(20 Syair)
[21.1] Sarvābhibhūḥ Sarvavid eva cāsmi,
sarvaiś ca dharmaiḥ satataṁ na liptaḥ,
sarvaṁjahaḥ, sarvabhayād vimuktaḥ,
svayaṁ hy abhijñāya, kam uddiśeyam.
Akulah Sang
Penakluk, Sang Bijaksana, selalu tak tercemar oleh segala fenomena, telah
meninggalkan segalanya, terbebas dari segala bahaya, sangat mengenal Diriku
sendiri, siapakah yang harus Kutunjuk (sebagai guru)?
[21.2] Kam uddiśeyaṁ tv asamo hy atulyaḥ?
Svayaṁ pravaktā, hy adhigamya Bodhim,
Tathāgato Devamanuṣyaśāstā,
sarvajñatāṁ prāpya, balair upetaḥ.
Siapakah yang
harus Kutunjuk, karena Aku Tak Terukur, Tak Tertandingi? Setelah mencapai
Pencerahan, Aku menyatakan Diriku, Sang Tathāgata,
guru para Deva dan manusia, setelah mencapai Kemahatahuan, diberkahi dengan
kekuatan.
[21.3] Ahaṁ hi lokeṣv, Arahann, ahaṁ lokeṣv
anuttaraḥ,
sadevakeṣu lokeṣu, cāhaṁ Mārābhibhūr Jinaḥ.
Tentu saja,
Akulah Sang Arahant di dunia, Akulah Yang Terunggul di dunia, di dunia bersama
dengan para Devanya, Akulah Sang Pemenang yang mengalahkan Māra.
[21.4] Ācāryo me na vai kaś cit, sadṛśaś ca na
vidyate,
eko ’smiṁ loke Saṁbuddhaḥ, prāptaḥ Saṁbodhim
uttamām.
Tidak ada
seorang guru untuk-Ku, tidak ada seseorang yang setara dengan-Ku yang dapat
ditemukan, Aku sendiri Saṁbuddhaḥ di
dunia, setelah mencapai Pencerahan Sempurna yang Tertinggi.
[21.5] Jinā hi mādṛśā jñeyā, ye prāptā hy āsravakṣayam,
jitā me pāpakā dharmās, tato ’ham Upagā Jinaḥ.
Tentu saja
Sang Pemenang seperti-Ku patut dikenal, mereka yang telah mencapai penghancuran
kekotoran, Aku menaklukkan pikiran-pikiran jahat, karena itulah, Upaga, Akulah
Sang Pemenang.
[21.6] Bārāṇasīṁ gamiṣyāmi, haniṣye ’mṛtadundubhim,
Dharmacakraṁ pravartayiṣye, lokeṣv aprativartitam.
Aku akan
pergi ke Bārāṇasī, Aku akan memukul genderang tanpa kematian. Aku akan memutar
Roda Dharma, yang tidak dapat ditarik kembali di dunia.
[21.7] Na hi santaḥ prakāśyante, viditvā
lokaparyāyam,
ādeśayanto virajaḥ padaṁ śāntamanīṣiṇaḥ.
Sesungguhnya,
orang bajik tidak menjadi terkenal, setelah memahami jalan dunia, mereka yang
damai dan bijaksana hanya menunjukkan keadaan yang tanpa debu.
[21.8] Nadantīha mahāvīrāḥ Saddharmeṇa Tathāgatāḥ,
Dharmeṇa nadamānānāṁ, ke tv asūyed vijānakāḥ.
Sang
Pahlawan Besar, Sang Tathāgatāḥ, yang
menyatakan Dharma Sejati di sini, ketika menyatakan Dharma, bagaimana mungkin
mereka yang mengerti membencinya?
[21.9] Ye dhyānaprasṛtā dhīrā, naiṣkramyopaśame
ratāḥ,
Devāpi spṛhayanty eṣāṁ, Buddhānāṁ śrīmatāṁ sadā.
Mereka yang
tekun, berdedikasi pada meditasi, yang telah bersenang dalam kedamaian
pelepasan keduniawian, bahkan para Deva iri kepada mereka, Buddha yang selalu
mulia.
[21.10] Teṣāṁ Devā manuṣyāś ca Saṁbuddhānāṁ
yaśasvinām,
spṛhayanty āśubuddhīnāṁ, śarīrāntimadhāriṇām.
Para Deva
dan manusia iri terhadap para Saṁbuddhā, mereka
Yang Terkenal, mereka Yang Berkebijaksanaan Cepat, Yang Membawa Tubuh
Terakhirnya.
[21.11–21.12]
Ye cābhyatītāḥ Saṁbuddhā, ye ca Buddhā hy
anāgatāḥ,
yaś cāpy etarhi Saṁbuddho, bahūnāṁ
śokanāśakaḥ,
sarve Saddharmaguravo vyāhārṣu viharanti ca,
athāpi vihariṣyanti, eṣā Buddheṣu dharmatā.
Mereka yang
adalah para Saṁbuddhā di masa lampau,
dan Mereka yang akan menjadi Buddha di masa depan, dan Beliau yang adalah Saṁbuddha di masa sekarang, penghancur
dukacita bagi banyak orang, mereka semua memiliki rasa hormat pada Dharma
Sejati dalam ucapan-Nya, dan demikian juga cara hidup Mereka, inilah hukum alam
(Dharmata) pada Para Buddha.
[21.13] Tasmād ihātmakāmena, māhātmyam abhikāṅkṣatā,
Saddharmo gurukartavyaḥ, smaratā
Buddhaśāsanam.
Karena
itulah di sini, seseorang yang mencari keluhuran, dengan mencintai dirinya
sendiri, Dharma Sejati harus dihormati, dengan mengingat Ajaran Para Buddha (Buddhaśāsanam).
[21.14] Na śraddhāsyanti vai ye tu narā Buddhasya
śāsanam,
vyasanaṁ te gamiṣyanti, vaṇijo Rākṣasīṣv
iva.
Mereka yang
tidak berkeyakinan pada Ajaran Buddha, akan pergi menuju kehancuran, seperti
pedagang diantara para Rakṣasīs.
[21.15] Śraddhāsyanti tu ye nityaṁ narā Buddhasya
śāsanam,
svastinā te gamiṣyanti, vālāhenaiva vāṇijāḥ.
Namun mereka
yang akan selalu memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, mereka akan pergi
dengan aman, seperti para pedagang dengan kuda-awan.
[21.16] Tathāgataṁ Buddham iha svayaṁbhuvaṁ,
dvau vai vitarkau bahulaṁ samudācarete:
Kṣemas tathaiva pravivekayuktas,
tamonudaṁ pāragataṁ maharṣim.
Pada Sang Tathāgata, Sang Buddha, Yang Terlahir
Sendiri di sini, Penghalau kegelapan, Beliau yang telah menyeberang, Sang
Penglihat Agung, dua jenis pikiran sering muncul: Pikiran tentang keamanan, dan
juga apa yang berhubungan dengan pelepasan.
[21.17] Prāptaḥ sa cāryo vaśitām aśeṣāṁ,
viṣvottaraḥ sarvabhayād vimuktaḥ,
tṛṣṇāprahīṇo vimalo nirāśaś,
cālokayaṁ lokahitāya satvān.
Sang Guru
yang telah mencapai penguasaan sempurna, terunggul atas segalanya, terbebas
dari segala bahaya, Yang telah meninggalkan nafsu, tanpa noda, tanpa kerinduan,
menerangi makhluk-makhluk demi manfaat dunia.
[21.18] Śaile yathā parvatamūrdhani sthito
yathaiva paśyej janatāṁ samantāt,
tathā hy asau Dharmamayaṁ sumedhāḥ
prāsādam āruhya, samantacakṣuḥ.
Śokābhibhūtāṁ janatām aśoko drākṣīd imāṁ
jātijarābhibhūtām.
Seperti
halnya seseorang yang berdiri pada suatu puncak gunung berbatu dapat melihat
orang-orang di segala sisi, demikian juga ia yang bijaksana, mendaki istana
yang terbuat dari Dharma, adalah penglihat segalanya. Ia yang tanpa dukacita
melihat orang-orang diliputi dukacita, diliputi oleh kelahiran dan usia tua.
Tathāgatavargaḥ,
21
Bab tentang
Tathāgata, yang Kedua Puluh Satu.
22. Śrutavarga
Bab tentang
Pembelajaran
(21 Syair)
[22.1] Sādhu śrutaṁ sucaritaṁ, sādhu cāpy
aniketatā,
pradakṣiṇaṁ pravrajyā ca śrāmaṇyasyānulomikam.
Pembelajaran
dan perilaku bajik adalah baik, meninggalkan rumah juga adalah baik, melakukan pradakṣiṇa dan pelepasan keduniawian
adalah sesuai dengan kehidupan pertapa.
[22.2] Bālā ihāvijānantaś caranti hy amarā iva,
vijānatāṁ tu Saddharmam āturasyaiva śarvarī.
Orang-orang
bodoh yang tidak mengetahui di sini hidup seolah-olah mereka kekal, namun
mereka yang mengerti Dharma Sejati adalah seperti malam bagi yang sakit.
[22.3–22.4 ]
Yathā hy agāraṁ succhannaṁ praviśya
tamasā sphuṭam,
vidyamānāni rūpāṇi cakṣuṣmāṁ hi na paśyati,
tathaiveha naro nityaṁ jñānavān api yo
bhavet,
aśrutvā na vijānāti Dharmāṁ kalyāṇapāpakān.
Seperti
halnya ketika memasuki suatu rumah beratap jerami yang gelap gulita, walaupun
terdapat bentuk-bentuk, seseorang dengan mata tidak melihatnya, demikianlah,
walaupun seorang manusia di sini yang bahkan akan selalu dapat belajar, tanpa
mendengarkan Dharma, ia tidak mengerti kebajikan dan keburukan.
[22.5] Pradīpena tu rūpāṇi cakṣuṣmāṁ paśyate yathā,
evaṁ śrutvā vijānāti Dharmāṁ kalyāṇapāpakān.
Namun
seperti halnya dengan suatu pelita seseorang dengan mata dapat melihat bentuk,
demikianlah setelah mendengar Dharma ia dapat mengerti kebajikan dan keburukan.
[22.6] Śrutvā Dharmāṁ vijānāti, śrutvā pāpaṁ na
sevate,
śrutvā hy anarthaṁ varjayate, śrutvā
prāpnoti nirvṛtim.
Setelah
mendengar Dharma seseorang mengerti, setelah mendengar, seseorang tidak
bersenang dalam keburukan, setelah mendengar, seseorang menghindari apa yang
tidak bermanfaat, setelah mendengar, seseorang mencapai pembebasan.
[22.7] Bahuśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu tv
asamāhitaḥ,
śīlatas taṁ vigarhanti, nāsya saṁpadyate
śrutam.
Bahkan jika
seseorang telah banyak belajar, namun tidak teguh dalam moralitas, atas dasar
moralitasnya yang buruk mereka mencelanya, pembelajarannya tidak berhasil.
[22.8] Alpaśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu susamāhitaḥ,
śīlatas taṁ praśaṁsanti, tasya saṁpadyate
śrutam.
Bahkan jika
seseorang sedikit belajar, namun teguh dalam moralitas, atas dasar moralitasnya
mereka memujinya, pembelajarannya berhasil.
[22.9] Alpaśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu tv
asamāhitaḥ,
ubhayatas taṁ vigarhanti, nāsya saṁpadyate
vratam.
Bahkan jika
seseorang sedikit belajar, dan tidak teguh dalam moralitas, mereka mencelanya
atas dua hal, latihannya (vrata) nya
tidak berhasil.
[22.10] Bahuśruto ’pi ced bhavati, śīleṣu susamāhitaḥ,
ubhayatas taṁ praśaṁsanti, tasya saṁpadyate
vratam.
Jika
seseorang banyak belajar, dan sangat teguh dalam moralitas, mereka memujinya
atas dua hal, latihannya berhasil.
[22.11] Bahuśrutaṁ Dharmadharaṁ, prājñaṁ nityaṁ
samāhitam,
niṣkaṁ Jāmbunadasyaiva, kas taṁ ninditum
arhati?
Terpelajar,
seorang pelindung Dharma, bijaksana, selalu tenang, seperti sekeping koin
sungai Jambu, siapakah yang dapat mencelanya?
[22.12.i.] Ye me rūpeṇa minvanti, ye me ghoṣeṇa cānvagāḥ,
chandarāgavaśopetā, na māṁ jānanti te janāḥ.
Mereka yang
menilai bentuk-Ku, mereka yang mengikuti reputasi-Ku, dikalahkan oleh nafsu dan
hasrat, mereka tidak mengetahui-Ku.
[22.12.ii.] Ye rūpeṇa pramiṇvanti, māṁ ghoṣeṇānuyānti ca,
chandarāgavaśopetā, na māṁ jānanti te janāḥ.
Mereka yang
menilai-Ku berdasarkan bentuk, dan mengejar-Ku karena reputasi, dikalahkan oleh
nafsu dan hasrat, mereka tidak mengetahui-Ku.
[22.13] Ādhyātmaṁ ca na jānāti, bahirdhā tu
vipaśyati,
bahirdāphaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa nīyate.
Karena bukan
seorang yang mengetahui apa yang internal, namun melihat apa yang eksternal
dengan baik, melihat hasil dari hal-hal eksternal, ia diarahkan oleh reputasi.
[22.14] Ādhyātmaṁ tu prajānāti, bahirdhā ca na
paśyati,
ādhyātmaphaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa
nīyate.
Namun
seseorang yang mengetahui apa yang internal dengan baik, seseorang tidak
melihat hal-hal eksternal, melihat berbagai hasil dari apa yang internal, ia
tetap diarahkan oleh reputasi.
[22.15] Ādhyātmaṁ ca na jānāti, bahirdhā ca na
paśyati,
ubhaye ’phaladarśī tu, sa vai ghoṣeṇa
nīyate.
Karena bukan
seorang yang mengetahui apa yang internal, seseorang tidak melihat hal-hal
eksternal, melihat tanpa hasil dalam keduanya, ia tetap diarahkan oleh
reputasi.
[22.16] Ādhyātmaṁ ca prajānāti, bahirdhā ca
vipaśyati,
sa tu niḥsaraṇaprajño, na vai ghoṣeṇa
nīyate.
Namun ia
yang mengetahui apa yang internal, dan melihat apa yang eksternal dengan baik
memiliki kebijaksanaan tentang jalan keluar, ia tidak diarahkan oleh reputasi.
[22.17.i.] Bahu śṛṇoti śrotreṇa, bahū paśyati cakṣuṣā,
na tad dṛṣṭaṁ śrutaṁ dhīraḥ sarvaṁ
śraddhātum arhati.
Seseorang
mendengar begitu banyak dengan telinga, seseorang melihat banyak hal dengan
mata, ia yang tekun seharusnya tidak memiliki keyakinan dalam segala yang
terlihat dan terdengar.
[22.17.ii.] Śrotreṇa śrūyate bahu, dṛśyate bahu cakṣuṣā,
na tad dṛṣṭaṁ śrutaṁ dhīraḥ
sarvaṁ śraddhātum arhati.
Banyak hal
yang didengar dengan telinga, banyak hal yang terlihat dengan mata. ia yang
tekun seharusnya tidak memiliki keyakinan dalam segala yang terlihat dan
terdengar.
[22.18] Vijñānasārāṇi subhāṣitāni,
jñātaṁ śrutaṁ caiva samādhisāram,
na tasya vijñānaśrutaṁ mahārthaṁ,
yaḥ sāhaso bhavati naraḥ pramattaḥ.
Kata-kata
yang diucapkan dengan baik memiliki kesadaran sebagai intinya, pengetahuan dan
pembelajaran memiliki konsentrasi sebagai intinya, baginya kesadaran dan
pembelajaran tidak memberikan manfaat yang besar padanya, orang itu yang gegabah
dan lalai.
[22.19] Dharme tu ye hy āryanivedite ratās,
tadā carante vacasā yadāhuḥ,
te kṣāntisauratyasamādhigocarāḥ,
śrutasya buddher api sāram adhyaguḥ.
Namun,
mereka yang bersenang dalam Dharma yang diajarkan oleh Para Mulia, dan kemudian
hidup sesuai dengan kata-kata yang telah diucapkan, mereka yang menguasai
konsentrasi, kebajikan, dan kesabaran, telah mencapai hakikat kecerdasan dan
pembelajaran.
Śrutavargaḥ,
22
Bab tentang
Pembelajaran, yang Kedua Puluh Dua.
23. Ātmavarga
Bab tentang
Diri Sendiri
(26 Syair)
[23.1] Subhāṣitasya śikṣeta, śramaṇopāsanasya ca,
ekāsanasya ca rahaś, cittavyupaśamasya ca.
Seseorang
harus berlatih dalam kata-kata yang diucapkan dengan baik, mengikuti kehidupan
suci, duduk sendiri dalam keterasingan, dan dalam menenangkan pikiran.
[23.2] Ekāsanaṁ tv ekaśayyām, ekacaryām atandritaḥ,
ramayec caikam ātmānaṁ, vaneṣv ekaḥ sadā
vaset.
Duduk
sendiri, berbaring sendiri, hidup selibat dan tekun, ia seharusnya bersenang
dalam keterasingan dirinya sendiri, dan seharusnya selalu hidup sendiri di
hutan.
[23.3] Yaḥ sahasraṁ sahasrāṇāṁ saṁgrāme dviṣatāṁ
jayet,
yaś cātmānaṁ jayed ekaṁ – saṁgrāmo durjayaḥ
sa vai.
Terdapat
seseorang yang mungkin menaklukkan seribu kali seribu musuh di dalam
pertempuran, dan terdapat seseorang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri –
itulah pertempuran yang tentu sulit dimenangkan.
[23.4–23.5] Ātmā hy asya jitaḥ śreyāṁ yac ceyam itarāḥ
prajāḥ,
ātmadāntasya puruṣasya, nityaṁ saṁvṛtacāriṇaḥ,
na Devā nāpi Gandharvā na Māro Brāhmaṇā saha,
jitasyāpajitaṁ kuryus, tathā prājñasya bhikṣuṇaḥ.
Menaklukkan
diri sendiri adalah lebih baik daripada menaklukkan orang lain, bagi orang yang
melatih dirinya sendiri, yang selalu hidup terkendali dengan baik, (karena)
baik para Deva, Gandharva, ataupun Māra bersama dengan Brāhmaṇā, tidak dapat mengubah kemenangan
menjadi kekalahan, bagi seorang Bhikṣu yang bijaksana.
[23.6] Ātmānam eva prathamaṁ pratirūpe niveśayet,
tato ’nyam anuśāsīta, . . . . yathā hy ah .
Pertama-tama
seseorang harus meneguhkan dirinya dalam apa yang sesuai, setelahnya seseorang
dapat menasehati orang lain, . . . . seperti
halnya . . . . .
[23.7] Ātmānam eva prathamaṁ pratirūpe niveśayet,
tato ’nyam anuśāsīta, na kliśyeta hi paṇḍitaḥ.
Pertama-tama
seseorang harus meneguhkan dirinya dalam apa yang sesuai, setelahnya seseorang
dapat menasehati orang lain, karena orang yang bijaksana seharusnya tidak
tercemar.
[23.8] Ātmānaṁ hi tathā kuryāc chāsītānyaṁ yathā
svayam,
sudānto bata me nityam: ātmā sa hi sudurdamaḥ.
Seseorang seharusnya
melakukan seperti halnya ketika ia akan menasehati orang lain, selalu terlatih
dengan baik. Karena diri sendiri adalah sangat sulit untuk dilatih.
[23.9] Ātmānaṁ hi tathā kuryāc chāsītānyaṁ yathā
svayam,
ātmā dānto mayā nityam, ātmadānto hi paṇḍitaḥ.
Seseorang
seharusnya melakukan seperti halnya ketika ia akan menasehati orang lain,
dengan selalu terlatih oleh dirinya sendiri, karena diri sendiri yang terlatih
adalah bijaksana.
[23.10] Ātmano ’rthaṁ parārthena bahunāpi na
hāpayet,
ātmārthaṁ paramaṁ jñātvā, svakārthaparamo
bhavet.
Seseorang
seharusnya tidak mengabaikan tujuannya sendiri demi manfaat orang lain,
betapapun besarnya, mengetahui tujuan diri sendiri adalah yang tertinggi,
jadilah orang yang baginya tujuannya adalah yang tertinggi.
[23.11] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, nāthaṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh suatu pelindung.
[23.12 ] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, arthaṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh tujuan.
[23.13] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, Dharmaṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi pelindung?
Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana memperoleh Dharma.
[23.14] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, yaśo labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh reputasi.
[23.15] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, kīrtiṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh kemashyuran.
[23.16] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, sukhāṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh kebahagiaan.
[23.17] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, svargaṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh surga.
[23.18] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, ciraṁ svargeṣu modate.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, ia bergembira di surga
untuk waktu yang lama.
[23.19] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, ciraṁ svarge pratiṣṭhati.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, ia teguh di surga untuk waktu
yang lama.
[23.20] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, prajñāṁ labhati paṇḍitaḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bijaksana
memperoleh kebijaksanaan.
[23.21] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet,
Ātmanā hi sudāntena, jñātimadhye virocate.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang bersinar ditengah
kerabat-kerabatnya.
[23.22] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, śokamadhye na śocati.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang tidak bersedih
ditengah mereka yang bersedih.
[23.23] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, sarvaṁ chindati
bandhanam.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang memotong segala
belenggu.
[23.24] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, sarvās tyajati durgatīḥ.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang meninggalkan segala
tujuan yang buruk.
[23.25] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang terbebas dari
segala penderitaan.
[23.26] Ātmā tv ihātmano nāthaḥ, ko nu nāthaḥ paro
bhavet?
Ātmanā hi sudāntena, Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Diri sendiri
adalah pelindung bagi diri sendiri, baginya siapa lagi yang dapat menjadi
pelindung? Dengan melatih diri sendiri secara baik, seorang tentu dekat dengan Nirvāṇa.
Ātmavargaḥ,
23
Bab tentang
Diri Sendiri, yang Kedua Puluh Tiga.
24. Peyālavarga
Bab tentang Pengulangan
(35 Syair)
[24.1] Yac ca gāthāśataṁ bhāṣed anarthapadasaṁhitam,
ekam arthapadaṁ śreyo, yac chrutvā hy
upaśāmyati.
Ada orang
yang dapat mengucapkan seratus syair yang tidak bermanfaat, namun lebih baik
adalah satu syair yang bermakna, yang dengan mendengarnya seseorang
ditenangkan.
[24.2] Yac ca gāthāśataṁ bhāṣed adharmapadasaṁhitam,
ekaṁ Dharmapadaṁ śreyo, yac chrutvā hy
upaśāmyati.
Ada orang
yang dapat mengucapkan seratus syair yang tidak bermanfaat, namun lebih baik
adalah satu syair Dharma, yang dengan mendengarnya seseorang ditenangkan.
[24.3] Yac ca varṣaśataṁ jīved, duḥśīlo hy
asamāhitaḥ,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, sadā śīlavataḥ śuceḥ.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun, tidak bermoral dan tidak tenang, namun
lebih baik satu hari, bagi seseorang yang selalu memiliki moralitas dan
kemurnian.
[24.4] Yac ca varṣaśataṁ jīved, duṣprajño hy
asamāhitaḥ,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, prājñasya dhyāyinaḥ
sadā.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun, tidak bijaksana, dan tidak tenang, namun
lebih baik satu hari, selalu bijaksana dan bermeditasi.
[24.5] Yac ca varṣaśataṁ jīvet, kusīdo
hīnavīryavān,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyo, vīryam ārabhato dṛḍham.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun, lamban, tidak bersemangat, namun lebih
baik satu hari, bagi seseorang yang tekun dengan semangat dibangkitkan.
[24.6] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann
udayavyayam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy udayavyayam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kemunculan dan kehancuran,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kemunculan dan
kehancuran.
[24.7] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ vedanākṣayam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato vedanākṣayam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tanpa melihat penghancuran perasaan,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat penghancuran perasaan.
[24.8] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann āsravakṣayam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy āsravakṣayam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat penghancuran kekotoran,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat penghancuran kekotoran.
[24.9] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann acalaṁ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy acalaṁ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tak bergerak, namun
lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tak bergerak.
[24.10] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann acyutaṁ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy acyutaṁ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa kematian,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa kematian.
[24.11] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann arajaḥ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy arajaḥ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa noda, namun
lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa noda.
[24.12] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ virajaḥ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato virajaḥ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi terbebas dari noda,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi terbebas dari
noda.
[24.13] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyaṁ durdṛśaṁ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato durdṛśaṁ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tanpa melihat kondisi yang sulit dilihat,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi yang sulit
dilihat.
[24.14] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann uttamaṁ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy uttamaṁ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi yang terunggul,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi yang terunggul.
[24.15] Yac ca varṣaśataṁ jīved apaśyann amṛtaṁ
padam,
ekāhaṁ jīvitaṁ śreyaḥ, paśyato hy amṛtaṁ
padam.
Ada orang
yang dapat hidup selama seratus tahun tidak melihat kondisi tanpa kematian,
namun lebih baik satu hari, bagi seseorang yang melihat kondisi tanpa kematian.
[24.16] Yac ca varṣaśataṁ pūrṇam agniṁ paricared
vane,
yac caikaṁ bhāvitātmānaṁ muhūrtam api
pūjayet –
sā tasya pūjanā śreṣṭhā na tad varṣaśataṁ
hutam.
Ada orang
yang dapat merawat api suci di dalam hutan selama seratus tahun penuh, dan
orang yang menghormati seseorang dengan batin yang terkembang bahkan selama
satu momen – penghormatan itu tentu saja lebih baik daripada pengorbanan
seratus tahun.
[24.17] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tad Buddhe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Buddha.
[24.18] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tad Dharme prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Dharma.
[24.19] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tat Saṁghe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Saṁgha.
[24.20] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tac chīle prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada moralitas (Sīla).
[24.20A] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na taṁ maitrasya cittasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan satu pikiran cinta kasih.
[24.20B] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tat satvānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada
makhluk hidup.
[24.20C] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tat prāṇānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada
makhluk yang bernafas.
[24.20D] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tad bhūtānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada
makhluk-makhluk.
[24.20E] Māse māse kuśāgreṇa yo hi bhuñjīta bhojanam,
na tat svākhyāta-Dharmasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat dari bulan ke bulan memakan makanan dengan ujung rumput Kuśa, namun hal itu tidak sebanding
dengan seperenam belas bagian dari seseorang yang mengetahui Dharma yang
diajarkan dengan baik.
[24.21] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tad Buddhe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Buddha.
[24.22] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tad Dharme prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Dharma.
[24.23] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tat Saṁghe prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada Saṁgha.
[24.24] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tac chīle prasādasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang yang berkeyakinan pada moralitas.
[24.25] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na taṁ maitrasya cittasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang dengan satu pikiran cinta kasih.
[24.26] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tat satvānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk hidup.
[24.27] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tat prāṇānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk yang bernafas.
[24.28] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tad bhūtānukampāyā kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang dengan belas kasihan kepada makhluk-makhluk.
[24.29] Māse māse sahasreṇa yo yajeta samāśatam,
na tat svākhyātadharmasya kalām arghati ṣoḍaśīm.
Ada orang
yang dapat memberikan derma makanan dengan seribu koin dari bulan ke bulan
selama seratus tahun, namun hal itu tidak sebanding dengan seperenam belas
bagian dari seseorang yang mengetahui Dharma yang diajarkan dengan baik..
[24.30] Yat kiṁ cid iṣṭaṁ ca hutaṁ ca loke
saṁvatsaraṁ yajati puṇyaprekṣī,
sarvaṁ pi taṁ na caturbhāgam eti –
abhivādanaṁ tv ṛjjugateṣu śreyaḥ.
Derma
makanan atau pengorbanan apapun di dunia yang dipersembahkan seseorang selama
satu tahun demi mencari jasa kebajikan, semua itu bahkan tidak sebanding dengan
seperempat jasa kebajikan – penghormatan kepada mereka yang lurus adalah lebih
baik.
Peyālavargaḥ,
24
Bab tentang
Pengulangan, yang Kedua Puluh Empat.
25. Mitravarga
Bab tentang
Sahabat
(25 Syair)
[25.1] Aśrāddhebhiḥ kadaryebhiḥ, piśunair
vibhūtinandibhiḥ
sākhyaṁ kurvīta na prājñaḥ, saṁgatiḥ pāpair
hi pāpikā.
Dengan yang
tanpa keyakinan, kikir, yang memfitnah dan mereka yang bersenang dalam
kejatuhan orang lain, orang bijaksana seharusnya tidak melakukan pertemanan,
pergaulan dengan yang jahat adalah buruk.
[25.2] Śrāddhebhiḥ peśalebhiś ca, śīlavadbhir
bahuśrutaiḥ
sākhyaṁ kurvīta saprajñaḥ, saṁgatir bhadrair
hi bhadrikā.
Dengan yang
berkeyakinan, terampil, bermoral dan terpelajar, seseorang yang bijaksana
seharusnya melakukan pertemanan, pergaulan dengan yang baik adalah baik.
[25.3] Na bhajet pāpakaṁ mitraṁ, na bhajet puruṣādhamam,
bhajeta mitraṁ kalyāṇaṁ bhajed uttamapūruṣam.
Seseorang
seharusnya tidak bergaul dengan teman yang jahat, seseorang seharusnya tidak
bergaul dengan orang yang rendah, seseorang seharusnya bergaul dengan teman
yang baik, seseorang seharusnya bergaul dengan orang yang terunggul.
[25.4] Addhā narāḥ sevitavyāḥ, śrutāḍhyāḥ
sthānacintakāḥ,
teṣāṁ hi śrutvā tu subhāṣitāni,
vināpi tebhyo labhate viśeṣam.
Tentu saja
beberapa orang kaya dalam pembelajaran, mereka yang pikirannya dapat menjadi
alasan untuk menjalin pergaulan, setelah mendengar perkataan mereka yang
diucapkan dengan baik, bahkan tanpa mereka, seseorang memperoleh penyelidikan.
[25.5] Hīyati puruṣo nihīnasevī,
na tu khalu hāyeta tulyasevī,
śreṣṭham upagato hy upaiti śraiṣṭhyaṁ,
tasmāc chreṣṭham ihātmano bhajeta.
Mereka yang
mengikuti orang yang lebih rendah akan mundur, namun mereka yang mengikuti
orang yang setara tentu tidak akan mundur, yang mendekati yang terbaik mencapai
yang terbaik, karena itulah, demi manfaatnya sendiri, seseorang seharusnya
bergaul dengan yang terbaik di sini.
[25.6] Śreyo hi labhate nityaṁ yaḥ śreṣṭhān upasevate,
prajñayā cottamatamāṁ śīlenopaśamena ca.
Tentu saja
seseorang yang bergaul dengan yang terbaik terus menerus memperoleh yang
terbaik, memiliki kebijaksanaan, moralitas tertinggi dan ketenangan.
[25.7] Pūtimatsyāṁ kuśāgreṇa yo naro hy upanahyate
kuśāpi pūtikā vānti, hy evaṁ pāpopasevanāḥ.
Orang yang
membungkus ikan busuk dengan sebilah rumput suci mengetahui bahkan rumput suci
akan berbau busuk, demikian mereka yang bergaul dengan yang jahat akan berbau
busuk.
[25.8] Tagaraṁ Palāśapatreṇa yo naro hy upanahyati
patrāṇy api sugandhīni, sad evaṁ saṁgamāt
satām.
Orang itu
yang membungkus dupa dengan selembar daun Pālaśa mengetahui bahkan daun itu
terharumkan, demikian mereka terharumkan dari pergaulan dengan yang baik.
[25.9] Akurvann api pāpāni kurvāṇam upasevate,
śaṅkito bhavati pāpasya, avarṇaś cāsya
vardhate.
Bahkan jika
seseorang tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh teman jahatnya, ia
dicurigai melakukan kejahatan, dan reputasi buruknya meningkat.
[25.10] Saṁsevamānaḥ pāpo hi saṁspṛṣṭaḥ saṁspṛśet
parān,
śaro liptaḥ kalāpasthān aliptān upalimpati,
upalepabhayād dhīro naiva pāpasakhā bhavet.
Melalui
pergaulan dengan orang jahat atau bersentuhan dengan mereka—seperti halnya anak
panah tercemar yang mengotori anak-anak panah lain di dalam tabung yang
bersih—orang yang tekun seharusnya tidak akan pernah memiliki teman yang jahat
karena takut akan tercemar.
[25.11] Yādṛśaṁ kurute mitraṁ, yādṛśaṁ copasevate,
na cirāt tādṛśo bhavati, saṁsevā hy asya tādṛśī.
Pertemanan
apapun yang dijalin seseorang, pergaulan apapun yang dijalin seseorang,
nantinya ia akan berkarakter seperti demikian, dengan pergaulan dengan
seseorang demikian.
[25.12] Tasmāt phalapuṭasyaiva dṛṣṭvā saṁpākam
ātmanaḥ,
asanto nopaseveta, santaḥ seveta paṇḍitaḥ.
Karena
itulah, dengan melihat hasil yang sama bagi dirinya sendiri seperti daun
pembungkus, seseorang seharusnya tidak bergaul dengan orang jahat, orang
bijaksana seharusnya bergaul dengan orang baik.
[25.13] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ
paryupāsate,
na sa Dharmaṁ vijānāti, darvī sūparasān iva.
Bahkan jika
orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti
Dharma, seperti halnya sebuah sendok yang tidak mengerti rasa dari kari.
[25.14] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,
sa vai Dharmaṁ vijānāti, jihvā sūparasān
iva.
Jika
seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk
satu waktu, ia tentu mengerti Dharma, seperti halnya lidah mengerti rasa kari.
[25.15] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ
paryupāsate,
na sa Dharmaṁ vijānāti, prajñā hy asya na
vidyate.
Bahkan jika
orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti
Dharma, baginya kebijaksanaan tidak ditemukan.
[25.16] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,
sa vai Dharmaṁ vijānāti, prajñā tasya hi
vidyate.
Jika
seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk
satu waktu, ia tentu mengerti Dharma, baginya kebijaksanaan ditemukan.
[25.17] Yāvajjīvaṁ pi ced bālaḥ paṇḍitāṁ
paryupāsate,
na sa Dharmaṁ vijānāti Samyaksaṁbuddhadeśitam.
Bahkan jika
orang bodoh mengikuti orang bijaksana seumur hidupnya, ia tidak mengerti Dharma
yang diajarkan oleh Samyaksaṁbuddha.
[25.18] Muhūrtam api saprajñaḥ paṇḍitāṁ paryupāsate,
sa vai Dharmaṁ vijānāti Samyaksaṁbuddhadeśitam.
Jika
seseorang yang memiliki kebijaksanaan mengikuti orang bijaksana bahkan untuk
satu waktu, ia tentu mengerti Dharma yang diajarkan oleh Samyaksaṁbuddha.
[25.19] Ekam arthapadaṁ proktaṁ paṇḍitasyārthakārakam,
bālasya tu na kṛtyāya syāt sarvaṁ Buddhabhāṣitam.
Sebait syair
bermakna yang diucapkan kepada orang bijaksana akan bermanfaat bagi mereka,
namun bagi orang bodoh, segala yang Buddha katakan tidak akan bermanfaat.
[25.20] Bālaḥ padasahasreṇa padam ekaṁ na budhyate,
padenaikena medhāvī padānāṁ vindate śatam.
Orang bodoh
tidak akan mengerti satu syair diantara seribu syair, namun orang cerdas dengan
satu syair mengerti seribu syair.
[25.21] Amitraḥ paṇḍitaḥ śreyāṁ na tu bālo
’nukampakaḥ,
bālo ’nukampamāno hi narakān upakarṣati.
Orang
bijaksana yang tidak ramah adalah lebih baik dari orang bodoh yang berbelas
kasihan, karena orang bodoh yang berbelas kasihan tetap akan menarik seseorang
turun ke neraka.
[25.22] Yo jānīyād: Ahaṁ bāla iti bālaḥ sa paṇḍitaḥ,
bālaḥ paṇḍitamānī tu, bāla eva nirucyate.
Orang yang
menyadari: Aku orang bodoh, orang bodoh itu bijaksana dalam hal itu, namun
orang bodoh yang membayangkan dirinya sendiri bijaksana, tentu saja disebut
orang bodoh.
[25.23] Yac ca bālaḥ praśaṁseta, yac ca nindeta paṇḍitaḥ,
nindā tu paṇḍitāc chreṣṭhā, na tu bālāt
praśaṁsanā.
Inilah apa
yang orang bodoh akan puji, dan apa yang orang bijaksana akan cela, namun
celaan dari orang bijaksana adalah yang terbaik, bukan pujian dari orang bodoh.
[25.24] Bālaṁ na paśyec chṛṇuyān, na ca no tena saṁvaset,
duḥkho bālair hi saṁvāso, hy amitreṇaiva
sarvaśaḥ,
dhīrais tu sukhasaṁvāso, jñātīnām iva saṁgramaḥ.
Seseorang
seharusnya tidak menemui orang bodoh, juga tidak mendengarkan orang bodoh, juga
seseorang seharusnya tidak hidup bersama dengan orang bodoh, kehidupan bersama
dengan orang bodoh adalah penderitaan, seperti halnya selalu bersama dengan
musuh, namun seseorang hidup bahagia dengan yang tekun, seperti seseorang yang
bergaul dengan sanak keluarganya.
[25.25] Dhīraṁ prājñaṁ niṣeveta śīlavantaṁ bahuśrutam,
dhaureyaṁ javasaṁpannaṁ, candraṁ tārāgaṇā
iva.
Seseorang
seharusnya bergaul dengan ia yang tekun, yang bijaksana, bermoral, terpelajar,
yang dapat diandalkan, berpikiran cepat, seperti rembulan diantara banyaknya
bintang.
Mitravargaḥ,
25
Bab tentang
Sahabat, yang Kedua Puluh Lima.
26. Nirvāṇavarga
Bab tentang Nirvāṇa
(32 Syair)
[26.1] Kurmo yathāṅgāni svake kapāle,
samādadhītātmavitarkitāni,
aniḥśrito hy anyam aheṭhayānaḥ,
parinirvṛto nāpavadeta kaṁ cit.
Seperti
halnya seekor kura-kura yang akan menarik tangan dan kakinya kedalam tempurung,
seseorang seharusnya menarik pikirannya sendiri, bebas, tidak melukai yang
lain, sepenuhnya terbebas, seseorang seharusnya tidak mencela siapapun.
[26.2] Kṣāntiḥ paramaṁ tapas titīkṣā,
Nirvāṇaṁ paramaṁ vadanti Buddhāḥ,
na hi pravrajitaḥ paropatāpī,
śramaṇo bhavati paraṁ viheṭhayaṁ vai.
Menahankan
kesabaran adalah pertapaan tertinggi, Nirvāṇa
adalah yang tertinggi sabda para Buddha, bagi ia yang meninggalkan keduniawian bukanlah
seseorang yang melukai orang lain, seorang pertapa (Śramaṇa) bukanlah orang yang mengusik orang lain.
[26.3] Mā kaṁ cit paruṣaṁ brūthaḥ, proktāḥ
prativadanti tam,
duḥkhā hi saṁrambhakathāḥ, pratidaṇḍaṁ spṛśanti
hi.
Janganlah
mengucapkan apapun yang kasar, mengucapkannya, mereka membalasnya, pembicaraan
tanpa kesabaran tentu adalah penderitaan, mereka tentu memukulmu dengan suatu
pukulan balasan.
[26.4] Yadīrayasi hātmānaṁ, kaṁsīvopahatā sadā,
jātimaraṇasaṁsāraṁ ciraṁ hy anubhaviṣyasi.
Jika engkau
sendiri gelisah, seperti sebuah gong yang dipukul berulang kali, engkau akan
mengalami transmigrasi kelahiran dan kematian untuk waktu yang lama.
[26.5] Na tv īrayasi hātmānaṁ kaṁsir nopahatā
yathā,
eṣa prāpto ’si Nirvāṇaṁ, saṁrambhas te na
vidyate.
Namun jika
engkau sendiri tidak gelisah, seperti sebuah gong yang tidak dipukul, engkau
adalah orang yang telah mencapai Nirvāṇa,
kegelisahan tidak ditemukan dalam dirimu.
[26.6] Ārogyaparamā lābhā, saṁtuṣṭiparamaṁ dhanam,
viśvāsaparamaṁ mitraṁ, Nirvāṇaparamaṁ
sukham.
Kesehatan
adalah perolehan tertinggi, kepuasan adalah harta tertinggi, orang yang
terpercaya adalah teman yang tertinggi, Nirvāṇa
adalah kebahagiaan tertinggi.
[26.7] Kṣudhā parama rogāṇāṁ, saṁskārā duḥkham eva
tu,
etaj jñātvā yathābhūtaṁ, Nirvāṇaparamo
bhavet.
Kelaparan
adalah yang tertinggi diantara penyakit, namun segala yang terkondisi adalah
penderitaan yang sesungguhnya, mengetahui hal ini sebagaimana adanya, biarlah Nirvāṇa menjadi yang tertinggi.
[26.8] Alpakāḥ sugatiṁ yānti, bahavo yānti
durgatim,
etaj jñātvā yathābhūtaṁ, Nirvāṇaparamo
bhavet.
Sedikit yang
pergi ke alam bahagia, banyak yang pergi ke alam menderita, mengetahui hal ini
sebagaimana adanya, biarlah Nirvāṇa
menjadi yang tertinggi.
[26.9] Sahetuṁ sugatiṁ yānti, sahetuṁ yānti
durgatim,
sahetuṁ Parinirvānti, hy evam etat
sahetukam.
Dengan
penyebab mereka pergi ke alam bahagia, dengan penyebab mereka pergi ke alam
menderita, dengan penyebab mereka mencapai pembebasan sepenuhnya.
[26.10] Gatir mṛgāṇāṁ pravaṇam, ākāśaṁ pakṣiṇāṁ gatiḥ,
Dharmo gatir vibhāgīnāṁ, Nirvāṇaṁ tv Arhatāṁ
gatiḥ.
Tujuan
rusa-rusa adalah lembah, tujuan burung-burung adalah langit, tujuan para
penyelidik adalah Dharma, namun tujuan para Arhat adalah Nirvāṇa
[26.11] Na hīdaṁ hīnavīryeṇa,
mandenāpy avijānatā,
Nirvāṇaṁ śakyam adhigantuṁ,
sarvagrantha pradālanam.
Bukan oleh
seseorang dengan sedikit semangat, dengan orang bodoh atau yang tidak tahu,
adalah ia yang mampu mencapai Nirvāṇa,
yang adalah penghancur segala belenggu.
[26.12] Siñca bhikṣor imāṁ nāvaṁ, siktā laghvī bhaviṣyati,
hitvā rāgaṁ ca doṣaṁ ca, tato Nirvāṇam eṣyasi.
Kosongkan
perahu ini, para Bhikṣu, setelah dikosongkan perahu itu akan menjadi ringan,
meninggalkan nafsu indera dan kebencian, dari sana engkau akan pergi menuju Nirvāṇa.
[26.13] Abhūt pūrve, tato nābhūn, nābhūt pūrve, tato
hy abhūt,
na cābhūn na bhaviṣyati, na vāpy etarhi
vidyate.
Sebelumnya
ada, kemudian tidak ada, sebelumnya tidak ada, kemudian ada, (sebelumnya) tidak
ada, dan tidak akan ada, dan bahkan saat ini hal itu tidak ditemukan.
[26.14] Durdṛśaṁ satyam acalaṁ, sudṛśaṁ
pratividhyataḥ,
tṛṣṇākṣayaṁ paśyato hi, duḥkhasyānto
nirucyate.
Kebenaran
yang stabil adalah sulit untuk dilihat, namun bagi ia yang memahaminya adalah
mudah untuk dilihat, tentulah bagi ia yang melihat penghancuran nafsu, akhir
dari penderitaan dinyatakan.
[26.15] Chitvā tṛṣṇāṁ, praśāmyeha rajaḥ sarvaṁ,
samāhitaḥ,
viśoṣayitvā saritāṁ – duḥkhasyānto
nirucyate.
Ia yang
tenang, setelah memotong nafsu, setelah menyelesaikan segala kekotoran di sini,
setelah mengeringkan arus, akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.16] Bhitvā kāyaṁ ca saṁjñāṁ ca, vedanāṁ
vyupaśāmya ca,
vijñānāstagamaṁ labdhvā – duḥkhasyānto
nirucyate.
Setelah
menghancurkan kemelakatan pada tubuh, persepsi, dan perasaan, setelah
menenangkan mereka, setelah memperoleh
penghentian kesadaran kelahiran kembali – akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.17] Dṛṣṭe tu dṛṣṭamātreṇa, śrute ca
śrutamātratā,
mate tathaiva vijñāte – duḥkhasyānto
nirucyate.
Namun dalam
apa yang terlihat, hanya ada apa yang terlihat, dan dalam apa yang didengar
hanya ada apa yang didengar, seperti itulah dalam berpikir dan dalam mengenali
– akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.18] “Ene mene” tathā: “dapphe daḍapphe,” ceti
budhyataḥ,
sarvasmād viratiḥ pāpād – duḥkhasyānto
nirucyate.
Bagi ia yang
memahami: “Ene, mene,” “dapphe, daḍapphe,” menghindari segala macam kejahatan – akhir
dari penderitaan dinyatakan.
[26.19] Māśā! Tuṣā saṁśamā ca, sarvatra viraḍī
tathā,
sarvasmād viratiḥ pāpād – duḥkhasyānto
nirucyate.
Janganlah
berharap! Berpuas diri dan terkendali, juga hidup sederhana dimanapun, menahan
diri dari segala kejahatan – akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.20] Aniḥśritasyācalitaṁ, prasrabdhiś ceha
vidyate,
na gatir, na cyutiś caiva – duḥkhasyānto
nirucyate.
Bagi ia yang
terbebas dan teguh, ketenangan ditemukan di sini, tidak ada tujuan, tidak ada
kematian – akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.21] Ajāte sati, jātasya vaden niḥsaraṇaṁ sadā,
asaṁskṛtaṁ ca saṁpaśyaṁ saṁskṛtāt
parimucyate.
Ketika
terdapat yang tidak terlahir, seseorang dapat mengatakan jalan keluar dari yang
terlahir, melihat yang tak terkondisi, seseorang sepenuhnya terbebas dari
segala yang terkondisi.
[26.22] Jātaṁ bhūtaṁ samutpannaṁ, kṛtaṁ saṁskṛtam
adhruvam,
jarāmaraṇasaṁghātaṁ, moṣadharmapralopanam,
āhāranetrīprabhavaṁ – nālaṁ tad
abhinanditum.
Apa yang
terlahir, menjadi, muncul, terbentuk, terkondisi, tidak stabil, terjangkit oleh
usia tua dan kematian, menghancurkan sifat tipu dayanya, berasal dari nutrisi
dan nafsu – tidaklah layak untuk bersenang didalam hal itu.
[26.23] Tasya niḥsaraṇaṁ śāntam, atarkāvacaraṁ
padam,
nirodho duḥkhadharmāṇāṁ, saṁskāropaśamaṁ
sukham.
Jalan keluar
dari apa yang damai, suatu kondisi dan bidang yang melampaui logika,
penghentian berbagai penderitaan, penenangan segala yang terkondisi, kebahagiaan.
[26.24] Abhijānāmy ahaṁ sthānaṁ yatra bhūtaṁ na
vidyate,
nākāśaṁ na ca vijñānaṁ, na sūryaś candramā
na ca.
Aku
mengetahui keadaan itu di mana elemen-elemen tidak ditemukan, tidak ada ruang,
tidak ada kesadaran, juga rembulan dan matahari.
[26.25] Naivāgatir na ca gatir, nopapattiś cyutir na
ca,
apratiṣṭham anālambaṁ – duḥkhāntaḥ sa
nirucyate.
Tidak ada
kedatangan, tidak ada kepergian, tidak ada kelahiran kembali dan kematian, yang
tidak tersusun, tanpa penyokong – akhir dari penderitaan dinyatakan.
[26.26] Yatra nāpo na pṛthivī tejo vāyur na gāhate,
na tatra śuklā dyotanti, tamas tatra na
vidyate.
Di mana air,
tanah, api, dan angin tidak dapat ditopang, di sana, bintang-bintang tidak
bersinar, di sana, tidak ada kegelapan yang ditemukan.
[26.27] Na tatra candramā bhāti, nādityo vai
prakāśyate,
yathā tv ihātmanā vetti munir mauneyam
ātmanaḥ,
atha rūpād arūpāc ca, sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Di sana
rembulan tidak bersinar, juga tentu matahari tidak memancarkan cahaya; dan
seperti halnya orang bijaksana di sini, dengan dirinya sendiri, mengetahui
kebijaksanaannya sendiri, maka ia pun terbebas baik dari bentuk dan tanpa
bentuk, dan dari segala penderitaan.
[26.28] Niṣṭhāgato hy asaṁtrāsī, na vikanthī na kaukṛtiḥ,
ācchettā bhavaśalyānām, antimo ’sya samucchrayaḥ.
Ia yang
mencapai akhir, tanpa gemetar, ia yang tanpa kerinduan, tanpa penyesalan, ia
yang memotong anak panah kemenjadian, baginya ini adalah tubuh terakhirnya.
[26.29] Eṣā hi paramā niṣṭhā, śāntaṁ padam
anuttaram,
kṣayaḥ sarvanimittānāṁ, pradānapadam
acyutam.
Inilah akhir
yang tertinggi, kondisi kedamaian yang terunggul, penghancuran segala tanda,
kondisi tanpa kematian (sesuai) Ajaran.
[26.30] Tulyam atulyaṁ ca saṁbhavaṁ
bhavasaṁskāram avāsṛjan muniḥ,
ādhyātmarataḥ samāhito,
hy abhinat kośam ivāṇḍasaṁbhavam.
Orang
bijaksana meninggalkan yang terukur dan tidak terukur, kelahiran dan proses
kelahiran, bersenang secara internal, tenang, ia membelah cangkang, seperti ia
yang terlahir dari sebuah telur.
[26.31.i] Jayate dānaṁ Dharmadānaṁ ca sarvaṁ,
jayate ratiṁ Dharmaratiṁś ca sarvām,
jayate balaṁ kṣāntibalaṁ ca sarvaṁ,
jayate sukhaṁ sarvaṭṛṣānirodhaḥ.
Pemberian
Dharma melampaui segala pemberian, bersenang dalam Dharma melampaui segala
kesenangan, kekuatan kesabaran melampaui segala kekuatan, pemadaman nafsu
melampaui segala kebahagiaan.
[26.31.ii] Sarvaṁ dānaṁ Dharmadānaṁ jināti,
sarvāṁ ratiṁ Dharmaratiṁ jināti,
sarvaṁ balaṁ kṣāntibalaṁ jināti,
tṛṣṇākṣayaḥ sarvasukhaṁ jināti.
Pemberian
Dharma adalah penakluk segala pemberian, bersenang dalam Dharma adalah penakluk
segala kesenangan, kekuatan kesabaran adalah penakluk segala kekuatan,
penghancuran nafsu adalah penakluk segala kebahagiaan.
Nirvāṇavargaḥ,
26
Bab tentang
Nirvāṇa, yang Kedua Puluh Enam
27. Paśyavarga
Bab tentang
Melihat
(52 Syair)
[27.1] Supaśyaṁ paravadyaṁ syād, ātmavadyaṁ tu durdṛśam,
paraḥ parasya vadyāni tūtpunāti busaṁ yathā,
ātmanaś chādayaty eṣa, kṛtvā yadvat kaliṁ śaṭhaḥ.
Kesalahan
orang lain dapat dengan mudah terlihat, namun kesalahan diri sendiri dapat
sulit terlihat, namun ia menyaring kesalahan orang lain seperti sekam, orang
itu menutupi kesalahannya sendiri, seprti halnya seorang penipu menutupinya,
setelah membuat sebuah lemparan yang gagal.
[27.2] Paravadyānudarśino, nityāvadhyānasaṁjñinaḥ,
vāmā dharmāḥ pravardhante, sa hy ārād
Dharmadarśanāt.
Bagi ia yang
mencari-cari kesalahan orang lain, yang terus-menerus memperhatikan
pelanggaran, pikiran salah meningkat, orang itu jauh dari melihat Dharma.
[27.3] Ahrīkena sujīvaṁ syāt, kākaśūreṇa dhvāṅkṣiṇā,
praskandinā pragalbhena saṁkliṣṭaṁ tv iha
jīvate.
Hidup dapat
lebih mudah dijalani oleh seseorang tanpa rasa malu, dengan seekor gagak,
dengan keberanian besar seekor gagak, namun di sini seseorang hidup tercemar,
dengan fitnah dan kecerobohan
[27.4] Hrīmatā tv iha durjīvaṁ, nityaṁ śucigaveṣiṇā,
Sulīnenāpragalbhena, śuddhājīvena paśyatā.
Namun,
kehidupan di sini dijalani dengan susah payah oleh seseorang dengan rasa malu,
yang selalu mencari kemurnian, yang taat dan tidak gegabah, yang, dengan
melihat, memiliki penghidupan yang murni.
[27.5] Andhabhūto hy ayaṁ lokas, tanuko ’tra
vipaśyakaḥ,
śakunto jālamuktaiva hy alpaṁ svargeṣu
modate.
Dunia ini
telah menjadi buta, sedikit yang memiliki penglihatan di sini, sedikit seperti
mereka yang bergembira di surga seperti seekor burung yang terbebas dari
jaring.
[27.6] Moṣasaṁbandhano loko, bhavyarūpa iva dṛśyate,
upadhībandhanā bālās, tamasā parivāritāḥ,
asat sad iva dṛśyate, paśyato nāsti
kiñcanam.
Dunia ini,
dibelenggu oleh kebohongan, terlihat seperti indah di awalnya, orang-orang
bodoh, yang terbelenggu oleh kemelekatan, dikelilingi oleh kegelapan, yang
muncul seolah-olah yang tidak nyata adalah nyata, namun bagi ia yang melihat di
sana tidak ada apa-apa.
[27.7] Ahaṁkārasṛtā martyāḥ, parakāropasaṁhitāḥ,
etad eke na jānanti, paśyanti na hi śalyataḥ.
Makhluk-makhluk
bergantung pada pembuat aku, atau berawal dari diciptakan oleh yang lain,
beberapa tidak mengetahui hal ini, mereka tidak melihatnya karena anak panah.
[27.8] Etat tu śalyaṁ pratiyatya paśyato,
hy adhyavasitā yatra prajāḥ prasaktāḥ,
ahaṁ karomīti na tasya hiṁsyāt;
paraḥ karotīti na tasya hiṁsyāt.
Namun bagi
ia yang melihat anak panah itu adalah penyebab, di mana generasi ini hidup
dengan menggenggam dan melekat, biarlah tidak ada bahaya baginya, dengan berpikir:
Aku pembuatnya; Biarlah tidak ada bahaya baginya, dengan berpikir: Orang lain pembuatnya.
[27.9] Mānopeto hy ayaṁ loko, mānasaktaḥ sadā
sthitaḥ,
dṛṣṭibhiś caiva saṁrabdhaḥ, saṁsāraṁ
nātivartate.
Dunia ini
dikuasai oleh kesombongan, dunia ini berdiam, melekat pada kesombongan, dan
tergesa-gesa akibat pandangan salah, dunia ini tidak terbebas dari
transmigrasi.
[27.10] Yat prāptaṁ yac ca prāptavyaṁ – rajaḥkīrṇam
idaṁ dvayam,
āturyam iti taṁ jñātvā, jahyād vidvāṁ
samāhitaḥ.
Apa yang
telah tercapai, dan apa yang akan dicapai – kedua hal ini diliputi debu,
mengetahui hal ini sebagai penyakit, ia yang bijaksana, ia yang tenang,
seharusnya meninggalkannya.
[27.11] Śikṣāsārāś ca ye satvā, jīvino brahmajīvinaḥ,
upasthānarataye ca, sa eko ’ntaḥ prakīrtitaḥ.
Makhluk-makhluk
itu yang menggenggam aturan pelatihan sebagai intinya, menjalani kehidupan
suci, yang bersenang dalam pengabdian, inilah dinyatakan sebagai ekstrim
pertama.
[27.12] Bhoktavyāḥ śucayaḥ kāmā, na doṣas teṣu
vidyate,
ya evaṁ darśino bālā, dvitīyo ’ntaḥ
prakīrtitaḥ.
Nafsu indera
murni hanya untuk dinikmati, tidak ada cela didalamnya, orang-orang bodoh yang
melihat berbagai hal demikian, inilah dinyatakan sebagai ekstrim kedua.
[27.13] Etāv antāv anajñāya, tv atilīyanti bāliśaḥ,
apare tv atidhāvanti – cakṣuṣmāṁs tāṁ
prapaśyati.
Dengan tidak
mengetahui ekstrim-ekstrim ini, orang-orang bodoh mengendur, yang lainnya
berjalan terlalu jauh – ia yang memiliki penglihatan melihat melalui hal ini.
[27.14] Etāv antau viditvā tu, nābhavaṁs tatra ye
budhāḥ,
na caiva tena manyante, vartmas teṣāṁ na
vidyate.
Namun dengan
memahami kedua ekstrim ini, orang cerdas yang tidak melekat di sana, tidak
memahami suatu pandangan salah melalui hal tersebut, jejak mereka tidak
ditemukan.
[27.15] Yathā budbudikāṁ paśyed, yathā paśyen
marīcikām,
evaṁ lokam avekṣaṁ vai Mṛtyurājaṁ na
paśyati.
Seperti
seseorang yang harus melihatnya sebagai gelembung, seperti seseorang yang harus
melihatnya sebagai fatamorgana, melihat dunia dengan cara ini seseorang tidak
melihat Raja Kematian.
[27.16] Yathā budbudikāṁ paśyed, yathā paśyen
marīcikām,
evaṁ kāyam avekṣaṁ vai Mṛtyurājaṁ na
paśyati.
Seperti
seseorang yang harus melihatnya sebagai gelembung, seperti seseorang yang harus
melihatnya sebagai fatamorgana, melihat tubuh dengan cara ini seseorang tidak
melihat Raja Kematian.
[27.17] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ
rājarathopamam,
yatra bālāḥ pramuhyante – saṅgo nāsti
prajānatām.
Selalu
lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh
menjadi terdelusi – tidak ada kemelekatan bagi mereka yang memahami.
[27.17A] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ
rājarathopamam,
yatra bālā viṣīdanti, paṇḍito ’tra
virajyate.
Selalu
lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh
menjadi sedih, orang bijaksana tidak melekat di sini.
[27.18] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ
rājarathopamam,
yatra bālā viṣīdanti – yathā paṅke jaradgavaḥ.
Selalu
lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh
menjadi sedih – seperti seekor banteng tua di dalam lumpur.
[27.19] Paśyatemaṁ sadā kāyaṁ, citraṁ
rājarathopamam,
yatra bālāḥ pramuhyante, paṇḍito ’tra
virajyate.
Selalu
lihatlah tubuh ini, dihiasi seperti kereta kerajaan, di mana orang-orang bodoh
menjadi terdelusi, orang bijaksana tidak melekat di sini.
[27.20] Paśya citrakṛtaṁ bimbam, arukaṁ kāyasaṁjñitam,
āturaṁ moṣasaṁkalpaṁ, yasya nāsti
dhruvasthitiḥ.
Lihatlah
boneka ini dibuat cantik, suatu penyakit menandakan suatu jasmani, sakit,
memiliki kehendak menipu, yang mana tanpa keteguhan atau kestabilan.
[27.21 ] Paśya citrakṛtaṁ bimbaṁ, maṇibhiḥ kuṇḍalais
tathā,
alaṁ bālasya mohāya, na tu pāragaveṣiṇām.
Lihatlah
boneka ini dibuat cantik, dengan perhiasan dan anting-anting, cukup untuk orang
bodoh yang terdelusi, namun tidak untuk mereka yang mencari cara menyeberang.
[27.22] Paśya citrakṛtaṁ bimbaṁ, maṇibhiḥ kuṇḍalais
tathā,
alaṁ bālasya mohāya, paṇḍito ’tra virajyate.
Lihatlah
boneka ini dibuat cantik, dengan perhiasan dan anting-anting, cukup untuk orang
bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di sini.
[27.22A] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau
gairikarañjitau,
alaṁ bālasya mohāya, na tu pāragaveṣiṇām.
Lengan dan
tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari
cara menyeberang.
[27.22B] Gandhena gātrām anuliptaḥ pādau
gairikarañjitau,
alaṁ bālasya mohāya, paṇḍito ’tra virajyate.
Lengan dan
tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di
sini.
[27.23] Aṣṭāpadīkṛtāḥ keśā, netre cāñjanarañjite,
alaṁ bālasya mohāya na tu pāragaveṣiṇām.
Dengan
rambut dikepang dalam delapan untaian, dan dua mata diwarnai dengan collyrium,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari
cara menyeberang.
[27.24] Aṣṭāpadīkṛtāḥ keśā, netre cāñjanarañjite,
alaṁ bālasya mohāya paṇḍito ’tra virajyate.
Dengan
rambut dikepang dalam delapan untaian, dan dua mata diwarnai dengan collyrium,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun orang bijaksana tidak melekat di
sini.
[27.25] Añjanīva navā citrā, pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,
alaṁ bālasya mohāya na tu pāragaveṣiṇām.
Seperti
sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, cukup
untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak bagi mereka yang mencari cara
menyeberang.
[27.26] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,
alaṁ bālasya mohāya paṇḍito ’tra virajyate.
Seperti sebuah
boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, namun orang
bijaksana tidak melekat di sini.
[27.26A] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau
gairikarañjitau,
alaṁ bālasya mohāya, yasya nāsti
dhruvasthitiḥ.
Lengan dan
tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, yang tidak stabil atau tekun.
[27.26B] Gandhena gātrām anuliptaḥ, pādau
gairikarañjitau,
alaṁ bālasya mohāya, saṅgo nāsti prajānatām.
Lengan dan
tungkai dibaluri dengan parfum, sepasang kaki diwarnai dengan pewarna merah,
cukup untuk orang bodoh yang terdelusi, namun tidak ada kemelekatan bagi mereka
yang memahami.
[27.26C] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,
alaṁ bālasya mohāya, yasya nāsti dhruvasthitiḥ.
Seperti
sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, yang sebelumnya dihias, cukup
untuk orang bodoh yang terdelusi, yang tidak stabil atau tekun.
[27.26D] Añjanīva navā citrā pūtikāyo hy alaṁkṛtaḥ,
alaṁ bālasya mohāya, saṅgo nāsti prajānatām.
Seperti
sebuah boneka yang baru dicat, tubuh yang busuk, walaupun dihias, cukup untuk
orang bodoh yang terdelusi, namun tidak ada kemelekatan bagi mereka yang
memahami.
[27.27] Kāmeṣu saktāḥ satataṁ hi mūḍhāḥ,
saṁyojane vadyam apaśyamānāḥ,
na jātu saṁyojanasaṅgasaktā
hy oghaṁ tareyur vipulaṁ mahāntam.
Mereka yang
terdelusi selalu melekat pada kenikmatan indera, tidak melihat cela dalam
belenggu, mereka yang melekat dan menggenggam belenggu-belenggu tidak akan
dapat menyeberang banjir yang besar dan luas.
[27.28] Ūrdhvaṁ cādhaḥ sarvato vītarāgo,
hy ayam aham asmīti ca nānupaśyan,
evaṁ vimukto hi tared ihaugham
atīrṇapūrvaṁ hy apunarbhavāya.
Diatas,
dibawah, dimanapun tanpa nafsu, orang itu, tidak memikirkan kesombongan: Aku,
terbebas dalam cara ini, seharusnya menyeberangi banjir yang tidak dapat
diseberangi sebelumnya di sini, demi tanpa kelahiran kembali lagi.
[27.29] Yo nirvanagair vimokṣitaḥ,
saṁvanamukto vanam eva dhāvati,
taṁ paśyatha pudgalaṁ tv imaṁ,
mukto bandhanam eva dhāvati.
Ia yang,
terbebas oleh mereka yang mengarahkannya keluar dari hutan, walaupun terbebas
dari hutan, kembali lagi ke hutan, lihatlah orang ini, walaupun terbebas, ia
berlari kembali menuju belenggu.
[27.30] Nelāṅgaḥ śvetasaṁchanna ekāro vartate rathaḥ,
anighaṁ paśyathāyāntaṁ,
chinnayoktram abandhanam.
Sebuah
kereta dengan tanpa bagian yang cacat, tertutupi dengan warna putih, berjeruji
tunggal, berjalan, lihatlah ia yang tidak memiliki masalah mendekat, yang telah
memotong kuknya, yang tidak terikat.
[27.31 ] Bahavaḥ śaraṇaṁ yānti parvatāṁś ca vanāni
ca,
ārāmāṁ vṛkṣacaityāṁś ca, manuṣyā
bhayatarjitāḥ.
Banyak yang
pergi berlindung ke gunung-gunung dan hutan-hutan, ke taman-taman yang
menyenangkan dan pohon-pohon keramat, manusia takut akan ketakutan.
[27.32] Naitad dhi śaraṇaṁ kṣemaṁ, naitac charaṇam
uttamam,
naitac charaṇam āgamya, sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Tentu saja,
ini bukanlah perlindungan yang aman, ini bukanlah perlindungan terunggul,
setelah datang ke perlindungan itu, seseorang tidak terbebas dari segala
penderitaan.
[27.33] Yas tu Buddhaṁ ca Dharmaṁ ca Saṁghaṁ ca śaraṇaṁ
gataḥ,
catvāri cāryasatyāni prajñayā paśyate yadā:
Namun ia
yang telah pergi berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṁgha, yang melihat
melalui kebijaksanaan benar sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia:
[27.34] Duḥkhaṁ duḥkhasamutpādaṁ, duḥkhasya
samatikramam,
āryaṁ cāṣṭāṅgikaṁ mārgaṁ duḥkhopaśamagāminam,
Penderitaan,
kemunculan penderitaan, dan mengatasi penderitaan, dan Jalan Mulia Berunsur
Delapan yang mengarah pada penenangan penderitaan.
[27.35] etad dhi śaraṇaṁ kṣemam, etac charaṇam
uttamam,
etac charaṇam āgamya, sarvaduḥkhāt
pramucyate.
Itulah
perlindungan yang aman, itulah perlindungan terunggul, setelah datang ke
perlindungan itu, seseorang terbebas dari segala penderitaan.
[27.36] Paśyataḥ paśyate paśyaṁ, paśyate cāpy
apaśyataḥ,
apaśyaṁ paśyate naiva, paśyato nāpy apaśyataḥ.
Yang
terlihat terlihat oleh penglihat, bahkan terlihat oleh yang tidak melihat, yang
tidak terlihat tidak akan pernah terlihat, oleh yang tidak melihat atau bahkan
oleh penglihat.
[27.37] Anupaśyanayā ca paśyanā,
nānātvaṁ hi tayor ihocyate,
divasasya yathaiva rātribhiḥ,
saṁdhānaṁ ca tayor na vidyate.
Perenungan
dan penglihatan biasa, suatu perbedaan dinyatakan di sini diantara keduanya,
seperti halnya dengan siang dan malam hari, suatu kesepakatan tidak dapat
ditemukan bagi kedua hal ini.
[27.38] Anupaśyati cen na paśyati,
tv atha cet paśyati nānupaśyati,
paśyann ayaṁ nānupaśyati,
tv anupaśyaṁs tu sadā na paśyati.
Jika
seseorang merenung, ia tidak melihat, namun jika seseorang melihat, ia tidak merenung,
orang yang melihat itu tidak merenung, tetapi orang yang merenung tidak selalu
hanya melihat.
[27.39] Paśyaṁ nu kiṁ nānupaśyate? Kim apaśyaṁ
nānupaśyate sadā?
Kasmiṁ sati hānupaśyanā? Kasmiṁ na sati
nānupaśyanā?
Mengapa
seseorang yang melihat tidak merenung? Mengapa seseorang yang tidak selalu
melihat tidak merenung? Kapan sesuatu muncul jika terdapat perenungan? Kapan
sesuatu tidak muncul tidak terdapat perenungan?
[27.40] Duḥkhaṁ yad ayaṁ na paśyati,
tad apaśyann ātmeti paśyati,
duḥkhaṁ tu yathā tathā prapaśyann,
ayam ātmeti sadānupaśyati.
Seseorang
tidak melihat apa yang merupakan penderitaan, dengan tidak melihatnya,
seseorang melihatnya sebagai diri, namun ketika dengan jelas melihat
penderitaan sebagaimana adanya, seseorang selalu merenungkan hal ini sebagai
diri.
[27.41] Yenāvṛtaḥ pṛthagjanaḥ saṁskārāṁ duḥkhaṁ na
paśyati,
tasmiṁ sati hānupaśyanā, vigate ’smiṁ
vigatānupaśyanā.
Orang awam
diliputi dengan ketidak-tahuan tidak melihat segala yang terkondisi sebagai
penderitaan, ketika pandangan terang muncul terdapat perenungan, ketika
pandangan terang lenyap, perenungan telah terhenti.
Paśyavargaḥ,
27
Bab tentang
Melihat, yang Kedua Puluh Tujuh
28. Pāpavarga
Bab tentang
Kejahatan
(40 Syair)
[28.1] Sarvapāpasyākaraṇaṁ, kuśalasyopasaṁpadaḥ,
svacittaparyavadanam – etad Buddhasya
śāsanam.
Tidak
melakukan kejahatan apapun, melaksanakan apa yang bajik, pemurnian pikiran
sendiri – inilah ajaran Sang Buddha.
[28.2] Dadataḥ puṇyaṁ pravardhate,
vairaṁ na kriyate ca saṁyamāt.
Kuśalī prajahāti pāpakaṁ,
rāgadoṣamohakṣayāt tu nirvṛtiḥ.
Bagi ia yang
memberi, jasa kebajikan meningkat, dari pengendalian diri kebencian tidak
terbentuk. Orang yang terampil meninggalkan kejahatan, namun terdapat kebebasan
dari penghancuran nafsu indera, kebencian, dan delusi.
[28.3] Sārdhaṁ carann, ekakaḥ sadā
miśro hy anyajanena Vedakaḥ,
kuśalī prajahāti pāpakaṁ,
krauñcaḥ kṣīrapako yathodakam.
Walaupun
mengembara bersama dan bergabung dengan orang-orang lain, seorang Arhat selalu
sendiri, orang yang terampil meninggalkan apa yang jahat, seperti halnya bangau
peminum susu meninggalkan air.
[28.4] Dṛṣṭvā hy ādīnavaṁ loke, jñātvā
dharmaniraupadhim,
āryo na ramate pāpe, pāpo na ramate śubhe.
Setelah
melihat bahaya dalam dunia ini, setelah mengetahui kondisi kebasan dari
kemelekatan, Orang Mulia (Ārya) tidak
bersenang dalam kejahatan, orang yang jahat tidak bersenang dalam kebajikan.
[28.5] Pravivekarasaṁ jñātvā, rasaṁ copaśamasya
vai,
nirjvaro bhavati niṣpāpo, Dharmaprītirasaṁ
piban.
Mengetahui
rasa keterasingan, dan tentu rasa kedamaian, seseorang terbebas dari demam dan
kejahatan, meminum rasa kesenangan dari Dharma.
[28.6] Anavasrutacittasya, tv anunnahanacetasaḥ,
puṇyapāpaprahīṇasya, nāsti durgatito bhayam.
Bagi
seseorang dengan pikiran yang terbebas dari nafsu, yang pikirannya tidak
mencintai, bagi ia yang meninggalkan kebajikan dan keburukan, tidak ada
ketakutan pada alam kelahiran yang buruk.
[28.7] Niṣeddhāraṁ pravaktāraṁ yaj jāned
vadyadarśinam,
nigṛhyavādinaṁ dhīraṁ tādṛśaṁ satataṁ
bhajet,
tādṛśaṁ bhajamānasya śreyo bhavati na
pāpakam.
Seseorang
harus mengetahui ia yang menunjukkan kesalahan, yang menyatakan pengendalian,
seseorang harus selalu menjaga pertemanan dengan ia yang tekun dan terkendali
dalam ucapan, bagi ia yang menjaga pertemanan dengan orang demikian adalah
lebih baik, bukan lebih buruk.
[28.8] Upaśānto hy uparato, mandabhāṣī hy anuddhataḥ,
dhunāti pāpakāṁ dharmāṁ, drumapatraṁ
yathānilaḥ.
Tenang,
tidak mabuk-mabukan, berbicara lembut, tidak sombong, ia menghempaskan
pikiran-pikiran jahat, seperti angin menghempaskan dedaunan suatu pohon.
[28.9] Yo hy apraduṣṭasya narasya duṣyate,
śuddhasya nityaṁ vigatāṅgaṇasya,
tam eva bālaṁ pratiyāti pāpaṁ,
kṣiptaṁ rajaḥ prativātaṁ yathaiva.
Ia yang
menyinggung orang yang tidak melanggar, yang selalu murni dan tanpa kekotoran,
kejahatan itu kembali ke orang bodoh, seperti abu yang dilemparkan ke angin.
[28.10] Yad yat karoti puruṣas, tat tat paśyati
hātmanaḥ,
kalyāṇakārī kalyāṇaṁ, pāpakārī ca pāpakam.
Apapun yang
dilakukan seseorang, dengan cara yang sama ia akan melihat dengan dirinya
sendiri, orang yang berbuat kebajikan melihat kebajikan, orang yang berbuat
kejahatan melihat kejahatan.
[28.11] Ātmanā hi kṛte pāpe, tv ātmanā kliśyate
sadā,
ātmanā tv akṛte pāpe, hy ātmanaiva
viśudhyate.
Oleh diri
sendiri kejahatan dilakukan, selalu oleh diri sendiri seseorang tercemar, oleh
diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri seseorang dimurnikan.
[28.12] Aśuddhabuddhiṁ pratyātmaṁ, nānyo hy anyaṁ
viśodhayet,
abhimathnāti taṁ pāpaṁ, vajram aśmamaṇiṁ
yathā.
Secara
individu, seseorang memiliki pemahaman yang tercemar, karena tidak ada satupun
yang dapat memurnikan orang lain, suatu kejahatan menghancurkan orang itu,
seperti halnya sebuah berlian menghancurkan sebuah batu permata.
[28.13] Cakṣuṣmāṁ viṣamānīva vidyamāne parākramet,
paṇḍito jīvaloke ’smiṁ pāpāni parivarjayet.
Seseorang
dengan penglihatan harus berupaya ketika bahaya muncul, demikianlah orang
bijaksana di alam kehidupan ini harus menghindari perbuatan jahat.
[28.14] Vaṇig vā sabhayaṁ mārgam alpaśāstro
mahādhano,
viṣaṁ jīvitakāmo vā, pāpāni parivarjayet.
Seperti
seorang pedagang dengan sedikit pendamping dan banyak harta seharusnya
menghindari jalan yang menakutkan, seperti orang yang mencintai kehidupan
seharusnya menghindari racun, demikianlah seseorang seharusnya menghindari
perbuatan jahat.
[28.15] Pāṇau cāsya vraṇo na syād dhārayet pāṇinā viṣam,
nāvraṇe krāmati viṣaṁ, nāsti pāpam akurvataḥ.
Jika tidak
ada luka di tangan seseorang, ia dapat membawa racun di tangannya, racun tidak
dapat masuk pada ia yang tanpa luka, tidak ada kejahatan bagi orang yang tidak
melakukan kejahatan.
[28.16] Sukarāṇi hy asādhūni, svātmano hy ahitāni
ca,
yad vai hitaṁ ca pathyaṁ ca tad vai paramaduṣkaram.
Hal-hal yang
tidak bajik dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri adalah sangat mudah untuk
dilakukan, namun apa yang bermanfaat dan sesuai, hal-hal itu sangat sulit untuk
dilakukan.
[28.17] Sukaraṁ sādhunā sādhu, sādhu pāpena duṣkaram,
pāpaṁ pāpena sukaraṁ, pāpam āryeṇa duṣkaram.
Kebajikan
begitu mudah dilakukan oleh orang bajik, kebajikan dilakukan oleh orang jahat
dengan bersusah-payah, keburukan begitu mudah dilakukan oleh orang jahat,
kejahatan dilakukan oleh orang bajik dengan bersusah-payah.
[28.18] Madhuvad manyate bālo, yāvat pāpaṁ na
pacyate,
yadā tu pacyate pāpam, atha duḥkhaṁ
nigacchati.
Orang bodoh
menganggapnya seperti madu, sepanjang perbuatan buruk belum matang, namun
ketika perbuatan buruk matang, maka ia menjalani penderitaan.
[28.19] Pāpo ’pi paśyate bhadraṁ yāvat pāpaṁ na
pacyate,
yadā tu pacyate pāpam atha pāpāni paśyati.
Bahkan orang
jahat mengalami nasib baik selama perbuatan buruknya belum matang, namun ketika
perbuatan buruk matang, maka seseorang mengalami nasib buruk.
[28.20] Bhadro ’pi paśyate pāpaṁ yāvad bhadraṁ na
pacyate,
yadā tu pacyate bhadram atha bhadrāṇi
paśyati.
Bahkan orang
bajik mengalami nasib buruk selama perbuatan bajiknya belum matang, namun
ketika perbuatan bajik matang, maka seseorang mengalami nasib baik.
[28.21] Kuryāc cet puruṣaḥ pāpaṁ, nainaṁ kuryāt punaḥ
punaḥ,
na tatra cchandraṁ kurvīta, duḥkhaṁ pāpasya
saṁcayaḥ.
Jika
seseorang harus melakukan kejahatan, ia seharusnya tidak melakukannya lagi dan
lagi, biarlah ia tidak memiliki kecenderungan pada kejahatan, dari kumpulan
kejahatan terdapat penderitaan.
[28.22] Kuryāc cet puruṣaḥ puṇyaṁ, kuryāc cainaṁ
punaḥ punaḥ,
tatra cchandraṁ ca kurvīta, sukhaṁ puṇyasya
saṁcayaḥ.
Jika
seseorang harus melakukan kebajikan, ia seharusnya melakukannya lagi dan lagi,
biarlah ia memiliki kecenderungan pada kebajikan, dari kumpulan kebajikan
terdapat kebahagiaan.
[28.23] Abhitvareta kalyāṇe, pāpāc cittaṁ nivārayet,
dhandhaṁ hi kurvataḥ puṇyaṁ pāpeṣu ramate
manaḥ.
Seseorang
harus bergegas dalam berbuat kebajikan, seseorang harus menghalau pikiran dari
kejahatan, bagi pikiran seseorang yang lamban dalam berbuat kebajikan,
bersenang dalam keburukan
[28.24] Alpakaṁ pi kṛtaṁ pāpaṁ duḥkhāya parataḥ
sadā,
mahate bhavaty anarthāya, viṣaṁ koṣṭhagataṁ
yathā.
Bahkan suatu
kejahatan kecil yang dilakukan selalu membawa penderitaan di masa depan,
kejahatan itu membawa kehancuran besar, seperti racun yang memasuki perut.
[28.25] Alpakaṁ pi kṛtaṁ puṇyaṁ paraloke sukhāvaham,
arthāya mahate nityaṁ, sasyānām iva saṁcayaḥ.
Bahkan suatu
kebajikan kecil yang dilakukan selalu membawa kebahagiaan di alam nanti,
kebajikan itu selalu membawa keberuntungan yang besar, seperti kumpulan
biji-bijian.
[28.26] Adaṇḍeṣu hi daṇḍena yo ’praduṣṭeṣu duṣyate
daśānām anyatamaṁ sthānaṁ kṣipram eva
nigacchati:
Orang yang
menyerang dengan sebilah tongkat pada mereka yang tidak bersenjata dan tidak
menyinggung dengan cepat pergi ke antara salah satu dari kondisi-kondisi ini:
[28.27] jñātīnāṁ vā vinābhāvaṁ, bhogānāṁ vā parikṣayam,
rājato hy upasargaṁ vāpy, abhyākhyānaṁ ca
dāruṇam,
Kehilangan
kerabat, atau hancurnya kekayaan, bahkan bahaya dari raja, atau fitnah yang
sangat buruk,
[28.28] vedanāṁ kaṭukāṁ vāpi, śarīrasya ca bhedanam,
ābādhaṁ vāpi paruṣaṁ, cittakṣepam athāpi vā,
Atau persaan
pahit, dan hancurnya tubuh, atau penyakit yang parah, atau setelahnya tentu ia
akan menjadi gila,
[28.29] atha vāsyāpy agārāṇi hy agnir dahati
sarvathā,
bhedāt kāyasya cāprājño daśamāṁ durgatiṁ
vrajet.
Juga api
dapat membakar rumahnya dalam segala cara, dan yang kesepuluh, dari hancurnya jasmani,
orang bodoh itu dapat pergi ke alam yang buruk.
[28.30] Pāpe tu kṛte hi nāśvasec,
cirakṛte dūrakṛte ’pi nāśvaset,
rahasi ca kṛte ’pi nāśvased,
asti tasya vipāka iti nāśvaset.
Namun
seseorang seharusnya tidak merasa nyaman dalam kejahatan yang telah dilakukan,
seseorang bahkan tidak seharusnya merasa nyaman dalam kejahatan yang telah
dilakukan pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya
tidak merasa nyaman dalam kejahatan yang telah dilakukan secara rahasia,
seseorang seharusnya tidak merasa nyaman dengan berpikir, hal itu tidak ada
hasilnya.
[28.31] Puṇye tu kṛte hi ihāśvasec,
cirakṛte dūrakṛte ’pi cāśvaset,
rahasi ca kṛte ’pi cāśvased,
asti tasya vipāka iti cāśvaset.
Namun
seseorang seharusnya merasa nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan saat
ini, seseorang bahkan harus merasa nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan
pada waktu yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya merasa
nyaman dalam kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya
merasa nyaman dengan berpikir, hal itu ada hasilnya.
[28.32] Pāpe tu kṛte hi śocate,
cirakṛte dūrakṛte ’pi śocate,
rahasi ca kṛte ’pi śocate,
asti tasya vipāka iti śocate.
Namun
seseorang harus bersedih dalam kejahatan yang telah dilakukan, seseorang
seharusnya bersedih bahkan dengan kejahatan yang telah dilakukan pada waktu
yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersedih dalam
kejahatan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya bersedih
dengan berpikir, itu ada hasilnya.
[28.33] Puṇye tu kṛte hi nandate,
cirakṛte dūrakṛte ’pi nandate,
rahasi ca kṛte ’pi nandate,
asti tasya vipāka iti nandate.
Namun
seseorang harus bersenang dalam kebajikan yang telah dilakukan, seseorang
seharusnya bersenang bahkan dengan kebajikan yang telah dilakukan pada waktu
yang lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersenang dalam
kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang seharusnya bersenang
dengan berpikir, itu ada hasilnya.
[28.34] Iha śocati, pretya śocati,
pāpakarmā hy ubhayatra śocati,
sa hi śocati sa praśocati,
dṛṣṭvā karma hi kliṣṭam ātmanaḥ.
Di sini ia
bersedih, setelah kematian ia bersedih, ia yang berbuat kejahatan bersedih di
kedua tempat, ia sesungguh bersedih, ia sangat bersedih, melihat kekotoran dari
perbuatannya sendiri.
[28.35] Iha nandati, pretya nandati,
kṛtapuṇyo hy ubhayatra nandati,
sa hi nandati sa pramodate,
dṛṣṭvā karma hi viśuddham ātmanaḥ.
Di sini ia
bergembira, setelah kematian ia bergembira, ia yang berbuat kebajikan bergembira
di kedua tempat, ia bergembira, ia sangat bergembira, melihat kemurnian dari
perbuatannya sendiri.
[28.36] Pāpe tu kṛte hi śocate,
cirakṛte dūrakṛte ’pi śocate,
rahasi ca kṛte ’pi śocate,
bhūyaḥ śocati durgatiṁ gataḥ.
Namun
seseorang seharusnya bersedih tentang kejahatan yang telah dilakukan, seseorang
seharusnya bersedih bahkan pada kejahatan yang telah dilakukan pada waktu yang
lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersedih tentang kejahatan
yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bersedih setelah pergi ke
alam menderita.
[28.37] Puṇye tu kṛte hi nandate,
cirakṛte dūrakṛte ’pi nandate,
rahasi ca kṛte ’pi nandate,
bhūyo nandati sadgatiṁ gataḥ.
Namun
seseorang seharusnya bersenang tentang kebajikan yang telah dilakukan, seseorang
seharusnya bersenang bahkan pada kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang
lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bersenang tentang
kebajikan yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bersenang
setelah pergi ke alam bahagia.
[28.38] Puṇye tu kṛte hi modate,
cirakṛte dūrakṛte ’pi modate,
rahasi ca kṛte ’pi modate,
bhūyo modati sadgatiṁ gataḥ.
Namun
seseorang seharusnya bangga tentang kebajikan yang telah dilakukan, seseorang
bahkan seharusnya bangga pada kebajikan yang telah dilakukan pada waktu yang
lama atau tempat yang jauh, dan seseorang seharusnya bangga tentang kebajikan
yang telah dilakukan secara rahasia, seseorang lebih bangga setelah pergi ke
alam bahagia.
[28.39] Kṛte ca pāpe ’py akṛte ca puṇye,
’dharmaṁ samādāya, vihāya dharmam,
bibheti mṛtyor iha pāpakarmā,
bhinnaplavo madhya ivodakasya.
Setelah
melakukan kejahatan dan tidak melakukan kebajikan, menjalani kejahatan, dan
meninggalkan kebenaran, orang yang melakukan kejahatan takut akan kematian di
sini, seperti seseorang takut akan perahu rusak di tengah perairan.
[28.40] Kṛtaṁ ca puṇyaṁ hy akṛtaṁ ca pāpaṁ,
satāṁ ca dharmaś caritaḥ purāṇaḥ,
bibheti mṛtyor na kadaṁ cid eva,
yathaiva nāvā dṛḍhayā tarantaḥ.
Setelah
melakukan kebajikan dan tidak melakukan kejahatan, setelah menjalani kehidupan
yang benar dan sesuai dengan prinsip kuno, seseorang tidak akan pernah takut
akan kematian, seperti mereka yang menyeberangi sungai dengan perahu yang kokoh.
Pāpavargaḥ,
28
Bab tentang
Kejahatan, yang Kedua Puluh Delapan.
29. Yugavarga
Bab tentang
Pasangan
(69 Syair)
[29.1] Avabhāsati tāvat sa kṛmir yāvan nodayate
divākaraḥ,
vairocane tūdgate bhṛśaṁ, śyāvo bhavati, na
cāvabhāsate.
Cacing
cahaya bersinar selama pembuat siang tidak terbit, namun ketika yang bercahaya sepenuhnya
terbit, cacing itu meredup, dan tidak bersinar.
[29.2] Evaṁ bhāsitam āsi tārkitair
yāvan nodayate Tathāgataḥ,
Buddhapratibhāsite tu loke
na tārkiko bhāsati, nāsya śrāvakaḥ.
Demikianlah,
para pemikir spekulatif bersinar terang selama Sang Tathāgataḥ belum muncul,
namun ketika Sang Buddha muncul di dunia, tidak ada pemikir spekulatif yang
bersinar terang, maupun juga murid-muridnya.
[29.3] Asāre sāramatayaḥ, sāre cāsārasaṁjñinaḥ,
te sāraṁ nādhigacchanti, mithyāsaṁkalpagocarāḥ.
Mereka yang
berpandangan apa yang esensial sebagai yang tidak esensial, dan menganggap apa
yang tidak esensial sebagai yang esensial, mereka tidak mencapai yang esensial,
hasil mereka adalah pikiran salah.
[29.4] Sāraṁ tu sārato jñātvā, hy asāraṁ cāpy
asārataḥ,
te sāram adhigacchanti, samyaksaṁkalpagocarāḥ.
Namun
mengetahui apa yang esensial sebagai esensial, dan yang tidak esensial sebagai
tidak esensial, mereka mencapai yang esensial, hasil mereka adalah pikiran
benar.
[29.5] Upātidhāvanti hi sārabuddhyā,
navaṁ navaṁ bandhanam ādadantaḥ,
patanti hi dyotam ivāndhakārād,
dṛṣṭe śrute caiva niviṣṭacittāḥ.
Mereka
melampaui pemahaman hal-hal yang esensial, mereka mengambil belenggu baru dan
segar, seperti percikan api yang jatuh dalam kegelapan, mereka telah memusatkan
pikiran mereka pada apa yang dilihat atau didengar.
[29.6] Kāṅkṣā hi yā syād iha vā pṛthag vā,
ihavedikā vā paravedikā vā,
tāṁ dhyāyino viprajahanti sarvā,
hy ātāpino brahmacaryaṁ carantaḥ.
Keragu-raguan
apapun yang mungkin terdapat di sini atau di manapun, dapat dipahami di dunia
ini, atau dapat dipahami di alam nanti, para meditator meninggalkan segala hal
ini, mereka yang tekun menjalankan kehidupan suci.
[29.7] Aniṣkaṣāyaḥ kāṣāyaṁ yo vastraṁ paridhāsyati,
apetadamasauratyo, nāsau kāṣāyam arhati.
Ia yang, ketika
masih belum murni, akan mengenakan jubah pelepasan keduniawian, tidak
terberkahi dengan pelatihan dan kebenaran, adalah tidak layak untuk jubah itu.
[29.8] Yas tu vāntakaṣāyaḥ syāc, chīleṣu susamāhitaḥ,
upetadamasauratyaḥ, sa vai kāṣāyam arhati.
Namun ia
yang menghilangkan ketidak-murnian, teguh dalam moralitas, diberkahi baik
dengan pelatihan dan kebenaran, orang itu tentu layak untuk jubah pelepasan
keduniawian.
[29.9] Yasya doṣāḥ samucchinnās, tālamastakavad
dhatāḥ,
sa vāntadoṣo medhāvī sādhurūpo nirucyate.
Ia yang
padanya hal-hal tercela telah terpotong, teguh, seperti tunggul pohon palem
yang terpotong, ia yang cerdas yang telah menyingkirkan hal-hal tercela disebut
Yang Terhormat.
[29.10] Na nāmarūpamātreṇa, varṇapuṣkalayā na ca,
sādhurūpo naro bhavati, māyāvī matsarī śaṭhaḥ.
Bukan
sekedar dengan batin dan jasmani, atau juga dengan corak kulit yang indah,
menjadikan orang yang iri, egois, dan penipu menjadi Yang Terhormat.
[29.11] Na varṇarūpeṇa naro hi sarvo,
vijñāyate netvaradarśanena,
susaṁvṛtānām iha vyañjanena,
tv asaṁvṛtā lokam imaṁ caranti.
Tidak semua
orang diketahui dengan penampilannya, juga tidak diketahui dengan melihat
sekilas, bagi mereka yang terkendali dengan baik hidup dengan ciri mereka di
sini, namun mereka yang tidak terkendali juga hidup di dunia ini.
[29.12] Pratirūpakaṁ dhūpitakarṇikā vā,
lohārdhamāṣa iva hiraṇyacchannaḥ,
caranti haike parivāravantas,
tv antar hy aśuddhā, bahi śobhamānāḥ.
Seperti
halnya sebuah anting-anting yang diasapkan, atau sekeping koin tembaga palsu
yang dilapisi kilauan emas, sebagian hidup dengan rombongan, didalamnya tidak
murni, diluarnya bersinar.
[29.13] Middhī ca yo bhavati mahāgrasaś ca,
rātriṁ divaṁ saṁparivartaśāyī,
mahāvarāhaiva nivāpapuṣṭaḥ,
punaḥ punar mandam upaiti garbham.
Orang yang
malas, banyak makan, yang berguling-guling siang dan malam ketika tidur,
seperti seekor babi besar yang diberi makan pakan, orang bodoh itu pergi ke
rahim lagi dan lagi.
[29.14] Manujasya sadā smṛtīmato,
labdhvā bhojanamātrajānataḥ,
tanukāsya bhavanti vedanāḥ,
śanakair jīryati, āyuḥ pālayam.
Bagi seorang
manusia yang selalu penuh perhatian, yang, setelah menerimanya, mengetahui
ukuran yang tepat dalam hal makanan, perasaannya melemah, ia menua dengan
lambat, menjaga kehidupannya.
[29.15.i] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate rāgo, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, tanpa keawasan – nafsu
inderawi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang pohon
yang lemah.
[29.15.ii] Śubhānupaśyī viharann, indriyair hi asaṁvṛtaḥ,
bhojane cāpy amātrajñaḥ, kusīdo hīnavīryavān
–
taṁ vai prasahate rāgo vāto vṛkṣam ivābalam.
Orang yang
hidup dengan memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lamban, tanpa semangat –
nafsu inderawi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan sebatang
pohon yang lemah.
[29.15A] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate dveṣo, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan
keawasan – kebencian tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan
sebatang pohon yang lemah.
[29.15B] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate moho, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan
keawasan – delusi tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan
sebatang pohon yang lemah.
[29.15C] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate māno, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan
keawasan – kesombongan tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan
sebatang pohon yang lemah.
[29.15D] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate lobho, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan
keawasan – keserakahan tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan
sebatang pohon yang lemah.
[29.15E] Śubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś cāpy asaṁvṛtam,
bhojane cāpy amātrajñaṁ, hīnaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ vai prasahate tṛṣṇā, vāto vṛkṣam
ivābalam.
Terus
menerus memikirkan apa yang menyenangkan, dengan indera-indera yang tidak
terkendali, tidak mengetahui batas dalam makanan, lalai sehubungan dengan
keawasan – nafsu tentu menjatuhkan orang itu, seperti angin menjatuhkan
sebatang pohon yang lemah.
[29.16.i] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate rāgo, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
nafsu ragawi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan
sebuah gunung yang stabil.
[29.16.ii] Aśubhānupaśyī viharann, indriyair hi susaṁvṛtaḥ,
bhojane cāpi mātrajñaḥ, śrāddha
ārabdhavīryavān –
taṁ na prasahate rāgo, vātaḥ śailam iva
parvatam.
Orang yang
hidup dengan memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, berkeyakinan, dengan
semangat dibangkitkan – nafsu ragawi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin
tidak menjatuhkan sebuah gunung berbatu.
[29.16A] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate dveṣo, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
kebencian tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah
gunung yang stabil.
[29.16B] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate moho, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
delusi tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah
gunung yang stabil.
[29.16C] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate māno, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
kesombongan tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah
gunung yang stabil.
[29.16D] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate lobho, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
keserakahan tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah
gunung yang stabil.
[29.16E] Aśubhānudarśinaṁ nityam, indriyaiś ca susaṁvṛtam,
bhojane cāpi mātrajñaṁ, yuktaṁ jāgarikāsu ca
–
taṁ na prasahate tṛṣṇā, vātaḥ śailam iva
sthiram.
Terus
menerus memikirkan apa yang tidak menyenangkan, dengan indera-indera yang
terkendali dengan baik, mengetahui batas dalam makanan, tekun dalam keawasan –
nafsu tidak menjatuhkan orang itu, seperti angin tidak menjatuhkan sebuah
gunung yang stabil.
[29.17] Ramaṇīyāny araṇyāni, na cātra ramate janaḥ,
vītarāgātra raṁsyante, na tu kāmagaveṣiṇaḥ.
Hutan yang
menyenangkan, ada orang-orang yang tidak bersenang (didalamnya), mereka yang
tanpa nafsu akan bersenang didalamnya, namun tidak bagi orang yang mencari
kenikmatan inderawi.
[29.18] Grāme vā yadi vāraṇye, nimne vā yadi vā
sthale,
yatrārhanto viharanti, te deśā ramaṇīyakāḥ.
Apakah di
desa atau di hutan, apakah pada dataran rendah atau tinggi, di manapun para
Arhat hidup, tempat-tempat itu adalah menyenangkan.
[29.19] Dūrāt santaḥ prakāśyante, Himavān iva
parvataḥ,
asanto na prakāśyante, rātrikṣiptāḥ śarā
yathā.
Orang bajik
terlihat dari jauh, seperti Gunung Himālaya, namun orang jahat tidak terlihat,
seperti anak panah yang ditembakkan di malam hari.
[29.20] Sadbhir eva sahāsīta, paṇḍitair
arthacintakaiḥ,
arthaṁ mahāntaṁ gambhīraṁ, prajñayā pratividhyate.
Seseorang
harus bergaul dengan orang bajik, dengan para bijaksana yang memikirkan tujuan,
tujuan yang agung dan mendalam, yang ditembus dengan kebijaksanaan.
[29.21] Ahaṁ nāga iva saṁgrāme cāpād utpatitāṁ
śarān,
ativākyaṁ titīkṣāmi, duḥśīlo hi mahājanaḥ.
Seperti
seekor gajah di pertempuran menahankan tembakan anak panah dari sebuah panah,
demikianlah Aku menahankan caci-maki, dari banyak orang yang tidak bermoral.
[29.22] Bhave cāhaṁ bhayaṁ dṛṣṭvā, bhūyaś ca vibhavaṁ
bhave,
tasmād bhavaṁ nābhinande, nandī ca vibhavena
me.
Setelah
melihat bahaya dalam kemenjadian, dan lebih jauh penghancuran dalam
kemenjadian, Aku tidak sungguh-sungguh bersenang dalam kemenjadian, karena
itulah, Aku bukanlah orang yang bersenang karena penghancuran-Ku.
[29.23] Aśraddhaś cākṛtajñaś ca, saṁdhicchettā ca yo
naraḥ,
hatāvakāśo vāntāśaḥ, sa vai tūttamapūruṣaḥ.
Orang yang
melampaui keyakinan belaka, yang mengetahui yang tidak terbentuk, yang telah
memotong rantai kelahiran kembali, yang telah menghancurkan peluang untuk
kelahiran kembali, yang telah menghilangkan harapan, ia tentu adalah orang yang
terunggul.
[29.24] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā, rājānaṁ dvau ca
śrotriyau,
rāṣṭraṁ sānucaraṁ hatvā, anigho yāti Brāhmaṇaḥ.
Dengan
menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, dengan
menghancurkan suatu kerajaan dan pengikut-pengikutnya, sang Brāhmaṇa berjalan
tanpa gangguan.
[29.25] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.
Bagi mereka
yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka,
yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan terasing, seperti
burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.
[29.26] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.
Bagi mereka
yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka,
yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti
burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.
[29.27] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.
Bagi mereka
yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka,
yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti
burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.
[29.28] Yeṣāṁ saṁnicayo nāsti, ye parijñātabhojanāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.
Bagi mereka
yang tidak memiliki timbunan, mereka yang sepenuhnya mengetahui makanan mereka,
yang peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti
burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.
[29.29] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno, hy aparāntaṁ ca
nāśritāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.
Bagi mereka
yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang
peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti
burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.
[29.30] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno hy aparāntaṁ ca
nāśritāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, vivekaś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.
Bagi mereka
yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang
peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan kebebasan, seperti burung-burung
di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.
[29.31] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno hy aparāntaṁ ca
nāśritāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, padaṁ teṣāṁ duranvayam.
Bagi mereka
yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang
peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti
burung-burung di angkasa, jalan mereka sulit ditemukan.
[29.32] Yeṣāṁ bhavaḥ parikṣīno, hy aparāntaṁ ca
nāśritāḥ,
śunyatā cānimittaṁ ca, samādhiś caiva gocaraḥ,
ākāśaiva śakuntānāṁ, gatis teṣāṁ duranvayā.
Bagi mereka
yang kemenjadian telah dihancurkan, yang tidak bergantung pada masa depan, yang
peristirahatannya adalah kekosongan, tanpa tanda dan konsentrasi, seperti
burung-burung di angkasa, tujuan mereka sulit ditemukan.
[29.33–29.34]
Alpakās te manuṣyeṣu ye janāḥ pāragāminaḥ,
atheyam itarāḥ prajās tīram evānudhāvati,
ye tarhi samyag ākhyāte Dharme
Dharmānudarśinaḥ,
te janāḥ pāram eṣyanti mṛtyudheyasya sarvaśaḥ.
Sedikit di
antara para manusia mereka yang telah menyeberang, dan kebanyakan orang
berlarian ke atas dan bawah di antara pantai sini, namun mereka yang, pada saat
itu, dalam Dharma yang diajarkan dengan benar, melihat Dharma, orang-orang itu
akan pergi menyeberangi alam kematian dalam segala cara.
[29.35] Gatādhvano viśokasya, vipramuktasya tāyinaḥ,
sarvagranthaprahīṇasya, paridāgho na
vidyate.
Bagi orang
yang telah menempuh Sang Jalan, yang tidak bersedih, sepenuhnya terbebaskan,
bagi orang demikian, yang telah meninggalkan segala belenggu, tidak ada demam
yang ditemukan.
[29.36] Uttīrṇaḥ sabhayo mārgaḥ, pātālaḥ parivarjitaḥ,
mukto yogais tathā granthaiḥ, sarvaṁ rāgaviṣaṁ
hatam.
Orang itu
yang telah menyeberangi jalan yang menakutkan, menghindari jurang, terbebas
dari kuk dan belenggu, dengan segala racun nafsu inderawi dihancurkan.
[29.37] Nāsti kāmasamo hy ogho, nāsti doṣasamo grahaḥ,
nāsti mohasamaṁ jālaṁ, nāsti tṛṣṇāsamā nadī.
Tidak ada
banjir seperti nafsu indera, tidak ada genggaman seperti kebencian, tidak ada
jebakan seperti delusi, tidak ada sungai seperti nafsu.
[29.38] Ākāśe tu padaṁ nāsti, śramaṇo nāsti bāhyakaḥ,
prapañcābhiratā bālā, niṣprapañcās Tathāgatāḥ.
Tidak ada
jalan di langit, tidak ada pertapa di luar (Sasana),
orang-orang dungu sungguh bersenang dalam proliferasi, Sang Tathāgatā terbebas
dari proliferasi.
[29.39] Yogaiḥ samuhyate bālo, yogāṁ nudati paṇḍitaḥ,
yogāṁ praṇudya medhāvī, ye divyā ye ca
mānusāḥ,
sarvayogāṁ praṇudyeha, sarvaduḥkhāṭ
pramucyate.
Orang bodoh
disingkirkan dengan kuk, orang bijaksana membuang kuk, orang cerdas
menyingkirkan kuk, apakah surgawi atau manusia, setelah menyingkirkan segala
kuk di sini, orang itu terbebas dari segala penderitaan.
[29.40] Yogād bhavaḥ prabhavati, viyogād bhavasaṁkṣayaḥ,
etad dvaidhāpathaṁ jñātvā bhavāya vibhavāya
ca,
tatra śikṣeta medhāvī, yatra yogān
atikramet.
Dari kuk
muncul kemenjadian, dari tidak memiliki kuk terdapat penghancuran kemenjadian,
setelah memahami kedua jalan perkembangan dan kehancuran kuk, orang cerdas
seharusnya berlatih di dalamnya, di mana kuk harus dilampaui.
[29.41] Akṛtaṁ kukṛtāc chreyaḥ, paścāt tapati duṣkṛtam,
śocate duṣkṛtaṁ kṛtvā, śocate durgatiṁ gataḥ.
Suatu
perbuatan yang tidak dilakukan adalah lebih baik dari suatu perbuatan buruk,
nantinya seseorang menyesali suatu perbuatan buruk, seseorang bersedih setelah
melakukan suatu perbuatan buruk, seseorang bersedih pergi ke alam menderita.
[29.42] Kṛtaṁ tu sukṛtaṁ śreyo, yat kṛtvā
nānutapyate,
nandate sukṛtaṁ kṛtvā, nandate sugatiṁ gataḥ
Namun suatu
perbuatan bajik adalah lebih baik dilakukan, yang mana, setelah melakukannya,
seseorang tidak merasa menyesal, seseorang bergembira setelah melakukan
perbuatan bajik, seseorang bergembira pergi ke alam bahagia.
[29.43] Nābhāṣamāṇā jñāyante, miśrā bālair hi paṇḍitāḥ,
jñāyante bhāṣamāṇās tu, deṣayanto ’rajaḥ
padam.
Ketika tidak
berbicara, mereka tidak mengetahui orang bijaksana, karena mereka bercampur
dengan orang bodoh, namun mereka tahu ketika berbicara, ketika mengacarkan
kondisi tanpa debu.
[29.44] Bhāṣayed dyotayed Dharmam, ucchrayed ṛṣiṇāṁ
dhvajam,
subhāṣitadhvajā nityam, ṛṣayor Dharmagauravāḥ.
Seseorang
seharusnya membabarkan dan menerangkan Dharma, seseorang seharusnya menaikkan
panji para penglihat (ṛṣi), bagi para
penglihat, panji mereka selalu diucapkan dengan baik, dan memiliki rasa hormat
kepada Dharma.
[29.45] Nindanti tuṣṇim āsīnaṁ, nindanti bahubhāṣiṇam,
alpabhāṇiṁ ca nindanti, nāsti lokeṣv
aninditaḥ.
Mereka
mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara, dan
mereka mencela orang yang sedikit bicara, tidak ada satupun di dunia yang tidak
dicela.
[29.46] Ekāntaninditaḥ puruṣaḥ, ekāntaṁ vā praśaṁsitaḥ,
nābhūd bhaviṣyati ca no, na cāpy etarhi
vidyate.
Tidak ada
sebelumnya dan tidak akan ada, dan di masa sekarang tidak ada seorangpun yang
sepenuhnya dicela atau sepenuhnya dipuji.
[29.47] Yaṁ tu vijñāḥ praśaṁsanti, hy anuyujya
śubhāśubham,
praśaṁsā sā samākhyātā, na tv ajñair yaḥ
praśaṁsitaḥ.
Orang yang
dipuji oleh orang bijaksana, setelah menyelidiki baik yang menyenangkan dan
yang tidak menyenangkan, pujian demikian adalah dengan benar diucapkan, namun
bukan pujian oleh orang yang tidak mengetahui.
[29.48] Medhāvinaṁ vṛttayuktaṁ, prājñaṁ śīleṣu saṁvṛtam,
niṣkaṁ jāmbunadasyaiva, kas taṁ ninditum
arhati?
Orang yang
cerdas, bajik dalam perilaku, bijaksana, terkendali dalam moralitas, ia yang
bagaikan sekeping koin emas, siapakah yang pantas mencelanya?
[29.49] Śailo yathāpy ekaghano vāyunā na
prakampyate,
evaṁ nindāpraśaṁsābhir na kampyante hi paṇḍitāḥ.
Seperti
halnya sebongkah gunung yang kokoh tidak tergerak oleh angin, demikianlah orang
bijaksana tidak tergerak baik oleh celaan maupun pujian.
[29.50] Yasya mūle tvacā nāsti,
parṇā nāsti, tathā latāḥ,
taṁ dhīraṁ bandhanān muktaṁ –
kas taṁ ninditum arhati?
Bagi ia yang
tanpa kulit pada akar(nya), tanpa daun, seperti halnya tanpa tumbuhan menjalar,
orang tekun itu terbebas dari belenggu – siapakah yang pantas menghinanya?
[29.51] Yasya ha prapañcitaṁ hi no sat,
saṁtānaṁ parikhaṁ ca yo nivṛttaḥ,
tṛṣṇāvigataṁ muniṁ carantaṁ –
na vijānāti sadevako ’pi lokaḥ.
Ia yang
padanya tidak terdapat proliferasi, yang arus dan paritnya telah terhenti,
orang bijaksana yang mengembara tanpa nafsu – bahkan dunia dan para Devanya
tidak mengenali(nya).
[29.52] Yasya jitaṁ nopajīyate,
jitam anveti na kaṁ cid eva loke,
taṁ Buddham anantagocaraṁ,
hy apadaṁ kena padena neṣyasi.
Ia yang
kemenangan-Nya tak pernah pudar, kemenangan yang tak seorang pun di dunia ini
dapat menandingi, Sang Buddha, Yang jangkauannya tak terbatas, dengan jalan apa
engkau akan menuntun ia yang tanpa jalan?
[29.53] Yasya jālinī viṣaktikā,
tṛṣṇā nāsti hi lokanāyinī,
taṁ Buddham anantagocaraṁ,
hy apadaṁ kena padena neṣyasi.
Bagi Ia yang
tanpa belenggu ataupun kemelekatan, tidak ada nafsu yang akan membawanya di
dunia ini, Sang Buddha, yang jangkauannya tanpa akhir, dengan jalan apa engkau
akan menuntun ia yang tanpa jalan?
[29.54] Yasya mūlaṁ kṣitau nāsti,
parṇā nāsti tathā latāḥ,
taṁ dhīraṁ bandhanān muktaṁ –
ko nu ninditum arhati?
Bagi Ia yang
tanpa akar di dalam tanah, tanpa daun, seperti halnya tanpa tanaman menjalar,
orang tekun itu terbebas dari belenggu – siapakah yang pantas menghinanya?
[29.55] Yasya jālinī viṣaktikā,
tṛṣṇā nāsti hi lokanāyinī,
taṁ Buddham anantavikramaṁ,
hy apadaṁ kena padena neṣyasi.
Bagi Ia yang
tanpa belenggu ataupun kemelekatan, tidak ada nafsu yang akan membawanya di
dunia ini, Sang Buddha, yang kemajuannya tanpa akhir, dengan jalan apa engkau
akan menuntun ia yang tanpa jalan?
[29.56] Yasya vitarkā vidhūpitās,
tv ādhyātmaṁ vinivartitā hy aśeṣam,
sa hi saṅgam atītya sarvasaṁjñāṁ,
yogāpetam atīrṇasaṅgam eti.
Bagi orang
yang pemikiran-pemikirannya telah sirna, yang telah sepenuhnya melihat ke dalam
diri, melampaui kemelekatan dan segala persepsi, diberkahi dengan upaya, orang
itu akan mencapai keadaan melampaui kemelekatan.
[29.57] Muñca purato, muñca paścato,
madhye muñca, bhavasya pāragaḥ,
sarvatra vimuktamānaso,
na punar jātijarām upeṣyasi.
Terbebaslah
dari masa lalu, terbebaslah dari masa depan, terbebaslah dari masa sekarang,
setelah menyeberangi kemenjadian, dengan pikiran yang terbebas dalam segala
cara, engkau tidak akan menjalani kelahiran dan usia tua lagi.
Yugavargaḥ,
29
Bab tentang
Pasangan, yang Kedua Puluh Sembilan.
30. Sukhavarga
Bab tentang
Kebahagiaan
(52 Syair)
[30.1] Jayād vairaṁ prasavate, duḥkhaṁ śete
parājitaḥ,
upaśāntaḥ sukhaṁ śete, hitvā jayaparājayau.
Dari
kemenangan muncul kebencian, yang kalah hidup tidak bahagia, yang damai hidup
bahagia, setelah meninggalkan kemenangan dan kekalahan.
[30.2] Paraduḥkhopadhānena ya icchet sukham ātmanaḥ,
vairasaṁsargasaṁsakto duḥkhān na
parimucyate.
Terdapat
orang yang menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan menyebabkan
penderitaan bagi orang lain, namun ia yang melekat pada pelibatan dengan
kebencian tidak sepenuhnya terbebas dari penderitaan.
[30.3] Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena vihiṁsati,
ātmanaḥ sukham eṣāṇaḥ, sa vai na labhate
sukham.
Seseorang
yang memukul dengan sebilah tongkat makhluk-makhluk yang mengharapkan
kebahagiaan, ketika mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri, tentu saja orang
itu tidak akan menemukan kebahagiaan.
[30.4] Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena na hiṁsati,
ātmanaḥ sukham eṣānaḥ, sa pretya labhate
sukham.
Seseorang
yang tidak memukul dengan sebilah tongkat makhluk-makhluk yang mengharapkan
kebahagiaan, ketika mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri, orang itu akan
menemukan kebahagiaan setelah kematian.
[30.5] Dharmaṁ caret sucaritaṁ, nainaṁ duścaritaṁ
caret,
Dharmacārī sukhaṁ śete hy asmiṁ loke paratra
ca.
Seseorang
seharusnya mempraktekkan Dharma dan perilaku bajik, seseorang seharusnya tidak
mempraktekkan perilaku buruk, seseorang yang hidup sesuai dengan Dharma akan
hidup bahagia di dunia ini dan di dunia selanjutnya.
[30.6] Dharmaḥ sadā rakṣati Dharmacāriṇaṁ,
chatraṁ mahadvarṣakāle yathaiva,
eṣānuśaṁso Dharme sucīrṇe:
na durgatiṁ gacchati Dharmacārī.
Dharma
selalu melindungi orang yang hidup sesuai dengan Dharma, seperti sebuah payung
besar yang melindungi seseorang selama musim hujan, inilah keuntungan ketika
Dharma dipraktekkan dengan baik: Orang yang hidup sesuai dengan Dharma tidak
pergi ke alam menderita.
[30.7] Dharmaḥ sadā rakṣati Dharmacāriṇaṁ,
Dharmaḥ sucīrṇaḥ sukham ādadhāti,
eṣānuśaṁso Dharme sucīrṇe:
na durgatiṁ gacchati Dharmacārī.
Dharma
selalu melindungi orang yang hidup sesuai dengan Dharma, Dharma yang
dipraktekkan dengan baik membawa kebahagiaan, inilah keuntungan ketika Dharma
dipraktekkan dengan baik: Orang yang hidup sesuai dengan Dharma tidak pergi ke
alam menderita.
[30.8] Alpāpi santo bahavo jayanti,
susaṁvidhāne, na ’saṁvidhānam,
alpam api cec chraddadhāno dadāti,
tenaivāsau bhavati sukhī paratra.
Bahkan
sedikit orang bajik adalah pemenang di antara banyak orang, ketika dipersiapkan
dengan baik, bukan tanpa persiapan, jika seseorang dengan keyakinan memberi
bahkan sedikit, karena itulah seseorang berbahagia di alam nanti.
[30.9] Dānaṁ ca yuddhaṁ ca samānam āhur,
naite guṇāḥ kāpuruṣeva santi,
saṁgrāmaveleva hi dānavelā
tulyaṁ bhavet, kāraṇasaṁgraheṇa.
Kedermawanan
dan peperangan adalah sama, mereka bilang, kualitas ini tidak terdapat pada
orang yang buruk, karena waktu untuk memberi haruslah seperti waktu pada
pertempuran, melalui pengerahan sumber daya.
[30.10] Ayaṁ hi pratyūhaśatāni jitvā,
mātsaryam ākramya ca śatrubhūtam,
śurād dhi taṁ śūrataraṁ vadāmi,
dadāti yo dānam asaktacittaḥ.
Orang itu,
dengan memenangkan ratusan penghalang, dan setelah pergi melampaui keegoisan,
yang telah menjadi suatu musuh, sesungguhnya, Aku katakan ia adalah lebih
kesatria daripada seorang pahlawan, orang yang memberikan sebuah pemberian dengan
pikiran yang tidak melekat.
[30.11] Sukho vipākaḥ puṇyānām, abhiprāyaḥ samṛdhyate,
kṣipraṁ ca paramāṁ śāntiṁ, nirvṛtiṁ so
’dhigacchati.
Kebahagiaan
adalah hasil dari kebajikan, kehendak yang berhasil, terdapat kedamaian
tertinggi, orang itu dengan cepat mencapai pembebasan.
[30.12] Parato hy upasargāṁś ca Devatā Mārakāyikāḥ,
antarāyaṁ na śaktiṣṭāḥ kṛtapuṇyasya kartu
vai.
Bahaya dari
orang lain, dan dari para Devatā yang dirasuki Māra, adalah tak berdaya dalam
membuat sebuah penghalang bagi seseorang yang kebajikannya tentu telah selesai.
[30.13] Dharmaprītiḥ sukhaṁ śete, viprasannena
cetasā,
Āryapravedite Dharme ramate paṇḍitaḥ smṛtaḥ.
Seseorang
yang bersenang dalam Dharma hidup bahagia, dengan pikiran yang jernih, orang
yang penuh perhatian dan bijaksana bersenang dalam Dharma yang dinyatakan oleh
Para Mulia.
[30.14] Yeṣāṁ Dharmarataṁ cittam, anupādāya nirvṛtim,
smṛtyupasthānanirataṁ, Bodhyaṅgeṣu ca
saptasu.
Mereka yang
pikirannya bersenang dalam Dharma, yang terbebaskan melalui tanpa kemelekatan,
bersenang dalam penegakan perhatian, dan tujuh faktor Pencerahan.
[30.15] Yeṣāṁ Dharmarataṁ cittam, anupādāya nirvṛtim,
ṛddhipādarataṁ caiva, mārge cāṣṭāṅgike
ratam.
Mereka yang
pikirannya bersenang dalam Dharma, yang terbebaskan melalui tanpa kemelekatan,
bersenang dalam landasan kemampuan batin, dan bersenang dalam Jalan Mulia
Berunsur Delapan.
[30.16] Sukhaṁ te bhuñjate piṇḍaṁ, dhārayanti ca
cīvaram,
sukhaṁ caṅkramaṇaṁ teṣāṁ parvateṣu guhāsu
ca.
Mereka
bahagia memakan makanan derma mereka, dan mengenakan jubah mereka, mereka
berbahagia ketika melangkah dalam meditasi di pegunungan dan gua-gua.
[30.17] Kṣemaprāptā hi sukhitā, dṛṣṭadharmābhinirvṛtāḥ,
sarvavairabhayātītās, tīrṇā loke viṣaktikām.
Setelah
mencapai keamanan dan kebahagiaan, sepenuhnya terbebas dalam kehidupan saat
ini, setelah pergi melampaui segala kebencian dan ketakutan, mereka telah
menyeberangi kemelekatan di dunia.
[30.18] Sukho vivekas tuṣṭasya, śrutadharmasya
paśyataḥ,
avyāvadhyaḥ sukhaṁ loke, prāṇabhūteṣu saṁyamaḥ.
Terdapat
kebahagiaan dalam keterasingan bagi orang yang berpuas diri, yang telah
mendengarkan Dharma, dan yang melihat, terdapat kebahagiaan bagi mereka yang
terbebas dari niat buruk di dunia, yang memiliki pengendalian (diri) terhadap
makhluk-makhluk yang bernafas.
[30.19] Sukhaṁ virāgatā loke kāmānāṁ samatikramaḥ,
asmimānasya vinaya – etad vai paramaṁ
sukham.
Pelepasan
adalah kebahagiaan di dunia, sepenuhnya melampaui nafsu indera, namun bagi ia
yang telah menghilangkan kesombongan “Aku” – tentu inilah kebahagiaan
tertinggi.
[30.20] Sukhaṁ yāvaj jarā śīlaṁ, sukhaṁ śraddhā
pratiṣṭhitā,
sukhaṁ cārtharatā vācā, pāpasyākaraṇaṁ
sukham.
Moralitas
hingga usia tua adalah baik, teguh dalam keyakinan adalah baik, bersenang dalam
kata-kata yang bermakna adalah baik, tidak melakukan kejahatan adalah baik.
[30.21] Sukhaṁ mātṛvyatā loke, sukhaṁ caiva pitṛvyatā,
sukhaṁ śrāmaṇyatā loke, tathā Brāhmaṇyatā
sukhaṁ.
Menghormati
ibu seseorang adalah baik di dunia, juga menghormati ayah seseorang adalah
baik, menghormati para pertapa adalah baik di dunia, dan menghormati para
Brahmana adalah baik.
[30.22] Sukhaṁ Buddhasya cotpādaḥ, sukhaṁ Dharmasya
deśanā,
sukhaṁ Saṁghasya sāmagrī, samagrāṇāṁ tapaḥ
sukham.
Kemunculan
Sang Buddha adalah baik, pembabaran Dharma adalah baik, keharmonisan Saṁgha
adalah baik, yang tekun berlatih dengan mereka di dalam harmoni adalah baik.
[30.23] Śīlavantaḥ sukhaṁ dṛṣṭuṁ, sukhaṁ dṛṣṭuṁ
bahuśrutāḥ,
Arhantaś ca sukhaṁ dṛṣṭuṁ,
vipramuktapunarbhavāḥ.
Untuk
melihat mereka yang bermoral adalah baik, untuk melihat yang terpelajar adalah
baik, untuk melihat para Arhat adalah baik, mereka yang terbebas dari kelahiran
berulang.
[30.24] Sukhā nadī sūpatīrthā, sukhaṁ Dharmajino
jinaḥ,
prajñālābhaḥ sukho nityam, asmimānakṣayaḥ
sukham.
Adalah baik
sebuah sungai dengan dermaga yang indah, adalah baik seorang penakluk,
menaklukkan dengan Dharma, perolehan kebijaksanaan adalah selalu baik,
penghancuran kesombongan “Aku” adalah baik.
[30.25] Sukhaṁ darśanam āryāṇāṁ, saṁvāso ’pi sadā
sukham,
adarśanena bālānāṁ nityam eva sukhī bhavet.
Pertemuan
dengan para mulia adalah baik, dan hidup bersama (dengan mereka) adalah selalu
baik, dengan tidak bertemu orang-orang bodoh seseorang akan selalu berbahagia.
[30.26] Bālasaṁsargacārī hi dīrghādhvānaṁ praśocati,
duḥkho bālair hi saṁvāso, hy amitrair iva
sarvaśaḥ,
dhīrais tu sukhasaṁvāso, jñātīnām iva saṁgamaḥ.
Bagi orang
yang berkumpul bersama orang bodoh (akan) sangat bersedih untuk waktu yang
lama, terdapat penderitaan dari hidup bersama dengan orang-orang bodoh, seperti halnya selalu bersama musuh, namun
hidup bersama dengan yang tekun adalah baik, seperti halnya dengan kumpulan
kerabatnya.
[30.27] Durlabhaḥ puruṣo jātyo, nāsau sarvatra
jāyate,
yatrāsau jāyate vīras, tat kulaṁ sukham
edhate.
Seseorang
yang terlahir demikian adalah langka, orang itu tidak terlahir di mana saja, di
manapun pahlawan itu terlahir, keluarga itu mencapai kebahagiaan.
[30.28] Sarvathā vai sukhaṁ śete Brāhmaṇaḥ parinirvṛtaḥ,
yo na lipyate kāmebhir, vipramukto nirāsravaḥ.
Seorang Brāhmaṇa
yang terbebas hidup bahagia dalam segala cara, orang yang tidak terkotori
dengan nafsu indera, sepenuhnya terbebas, tanpa kekotoran.
[30.29] Sarvā hy āśāstayaś chitvā, vinīya hṛdayajvaram,
upaśāntaḥ sukhaṁ śete, śāntiṁ prāpyeha
cetasaḥ.
Setelah
memotong segala harapan, setelah menyingkirkan demam dari hati (hṛdaya), orang yang damai hidup bahagia,
setelah mencapai kedamaian pikiran di sini.
[30.30] Mātrāsukhaparityāgād yaḥ paśyed vipulaṁ
sukham,
tyajen mātrāsukhaṁ dhīraḥ, saṁpaśyaṁ vipulaṁ
sukham.
Dari
meninggalkan sebuah kebaikan yang terbatas seseorang dapat melihat suatu
kebaikan yang besar, orang yang tekun seharusnya meninggalkan kebaikan yang
terbatas itu, melihat kebaikan yang besar.
[30.31] Yac ca kāmasukhaṁ loke, yac cāpi divijaṁ
sukham,
tṛṣṇākṣayasukhasyaitat, kalāṁ nārghati ṣoḍaśīm.
Hal itu yang
adalah kebahagiaan inderawi di dunia, dan bahkan kebahagiaan itu yang adalah
surgawi, dibandingkan dengan kebahagiaan dari penghancuran nafsu, tidak
sebanding dengan seperenam belas bagian.
[30.32] Nikṣipya hi guruṁ bhāraṁ, nādadyād bhāram
eva tu,
bhārādānaṁ paraṁ duḥkhaṁ, bhāranikṣepaṇaṁ
sukham.
Setelah
meletakkan beban berat, seseorang seharusnya tidak mengangkat beban yang lain,
mengangkat beban tentu adalah penderitaan, meletakkan beban adalah kebahagiaan.
[30.33] Sarvaṭṛṣṇāṁ viprahāya sarvasaṁyojanakṣayāt,
sarvopadhiṁ parijñāya, nāgacchanti
punarbhavam.
Setelah
meninggalkan segala nafsu dari penghancuran segala belenggu, setelah sepenuhnya
mengetahui segala kemelekatan, mereka tidak akan datang lagi dalam kemenjadian.
[30.34] Artheṣu jāteṣu sukhaṁ sahāyāḥ,
puṇyaṁ sukhaṁ jīvitasaṁkṣayeṣu,
tuṣṭiḥ sukhā yā tv itaretareṇa,
sarvasya duḥkhasya sukho nirodhaḥ.
Teman-teman
yang muncul kapanpun dibutuhkan adalah baik, saat hancurnya kehidupan jasa
kebajikan adalah baik, menjadi puas dengan apapun yang dimiliki seseorang
adalah baik, penghentian segala penderitaan adalah baik.
[30.35–30.36]
Ayoghanahatasyaiva jvalato jātavedasaḥ,
anupūrvopaśāntasya, yathā na jñāyate gatiḥ,
evaṁ samyagvimuktānāṁ, kāmapaṅkaughatāriṇām:
prajñāpayituṁ gatir nāsti prāptānām acalaṁ
sukham.
Seperti
halnya sebuah batang besi yang dipukul dengan api dan panas, dan secara
perlahan mendingin, tujuan dari api itu tidaklah diketahui, demikian pula bagi
mereka yang sepenuhnya terbebas, yang telah menyeberangi banjir rawa nafsu
indera: Tidak ada tujuan yang menandakan mereka yang telah mencapai kebahagiaan
yang tak bergerak.
[30.37] Yasyāntarato na santi kopā, itthaṁbhāvagataṁ
ca yo nivṛttaḥ,
akhilaṁ taṁ sukhinaṁ sadā viśokaṁ – Devā
nānubhavanti darśanena.
Bagi orang
yang batinnya tidak cemas, yang telah berpaling dari tujuan-tujuan atau
kondisi-kondisi kemenjadian ini, selalu terbuka batinnya, bahagia, tanpa
kesedihan – Para Deva tidak merasakan hal ini melalui penglihatan.
[30.38] Sukhaṁ hi yasyeha na kiñcanaṁ syāt,
svākhyātadharmasya bahuśrutasya,
sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,
janaṁ janeṣu pratibaddhacittam.
Terdapat
kebahagiaan bagi orang yang tidak memiliki apapun di sini, bagi orang yang
terpelajar dalam Dharma yang dibabarkan dengan baik, lihatlah bagaimana orang
yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang yang pikirannya
terikat pada orang lain.
[30.39] Sukhaṁ hi yasyeha na kiñcanaṁ syāt,
svākhyātadharmasya bahuśrutasya,
sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,
janaṁ janeṣu pratibaddharūpam.
Terdapat
kebahagiaan bagi orang yang tidak memiliki apapun di sini, bagi orang yang
terpelajar dalam Dharma yang dibabarkan dengan baik, lihatlah bagaimana orang
yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang dalam suatu
kondisi yang terikat pada orang lain.
[30.40] Sukhino hi janā hy akiñcanā,
Vedaguṇā hi janā hy akiñcanāḥ,
sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,
janaṁ janeṣu pratibaddhacittam.
Orang yang
tidak memiliki apapun di sini tentulah bahagia, Mereka Yang Sempurna (Para
Buddha) tentu adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun, lihatlah bagaimana
orang yang memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang yang pikirannya
terikat pada orang lain.
[30.41] Sukhino hi janā hy akiñcanā,
Vedaguṇā hi janā hy akiñcanāḥ,
sakiñcanaṁ paśya vihanyamānaṁ,
janaṁ janeṣu pratibaddharūpam.
Orang yang
tidak memiliki apapun di sini tentulah bahagia, Mereka Yang Sempurna tentu
adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun, lihatlah bagaimana orang yang
memiliki sesuatu menderita kekesalan, ia adalah seseorang dalam suatu kondisi
yang terikat pada orang lain.
[30.42] Sarvaṁ paravaśaṁ duḥkhaṁ, sarvam ātmavaśaṁ
sukham,
sādhāraṇe vihanyante, yogā hi duratikramāḥ.
Segala yang
dikuasai orang lain adalah menyakitkan, segala yang dikuasai diri sendiri
adalah menyenangkan, orang-orang awam menderita kekesalan, karena kuk adalah
sulit untuk dilampaui.
[30.43] Susukhaṁ bata jīvāmo hy utsukeṣu tv anutsukāḥ,
utsukeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy anutsukāḥ.
Kami yang
tanpa kerinduan tentu hidup bahagia diantara mereka yang merindu, diantara
manusia yang merindu kami hidup tanpa kerinduan.
[30.44] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti
kiñcanam,
Mithilāyāṁ dahyamānāyāṁ, na no dahyati
kiñcanam.
Kami yang
tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, ketika (kota) Mithilā terbakar,
tidak ada milik kami yang terbakar.
[30.45] Susukhaṁ bata jīvāmo hy ātureṣu tv anāturāḥ,
ātureṣu manuṣyeṣu viharāmo hy anāturāḥ.
Kami yang
tanpa penyakit tentu hidup bahagia diantara mereka yang sakit, diantara para
manusia yang sakit kami hidup tanpa penyakit.
[30.46] Susukhaṁ bata jīvāmo hiṁsakeṣu tv ahiṁsakāḥ,
hiṁsakeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy ahiṁsakāḥ.
Kami yang
tanpa kekerasan tentu hidup bahagia diantara mereka yang melakukan kekerasan,
diantara para manusia yang melakukan kekerasan kami hidup tanpa kekerasan.
[30.47] Susukhaṁ bata jīvāmo vairikeṣu tv avairikāḥ,
vairikeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy avairikāḥ.
Kami yang
tanpa kebencian tentu hidup bahagia diantara mereka yang membenci, diantara
para manusia yang membenci kami hidup tanpa kebencian.
[30.48] Susukhaṁ bata jīvāmo heṭhakeṣu tv aheṭhakāḥ,
heṭhakeṣu manuṣyeṣu viharāmo hy aheṭhakāḥ.
Kami yang
tidak berbahaya tentu hidup bahagia diantara mereka yang berbahaya, diantara
para manusia yang berbahaya kami hidup tanpa bahaya.
[30.49] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti
kiñcanam,
prītibhakṣā bhaviṣyāmo Devā hy Ābhasvarā
yathā.
Kami yang
tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, kami akan menjadi pemakan
kebahagiaan, seperti para Deva Ābhasvarā.
[30.50] Susukhaṁ bata jīvāmo yeṣāṁ no nāsti
kiñcanam,
prītibhakṣā bhaviṣyāmo, satkāyenopaniḥśritāḥ.
Kami yang
tidak memiliki apapun tentu hidup bahagia, kami akan menjadi pemakan
kebahagiaan, didukung oleh tubuh yang ada.
[30.51] Grāme araṇye sukhaduḥkhaspṛṣṭo,
naivātmano no parato dadhāti,
sparśāḥ spṛśanti hy upadhiṁ pratītya,
niraupadhiṁ kiṁ sparśāḥ spṛśeyuḥ?
Tersentuh
oleh kenikmatan dan kesakitan di desa atau di hutan, seseorang tidak
menganggapnya sebagai disebabkan oleh dirinya sendiri atau orang lain, kontak
berdampak pada seseorang dengan kemelakatan sebagai kondisi, bagaimana mungkin
kontak berdampak pada seseorang yang tanpa kemelekatan?
[30.52] Sāpatrapāḥ satpuruṣā bhavanti,
na kāmahetor lapayanti santaḥ,
spṛṣṭā hi duḥkhena tathā sukhena,
noccāvacāḥ satpuruṣā bhavanti.
Orang bajik
memiliki kepedulian, orang bajik tidak berbicara demi nafsu inderawi, ketika
tersentuh dengan kenikmatan atau dengan penderitaan, orang bajik tidak menjadi
gembira atau depresi.
Sukhavargaḥ,
30
Bab tentang
Kebahagiaan, yang Ketiga Puluh
31. Cittavarga
Bab tentang
Pikiran
(63 Syair)
[31.1] Durnigrahasya laghuno, yatrakāmanipātinaḥ,
cittasya damanaṁ sādhu, cittaṁ dāntaṁ
sukhāvaham.
Bagi
seseorang yang pikirannya sulit dijinakkan, melompat-lompat, dan terbang
kemanapun yang dimau, pelatihan pikiran adalah baik, pikiran yang terlatih
membawa kebahagiaan.
[31.2] Vārijo vā sthale kṣipta, okād oghāt samuddhṛtaḥ,
parispandati vai cittaṁ, Māradheyaṁ
prahātavai.
Seperti ikan
yang dilempar ke daratan yang kering, atau dikeluarkan dari arus air, pikiran
tentulah gelisah, alam Māra harus ditinggalkan.
[31.3] Pṛthag vidhāvate cittaṁ, sūryasyeva hi
raśmayaḥ,
tat paṇḍito vārayati, hy aṅkuśenaiva
kuñjaram.
Pikiran
berkeliaran ke segala arah, seperti sinar matahari, orang bijaksana
mengendalikannya, seperti seseorang mengendalikan seekor gajah dengan sebilah tongkat
pengait.
[31.4] Bhrūṇadheyam idaṁ cittaṁ, niḥsāram
anidarśanam,
sadainam anuśāsāmi – mā me ’narthāya
niścaret.
Pikiran ini
dalam keadaan rapuh, tanpa esensi, tidak nyata, aku selalu menasehatinya –
semoga ia tidak muncul demi kehancuranku.
[31.5] Idaṁ purā cittam acāri cārikāṁ,
yenecchakaṁ yena kāmaṁ yatheṣṭam,
tat saṁnigṛhṇāmi hi yoniśas tv idaṁ,
nāgaṁ prabhinnaṁ hi yathāṅkuśena.
Sebelumnya
pikiran yang liar ini mengembara seperti yang diinginkannya, seperti yang
disenanginya, seperti yang disukainya, namun hari ini aku dengan bijaksana dan
menyeluruh mengendalikannya, seperti seseorang dengan sebilah tongkat pengait
(mengendalikan) gajah yang mengamuk.
[31.6] Anekaṁ jātisaṁsāraṁ saṁdhāvitvā punaḥ punaḥ
gṛhakārakaiṣamāṇas tvaṁ: duḥkhā jātiḥ punah
punaḥ.
Melalui
transmigrasi kelahiran yang tanpa akhir aku telah mengembara lagi dan lagi
mencarimu, pembuat rumah: Menderita kelahiran lagi dan lagi.
[31.7] Gṛhakāraka dṛṣṭo ’si! Na punar gehaṁ kariṣyasi:
sarve te pārśukā bhagnā, gṛhakūṭaṁ visaṁskṛtam,
visaṁskāragate citte ihaiva kṣayam adhyagāḥ.
O pembuat
rumah, engkau telah terlihat! Engkau tidak akan membuat rumah lagi: Segala
kasokmu telah rusak, dan tiang bubungan telah dihancurkan, ketika pikiran telah
mencapai yang tak terkondisi, penghancuran nafsu telah tercapai di sini/.
[31.8] Spandanaṁ capalaṁ cittaṁ, durakṣyaṁ
durnivāraṇam –
ṛjuṁ karoti medhāvī, iṣukāra iva tejasā.
Pikiran itu
gelisah, goyah, sulit untuk dijaga, sulit untuk dikendalikan – orang yang
cerdas meluruskannya, seperti seorang pengrajin panah meluruskan sebatang anak
panah dengan panas.
[31.8A] Dūraṁgamam ekacaram, aśarīraṁ guhāśayam,
ye cittaṁ damayiṣyanti vimokṣyante
mahābhayāt.
Berkeliaran
jauh, bergerak sendiri, tanpa wujud, tersembunyi di dalam tubuh, mereka yang
melatih pikiran akan terbebas dari bahaya besar.
[31.9] Na dveṣī dveṣiṇaḥ kuryād, vairī vā vairiṇo
hitam –
mithyāpraṇihitaṁ cittaṁ yat kuryād
ātmanātmanaḥ.
Manfaat itu
yang mungkin tidak diberikan oleh seorang penyerang kepada penyerang lainnya,
atau seorang musuh kepada musuhnya – karena pikiran seseorang yang dengan salah
diarahkan akan merugikan diri sendiri.
[31.10] Na taṁ mātā pitā vāpi kuryāj jñātis
tathāparaḥ –
samyakpraṇihitaṁ cittaṁ yat kuryād dhitam
ātmanaḥ.
Hal itu yang
bahkan ibu, ayah, kerabat, atau orang lain pun tidak mampu lakukan – pikiran
yang diarahkan dengan benar dapat membawa lebih banyak kepuasan bagi diri
sendiri.
[31.11] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ
samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ rāgaḥ
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga nafsu ragawi merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.12 ] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ dveṣaḥ
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga kebencian merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.13] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ
samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ mohaḥ
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga delusi merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.14] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ
samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ mānaḥ
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga kesombongan merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.15] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ
samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ lobhaḥ
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga keserakahan merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.16] Yathā hy agāraṁ ducchannaṁ vṛṣṭiḥ
samatibhindati,
evaṁ hy abhāvitaṁ cittaṁ tṛṣṇā
samatibhindati.
Seperti
halnya air hujan merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan buruk,
demikianlah juga nafsu merembes ke dalam pikiran yang tidak terkembang.
[31.17] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ rāgo na
vyatibhindati.
Seperti
halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga nafsu ragawi tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang
dengan baik.
[31.18] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ dveṣo na
vyatibhindati.
Seperti
halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga kebencian tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang
dengan baik.
[31.19] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ moho na
vyatibhindati.
Seperti
halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga delusi tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan
baik.
[31.20] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ māno na
vyatibhindati.
Seperti
halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga kesombongan tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang
dengan baik.
[31.21] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ lobho na
vyatibhindati.
Seperti
halnya air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga keserakahan tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang
dengan baik.
[31.22] Yathā hy agāraṁ succhannaṁ vṛṣṭir na
vyatibhindati,
evaṁ subhāvitaṁ cittaṁ tṛṣṇā na
vyatibhindati.
Seperti halnya
air hujan tidak merembes ke dalam suatu rumah yang diatapi dengan baik,
demikianlah juga nafsu tidak merembes ke dalam pikiran yang terkembang dengan
baik.
[31.23] Manaḥpūrvaṅgamā dharmā, manaḥśreṣṭhā
manojavāḥ,
manasā hi praduṣṭena bhāṣate vā karoti vā,
tatas taṁ duḥkham anveti, cakraṁ vā vahataḥ
padam.
Pikiran
mendahului pemikiran-pemikiran, pikiran adalah pemimpin mereka, mereka didorong
dengan pikiran, ketika seseorang berbicara atau berperilaku dengan suatu
pikiran buruk, melalui itulah, penderitaan mengikuti seseorang, seperti sebuah
roda mengikuti kaki kerbau.
[31.24] Manaḥpūrvaṅgamā dharmā manaḥśreṣṭhā manojavāḥ,
manasā hi prasannena bhāṣate vā karoti vā,
tatas taṁ sukham anveti cchāyā vā hy
anugāminī.
Pikiran
mendahului pemikiran-pemikiran, pikiran adalah pemimpin mereka, mereka didorong
dengan pikiran, ketika seseorang berbicara atau berperilaku dengan suatu
pikiran murni, melalui itulah kebahagiaan mengikuti seseorang seperti sebuah
bayangan yang tidak pergi.
[31.25] Nāprasannena cittena duṣṭena kṣubhitena vā,
Dharmo hi śakyam ājñātuṁ saṁrambhabahulena
vā.
Tidak dengan
pikiran yang tanpa keyakinan, rusak, gelisah, atau sangat tidak sabaran
seseorang dapat memahami Dharma.
[31.26] Vinīya yas tu saṁrambham aprasādaṁ ca
cetasā,
āghātaṁ caiva niḥsṛjya, prajānīyāt subhāṣitam.
Namun
seseorang yang melenyapkan pikiran ketidak-sabaran dan tanpa keyakinan, dan
melenyapkan pembunuhan, dapat mengetahui apa yang diucapkan dengan baik.
[31.27] Na pratyanīkasāreṇa suvijñeyaṁ subhāṣitam,
upakliṣṭena cittena saṁrambhabahulena vā.
Apa yang
diucapkan dengan baik tidak dapat diketahui dengan mudah oleh seseorang yang
memiliki esensi permusuhan, atau dengan suatu pikiran tercemar yang sangat
tidak sabaran.
[31.28] Anavasthitacittasya, Saddharmam avijānataḥ,
pāriplavaprasādasya, prajñā na paripūryate.
Bagi
seseorang yang memiliki pikiran yang tidak mantap, yang tidak mengetahui Dharma
Sejati, yang keyakinannya terguncang, kebijaksanaan tidak terpenuhi.
[31.29] Srotāṁsi yasya ṣaṭtiṁśan manaḥprasravaṇāni hi,
vahanti nityaṁ durdṛṣṭeḥ saṁkalpair gredhaniḥśritaiḥ.
Bagi
seseorang yang padanya tiga puluh enam arus pikiran mengalir, bagi seseorang
dengan suatu pandangan salah, ia terus menerus dibawa oleh niat-niatnya yang
berlandaskan nafsu.
[31.30] Ratim anusṛtam indriyānugaṁ
puruṣaṁ cittavaśānuvartakam,
yaśa iha hi jahāti sarvadā,
drumam iva śīrṇaphalaṁ yathāṇḍajaḥ.
Seseorang
yang bersenang dalam mengejar dan mengikuti indera-indera, yang menuruti
pikirannya, selalu meninggalkan kemahsyurannya di sini, seperti seekor burung
meninggalkan sebatang pohon dengan buah yang layu.
[31.31] Ātāpī vihara tvam apramatto,
mā te kāmaguṇo matheta cittam,
mā lohaguḍāṁ gileḥ pramattaḥ,
krandaṁ vai narakeṣu pacyamānaḥ.
Engkau harus
berdiam dengan tekun, penuh perhatian, jangan biarkan untaian nafsu mengganggu
pikiranmu, janganlah, lalai, menelan suatu bola besi panas, tentu ada teriakan,
ketika tersiksa di neraka.
[31.32] Utthānakāleṣu nihīnavīryo,
vācā balī tv ālasiko nirāśaḥ,
sadaiva saṁkalpahataḥ kusīdo,
jñānasya mārgaṁ satataṁ na vetti.
Orang yang
kurang bersemangat ketika waktunya bersemangat, kuat dalam ucapan, namun malas,
tanpa niatan, selalu lamban, dengan tekad yang hancur, ia tidak akan pernah
mengetahui jalan menuju pengetahuan.
[31.33] Sthūlāṁ vitarkān, atha vāpi sūkṣmāṁ,
samudgatāṁ mānasasaṁplavārtham,
vitarkayaṁ vai satataṁ vitarkān,
etāṁ sadā dhāvati bhrāntacittaḥ.
Apakah
terdapat pikiran-kasar, atau bahkan yang halus, mereka muncul untuk tujuan
membanjiri pikiran, terus menerus memikirkan pikiran-pikiran ini, pikiran yang
tidak terlatih selalu berkelana.
[31.34] Etāṁs tu vidvāṁ manaso vitarkān,
ātāpavāṁ saṁvaravāṁ smṛtātmā,
jahāty aśeṣān apunarbhavāya,
samāhito dhyānarataḥ sumedhāḥ.
Namun
setelah memahami pemikiran-pemikiran ini dari pikiran, orang yang tekun,
terkendali, penuh perhatian pada dirinya sendiri, meninggalkannya sepenuhnya
demi tidak adanya kemenjadian lagi, orang yang tenang, orang yang cerdas,
bersenang dalam meditasi.
[31.35] Kumbhopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,
nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,
yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,
jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.
Memahami
tubuh ini rapuh seperti sebuah vas, membentuk pikiran seperti sebuah benteng,
seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah
keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.
[31.36] Phenopamaṁ kāyam imaṁ viditvā,
nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,
yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,
jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.
Memahami
tubuh ini seperti buih, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang
seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu,
dan tidak seharusnya melekat.
[31.37] Kumbhopamaṁ lokam imaṁ viditvā
nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,
yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,
jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.
Memahami
dunia ini rapuh seperti sebuah vas, membentuk pikiran seperti sebuah benteng,
seseorang seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah
keberhasilanmu, dan tidak seharusnya melekat.
[31.38] Phenopamaṁ lokam imaṁ viditvā
nagaropamaṁ cittam adhiṣṭhitaṁ ca,
yudhyeta Māraṁ prajñāyudhena,
jitaṁ ca rakṣed, aniveśanaḥ syāt.
Memahami
dunia ini seperti buih, membentuk pikiran seperti sebuah benteng, seseorang
seharusnya melawan Māra dengan senjata kebijaksanaan, jagalah keberhasilanmu,
dan tidak seharusnya melekat.
[31.39] Saṁbodhyaṅgeṣu yeṣāṁs tu samyak cittaṁ
subhāvitam,
ādānaṁ pratiniḥsṛjya, cānupādāyam āśritāḥ,
kṣīṇāsravā vāntadoṣās, te loke parinirvṛtāḥ.
Namun bagi
mereka yang dengan benar mengembangkan pikiran dalam faktor-faktor Pencerahan
Sempurna, setelah meninggalkan kemelekatan, dan bergantung pada
ketidak-melekatan, tanpa kekotoran, setelah menghilangkan kesalahan-kesalahan,
mereka sepenuhnya terbebaskan di dunia.
[31.40] Svacittam anurakṣaṁ vai svavālaṁ camarī
yathā,
bhūteṣu ca dayāpannaḥ, sukhān na parihīyate.
Jagalah
pikiranmu sendiri seperti seekor Yak betina menjaga ekornya sendiri, penuh
simpati terhadap para makhluk, ia tidak akan terjatuh dari kebahagiaan.
[31.41] Etaṁ nāgasya Nāgena tv īṣādantasya hastinaḥ,
sameti cittaṁ cittena: yad eko ramate vane.
Dalam hal
ini, pikiran Nāga (makhluk besar) gajah bertanduk setuju dengan pikiran Nāga
Sang Buddha: Bahwa suatu Nāga bersenang dalam kesendirian di hutan.
[31.42] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,
maitraḥ sa sarvasatveṣu vairaṁ tasya na kena
cit.
Orang yang,
dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap
para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam
bentuk apapun pada dirinya sehubungan
dengan semua makhluk.
[31.42A] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,
maitraḥ sa sarvaprāṇeṣu vairaṁ tasya na kena
cit.
Orang yang,
dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap
para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam bentuk
apapun pada dirinya sehubungan dengan
semua makhluk yang bernafas.
[31.42B] Avyāpannena cittena yo bhūtāny anukampate,
maitraḥ sa sarvabhūteṣu vairaṁ tasya na kena
cit.
Orang yang,
dengan pikiran yang terbebas dari kebencian, memiliki belas kasihan terhadap
para makhluk, orang itu dengan cinta kasih tidak memiliki permusuhan dalam
bentuk apapun pada dirinya sehubungan
dengan semua makhluk hidup.
[31.43] Ekam api cet prāṇam aduṣṭacitto,
maitrāyate, kuśalaṁ tena hi syāt,
sarvāṁs tu satvāṁ manasānukampaṁ
prabhūtam āryaḥ prakaroti puṇyam.
Bahkan jika,
dengan pikiran yang tidak rusak, seseorang memiliki cinta kasih terhadap suatu
makhluk yang bernafas, melalui itu seseorang akan memiliki kebajikan, namun
dengan memiliki suatu pikiran belas kasihan kepada semua makhluk seorang Mulia
membentuk banyak jasa kebajikan.
[31.44–31.45]
Yo hy udagreṇa cittena tv adīnena sadā
naraḥ,
bhāvayet kuśalāṁ dharmāṁ, yogakṣemasya
prāptaye,
śāntam asya mano bhavati, śāntā vāk
kāyakarma ca,
samyagājñāvimuktasya, hy upaśāntasya bhikṣuṇaḥ.
Orang itu
yang, dengan batin yang tergugah, selalu tersenyum, yang mengembangkan pikiran
kebajikan, demi pencapaian keamanan, pikirannya tenang, ucapan dan perbuatannya
juga tenang, bagi Bhikṣu yang
terbebas dengan pengetahuan benar adalah sungguh menenangkan.
[31.46] Pañcāṅgikena tūryeṇa na ratir bhavati tādṛśī,
yādṛśy ekāgracittasya, samyag Dharmāṁ
vipaśyataḥ.
Tidak ada
kenikmatan seperti dengan grup musik lima suara, seperti halnya bagi suatu
pikiran yang terfokus, yang memiliki penglihatan benar tentang Dharma.
[31.47] Sukhaṁ svapanti munayo, na te śocanti
māmikām,
yeṣāṁ dhyānarataṁ cittaṁ, kāmas teṣāṁ na
vidyate.
Para
bijaksana tidur dengan bahagia, mereka tidak bersedih atas apa yang “milikku”,
bagi mereka yang pikirannya bersenang dalam meditasi, nafsu inderawi tidak
muncul bagi mereka.
[31.48] Sukhaṁ modanti munayo, na te śocanti
māmikām,
yeṣāṁ dhyānarataṁ cittaṁ, vartmas teṣāṁ na
vidyate.
Para
bijaksana tidur dengan bahagia, mereka tidak bersedih atas apa yang “milikku”,
bagi mereka yang pikirannya bersenang dalam meditasi, jejak tidak muncul bagi
mereka.
[31.49] Yasya śailopamaṁ cittaṁ, sthitaṁ
nānuprakampate,
viraktaṁ rajanīyebhyaḥ, kopanīye na kupyate,
yasyaivaṁ bhāvitaṁ cittaṁ, kutas taṁ duḥkham
eṣyati?
Bagi orang
yang pikirannya seperti sebuah gunung, stabil, tidak bergejolak, tidak tertarik
dengan apa yang menarik, tidak gelisah pada apa yang menggelisahkan, bagi orang
yang pikirannya terkembang demikian, dalam cara apakah penderitaaan datang
kepadanya?
[31.50] Nopavādī nopaghātī, prātimokṣe ca saṁvaraḥ,
mātrajñatā ca bhakteṣu, prāntaṁ ca
śayanāsanam,
adhicitte samāyoga – etad Buddhasya śāsanam.
Tidak
menemukan celaan dan tidak melukai, terkendali sehubungan dengan aturan,
mengetahui ukuran yang benar dalam hal makan, hidup dalam suatu kediaman
terasing, melatih pikiran yang lebih tinggi – inilah ajaran Sang Buddha.
[31.51] Cittanimittasya kovidaḥ, pravivekasya rasaṁ
prajānakaḥ,
dhyāyī nipakaḥ pratismṛto, vetti prītisukhaṁ
nirāmiṣam.
Orang yang
terpelajar dalam gambaran pikiran, yang mengenal rasa keterasingan, sang
meditator, penyelidik, dan penuh perhatian, orang itu mengetahui kebahagiaan
dan kegembiraan adiduniawi.
[31.52] Manaś ca yo rakṣati bhāṣitaṁ ca,
ceṣṭe ca kāyasya sadaiva yuktaḥ,
sa prāpya śokaṁ hi na duḥkhitaḥ syāt,
satyasthitaḥ satyavidaḥ sumedhāḥ.
Orang yang
menjaga baik pikiran dan ucapan, dan selalu mengendalikan jasmani dan
pergerakannya, orang bijaksana itu, bahkan setelah menghadapi kesedihan tidak
akan menderita, ia teguh dalam kebenaran, mengetahui kebenaran.
[31.53] Arakṣitena cittena, mithyādṛṣṭihatena ca,
stīnamiddhābhibhūtena vaśaṁ mṛtyor
nigacchati.
Dengan
pikiran yang tidak terlindungi, dan terpukul dengan pandangan salah, dengan
diliputi oleh kelambanan dan kantuk seseorang datang ke dalam pengaruh
kematian.
[31.54] Tasmād rakṣitacittaḥ syāt, samyaksaṁkalpagocaraḥ,
samyagdṛṣṭipuraskāro, jñātvā
caivodayavyayam.
Stīnamiddhābhibhūr bhikṣuḥ sarvadurgatayo
jahet.
Karena
itulah seseorang seharusnya melindungi pikiran, seseorang yang kediamannya adalah
pikiran benar, setelah meletakkan pandangan benar di depan, mengetahui
kemunculan dan kejatuhan. Seorang Bhikṣu yang
mengatasi kelambanan dan kantuk akan meninggalkan segala alam yang buruk.
[31.55] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata,
mā pramadyata,
cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā narakeṣu
pacyate.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di neraka.
[31.56] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata,
mā pramadyata,
cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā tīryakṣu
pacyate.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di antara para
binatang.
[31.57] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata,
mā pramadyata,
cittena hi vañcitā prajā, hy ekatyā Preteṣu
pacyate.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
karena generasi ini ditipu oleh pikiran, mereka tentu tersiksa di antara para
Preta.
[31.58] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata,
mā pramadyata,
citte tu surakṣite prajā, hy ekatyā manujeṣu
modate.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu bergembira
diantara para manusia.
[31.59] Cittasya hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata,
mā pramadyata,
citte tu surakṣite prajā, hy ekatyā svargeṣu
modate.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu bergembira
di alam surga.
[31.60] Cittasya
hi saṁyamaḥ sukhaṁ, cittaṁ rakṣata, mā pramadyata,
citte tu
surakṣite prajā, hy ekatyā Nirvāṇam āpnute.
Tentu saja
pengendalian pikiran adalah baik, jagalah pikiran, janganlah menjadi lengah,
namun ketika generasi ini menjaga pikiran dengan baik, mereka tentu mencapai Nirvāṇa.
Cittavargaḥ,
31
Bab tentang
Pikiran, Yang Ketiga Puluh Satu
32. Bhikṣuvarga
Bab tentang
Bhikṣu
(82 Syair)
[32.1] Piṇḍacārikāya bhikṣave,
hy ātmabharāya nānyapoṣiṇe,
Devāḥ spṛhayanti tāyine,
hy upaśāntāya sadā smṛtātmane.
Seorang Bhikṣu
pengumpul derma, menyokong diri sendiri, tidak menyokong orang lain, para Deva
iri dengan seseorang demikian, seorang damai yang selalu penuh perhatian pada
dirinya sendiri.
[32.2] Piṇḍapātikāya bhikṣave,
hy ātmabharāya nānyapoṣiṇe,
Devāḥ spṛhayanti tāyine,
na tu satkārayaśo ’bhikāṅkṣiṇe.
Kumpulkanlah
derma makan para Bhikṣu, sokonglah diri sendiri, jangan menyokong orang lain,
para Deva iri dengan seseorang demikian, namun tidak dengan seseorang yang
mencari kehormatan dan ketenaran.
[32.3] Sarvakarmajahasya bhikṣuṇo,
dhunvānasya puraskṛtaṁ rajaḥ,
amamasya sadā sthitātmano,
hy artho nāsti janasya lāpanam.
Bagi seorang
Bhikṣu yang meninggalkan segala perbuatan, yang menyingkirkan debu apa yang
telah diselesaikan sebelumnya, yang tidak egois, selalu stabil, berbicara
kepada orang-orang bukanlah kebutuhan.
[32.4] Tudanti vācābhir asaṁyatā janāḥ,
śarair hi saṁgrāmagataṁ yathā gajam,
śrutvā tu vācāṁ paruṣām udīritām,
adhivāsayed bhikṣur aduṣṭacittaḥ.
Orang-orang
yang tidak terkendali menyerang dengan kata-kata, seperti mereka menyerang
seekor gajah yang pergi ke pertempuran dengan anak panah, namun setelah
mendengar bahwa ucapan kasar yang terucapkan, seorang Bhikṣu harus
menahankannya dengan pikiran yang tidak rusak.
[32.5] Yas tv alpajīvī laghur ātmakāmo,
yatendriyaḥ sarvagatiḥ pramuktaḥ,
anokasārī hy amamo nirāśaḥ,
kāmaṁjahaś, caikacaraḥ – sa bhikṣuḥ.
Namun orang
yang hidup dengan yang sedikit, ringan, menginginkan kebaikannya sendiri,
dengan indera-indera yang terkendali, seseorang terbebas dari segala tujuan,
tanpa rumah, tanpa ego, tanpa kerinduan, setelah meninggalkan nafsu indera,
hidup menyendiri – orang itu adalah seorang Bhikṣu.
[32.6] Mātraṁ bhajeta pratirūpaṁ, śuddhājīvo bhavet
sadā,
pratisaṁstāravṛttiḥ syād, ācārakuśalo
bhavet,
tataḥ prāmodyabahulaḥ, smṛto bhikṣuḥ
parivrajet.
Seseorang
seharusnya mengikuti ukuran yang sesuai, seseorang seharusnya selalu memiliki
penghidupan yang murni, seseorang seharusnya bersikap ramah, seseorang
seharusnya terampil dalam perilaku, banyak kebahagiaan karena hal itu, seorang
Bhikṣu harus berkelana dengan penuh perhatian.
[32.7] Hastasaṁyataḥ pādasaṁyato,
vācāsaṁyataḥ sarvasaṁyataḥ,
ādhyātmarataḥ samāhito,
hy ekaḥ saṁtuṣito: hi yaḥ sa bhikṣuḥ.
Seseorang
yang terkendali dalam tangan, terkendali dalam kaki, terkendali dalam ucapan,
terkendali dalam apapun, bersenang secara internal, tenang, menyendiri, berpuas
diri: Orang itulah yang adalah seorang Bhikṣu.
[32.8] Dharmārāmo Dharmarato Dharmam evānucintayan,
Dharmaṁ cānusmaraṁ bhikṣur, Dharmān na
parihīyate.
Menikmati
kenikmatan dalam Dharma, bersenang dalam Dharma, merefleksikan hanya pada
Dharma, seorang Bhikṣu yang mengingat Dharma, tidak akan terjatuh dari Dharma.
[32.9] Śunyāgāraṁ praviṣṭasya, prahitātmasya bhikṣuṇaḥ,
amānuṣā ratir bhavati, samyag dharmāṁ
vipaśyataḥ.
Bagi
seseorang yang telah mamasuki suatu tempat yang kosong, seorang Bhikṣu yang
mengerahkan dirinya sendiri, yang memiliki penglihatan benar dalam fenomena,
terdapat kenikmatan adimanusiawi.
[32.10] Yato yataḥ saṁpṛśati skandhānām udayavyayam,
prāmodyaṁ labhate tatra, prītyā sukham
analpakam,
tataḥ prāmodyabahulaḥ, smṛto bhikṣuḥ
parivrajet.
Bagaimanapun
dan kapanpun seseorang sadar atas kemunculan dan kehancuran komponen-komponen
jasmani dan batin, seseorang memperoleh kegembiraan di sana, dan melalui
sukacita yang bukanlah suatu kebahagiaan kecil, berlimpah dalam sukacita karena
hal itu, seorang Bhikṣu haruslah berkelana dengan penuh perhatian.
[32.11] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ rāgakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na
prakampate.
Bahkan
seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah
seorang Bhikṣu, melalui penghancuran nafsu ragawi, tidak teguncangkan, seperti
sebuah gunung.
[32.12] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ dveṣakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na
prakampate.
Bahkan
seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah
seorang Bhikṣu, melalui penghancuran kebencian, tidak teguncangkan, seperti
sebuah gunung.
[32.13] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ mohakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na
prakampate.
Bahkan seperti
sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah seorang Bhikṣu,
melalui penghancuran delusi, tidak teguncangkan, seperti sebuah gunung.
[32.14] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ mānakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na prakampate.
Bahkan
seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah
seorang Bhikṣu, melalui penghancuran kesombongan, tidak teguncangkan, seperti
sebuah gunung.
[32.15] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ lobhakṣayād bhikṣuḥ, śailavan na
prakampate.
Bahkan
seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah
seorang Bhikṣu, melalui penghancuran keserakahan, tidak teguncangkan, seperti
sebuah gunung.
[32.16] Yathāpi parvataḥ śailo vāyunā na prakampate,
evaṁ tṛṣṇākṣayād bhikṣuḥ, śailavan na
prakampate.
Bahkan
seperti sebuah gunung berbatu tidak terguncangkan oleh angin, demikianlah
seorang Bhikṣu, melalui penghancuran nafsu, tidak teguncangkan, seperti sebuah
gunung.
[32.17] Yasya saṁnicayo nāsti, yasya nāsti
mamāyitam,
asantaṁ śocate naiva, sa vai bhikṣur
nirucyate.
Bagi
seseorang yang tidak memiliki timbunan, yang tidak menganggap apapun sebagai
“milikku”. Yang tidak bersedih pada apa yang tidak eksis, ia tentu disebut
seorang Bhikṣu.
[32.18] Bhikṣur na tāvatā bhavati yāvatā bhikṣate
parān,
veśmāṁ dharmāṁ samādāya bhikṣur bhavati na
tāvatā.
Seseorang
bukanlah seorang Bhikṣu karena meminta makanan dari orang lain, seseorang juga
bukanlah seorang Bhikṣu karena menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah.
[32.19] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ ca prahāya,
brahmacaryavān,
viśreṇayitvā carati, sa vai bhikṣur
nirucyate.
Namun
seseorang yang menjalani kehidupan suci yang, meninggalkan baik kebajikan
maupun keburukan, yang mengembara dengan bebas dari perkumpulan, orang itu
tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.20] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno
Buddhaśāsane,
adhigacchet padaṁ śāntam, asecanakadarśanam.
Seorang Bhikṣu
yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, dapat
mencapai keadaan kedamaian, penglihatan yang tidak rusak.
[32.21] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno
Buddhaśāsane,
adhigacchet padaṁ śāntam, saṁskāropaśamaṁ
sukham.
Seorang Bhikṣu
yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, dapat
mencapai keadaan kedamaian, kebahagiaan dalam penenangan segala yang
terkondisi.
[32.22] Maitrāvihārī yo bhikṣuḥ, prasanno
Buddhaśāsane,
abhavyaḥ parihāṇāya, Nirvāṇasyaiva so
’ntike.
Seorang Bhikṣu
yang berdiam dalam cinta kasih, memiliki keyakinan dalam Ajaran Buddha, tidak dapat
terjatuh, orang itu tentu dekat dengan Nirvāṇa.
[32.23] Udagracittaḥ sumanā, hy abhibhūya
priyāpriyam,
prāmodyabahulo bhikṣur, duḥkhakṣayam
avāpnuyāt.
Dengan
pikiran yang tergugah dan bahagia, setelah mengatasi apa yang dicintai dan
tidak dicintai, seorang Bhikṣu, berlimpah dalam kebahagiaan, seharusnya
mencapai penghancuran penderitaan.
[32.24] Śāntakāyaḥ ⸱ ⸱ ⸱ śāntavāk susamāhitaḥ,
vāntalokāmiṣo bhikṣur upaśānto nirucyate.
Tenang dalam
jasmani ⸱ ⸱ ⸱ tenang dalam ucapan, benar-benar tenang, setelah menyingkirkan
keduniawian, seorang Bhikṣu disebut orang yang tenang.
[32.25] Nāsty aprajñasya vai dhyānaṁ, prajñā
nādhyāyato ’sti ca,
yasya dhyānaṁ tathā prajñā sa vai Nirvāṇasāntike.
Tidak ada
konsentrasi (Dhyana) bagi seseorang
tanpa kebijaksanaan, dan tidak ada kebijakasanaan bagi seseorang tanpa
konsentrasi, orang yang memiliki baik konsentrasi dan kebijaksanaan tentu dekat
dengan Nirvāṇa.
[32.26] Tasmād dhyānaṁ tathā prajñām anuyujyeta paṇḍitaḥ,
tasyāyam ādir bhavati, tathā prājñasya bhikṣuṇaḥ.
Oleh karena
itu orang bijaksana harus mengerahkan dirinya pada konsentrasi dan pada
kebijaksanaan, inilah yang paling pertama baginya dan bagi seorang Bhikṣu yang
bijaksana.
[32.27] Saṁtuṣṭir indriyair guptiḥ, prātimokṣe ca saṁvaraḥ,
mātrajñatā ca bhakteṣu, prāntaṁ ca
śayanāsanam,
adhicitte samāyogaṁ – yasyāsau bhikṣur
ucyate.
Kepuasan
diri, menjaga indera-indera, pengendalian sehubungan dengan prātimokṣa, mengetahui ukuran benar
dalam hal makan, sebuah kediaman terasing, tekun dalam pikiran yang lebih tinggi
– bagi orang itu ia disebut seorang Bhikṣu.
[32.28] Yasya kāyena vācā ca manasā ca na duṣkṛtam,
kalyāṇaśīlam āhus taṁ, hrīmantaṁ bhikṣum
uttamam.
Bagi
seseorang yang tidak memiliki perbuatan salah dari jalur jasmani, ucapan dan
pikiran, mereka katakan bahwa Bhikṣu itu memiliki moralitas yang indah,
memiliki rasa malu (atas perbuatan salah), dan adalah seorang Bhikṣu yang
terunggul.
[32.29] Dharmāḥ subhāvitā yasya saptasaṁbodhapakṣikāḥ,
kalyāṇadharmam āhus, taṁ sadā bhikṣuṁ
samāhitam.
Bagi
seseorang yang padanya tujuh hal yang mengarah ke Pencerahan sepenuhnya
terkembang, mereka katakan bahwa Bhikṣu itu memiliki kualitas yang indah, yang
selalu tenang.
[32.30] Ihaiva yaḥ prajānāti duḥkhasya kṣayam ātmanaḥ,
kalyāṇaprajñam āhus taṁ, sadā śīlam anāsravam.
Seseorang
yang mengetahui bahgi dirinya sendiri kehancuran penderitaan di sini, mereka
katakan bahwa orang itu memiliki kebijaksanaan yang indah, selalu bermoral,
tanpa kekotoran.
[32.31–32.32]
Na śīlavratamātreṇa, bahuśrutyena vā punaḥ,
tathā samādhilābhena viviktaśayanena vā –
bhikṣur viśvāsam āpadyed aprāpte hy āsravakṣaye,
spṛśet tu Saṁbodhisukham, akāpuruṣasevitam.
Bukan
melalui moralitas atau sumpah semata, atau juga melalui banyak belajar, atau
melalui pencapaian konsentrasi, atau melalui rencana berdiam – seorang Bhikṣu
seharusnya tidak merasa yakin ketika penghancuran kekotoran belum tercapai,
namun ia seharusnya mengalami kebahagiaan Pencerahan Sempurna, yang tidak
dipraktekkan oleh orang jahat.
[32.33] Tāpajāto hy ayaṁ lokaḥ skandhā nātmeti
manyate,
manyate yena yenāhaṁ, tat tad bhavati
cānyathā.
Dunia ini,
terlahir dari penyiksaan, tidak menganggap komponen batin dan jasmani sebagai
bukan diri, dengan apapun seseorang menganggapnya sebagai Aku, hal itulah yang
menjadi orang lain.
[32.34] Loko ’yam anyathābhūto, bhavasakto, bhave
rataḥ,
bhavābhinandī satataṁ, bhavān na
parimucyate.
Dunia ini,
menjadi orang lain, melekat pada kemenjadian, memiliki kesenangan dalam
kemenjadian, selalu gembira dalam kemenjadian, (dunia) ini tidak sepenuhnya terbebas
dari kemenjadian.
[32.35] Yan nandate sa hi bhavo, duḥkhasya sa
bibheti ca,
uṣyate bhavahānāya brahmacaryaṁ mamāntike.
Kemenjadian
apapun yang disenangi seseorang, ia takut akan penderitaan, kehidupan suci
dijalankan dihadapanku demi penghancuran kemenjadian.
[32.36] Ye bhavena bhavasyaiva prāhur niḥsaraṇaṁ
sadā,
aniḥsṛtāṁ bhavā sarvāṁs tāṁ vadāmi
sadā-v-aham.
Terdapat
mereka yang selalu mengatakan bahwa jalan keluar dari kemenjadian adalah
melalui kemenjadian, namun Aku selalu mengatakan mereka tidak terbebas dari
segala kemenjadian.
[32.37] Pratītya duḥkham upadhiṁ bhavaty – upadhisaṁbhavam,
kṣayāt sarvopadhīnāṁ tu nāsti duḥkhasya saṁbhavaḥ.
Dikondisikan
oleh kemelekatan terdapat penderitaan – berawal mula dari kemelekatan, melalui
penghancuran segala kemelekatan tidak terdapat awal mula penderitaan.
[32.38] Anityā hi bhavāḥ sarve duḥkhā vipariṇāminaḥ,
paśyataḥ prajñayā, sarve kṣīyante
nābhinanditāḥ.
Segala
kemenjadian adalah tidak kekal, penderitaan, dapat berubah, bagi seseorang yang
melihat ini dengan kebijaksanaan, mereka semua dihancurkan dan tidak disenangi.
[32.39] Nirvṛtasya sadā bhikṣor, āyatyām upaśāmyate,
abhibhūto bhavaḥ sarvo, duḥkhāntaḥ sa
nirucyate.
Bagi seorang
Bhikṣu yang selalu terbebas, bagi ia yang kemenjadian di masa depannya telah
berhenti, setelah mengatasi segala kemenjadian, itulah yang disebut akhir
penderitaan.
[32.40] Sadopaśāntacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau
Mārabandhanāt.
Bagi Bhikṣu
yang pikirannya selalu damai, yang telah memotong dasar kelahiran kembali,
setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang itu
terbebas dari belenggu Māra.
[32.41] Sadopaśāntacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.
Bagi Bhikṣu yang
pikirannya selalu damai, yang telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah
sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada
kemenjadian lagi.
[32.42] Anavasrutacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau
Mārabandhanāt.
Bagi Bhikṣu
yang pikirannya terbebas dari nafsu, yang telah memotong dasar kelahiran
kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran, orang
itu terbebas dari belenggu Māra.
[32.43] Anavasrutacittasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.
Bagi Bhikṣu
yang pikirannya terbebas dari nafsu, yang telah memotong dasar kelahiran
kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui kelahiran,
sekarang tidak ada kemenjadian lagi.
[32.44] Vikṣīnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau
Mārabandhanāt.
Bagi Bhikṣu
yang pikirannya telah sepenuhnya menghancurkan nafsu untuk kemenjadian, yang
telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan
transmigrasi melalui kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.
[32.45] Vikṣīnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.
Bagi Bhikṣu
yang pikirannya telah sepenuhnya menghancurkan nafsu untuk kemenjadian, yang
telah memotong dasar kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan
transmigrasi melalui kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.
[32.46] Ucchinnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, mukto ’sau
Mārabandhanāt.
Bagi Bhikṣu
yang telah memotong nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar
kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui
kelahiran, orang itu terbebas dari belenggu Māra.
[32.47] Ucchinnabhavatṛṣṇasya, vastucchinnasya bhikṣuṇaḥ,
vikṣīṇo jātisaṁsāro, nāstīdānīṁ punarbhavaḥ.
Bagi Bhikṣu
yang telah memotong nafsu untuk kemenjadian, yang telah memotong dasar
kelahiran kembali, setelah sepenuhnya menghancurkan transmigrasi melalui
kelahiran, sekarang tidak ada kemenjadian lagi.
[32.48] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca rāgakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya nafsu ragawi, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.49] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca dveṣakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya kebencian, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.50] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca mohakṣayaṁ prāptaḥ, sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya delusi, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.51] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca mānakṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya kesombongan, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.52] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca lobhakṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya keserakahan, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.53] Uttīrṇo yena vai paṅko, marditā grāmakaṇṭakāḥ,
yaś ca tṛṣṇākṣayaṁ prāptaḥ sa vai bhikṣur
nirucyate.
Seseorang
yang, setelah menyeberangi rawa, menghancurkan duri keduniawian, yang mencapai
hancurnya nafsu, orang itu tentu disebut seorang Bhikṣu.
[32.54] Yena jitā grāmakaṇṭakā,
hy ākrośāś ca vadhāś ca bandhanaṁ ca,
yaḥ parvatavat sthito hy aneyaḥ,
sukhaduḥkhena na vethate sa bhikṣuḥ
Seseorang
yang, dengan menjadi pemenang atas duri keduniawian, pelecehan, pembunuhan, dan
belenggu lainnya, orang yang berdiri tegak tanpa bergerak seperti sebuah
gunung, Bhikṣu itu tidak terguncang dengan kenikmatan dan kesakitan.
[32.55] Yo nātyasaraṁ na cātyalīyaṁ,
jñātvā vitatham imaṁ hi sarvalokam,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Seseorang
yang tidak berlebihan juga menahan diri, mengetahui seluruh dunia ini adalah
palsu, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan
kulit lamanya yang usang.
[32.56] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong nafsu ragawi sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa
memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.57] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong kebencian sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa
memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.58] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong delusi sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong
setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai
sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.59] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang memotong
kesombongan sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong
setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai
sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.60] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong keserakahan sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa
memotong setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan
pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.61] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,
bisapuṣpam iva jaleruhaṁ vigāhya,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong nafsu sepenuhnya, seperti seseorang yang memasuki suatu rawa memotong
setangkai teratai yang tumbuh di dalam air, Bhikṣu itu meninggalkan pantai
sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.62] Yas tūtpatitaṁ nihanti rāgaṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan nafsu ragawi yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun
ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini,
seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.63] Yas tūtpatitaṁ nihanti dveṣaṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan kebencian yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular
yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.64] Yas tūtpatitaṁ nihanti mohaṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan delusi yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular
yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.65] Yas tūtpatitaṁ nihanti mānaṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan kesombongan yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun
ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini,
seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.66] Yas tūtpatitaṁ nihanti lobhaṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan keserakahan yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun
ular yang menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini,
seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.67] Yas tūtpatitaṁ nihanti tṛṣṇāṁ,
visṛtaṁ sarpaviṣaṁ yathauṣadhena,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
menghancurkan nafsu yang telah muncul, seperti ia menghancurkan racun ular yang
menyebar dengan obat-obatan, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.68] Yo rāgam udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya nafsu ragawi, seperti suatu banjir bandang yang memotong
suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.69] Yo dveṣam udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya kebencian, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu
jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor
ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.70] Yo moham udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya delusi, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu
jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor
ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.71] Yo mānam udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya kesombongan, seperti suatu banjir bandang yang memotong
suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.72] Yo lobham udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya keserakahan, seperti suatu banjir bandang yang memotong
suatu jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti
seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.73] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,
naḍasetum iva sudurbalaṁ mahaughaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong sepenuhnya nafsu, seperti suatu banjir bandang yang memotong suatu
jembatan buluh yang rapuh, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor
ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.74] Tṛṣṇāṁ ya udācchinatty aśeṣaṁ,
saritāṁ śīghrajavām aśoṣayajñaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
memotong nafsu sepenuhnya, orang berpengetahuan yang mengeringkan arus yang
mengalir deras, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular
meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.75] Yaḥ kāmaguṇāṁ prahāya sarvāṁ,
chitvā kāmagatāni bandhanāni,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
meninggalkan segala untaian nafsu indera, setelah memotong belenggu yang
mengarah ke nafsu indera, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor
ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.76] Yo nīrvaraṇāṁ prahāya pañca,
tv anighaś chinnakathaṁkatho viśalyaḥ,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
meninggalkan lima rintangan batin, tanpa gangguan, yang telah memutus
keragu-raguan, dan tanpa anak panah, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini,
seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang usang.
[32.77] Yasya vitarkā vidhūpitās,
tv ādhyātmaṁ vinivartitā hy aśeṣam,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Bagi orang
yang menghalau pemikiran-pemikirannya, yang telah sepenuhnya berbalik secara
internal, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan
kulit lamanya yang usang.
[32.78] Yasya hi vanasā na santi ke cin,
mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
tanpa keinginan terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah hancur, Bhikṣu
itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya
yang usang.
[32.79] Yasya jvarathā na santi ke cin,
mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
tanpa demam terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah hancur, Bhikṣu itu
meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan kulit lamanya yang
usang.
[32.80] Yasyānuśayā na santi ke cin,
mūlaṁ cākuśalasya yasya naṣṭam,
sa tu bhikṣur idaṁ jahāty apāraṁ,
hy urago jīrṇam iva tvacaṁ purāṇam.
Orang yang
tanpa kecenderungan tersembunyi terhadap apapun, yang akar kejahatannya telah
hancur, Bhikṣu itu meninggalkan pantai sini, seperti seekor ular meninggalkan
kulit lamanya yang usang.
[32.81] Sa bhikṣur yasya śīlāni, sa dhyāyī yatra
śunyatā,
sa yogī yatra sātatyaṁ, tat sukhaṁ yatra
nirvṛtiḥ.
Orang itu
adalah seorang Bhikṣu yang memiliki moralitas, orang itu adalah seorang
meditator di mana terdapat kekosongan, orang itu adalah seorang Yogi di mana
terdapat upaya, terdapat kebahagiaaan di mana terdapat pembebasan.
Bhikṣuvargaḥ,
32
Bab tentang
Bhikṣu, yang Ketiga Puluh Dua
33. Brāhmaṇavarga
Bab tentang
Brāhmaṇa
(98 Syair)
[33.1] Na nagnacaryā, na jaṭā, na paṅkā,
no ’nāśanaṁ sthaṇḍilaśāyikā vā,
na rajomalaṁ notkuṭukapradhāṇaṁ,
śodheta martyaṁ hy avitīrṇakāṅkṣam.
Bukan dengan
berjalan telanjang, atau berambut gimbal, atau dengan lumpur, tidak berpuasa,
atau dengan berbaring pada dasar berbatu, tidak debu atau tanah, tidak berupaya
dalam posisi berjongkok, dapat memurnikan suatu makhluk yang tidak menyeberangi
keragu-raguan.
[33.2] Alaṁkṛtaś cāpi, careta dharmaṁ, k
ṣānto dānto niyato brahmacārī,
sarveṣu bhūteṣu nidhāya daṇḍaṁ,
sa Brahmaṇaḥ sa śramaṇaḥ sa bhikṣuḥ.
Bahkan jika
dihias, seseorang harus hidup dengan benar, menjadi sabar, terlatih,
terkendali, spiritual, setelah mengesampingkan tongkat terhadap semua makhluk,
ia adalah seorang Brāhmaṇa, ia adalah seorang Śramaṇa, ia adalah seorang Bhikṣu.
[33.3] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,
antareṇa viṣīdanti, hy aprāpyaivāsravakṣayam.
Beberapa Śramaṇa
dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, mereka menjadi
putus asa di pertengahan jalan, tidak mencapai penghancuran kekotoran.
[33.4] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,
vigṛhya vivadantīme bālā hy ekāntadarśinaḥ.
Beberapa Śramaṇa
dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, setelah
menggenggam dengan erat, perselisihan ini, mereka orang-orang dungu yang
melihat hanya dari satu sisi.
[33.5] Bhaveṣv eva hi sajyanta eke śramaṇabrāhmaṇāḥ,
antareṇa viṣīdanti, hy aprāpyaivottamaṁ
padam.
Beberapa Śramaṇa
dan Brāhmaṇa tentu melekat pada pandangan tentang kemenjadian, mereka menjadi
putus asa di pertengahan jalan, tidak mencapai kondisi tertinggi.
[33.6] Kiṁ te jaṭābhir durbuddhe, kiṁ cāpy ajinaśāṭibhiḥ?
Abhyantaraṁ te gahanaṁ, bāhyakaṁ
parimārjasi.
Mengapa
engkau membuat rambutmu gimbal, orang dungu, dan mengapa mengenakan kulit rusa?
Didalammu terdapat sebuah rimba, engkau hanya memoles yang diluar.
[33.6A] Kiṁ te jaṭābhir durbuddhe kiṁ cāpy ajinaśāṭibhiḥ?
Abhyantaraṁ te kaluṣaṁ, bāhyakaṁ
parimārjasi.
Mengapa
engkau membuat rambutmu gimbal, orang dungu, dan mengapa mengenakan kulit rusa?
Didalammu tidaklah murni, engkau hanya memoles yang diluar.
[33.7] Na jaṭābhir na gotreṇa na jātyā Brāhmaṇaḥ smṛtaḥ,
yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, sa śucir Brāhmaṇaḥ
sa ca.
Bukan karena
rambut gimbal, keluarga atau kasta seseorang diingat sebagai seorang Brāhmaṇa
sejati, yang padanya terdapat kebenaran dan Dharma, orang itu murni, dan orang
itu adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.8] Na jaṭābhir na gotreṇa na jātyā Brāhmaṇaḥ smṛtaḥ,
yas tu vāhayate pāpāny, aṇusthūlāni sarvaśaḥ
–
vāhitatvāt tu pāpānāṁ, Brāhmaṇo vai
nirucyate.
Bukan karena
rambut gimbal, keluarga atau kasta seseorang diingat sebagai seorang Brāhmaṇa
sejati, orang yang mengendalikan perbuatan jahat, kecil atau besar, dalam
segala cara – karena mengendalikan perbuatan jahat, orang itu sesungguhnya
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.9] Na muṇḍitena śramaṇo, na Bhoḥkāreṇa Brāhmaṇaḥ,
yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, Brāhmaṇaḥ śramaṇaḥ
sa ca.
Bukan dengan
kepala tercukur seseorang adalah seorang Śramaṇa, bukan dengan mengatakan ‘Bho’
seseorang adalah seorang Brāhmaṇa, bagi orang yang memiliki kebenaran dan
Dharma, orang itu adalah seorang Brāhmaṇa dan seorang Śramaṇa.
[33.10] Na muṇḍitena śramaṇo, na Bhoḥkāreṇa Brāhmaṇaḥ,
yas tu vāhayate pāpāny, aṇusthūlāni sarvaśaḥ
–
vāhitatvāt tu pāpānāṁ Brāhmaṇaḥ śramaṇaḥ sa
ca.
Bukan dengan
kepala tercukur seseorang adalah seorang Śramaṇa, bukan dengan mengatakan ‘Bho’
seseorang adalah seorang Brāhmaṇa, orang yang mengendalikan perbuatan jahat,
kecil dan besar, dalam segala cara – karena mengendalikan perbuatan jahat,
orang itu adalah seorang Brāhmaṇa dan seorang Śramaṇa.
[33.11] Nodakena śucir bhavati – bahv atra snāti vai
janaḥ!
Yasya satyaṁ ca Dharmaṁ ca, sa śucir Brāhmaṇaḥ
sa ca.
Bukan dengan
melalui air terdapat kemurnian – banyak orang berendam di sini! Yang padanya
terdapat kebenaran dan Dharma, orang itu adalah murni, dan orang itu adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.12] Pravāhya pāpakāṁ dharmāṁ, ye caranti sadā smṛtāḥ,
kṣīṇasaṁyojanā Buddhā, Brāhmaṇās te
prakīrtitāḥ.
Mereka yang,
dengan menyingkirkan pikiran jahat, selalu hidup berkesadaran, Para Tercerahkan
yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka disebut para Brāhmaṇa.
[33.13] Yo Brāhmaṇo vāhitapāpadharmo,
niṣkautilyo niṣkaṣāyaḥ sthitātmā,
vedāntagaś coṣitabrahmacaryaḥ,
kālenāsau brahmavādaṁ vadeta.
Brāhmaṇa itu
yang mengendalikan pikiran jahat, tidak berbohong, terbebas dari cela, stabil,
dengan pemahaman yang sempurna, kehidupan suci telah selesai, ketika di waktu
yang tepat orang itu dapat mengucapkan suatu kata tentang spiritualitas.
[33.14] Yasmiṁ na māyā vasate na māno,
yo vītalobho hy amamo nirāśaḥ,
praṇunnadoṣo hy abhinirvṛtātmā,
sa brāhmaṇaḥ sa śramaṇaḥ sa bhikṣuḥ.
Yang berdiam
tanpa menipu dan tanpa kesombongan, orang yang terbebas dari nafsu, tidak
egois, tanpa kerinduan, yang telah menyingkirkan cela, ia yang sepenuhnya
terbebaskan dengan dirinya sendiri, orang itu adalah seorang Brāhmaṇa, orang
itu adalah seorang Śramaṇa, orang itu adalah seorang Bhikṣu.
[33.15] Bravīmi Brāhmaṇaṁ nāhaṁ yonijaṁ mātṛsaṁbhavam,
Bhovādī nāma sa bhavati sa ced bhavati
sakiñcanaḥ,
akiñcanam anādānaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Aku tidak
menyatakan seseorang sebagai Brāhmaṇa melalui kelahiran dari rahim ibu
tertentu, orang itu hanyalah seseorang yang mengatakan ‘Bho’ jika ia memiliki
sesuatu, tidak memiliki apapun, tidak melekat, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.16] Yasya kāyena vācā ca manasā ca na duṣkṛtam,
susaṁvṛtaṁ tṛbhiḥ sthānair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Bagi
seseorang yang tidak melakukan perbuatan salah dengan jasmani, dengan ucapan,
atau dengan pikiran, terkendali dengan baik dalam tiga hal ini, orang itu tentu
Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.17] Yo ’karkaśāṁ vijñapanīṁ giraṁ nityaṁ prabhāṣate,
yayā nābhiṣajet kaś cid, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Orang yang
selalu mengucapkan ucapan yang instruktif dan tidak kasar, yang dengannya tidak
ada satupun yang tersinggung, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.18] Ākrośāṁ vadhabandhāṁś ca yo ’praduṣṭas titīkṣate,
kṣāntivratabalopetaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
tidak rusak dan menahankan ucapan kasar, hukuman, dan belenggu, dan diberkahi
dengan kekuatan tekad kesabaran, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.19] Akrodhanaṁ vratavantaṁ śīlavantaṁ
bahuśrutam,
dāntam antimaśārīraṁ – bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Tanpa kemarahan,
tekun, bermoral, terpelajar, terlatih, dalam tubuh terakhirnya – orang itu
tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.20] Asaṁsṛṣṭaṁ gṛhasthebhir, anagārais
tathobhayam,
anokasāriṇaṁ tuṣṭaṁ – bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Tidak
berbaur baik dengan perumah tangga atau dengan yang tanpa rumah, berkelana
tanpa rumah, berpuas diri – orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.21] Āgataṁ nābhinandanti, prakramantaṁ na
śocati,
saṅgāt Saṁgrāmajin mukto, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Mereka tidak
bersenang pada apa yang datang, ia tidak bersedih ketika seseorang pergi, Saṅgrāmajī (pemenang pertempuran),
terbebas dari kemelekatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.22] Āgataṁ nābhinandanti, prakramantaṁ na
śocati,
aśokaṁ virajaṁ śāntaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Mereka tidak
bersenang pada apa yang datang, ia tidak bersedih ketika seseorang pergi, tanpa
kesedihan, tanpa noda, damai, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.23] Ananyapoṣī hy ājñātā dāntaḥ sāre pratiṣṭitaḥ,
kṣīṇāsravo vāntadoṣo yaḥ, sa vai Brāhmaṇaḥ
smṛtaḥ.
Tidak
mendukung yang lain, berpengetahuan, terlatih, teguh dalam yang esensial, orang
itu yang menghancurkan kekotoran, setelah menyingkirkan cela, orang itu tentu
Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.24] Yasya pāram apāraṁ ca pārāpāraṁ na vidyate,
pāragaṁ sarvadharmāṇāṁ, bravīmi brāhmaṇaṁ hi
tam.
Baginya
pantai seberang, pantai sini atau keduanya tidak eksis, yang telah pergi
melampaui segala kondisi, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.25] Yas tu dīrghaṁ tathā hrasvam aṇusthūlaṁ
śubhāśubham,
loke na kiṁ cid ādatte, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Panjang,
pendek, kecil, besar, menarik atau tidak menarik, apapun di dunia tidak ada
yang digenggam, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.26] Yasya pāram apāraṁ ca pārāpāraṁ na vidyate,
asaktaṁ triṣu lokeṣu, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Baginya
pantai seberang, pantai sini atau keduanya tidak eksis, tidak melekat dalam
tiga alam, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.27] Ihaiva yaḥ prajānāti duḥkhasya kṣayam ātmanaḥ,
vītarāgaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
bahkan mengetahui di sini penghancuran penderitaannya sendiri, tanpa nafsu,
terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.28] Yas tu puṇyais tathā pāpair ubhayena na
lipyate,
aśokaṁ nirjvaraṁ śāntaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Orang yang
tidak terkotori baik oleh kebajikan maupun keburukan, tanpa kesedihan, tanpa
demam, damai, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.29] Yas tu puṇyaṁ ca pāpaṁ cāpy ubhau saṅgāv
upatyagāt,
saṅgātigaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
telah meninggalkan kemelekatan baik pada kebajikan dan keburukan, mengatasi
kemelekatan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.29A] Yasya paścāt pure cāpi madhye cāpi na
vidyate,
virajaṁ bandhanān muktaṁ,
bravīmi Brāhmaṇaṁ hi tam.
Yang padanya
masa lalu, masa depan, dan saat ini tidak ditemukan, tanpa noda, terbebas dari
belenggu, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.30] Vāri puṣkarapatreṇevārāgreṇeva sarṣapaḥ,
na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti air
dengan selembar daun teratai, seperti sebutir biji mustard dengan sebuah jarum,
orang yang tidak tidak terkotori dengan nafsu inderawi, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.31] Vāri puṣkarapatreṇevārāgreṇeva sarṣapaḥ,
na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti air
dengan selembar daun teratai, seperti sebutir biji mustard dengan sebuah jarum,
orang yang tidak tidak terkotori dengan kejahatan, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.31A] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy
anāvilaḥ,
na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti
halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang tidak
terkotori dengan nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.31B] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy
anāvilaḥ,
na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti
halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang tidak
terkotori dengan kejahatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.31C] Candro vā vimalaḥ śuddho, viprasanno hy
anāvilaḥ,
nandībhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Seperti
halnya bulan yang tanpa noda, murni, jernih, tanpa gangguan, orang yang
menghancurkan kebahagiaan dalam kemenjadian, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.32] Dhyāyinaṁ vītarajasaṁ kṛtakṛtyam anāsravam,
kṣīṇāsravaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seorang
meditator yang tanpa debu, yang telah menyelesaikan tugasnya, yang tanpa
kekotoran, dengan kekotoran dihancurkan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.33] Gambhīrabuddhiṁ medhāḍhyam, mārgāmārgeṣu
kovidam,
uttamārtham anuprāptaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
menyelidiki secara mendalam dan kaya dalam kecerdasan, terampil dalam apa yang
merupakan Jalan dan bukan jalan, yang telah mencapai tujuan tertinggi, orang
itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.34] Yas tu kaś cin manuṣyeṣu bhaikṣācaryeṇa
jīvati,
amamo ’hiṁsako nityaṁ, dhṛtimāṁ
brahmacaryavān,
ājñāya Dharmaṁ deśayati, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Namun
siapapun yang hidup diantara manusia dengan mencari derma makanan, selalu tidak
egois, tanpa kekerasan, tekun, menjalani kehidupan suci, yang, setelah
memahami, mengajarkan Dharma, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.35] Sarvakāmāṁ viprahāya yo ’nagāraḥ parivrajet,
kāmāsravavisaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang,
setelah meninggalkan segala nafsu indera, akan mengembara tanpa rumah, terlepas
dari kekotoran nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.36] Nikṣiptadaṇḍaṁ bhūteṣu traseṣu sthāvareṣu
ca,
yo na hanti hi bhūtāni, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Stelah
meletakkan tongkat yang digunakan terhadap makhluk-makhluk yang bergerak dan
tidak bergerak, orang yang tidak melukai makhluk-makhluk, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.37] Ākāśam iva paṅkena, rajasā candramā iva,
na lipyate yo hi kāmair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti
cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang tidak terkotori
oleh nafsu indera, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.38] Ākāśam iva paṅkena rajasā candramā iva,
na lipyate yo hi pāpair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seperti
cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang tidak terkotori
oleh kejahatan, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.38A] Ākāśam iva paṅkena rajasā candramā iva,
nandībhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Seperti
cakrawala dengan lumpur, seperti bulan dengan debu, orang yang telah
menghancurkan kebahagiaan dalam kemenjadian, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.39] Aviruddho viruddheṣu, tv āttadaṇḍeṣu nirvṛtaḥ,
hitānukampī bhūteṣu, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Tanpa
permusuhan diantara yang bermusuhan, yang tenang diantara mereka yang memegang
sebilah tongkat, berbelas-kasihan demi manfaat makhluk hidup, orang itu tentu
Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.40] Yasya rāgaś ca doṣaś ca māno mrakṣaś ca
śātitaḥ,
na lipyate yaś ca doṣair, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Bagi
seseorang yang telah melenyapkan nafsu ragawi, kebencian, kesombongan dan tipu
daya, orang yang tidak terkotori oleh cela, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.41] Ya imāṁ parikhāṁ durgāṁ saṁsāraugham
upatyagāt,
tīrṇaḥ pāragato dhyāyī, hy aneyo niṣkathaṁkathaḥ,
nirvṛtaś cānupādāya, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Bagi
seseorang yang telah meninggalkan rintangan ini, yang sulit untuk diseberangi,
banjir transmigrasi, yang menyeberang, pergi ke pantai seberang, sang
meditator, bebas dari nafsu dan keraguan, terbebas dan tanpa melekat, orang itu
tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.42] Na vidyate yasya tṛṣṇā cāsmiṁ loke pare ’pi
ca,
tṛṣṇābhavaparikṣīṇaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Bagi
seseorang yang padanya nafsu pada dunia ini dan selanjutnya tidak ditemukan,
bagi mereka yang nafsu pada kemenjadian telah dihancurkan, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.43] Na vidyate yasya cāśā hy asmiṁ loke pare ’pi
ca,
nirāśiṣaṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Bagi
seseorang yang padanya kerinduan pada dunia ini dan selanjutnya tidak
ditemukan, dengan tanpa kerinduan, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.44] Hitvā ratiṁ cāratiṁ ca śītībhūto niraupadhiḥ,
sarvalokābhibhūr dhīro, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Meninggalkan
kenikmatan dan bukan kenikmatan, dingin dan terbebas dari kemelekatan, orang
tekun yang mengatasi seluruh dunia, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.45] Hitvā mānuṣyakāṁ kāmāṁ, divyāṁ kāmān
upatyagāt,
sarvalokavisaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Meninggalkan
kenikmatan indera manusia, meninggalkan kenikmatan indera surgawi, dengan
terlepas pada seluruh dunia, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.46] Gatiṁ yasya na jānanti, Devagandharvamānuṣāḥ,
anantajñānasaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Bagi
seseorang yang tujuannya tidak diketahui para Deva, Gandharva, dan manusia –
Yang diberkahi dengan pengetahuan tiada akhir, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.47] Pūrvenivāsaṁ yo vetti, svargāpāyāṁś ca
paśyati,
atha jātikṣayaṁ prāpto, hy abhijñāvyavasito
muniḥ,
duḥkhasyāntaṁ prajānāti, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Orang yang
mengetahui kehidupan lampaunya, serta melihat surga dan kejatuhan, dan telah
mencapai penghancuran kelahiran, orang bijaksana, berhasil dalam pengetahuan
yang lebih luhur, yang mengetahui akhir penderitaan, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.48] Cyutiṁ yo vetti satvānām upapattiṁ ca
sarvaśaḥ,
asaktaḥ sugato buddho, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
mengetahui dalam segala cara kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk,
tanpa kemelekatan, bahagia dan sadar, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.49] Sarvasaṁyojanātīto yo vai na paritasyate,
asaktaḥ sugato buddho, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Orang yang
telah pergi melampaui segala belenggu tentulah tidak gemetar, tanpa
kemelekatan, bahagia dan sadar, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.50.i] Ṛṣabhaṁ pravaraṁ nāgaṁ, maharṣiṁ
vijitāvinam,
aneyaṁ snātakaṁ buddhaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Seorang
pemimpin, seorang Mulia, seorang besar, seorang penglihat, seorang pemenang,
bebas dari nafsu indera, suci dan tercerahkan, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.50.ii] Ṛṣabhaḥ pravaro nāgo, maharṣir vijitāvinaḥ,
yo ’neyaḥ snātako buddho, Brāhmaṇaṁ taṁ
bravīmy aham.
Seorang
pemimpin, seorang Mulia, seorang besar, seorang penglihat, seorang pemenang,
seorang bebas dari nafsu indera, suci dan tercerahkan, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.51.i] Sarvābhibhūṁ bhavātītam, oghatīrṇam
anāsravam,
pāraṁ gataṁ visaṁyuktaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Penakluk
segalanya, melampaui kemenjadian, setelah menyeberangi banjir, tanpa kekotoran,
pergi melampaui, terlepas, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.51.ii] Sarvābhibhūr bhavātīta, oghatīrṇo vināyakaḥ,
pārago hi visaṁyukto, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy
aham.
Penakluk
segalanya, melampaui kemenjadian, setelah menyeberangi banjir, seorang pemandu,
telah pergi menuju pantai seberang, terlepas, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.52.i] Gatābhidhyaṁ vītajalpaṁ,
pāpacittavivarjitam,
dhyāyinaṁ vītarajasaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Dengan
ketamakan dihilangkan, terbebas dari gosip, yang menyingkirkan pikiran jahat,
seorang meditator yang tanpa debu, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.52.ii] Nābhidhyāyen nābhijalpet pāpakānāṁ
vivarjayet,
āsīno virajā dhyāyī, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy
aham.
Seseorang
seharusnya tidak memiliki ketamakan, tidak mengucapkan gosip, menghindari
kejahatan, seorang meditator duduk bermeditasi, tanpa noda, orang itu tentu Aku
katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.53.i] Pāṁsukūladharaṁ bhikṣuṁ, kāmeṣu niravekṣiṇaṁ,
dhyāyantaṁ vṛkṣamūlasthaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Bhikṣu itu
yang memakai kain buangan, tidak mencari objek nafsu indera, yang duduk
bermeditasi di akar sebatang pohon, orang itu tentu Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.53.ii] Pāṁsukūladharo hrīmāṁ, kāmeṣu niravekṣakaḥ,
niṣaṇṇo vṛkṣamūle yo, Brāhmaṇaṁ taṁ bravīmy
aham.
Orang yang
memiliki rasa malu yang mengenakan kain buangan, tidak memperhatikan nafsu
indera, orang yang duduk di akar sebatang pohon, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.54] Yasyālayo nāsti sadā, yo jñātā niṣkathaṁkathaḥ,
amṛtaṁ caiva yaḥ prāpto, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Bagi
seseorang yang tidak pernah memiliki kemelekatan, yang, mengetahui, tanpa
keraguan, yang tentu telah mencapai tanpa kematian, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.55.i] Yasyālayo nāsti sadā, yo jñātā niṣkathaṁkathaḥ,
dūraṁgamaś caikacaro, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Bagi
seseorang yang tidak pernah memiliki kemelekatan, yang, mengetahui, tanpa
keraguan, yang tentu telah berkelana jauh dan hidup menyendiri, orang itu tentu
Aku katakan adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.55.ii] Dūraṁgamam ekacaram aśarīraṁ guhāśayam,
durdamaṁ ye damiṣyanti tenai ⸱ kasya Brāhmaṇam,
. . . . . . . . u . . . . . . . . . Brāhmaṇaṁ
taṁ bravīmy aham.
Berkelana
jauh, hidup menyendiri, tanpa jasmani, tersembunyi, mereka yang akan melatih
apa yang sulit untuk dilatih, dengannya Brāhmaṇa, . . . . . . . . . . . . . . .
. . . orang itu Aku katakan adalah Brāhmaṇa.
[33.56] Yeṣāṁ ca bhāvito mārgaḥ āryo hy aṣṭāṅgikaḥ
śivaḥ
sarvaduḥkhaprahāṇāya, lokeṣu Brāhmaṇā hi te.
Dan bagi
mereka yang telah mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan untuk meninggalkan
segala penderitaan, mereka tentu adalah para Brāhmaṇa di dunia.
[33.57.i] Arūpiṇaṁ sadā cittam asāram anidarśanam,
damayitvā hy abhijñāya, ye caranti sadā smṛtāḥ,
kṣīṇasaṁyojanā Buddhā, lokeṣu Brāhmaṇā hi
te.
Pikiran
selalu tanpa bentuk, tanpa esensi, tanpa wujud, mereka yang, melatihnya, dengan
mendalam mengetahuinya, selalu hidup dengan penuh perhatian, yang Tercerahkan
yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka tentu adalah para Brāhmaṇa
di dunia.
[33.57.ii] Arūpam anidarśanam, anantam asudarśanam,
sūkṣmaṁ padam abhijñāya, ye caranti sadā smṛtāḥ,
kṣīṇasaṁyojanā Buddhās, te loke Brāhmaṇā
iha.
Tanpa
bentuk, tanpa wujud, tanpa akhir, tidak mudah untuk dilihat, mereka yang,
dengan mengetahui kondisi yang halus secara mendalam, selalu hidup dengan penuh
perhatian, yang Tercerahkan yang telah menghancurkan belenggu-belenggu, mereka
adalah para Brāhmaṇa di dunia ini.
[33.58.i] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ca, saṁtānaṁ duratikramam,
utkṣiptaparikhaṁ Buddhaṁ, bravīmi Brāhmaṇaṁ
hi tam.
Setelah
memotong tali pijak dan tali kekang, keberlanjutan yang sulit untuk diatasi,
yang Tercerahkan yang telah melenyapkan parit, orang itu tentu Aku katakan
adalah seorang Brāhmaṇa.
[33.58.ii] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ, ye saṁtānaṁ
duratikramam,
utkṣiptaparikhā Buddhās, te loke Brāhmaṇā
iha.
Mereka yang
telah memotong tali pijak, tali kekang, keberlanjutan yang sulit untuk diatasi,
mereka yang Tercerahkan yang telah melenyapkan parit, mereka adalah para Brāhmaṇa
di dunia ini.
[33.59.i] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ca, icchālobhaṁ ca
pāpakam,
tṛṣṇāṁ samūlām āvṛhya, bravīmi Brāhmaṇaṁ hi
tam.
Mereka yang
telah memotong tali pijak, tali kekang, keinginan, keserakahan dan kejahatan,
setelah mencabut nafsu dengan akarnya, orang itu tentu Aku katakan adalah
seorang Brāhmaṇa.
[33.59.ii] Chitvā naddhrīṁ varatrāṁ ye icchālobhaṁ ca
pāpakam,
samūlāṁ coddhṛtās tṛṣṇāṁ, te loke Brāhmaṇā
iha.
Mereka yang
telah memotong tali pijak, tali kekang, keinginan, keserakahan dan kejahatan,
setelah menghilangkan akar nafsu, mereka adalah para Brāhmaṇa di dunia ini.
[33.60.i] Chindhi srotaḥ parākramya, kāmāṁ praṇuda
Brāhmaṇa,
saṁskārāṇāṁ kṣayaṁ jñātvā, hy akṛtajño bhaviṣyasi.
Setelah
berusaha, memotong arus, engkau harus menghilangkan nafsu indera, Brāhmaṇa,
dengan mengetahui kehancuran segala yang berkondisi, tentu engkau akan menjadi
seseorang yang mengetahui yang tak terbentuk.
[33.60.ii] Chindhi srotaḥ parākramya, kāmāṁ sarvāṁ praṇuda
ca,
saṁskārāṇāṁ kṣayaṁ jñātvā, Brāhmaṇo yāti
hānighaḥ.
Setelah
berusaha, memotong arus, engkau harus menghilangkan semua nafsu indera, dengan
mengetahui kehancuran segala yang berkondisi, Brāhmaṇa itu mencapai
penghancuran kejatuhan.
[33.61] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā, rājānaṁ dvau ca śrotiyau,
rāṣṭraṁ sānucaraṁ hatvā, anigho yāti Brāhmaṇaḥ.
Setelah
menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, setelah
menghancurkan sebuah kerajaan dengan para pengikutnya, sang Brāhmaṇa pergi
tanpa gangguan.
Komentar Pāḷi
mengintepretasikan makna syair ini: Menghancurkan nafsu dan kesombongan ‘Aku’
dan dua ekstrim: keabadian dan pemusnahan, menghancurkan kenikmatan indera
dalam dua belas bidang indera, seseorang yang tanpa kekotoran berjalan tanpa
gangguan.
[33.62] Mātaraṁ pitaraṁ hatvā rājānaṁ dvau ca
śrotiyau,
vyāghraṁ ca pañcamaṁ hatvā, śuddha ity
ucyate naraḥ.
Setelah
menghancurkan ibu dan ayah, seorang raja dan dua orang terpelajar, setelah
menghancurkan seekor macan sebagai yang kelima, orang demikian disebut murni.
Komentar Pāḷi
yang pararel mengintepretasikan makna syair ini: Menghancurkan nafsu dan
kesombongan ‘Aku’ dan dua ekstrim: keabadian dan pemusnahan, menghancurkan lima
rintangan dengan keraguan sebagai yang kelima, seseorang yang tanpa kekotoran
berjalan tanpa gangguan.
[33.63] Na Brāhmaṇasya praharen, na ca muñceta
Brāhmaṇaḥ,
dhig Brāhmaṇasya hantāraṁ, dhik taṁ yaś ca
pramuñcati.
Seorang Brāhmaṇa
seharusnya tidak memukul seorang Brāhmaṇa, dan juga seharusnya seorang Brāhmaṇa
tidak melepaskan kemarahan, sungguh memalukan ia yang memukul seorang Brāhmaṇa, sungguh
memalukan siapapun yang melepaskan kemarahannya.
[33.64] Yasya Dharmaṁ vijānīyād, vṛddasya daharasya
vā,
satkṛtyainaṁ namasyeta, hy agnihotram iva
dvijaḥ.
Pada
siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma, apakah tua atau muda, dengan
hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua
kalinya saat pengorbanan api.
[33.65] Yasya Dharmaṁ vijānīyād, vṛddasya daharasya
vā,
satkṛtyainaṁ paricared, agnihotram iva dvijaḥ.
Pada
siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma, apakah tua atau muda, dengan
hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir kedua
kalinya saat pengorbanan api.
[33.66] Yasya Dharmaṁ vijānīyāt Samyaksaṁbuddhadeśitam,
satkṛtyainaṁ namasyeta, hy agnihotram iva
dvijaḥ.
Pada
siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma yang diajarkan oleh seorang Samyaksaṁbuddha,
dengan hormat engkau harus menghormatinya, seperti seorang Brāhmaṇa yang
terlahir kedua kalinya saat pengorbanan api.
[33.67] Yasya Dharmaṁ vijānīyāt Samyaksaṁbuddhadeśitam,
satkṛtyainaṁ paricared, agnihotram iva dvijaḥ.
Pada
siapapun seseorang dapat mempelajari Dharma yang diajarkan oleh seorang Samyaksaṁbuddha,
dengan hormat engkau harus melayaninya, seperti seorang Brāhmaṇa yang terlahir
kedua kalinya saat pengorbanan api.
[33.68] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
atha caikaḥ piśācīṁ ca bakkulaṁ cātivartate.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka ia
sendiri yang melampaui hantu wanita (piśācī)
ini dan suara kebingungan.
[33.69] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
athāsya vedanāḥ sarve astaṁ gacchanti
paśyataḥ.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka
bagi seseorang yang melihat hal ini, segala perasaan mereda.
[33.70] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
athāsya pratyayāḥ sarve astaṁ gacchanti
paśyataḥ.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka
bagi seseorang yang melihat hal ini segala kondisi mereda.
[33.71] Yadā hi sveṣu Dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
athāsya cāsravāḥ sarve astaṁ gacchanti
paśyataḥ.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka
bagi seseorang yang melihat hal ini segala kekotoran mereda.
[33.72] Yadā hi sveṣu Dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
athāsya sarvasaṁyogā astaṁ gacchanti paśyataḥ.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka
bagi seseorang yang melihat hal ini segala belenggu mereda.
[33.73] Yadā hi sveṣu dharmeṣu Brāhmaṇaḥ pārago
bhavet,
atha jātijarāṁ caiva maraṇaṁ cātivartate.
Ketika
seorang Brāhmaṇa telah menyeberang sehubungan dengan hal-hal miliknya, maka ia
melampaui kelahiran, usia tua dan kematian.
[33.74] Divā tapati hādityo, rātrāv ābhāti candramāḥ,
saṁnaddhaḥ kṣatriyas tapati, dhyāyī tapati
Brāhmaṇaḥ,
atha nityam ahorātraṁ Buddhas tapati tejasā.
Matahari
bersinar di siang hari, rembulan bersinar saat malam, Kṣatriya yang bersenjata lengkap tampak bersinar,
Brāhmaṇa yang bermeditasi tampak bersinar, juga Sang Buddha dengan kekuatan-Nya
selalu bersinar siang dan malam.
[33.75] Na Brāhmaṇasyedṛśam asti kiṁ cid
yathā priyebhyo manaso niṣedhaḥ,
yathā yathā hy asya mano nivartate,
tathā tathā saṁvṛtam eti duḥkham.
Tidak ada
yang lebih baik bagi seorang Brāhmaṇa demikian yang pikirannya ditarik dari apa
yang dicintai, dimanapun pikirannya ditarik, dalam cara itulah penderitaan akan
terkendali.
[33.76] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,
yadā prajānāti sahetuduḥkham.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala
keraguan menghilang, ketika ia mengetahui penderitaan dan akarnya.
[33.77] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,
yadā prajānāti sahetudharmam.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala
keraguan menghilang, ketika ia mengetahui setiap hal dan akarnya.
[33.78] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,
yadā kṣayaṁ pratyayānām upaiti.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala
keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran kondisi.
[33.79] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,
yadā kṣayaṁ vedanānām upaiti.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala
keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran perasaan.
[33.80] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
athāsya kāṅkṣā vyapayānti sarvā,
yadā kṣayaṁ hy āsravāṇām upaiti.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, maka segala
keraguan menghilang, ketika ia mencapai penghancuran kekotoran.
[33.81] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
avabhāsayaṁs tiṣṭhati sarvalokaṁ,
sūryo yathaivābhyudito ’ntarīkṣam.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang
berdiam menerangi seluruh dunia, seperti halnya matahari yang terbit di
cakrawala.
[33.82] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā
ātāpino dhyāyato Brāhmaṇasya,
avabhāsayaṁs tiṣṭhati sarvalokaṁ,
Buddho hi saṁyojanavipramuktaḥ.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang
berdiam menerangi seluruh dunia, Sang Buddha, yang terbebas dari belenggu.
[33.83] Yadā tv ime tu prabhavanti dharmā ātāpino
dhyāyato Brāhmaṇasya,
vidhūpayaṁs tiṣṭhati Mārasainyaṁ,
Buddho hi saṁyojanavipramukta iti.
Namun ketika
hal-hal ini menjadi muncul pada Brāhmaṇa yang tekun bermeditasi, seseorang
berdiam menyingkirkan pasukan Māra, Sang Buddha, yang terbebas dari belenggu.
Brāhamaṇavargaḥ,
33
Bab tentang
Brāhamaṇa, yang Ketiga Puluh Tiga
Uddānam
Ringkasan
Anityakāmatṛṣṇā ca apramādas tathā priyaḥ,
śīlaṁ sucaritaṁ vācakarmaśraddhā ca te daśaḥ.
Ketidak-kekalan,
nafsu indera, nafsu, kewaspadaan, juga cinta, moralitas, perilaku bajik,
ucapan, perbuatan dan keyakinan, inilah sepuluh.
Śramaṇo mārgasatkāro drohasmṛtiprakīrṇakaḥ,
udakaṁ puṣpaṁ aśvaś-ca saha krodhena te daśaḥ.
Śramaṇa, Sang Jalan, kehormatan,
melukai, perhatian, serbaneka, air, bunga, dan kuda bersama dengan kemarahan,
inilah sepuluh.
Tathāgataḥ śrutaṁ cātmā peyālaṁ
mitrapañcamam,
Nirvāṇaṁ paśyapāpaṁ ca yugavargaḥ sukhena
ca,
Sang Tathāgata,
pembelajaran, diri sendiri, pengulangan, dan sahabat sebagai yang kelima, Nirvāṇa,
melihat, kejahatan, dan bab tentang pasangan dengan kebahagiaan,
cittaṁ bhikṣur Brāhmaṇaś-ca, trayastriṁśatime
smṛtāḥ,
vargāḥ samāptāś-coddānaṁ Samyaksaṁbuddhabhāṣitāḥ.
Pikiran, Bhikṣu dan Brāhmaṇa, inilah ketiga puluh tiga yang diingat, bab-bab telah selesai, dan inilah ringkasan dari apa yang diucapkan oleh Samyaksaṁbuddha.